<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817</id><updated>2012-02-16T00:58:24.568-08:00</updated><category term='A'/><title type='text'>PENA PANTURA</title><subtitle type='html'>BERITA - OPINI - CERITA</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>67</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-3759413644220978329</id><published>2011-05-07T19:17:00.000-07:00</published><updated>2011-05-07T19:20:49.537-07:00</updated><title type='text'>ಬತಂಗ್ ತಂಪ ಅಸಮ Kranji</title><content type='html'>Oleh Kawe Shamudra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga kota Batang layak merasa sedih telah kehilangan roh keteduhan karena hilangnya ratusan pohon asam kranji (dialium indum) Suasana Kota Batang sekarang ini terasa jauh berbeda jika dibandingkan kondisi 25 tahun lalu. Saat itu di sana-sini masih tumbuh pohon asam kranji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang zaman dahulu ternyata sudah memiliki kepiawaian menata kota sehingga menjadi hunian yang asri dan menyejukkan. Di era 80-an asam kranji menjadi ikon lingkungan bagi Kota Batang. Dulu di sepanjang pinggiran jalan Jendral Sudirman berjejer pohon asam kranji. Demikian juga sepanjang jalur menuju pantai boom (Jalan Yos Sudarso dan RE Martadinata) juga dihiasi pohon asam kranji. Kemudian jalu-jalur ke selatan menuju Dracik Kampus dan Proyonanggan juga dipenuhi pohon yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuansa persahabatan antara manusia dengan pepohohonan sangat terasa. Deretan pohon asam kranji menjadi penjaga lingkungan dan membebaskan Kota dari ancaman polusi, meskipun pada saat itu belum banyak kendaraan bermotor yang lewat. Sepeda onthel masih menjadi alat transportasi andalan bagi warga Batang saat itu. Untuk pergi ke pasar, kantor, sekolah dan tempat-tempat lain, warga Kota kecil ini masih mengandalkan sepeda genjot. Menyusuri jalan Kota naik sepeda dengan dinaungi daun asam kranji menjadi keasyikan tersendiri. Jarak antara pohon satu dengan lainnya yang hanya beberapa meter menjadikan badan jalan ternaungi dari terik matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kini semua itu tinggal kenangan. Semenjak terjadi pelebaran jalan dan pembangunan trotoar, satu demi satu pohon asam kranji ditebangi. Mungkin petugas taman Kota merasa jengah karena setiap tahun harus merawat (memangkas) ranting-ranting pohon asam kranji yang penuh duri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau barangkali sebagian warga merasa kurang nyaman dengan rontokan daun asam kranji yang tiap hari mengotori jalan dan halaman rumah mereka. Sekilas, penebangan pohon asam kranji terkesan sebagai langkah positif untuk menghindari tumpukan sampah daun. Setelah pohon-pohon tersebut hilang, seolah kesumpekan ikut lenyap. Selama beberapa tahun jalanan di Kota Batang tampak padang tanpa pohon peneduh. Hanya tersisa sedikit pohon asam kranji yang tidak terawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kegersangan kota dan udara panas yang menyengat, orang kemudian berpikir ulang soal pentingnya keseimbangan ekologis. Keberadaan Kota terasa kurang bermakna tanpa kehadiran pohon-pohon peneduh. Diam-diam warga Batang merasa kehilangan sahabat pohon asam kranji warisan nenek moyangnya. Mereka kembali merindukan keteduhan Kota seperti yang pernah dinikmati jaman dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya masyarakat awam yang merasa kehilangan. Para pemegang kebijakan publik pun akhirnya menyadari pentingnya menanam kembali pohon peneduh Kota. Kebijakan pemerintah kabupaten Batang tentang hutan Kota menjadi sinyal adanya kerinduan pada suasana teduh yang secara psikologis dapat membantu menetralisir kegelisahan akibat udara panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan Pemkab Batang membangun hutan kota sedikit banyak bisa mengurangi kegersangan Kota Batang dengan ditanamnya pohon-pohon peneduh. Sayang yang ditanam bukan lagi pohon asam kranji, melainkan diganti pohon lain yang dianggap lebih indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tanaman pengganti asam kranji kurang berfungsi sebagai peneduh Kota. Dan tentu saja warga Batang tidak bisa memanen kayunya untuk dijadikan bahan bakar.Bahkan belakangan ditengarai akar-akar pohon tersebut justru merusak bangunan trotoar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal jika pohon asam kranji kembali ditamam, suasana Kota Batang yang khas bisa diwujudkan kembali. Kota yang dihiasi pepohonanberdaun mirip rambut kribo. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Warga Kota Batang saat ini hanya bisa mendengar cerita bahwa pohon asam kranji pernah meneduhi jalanan kota. (35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;— Kawe Shamudra, aktivis Komunitas Pena Batang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-3759413644220978329?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/3759413644220978329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=3759413644220978329' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/3759413644220978329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/3759413644220978329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2011/05/kranji.html' title='ಬತಂಗ್ ತಂಪ ಅಸಮ Kranji'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-8836164695184878647</id><published>2011-05-03T16:16:00.000-07:00</published><updated>2011-05-03T16:22:54.952-07:00</updated><title type='text'>Pemprov Arahkan Lokasi PLTU di Batang</title><content type='html'>Berita Utama&lt;br /&gt;SUARA MERDEKA 04 Mei 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemprov Arahkan Lokasi PLTU di Batang&lt;br /&gt;SEMARANG- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mempersiapkan calon lahan untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT PLN dengan kapasitas 2x1.000 MW di Kabupaten Batang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dipilihnya Batang karena garis pantainya stabil serta kedalaman lautnya mencukupi untuk pembangunan pelabuhan sebagai sarana pemasok batubara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng Teguh Dwi Paryono menyatakan, Pemprov hanya sebatas mengarahkan lahan kepada calon ivestor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, keputusan daerah mana yang nantinya akan digunakan sebagai lokasi PLTU, sepenuhnya berada di tangan pemenang lelang. Pihaknya telah melakukan survei di tiga kabupaten, yakni Kendal, Batang, dan Pemalang, serta menyampaikan kelebihan dan kekurangan masing-masing lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari tiga lokasi itu, memang diarahkan ke Batang karena disana ada lahan milik PTP sehingga proses pembebasan lahan lebih mudah. Sementara untuk Kendal dan Pemalang, lahan calon lokasi hampir seluruhnya milik masyarakat,” jelas Teguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjelaskan, untuk membangun mega proyek investasi bernilai  3 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 30 triliun, itu dibutuhkan lahan sekitar 200 - 250 hektare. Konsorsium yang mengikuti proses lelang, lanjutnya, telah mengecek calon lokasi yang ditawarkan Pemprov.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon Investor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait penggunaan lahan apakah tidak berbenturan dengan Perda tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Teguh menjelaskan tidak ada persoalan. Pasalnya calon lokasi tersebut telah dimasukkan dalam raperda RTRW Provinsi Jateng. Bila proyek PLTU yang ditarget mulai beroperasi 2017 itu telah rampung, dipastikan Jateng akan surplus listrik. Bahkan bisa menjadi pemasok energi untuk Jawa, Bali, dan Madura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini sebanyak empat calon investor yang akan mengerjakan tender PLTU tersebut telah menyerahkan dokumen penawaran secara lengkap. Mereka adalah konsorsium J Power-Itochu-Adaro, Shenhua, Marubeni Corporation, serta Konsorsium Guandong-Yudean. Investor tersebut merupakan empat dari tujuh calon investor yang sebelumnya lolos proses prakualifikasi tender PLTU milik PT PLN di Jateng. Keempat calon investor tersebut lolos ke tahap akhir dari proses pengadaan proyek raksasa ini. Tenggat waktu penyerahan dokumen penawaran terakhir tanggal 29 April 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Teguh, penambahan pembangkit itu bertujuan menjaga pasokan listrik, terutama di Jateng, mengingat peningkatan permintaan listrik di provinsi ini mencapai rata-rata 6,5% per tahun. Setelah Jateng tercukupi, sisanya bisa dialokasikan untuk pemenuhan listrik di provinsi lain guna menguatkan jaringan interkoneksi Jawa-Bali. PLTU tersebut berbahan bakar batubara dengan menggunakan sistem supercritical boiler, yakni teknologi pembakaran batubara yang bersih dan ramah lingkungan. (H23,H30-35)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-8836164695184878647?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='' href='http://www.suaramerdeka.com' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/8836164695184878647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=8836164695184878647' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/8836164695184878647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/8836164695184878647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2011/05/pemprov-arahkan-lokasi-pltu-di-batang.html' title='Pemprov Arahkan Lokasi PLTU di Batang'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-4752334658135105778</id><published>2011-03-22T22:18:00.000-07:00</published><updated>2011-03-22T22:19:03.466-07:00</updated><title type='text'>Hari</title><content type='html'>Semua orang punya tujuh hari dalam seminggu. Berapa hari yang dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya? Apa arti hari-hari tersebut untuk kita? Mari kita coba lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Senin adalah singkatan dari “Semangat Nan Indah”&lt;br /&gt;Sebagian orang mengharap-harap tibanya hari Senin karena hari itu mereka mendapat uang. Yang telah libur, kembali berjualan sehingga uang masuk lancar lagi. Yang bekerja harian, berarti upah harian akan diterima kembali.&lt;br /&gt;Sebagian orang tidak suka dengan hari Senin. Yang malas bekerja merasakan beban berat karena Senin berarti mulai bekerja kembali. Yang tadinya bisa santai di rumah, kini harus kembali masuk kantor. Anak sekolah kembali bersekolah, tidak bisa main-main Play Station lagi. Para ibu harus bangun pagi lagi untuk memasak makan pagi anak-anak yang akan berangkat sekolah. Ada yang menunggu-nunggu hari Sabtu lagi yang rasanya masih sangat lamaaaa…..&lt;br /&gt;Apapun sikap yang kita pilih, tidak akan merubah hari Senin. Senin tetap datang. Senin tetap harus kita lalui entah kita senang atau tidak. Sikap mana yang akan kita pilih? Memulai hari Senin dengan menggerutu atau memulai hari Senin dengan Semangat Nan Indah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Selasa adalah singkatan dari “Selalu Luar Biasa”&lt;br /&gt;Ada orang yang berpendapat bahwa Selasa adalah hari yang biasa saja. tidak ada yang luar biasa. Mengapa begitu??? Mengapa kita tidak membuatnya menjadi hari yang luar biasa? Luar biasa atau tidak, bukan tergantung dari nama hari atau pekerjaan kita. Tapi tergantung dari sikap hati kita. Tiap pagi saya bermain skipping (main tali) sebanyak 300 kali. Saya merasakan bedanya, ketika hati sedang malas, ya main tali jadi terasa berat. Tapi bila hati gembira, maka main tali menjadi ringan. Bahkan tanpa terasa bisa sampai 400 kali. Jadi saya selalu main tali sambil bernyanyi dan tersenyum. Hehehe…… ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Rabu adalah singkatan dari “Rasakan bahagia dalam kalbu”&lt;br /&gt;Apakah kita bersyukur hanya kalau kita mendapatkan sesuatu? Kalau sedang senang dan kita bersyukur, itu sih biasa. Tapi bagaimana kalau kita sedang ada masalah? Apakah kita menggerutu dan marah-marah? Apakah kita bisa mensyukuri setiap kejadian dalam hidup kita? Waktu anak saya masih kecil, dia sering menangis di malam hari. Padahal tiap hari saya harus bekerja. Tapi saya bersyukur bisa bangun di malam hari dan memberikan ASI kepada anak saya. Saya senang ketika di malam hari dia terjaga dan memanggil “Mama. Mama”. Malah saya sengaja melarang baby sitter untuk bangun di malam hari dan mengurus anak saya. Saya pikir, toh tidak lama dia begitu. Nanti kalau dia sudah besar, dia tidak akan lagi memanggil “Mama. Mama” ketika terjaga di malam hari. Jadi saya nikmati keadaan itu. Saya syukuri saat-saat tiap malam saya bangun dan menggendong anak saya. Biarlah hati kita selalu dipenuhi rasa syukur. Biarlah kalbu berseri. Hati yang gembira adalah obat yang paling manjur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kamis adalah “Kami Sukses”&lt;br /&gt;Apakah hari Kamis juga hari biasa? Bagaimana kalau kita membuatnya sebagai hari dimana kita sudah lebih sukses? Rasanya kita perlu mengingat kembali pentingnya “Berpikir Positif”. Bagaimana kalau tiap minggu kita mendapatkan sukses? Bagaimana kalau tiap hari? Apakah mungkin? Tentu saja. Yang perlu dilakukan adalah selalu berpikir positif. Kapan saja, dimana saja, dan siapa saja……&lt;br /&gt;Bila seseorang berkata kepada kita:”Wah, enak ya kerja disana?” Daripada berkata:”Enak apanya? Biasa saja kok.”, mengapa kita tidak berkata:”Amin. “? Bila seseorang berkata:”Pasti kamu banyak uang.” Daripada berkata:”Ga kok. Siapa bilang banyak uang?” Lebih baik kita berkata:”Amin. “. Kalau nanti benar benar banyak uang, siapa yang menikmati? Kita sendiri kan? Asyiikkk…. ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jumat berarti “Juga Amat Hebat”&lt;br /&gt;Seringkali Jumat menjadi hari yang kurang produktif karena sudah mendekati Sabtu, sehingga pikiran sudah ke hari libur. Mengapa menyia-nyiakan satu hari dalam hidup kita? Bagaimana kalau kita menjadikannya hari Jumat yang Juga Amat Hebat? Bagaimana kalau kita menggunakan hari ini untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tertunda? Memeriksa surat masuk? Mengevaluasi hari-hari kemarin? Mengatakan hal-hal indah yang belum sempat dikatakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sabtu berarti “Saatnya Bersatu”&lt;br /&gt;Hari Sabtu bisa menjadi hari yang produktif atau tidak produktif. Semuanya tergantung diri sendiri. Seorang Pengusaha justeru paling produktif di hari Sabtu karena dia bisa memeriksa semua pekerjaan, memantau hasil kerja karyawan, mencari ide baru, dan puluhan kegiatan lain yang sangat bermanfaat. Bahkan dia membuat hari Sabtu sebagai hari dimana dia mendengarkan semua masalah yang dihadapi ank buahnya.&lt;br /&gt;Orang tua yang libur dan ingin membina kedekatan dengan anak-anaknya bisa memanfaatkan hari Sabtu untuk bermain bersama, berenang, makan bareng, membersihkan rumah bersama atau jalan-jalan. Daripada hanya duduk dan masing-masing nonton acara tv kesukaannya tanpa adanya komunikasi. Pasangan yang saling mencinta bisa menggunakan hari ini untuk saling mengerti bukan hari untuk bertengkar. Hayoo……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Minggu berarti “Mari ingat berkah seminggu”&lt;br /&gt;Hari Minggu bisa dijadikan hari bermalas-malas atau bisa juga menjadi hari untuk mengevaluasi diri kita. Untuk mengevaluasi sikap kita. Apa yang telah dilakukan dalam seminggu? Apa yangsalah? Apa yang benar? Apa yang dapat kita lakukan lebih baik minggu depan? Apa rencana baru yang perlu dibuat? Bagaimana supaya minggu depan lebih sukses? Bagaimana caranya bekerja lebih baik? Bagaimana caranya agar tidak terlambat masuk kerja? Dan seribu satu kegiatan lain.&lt;br /&gt;Dengan demikian hari Senin akan kita nantikan dengan semangat karena kita telah punya rencana yang akan diterapkan. Hari Senin menjadi awal minggu depan yang lebih sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Give Thanks for Every Day in Your Life!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-4752334658135105778?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/4752334658135105778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=4752334658135105778' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/4752334658135105778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/4752334658135105778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2011/03/hari.html' title='Hari'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-6804182012855329781</id><published>2011-03-22T22:15:00.000-07:00</published><updated>2011-03-22T22:16:09.163-07:00</updated><title type='text'>PENSIL</title><content type='html'>Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata&lt;br /&gt;kepada cucunya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih&lt;br /&gt;penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti” ujar si nenek lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya&lt;br /&gt;kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya.” Ujar si cucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si nenek kemudian menjawab, “Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya” .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk&lt;br /&gt;mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh&lt;br /&gt;karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil&lt;br /&gt;bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah&lt;br /&gt;pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di&lt;br /&gt;dalam dirimu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan&lt;br /&gt;tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang&lt;br /&gt;kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu&lt;br /&gt;selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Anonymous (email/milis)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-6804182012855329781?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/6804182012855329781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=6804182012855329781' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/6804182012855329781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/6804182012855329781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2011/03/pensil.html' title='PENSIL'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-1117765194355922779</id><published>2010-09-24T00:18:00.000-07:00</published><updated>2010-09-24T00:22:36.701-07:00</updated><title type='text'>SARJANA TAHU</title><content type='html'>BUKAN SARJANA TAHU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan hidupku terasa sebagai pengembaraan menembus belantara dan padang ilalang. Kadang harus berhadapan dengan kengerian duri-duri dan bunga. Nasib mengalir seperti air. Dan aku meminumnya untuk melepas dahaga. Aku tak pernah puas apa yang kudapat, aku terus bergerak mencari sesuatu, setinggi mungkin, aku enggan berhenti bekerja selagi badan masih bugar.&lt;br /&gt;Demikianlah bagian dari kesimpulan nasib yang ku alami. Ku hayati dengan penuh kesadaran, bahwa hidup di dunia hanya seumpama senda gurau dan permainan, sekejab bahagia, namun tiba menderita, sakit hati. Hidup selalu dihantui ketidak puasan.&lt;br /&gt;Aku memang hanyalah seorang penjual tahu dengan hasil pas-pasan. Tapi aku tak pernah menyerah pada nasib hidup memang harus diperjuangkan dengan penuh kegigihan. Meskipun hanya penjual tahu, aku tak merasa hina. &lt;br /&gt;Justru aku merasa mendapatkan anugrah dari Allah untuk mengelola nasib sebaik mungkin agar kapahitan berubah menjadi manis, yang busuk jadi wangi, yang kumal menjadi rapi, yang binal menjadi mulia, yang minskin jadi kaya.&lt;br /&gt;Aku seperti seorang arsitek yang sanggup merancang sebuah bangunan kemudian ingin mewujudkannya menjadi kenyataan. Bagaimana harus menyuapi adik-adik yang tidak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;$$$$$$$$&lt;br /&gt; S S S S S&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lahir di Desa Kebonan Kecamatan Batang &lt;br /&gt;Kebonan dikenal sebagai sentra tahu. Banyak warga yang bermata pencaharian sebagai penjual tahu. Tahu menjadi simbul kemakmuran, termasuk keluargaku yang hidup dari memproduksi tahu. &lt;br /&gt;Bapakku bernama Mukri sedangkan emak bernama Marfuah lebih sering diucap “Marpuah” entah mengapa lidah jawa selalu merubah huruf F menjadi P. Kalau ada tetangga bernama Fadholi, maka berubah jadi Padholi. &lt;br /&gt;Dalam hal memberi nama pada anak-anaknya, Bapakku tergolong nyentrik. Kelima nama anaknya berawalan huruf S.&lt;br /&gt;Sebutlah Supandi, Suparni, Sukarno, Sukaltum, dan Suyono bisa disingkat S lima kali (S.5).&lt;br /&gt;Aku lahir sebagai anak ke 3, nama Sukaltum ku terima sebagai anugrah maknanya kira-kira................&lt;br /&gt;Meskipun hal ini tidak terlalu penting, tetapi aku yakin orang tuaku tidak main-main dalam hal memberi nama. Pasti punya maksud baik, berharap ada kebaikan yang tersimpan buat mereka, bagaimanapun prosesnya.&lt;br /&gt;Tapi namanya tabiat tidak sama. 5 anak sama dengan 5 karakter, begitu pula Emak dan Bapakku dalam memberikan perlakuan pada anak-anaknya yang tidak sama. Meskipun semuanya disayang, tetap ada salah satu yang diperlakukan secara berlebihan.&lt;br /&gt;Contohnya Supandi, dimata anak lainnya Supandi selalu dimanja. &lt;br /&gt;Segala keinginannya nyaris selalu dituruti Bapak mungkin karena anak pertama sehingga diberi kasih sayang secara berlebih. Saking sayangnya Bapakku sampai berujar.&lt;br /&gt;“Minta apa saja kamu ger asal jangan rembulan..................”&lt;br /&gt;Begitulah Bapakku “Tatwa” didepan Supandi. Akibatnya Supandi jadi anak yang besar kepala dan suka ngamuk kalo keinginannya tidak dituruti. &lt;br /&gt;Aku ingat ada tingkah nakal Supadi kecil yang tidak patut ditiru oleh anak diseluruh dunia. Dia suka dholim makanan, mempermainkan makanan sesuka hatinya. &lt;br /&gt;Pernah suatu hari Supandi marah karena.....................................&lt;br /&gt;Sebagai pelampiasannya meja makanan dibalik, seluruh makanannya (siap hidang) tumpah. &lt;br /&gt;Tingkah semacam itu terjadi berkali-kali. &lt;br /&gt;Dihari yang lain Supandi minta dibelikan roti. Saat itu roti merupakan jajanan istimewa, tidak semua anak desa bisa jajan roto.&lt;br /&gt;Ketika itu ada penjual roti yang motifnya aneh seperti buaya. Begitu roti terbeli, semua mengira akan segera dimakan. Tapi ternyata oleh Supandi diikat pakai tali dan diseret-seret seperti kambing bengal. &lt;br /&gt;Aku yang waktu itu masih berusia ….. tahun tidak bisa berbuat apa-apa. S yang satu ini memang beda dengan S S yang lain.&lt;br /&gt;Aku jadi ingat kebiasaan orang tua yang suka menghadiahi sesaji bubur merah-putih pada Supandi, menjelang weton (hari kelahiran) Senin Manis.&lt;br /&gt;Cerita tentang bubur abang-putih ini cukup membekas dalam ingatanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; BUBUR ABANG PUTIH &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat jawa yang masih diamini sebagian orang-orang adalah membuat bubur abang-putih pada hari weton (hari kelahiran). &lt;br /&gt;Diantara saudara-saudaraku, hanya Supandi yang selalu dihadiahi bubur berbahan baku beras, kelapa dan gula jawa ini. &lt;br /&gt;Sebenarnya, sebutan bubur abang-putih itu kurang tepat.&lt;br /&gt;Abang (bahasa jawa artinya merah). Warna tersebut terbentuk dari gula aren jawa yang tercampur dengan beras. &lt;br /&gt;Warna gula aren sebenarnya tidak merah, tapi lebih mendekati coklat. &lt;br /&gt;Tetapi tidak mudah untuk merubah sesuatu yang terlanjur jadi ucapan turun temurun. &lt;br /&gt;Aku tidak tahu betul, kenapa Supandi yang selalu dihadiahi bubur abang-putih ini. &lt;br /&gt;Apakah karena ia anak pertama atau karena ada sebab lain. &lt;br /&gt;Sebagai adik yang masih belia saat itu, aku hanya bisa melihat kenyataan itu sebagai hal biasa.&lt;br /&gt;Aku cuma dengar-dengar cerita bahwa bubur abang-putih bagi orang tua jawa memiliki makna filosofi tinggi.&lt;br /&gt;Merah itu sendiri sering dimaknai berani, sedangkan pertih artinya suci. &lt;br /&gt;Mungkin saja orang tuaku berharap dengan menghadiahi bubur abang-putih, kakakku Supandi bisa jadi orang pemberani dan bersih. &lt;br /&gt;Allahu’a’lam.&lt;br /&gt; ILMU PENGETAHUAN SOSIAL&lt;br /&gt;Pelajaran penting dari kakek dan nenekku adalah kepekaan rasa sosial pada tetangga. Kakekku bernama Widi sedang nenekku Kasmah. &lt;br /&gt;Kakek Widi dan nenek Kasamah aku memanggilnya. &lt;br /&gt;Kakek Widi tentu sangat lihai menggoreng tahu, aku suka  memperhatikan kegesitannya dalam menggerakkan sorok pada wajan besar. Kakek nenekku adalah manusia tungku yang  setia menyalakan api. Membuat tahu dan menggorengnya adalah kerja rutin untuk mempertahankan kehidupan.&lt;br /&gt;Disela-sela kesibukannya, kakek Widi rela melayani para tetangga yang ingin menggoreng intip. Mereka antre menunggu giliran mencemplungkan intip kewajan. Setelah matang satu persatu pergi meninggalkan tungku.&lt;br /&gt;Intip adalah makanan dari kerak nasi liwet yang dikeringkan. Jika diberi bumbu dan digoreng rasanya gurih dan renyah. Sekali waktu para tetangga datang membawa intip kering itu untuk digoreng, kakek nenek melayani mereka tanpa merasa terganggu. &lt;br /&gt;Pada kakek neneklah aku belajar ilmu pengetahuan sosial. Sebuah mozaik hidup yang tampak sederhana itu sangat membekas dalam ingatanku. &lt;br /&gt;Kakek dan nenek selalu berusaha sekecil apapun untuk berbuat baik kepada tetangga. &lt;br /&gt; SENJA DIBATAS USIA&lt;br /&gt;Keinginan untuk hidup lebih lama bersama istri, anak-anak dan orang-orang yang dicintai terpaksa harus berakhir dengan tutupnya usia.&lt;br /&gt;Innalillahi wa’innaillaihi roji’un. &lt;br /&gt;Ayah yang kucintai dipanggil Allah (aku 2 tahun) pada hari ………….. jam……….. ketika itu usiaku dua tahun, tahun 1948. &lt;br /&gt;Sebuah pukulan hidup yang menyedihkan. Aku menangis bersama yang lain untuk melepas kesusahan. Sesederhana apapun, ayah adalah guru penghidupan kami yang paling dekat.&lt;br /&gt;Keluarga kami dikerumuni kerabat dan para pelayat. Mataku yang sembab tak sanggup mengenali mereka satu-persatu. Aku hanyut dalam kesedihan menyaksikan jasad bapakku yang kaku digotong, dimandikan, dikafani, disholati dan diusung menuju pemakaman, kesedihanku tak bisa dilukiskan pada kanfas manapun. Aku tak ingat apa-apa.&lt;br /&gt;Hari ini kami harus rela berpisah ada ayah untuk selama-lamanya. Aku tak bisa berharap lagi melihat ayah menggoreng tahu dan melayani para tetangga yang menumpang menggoreng intip. Kebersamaan dengan ayah harus diakhiri pada batas hidup bernama kematian. Jika hari telah senja maka, maka senja itu merupakan senja yang terakhir bagi ayah, senja dibatas usia.&lt;br /&gt;Posisi ayah disamping Ibu? Pertanyaan yang teakhir muncul karena aku sadar, Ibuku masih muda dan sangat masuk akal jika ia menikah lagi (yang artinya aku harus punya ayah tiri). &lt;br /&gt;Semua pertanyaan kusimpan dalam hati. Aku tak ingin hanyut dalam prediksi konyol tanpa dasar.&lt;br /&gt;Satu hal yang mencemaskan hanya status  emak yang mendadak berubah jadi single parent, janda muda.&lt;br /&gt;Emak menjalani kehidupan penuh tantangan. Harus berjuang sendirian ibarat terbang hanya dengan satu sayap, sangat mustahil untuk bisa terbang tinggi.&lt;br /&gt; SETELAH DELAPAN TAHUN MENJANDA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karyawan perusahaan tahu milik keluarga besarku itu bernama Yatin. Aku memanggilnya mbah Yatin. Orangnya baik, kalem dan tanggung jawab  dalam mengurus pekerjaan. Postur tubuhnya kecil usianya terpaut lima belas tahun dengan Ibu masih bujang, cukup tampan, cukup lama pula b etah jadi karyawan.&lt;br /&gt;Meskipun punya karyawan, ibuku masih berperan dominan dalam mengurus pekerjaan menggantikan posisi ayah. Bertahun-tahun ibuku bekerja keras membesarkan usaha. Persaingan bisnis semakin ketat dengan hadirnya usaha tahu baru disekitar tempat tinggalku. &lt;br /&gt;Logika mengatakan, mengelola tahu merupakan usaha yang menghasilkan income keuangan, setidaknya untuk ukuran pengusaha kecil. &lt;br /&gt;Dari mendengar cerita Ibu aku tahu seluk beluk perdagangan tahu, muali dari pembelian bahan baku (kedelai), memproses hingga memasarkan. &lt;br /&gt;Tempat tinggalku dengan pasar tidak terlalu jauh sangat memudahkan dalam mobilitas kerja. Usaha tahupun tetap berjalan mesti tanpa peran ayah. &lt;br /&gt;Namun gangguan dan ontran-ontran akhirnya datang menghampiri kehidupan kami. &lt;br /&gt;Tanpa hujan tanpa angin tiba-tiba muncul petir menggelegar setelah tersiar kabar Ibuku jatuh cinta pada ...............Yatin.&lt;br /&gt;Ya, Ibuku jatuh cinta dalam arti yang sebenarnya bersedia menikah dengan Yatin apapun resikonya. &lt;br /&gt;Reaksi keras muncul dari kakek nenek. Kedua moyangku menilai hubungan cinta itu dengan Yatin adalah ganjil alias tidak wajar semata-mata hanya dari pertimbangan ego dan perasaan tinggi hati. &lt;br /&gt;Sekecil apapun kakek nenek menganggap ibu adalah bos tahu, maka tak layak disunting seorang arjuna berpangkat kuli. Para dikma kuno ini rupanya juga ingin dipertahankan moyangku. Intinya, Ibuku dilarang menikan dengan Yatin. Dan itu harga mati yang tidak boleh dikurangi pihak keluarga yatinpun tak setuju sepasang kekasih bos – kuli ini melangsungkan pernikahan.&lt;br /&gt;Satu-satunya syarat, ibuku harus pergi dari rumah jika tetap bersikeras mempertahankan cintanya pada Yatin. Sebuah pilihan yang berat bagi ibu.&lt;br /&gt;Seandainya saat itu aku sudah dewasa, mungkin akan memberi saran pada ibu agar melakukan sholat Istiharoh meminta petunjuk dari Allah.&lt;br /&gt;Tapi boro-boro mengusulkan seperti itu, pengetahuan agamapun aku tak punya, nama ibadah istiharohpun belum meresap dalam pikiran remajaku.&lt;br /&gt;Jujur saja, aku dilahir-besarkan dari keluarga yang tidak kenal agama. Aku cenderung dibesarkan dalam lingkungan adat kampung yang tak kupahami maknanya. Aku hanya mengenal atribut-atribut kejawen tolak balak, bubur abang-putih, kemenyan, kembang telon………………&lt;br /&gt;Aku membiarkan ibu menentukan putusannya sendiri mengikuti tatwa orang tua atau tetap meneruskan nasib cintanya pada arjuna.&lt;br /&gt;Akhirnya mbah Yatin jadi orang terkasih bagi keluarga, karena kesederhanaannya.&lt;br /&gt; PUISI DIATAS PAPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diatas penggalan papan usang bekas kotak tahu, ibuku menulis : &lt;br /&gt;EMAK PERGI …………&lt;br /&gt;KALAU EMAK PERGI&lt;br /&gt;JANGAN PERGI&lt;br /&gt;Antara aku dengan emak berada pada jarak amat dekat. Ku perhatikan, emak menulis kalimat pendek itu dengan tangan gemetar. Darah keragun yang mengalir ditubuhnya mampu menggetarkan perasaannya.&lt;br /&gt;Sepertinya, sedang berkomunikasi dengan diri sendiri, atau mungkin mencela keadaan, mengapa orang tua demikian tega mengeluarkan multimatum pengusiran terhadap putrinya sendiri.&lt;br /&gt;Emak hendak mendobrak, seolah ingin membuat keputusan yang berani dan mengandung resiko berat. Sepertinya emak rela dikucilkan dari keluarga dari pada harus mengorbankan cintanya pada Yatin.&lt;br /&gt;Kuperhatikan wajahnya penuh aura pemberontakan. Sulit bagiku yang masih kecil dan lugu untuk memahami kalimat pendek yang emak torehkan di atas penggalan papan usang bekas kotak tahu. &lt;br /&gt;Kalimat yang menggambarkan rasa sesak, pedih dan penuh dilema.&lt;br /&gt;Seandainya Bapak tidak pergi meninggalkan emak sendiri, tentu tidak akan terjadi seperti ini. Sulit bagiku untuk membayangkan nasip apa yang bakal kualami jika emak benar-benar memutuskan pergi dari rumah untuk mengejar cinta.&lt;br /&gt;Meninggalkan rumah, artinya melepaskan kedekatan denganku. Meskipun aku yakin kasih sayang antara orang tua dengan anak tak mungkin bisa lepas seratus persen.&lt;br /&gt;Jika emak meninggalkan rumah bisa juga berarti runtuhnya perusahaan tahu keluarga kami, satu-satunya sumber penghidupan kami, sebab selama ini emaklah yang banyak berjasa mempertahankan usaha ini.&lt;br /&gt;Sebagai anak, aku tak bisa mencegak keinginan emak. Apalagi sebagai cucu aku jelas lebih tidak mampu menggoyahkan pendirian kakek dan nenek yang begitu keras menentang rencana pernihanan emak dan Yatin. &lt;br /&gt;Aku hanya bisa menangis dalam batin. Tetapi aku tak boleh terlalu jengkel. Mulai lahir dalam diriku sebuah tekat untuk mandiri dan menyelamatkan dari kemungkinan terburuk jika terjadi bencana perpecahan keluarga. Daya instingku menangkap adanya kecendrungan kuat dari ibu untuk benar-benar meninggalkan emak. Kalimat pendek yang ditulis emak diatas papan usang bekas kotak tahu merupakan multimatum terakhir emak.&lt;br /&gt;Emak tidak bicara apa-apa padaku. Aku dibiarkan memaknai sendiri terhadap konflik yang terjadi dalam keluarga. Seolah emak hendak berpesan padaku : &lt;br /&gt;“ Mulai saat ini, uruslah dirimu sendiri dan jangan pikirkan nasib emakmu yang terusir dari rumah ini”.&lt;br /&gt; PERNIKAHAN SAMBUNG &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak melihat prosesi tiba-tiba terusirlah emak dari rumah, berlari meninggalkan kami dalam genggaman cinta Yatin. Remuk perasaanku.&lt;br /&gt;Pernikahan, dengan Yatin terjadi entah dimana tahun 60 an sah menurut hukum agama dan negara, tetapi cacat dimata orang tua. Berdasarkan catatan fikih yang ku ketahui kemudian, sikap emak ternyata tidak salah. Seorang janda lebih berhak menentukan nasibnya sendiri dari pada orang tua. Sikap emak memilih menikah dengan Yatin tidak salah demi menyelamatkan kehidupan dan menjaga kehoramatan meski harus menerima kecaman keras dari orang tua.&lt;br /&gt;Apakah nenekku yang salah ? tidak juga. Mereka tentu memiliki alasan tersendiri meskipun mungkin lunak. &lt;br /&gt;Prosesi pernikahan dua sejoli itu tidak diketahui dengan jelas. Setelah menikah emak berubah peramai, sepertinya emak lebih menyayangi suami dari pada anak-anak. Aku dan saudara-saudaraku yang lain dibiarkan terlantar, ibarat anak-anak ayam lepas dari induknya dan harus cari makan sendiri. &lt;br /&gt;Perusahaan tahu tak terurus dan akhirnya ambruk. Satu persatu aset-aset dalam rumah terjual untuk menyambung hidup. Dalam hitungan bulan semua habis, yang tersisa hanya kenangan. Ruang dapur untuk pengolahan tahu jadi sepi. &lt;br /&gt;Terjadilah peristiwa yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Dampak dari tutupnya perusahaan tahu, kami harus rela menelan pil pahit kemelaratan. Hipup tanpa penghasilan ditengah-tengah retaknya kasih sayang anak dengan orang tua. Kami seperti hidup dalam kutukan.&lt;br /&gt;Di tengah-tengah kemelut yang menggariskan itu, pikiranku bangkit. Aku bertekat harus bisa hidup apapun keadaanya. Dengan sisa-sisa semangat aku bertekat membangun kembali usaha keluarga yang bangkrut, setidaknya ini menjadi langkah awal untuk bangkit. Aku punya cita-cita, ambisi dan obsesi merubah keadaan. &lt;br /&gt;Aku berembuk dengan adikku Suyono. Ialah satu-satunya yang sejalan dengan pikiranku. Ketika kuajak bersama-sama jualan tahu, dia setuju.&lt;br /&gt; BUKAN SARJANA TAHU &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun penjual tahu tapi aku tak ingin bermental tahu. Tekat ini ku catat dan ku ikat kuat dalam benakku. Bukan untuk menjaga gengsi, tapi aku ingin mozaik kehidupanku berkembang.&lt;br /&gt;Spirit penjual tahu yang kuwarisi dari nenek moyang tetap ku pegang apapun keadaannya, perusahaan tahu keluarga kami harus tetap jalan, meskipun tanpa peran emak. Akulah yang tampil mengambil alih kegiatan mencari nafkah. Beruntung aku masih punya adik Suyono yang setia mendampingiku berjualan tahu. Yonolah satu-satunya Saudaraku yang mau berjuang mempertaruhkan nasib. &lt;br /&gt;Supandi…………………… kakak sulungku yang ……………….. tak bisa berbuat apa-apa sepeninggal emak akibat kemanjaan yang diperturutkan sejak kecil. Saudara-saudaraku lainnya tak ada catatan yang menggembirakan. &lt;br /&gt;Masa remajaku benar-benar kelabu dalam arti yang sebenarnya. Kesimpulannya sangat jelas karena kakakku tak bertanggung jawab pada adik-adiknya. Akibatnya aku terlantar, kakakku tak sanggup jadi pelindung atau pengayom bagi adik-adiknya. Tak bisa menjalankan peran yang semestinya sebagai kakak. Bapak dan emak pun gagal menanamkan kemandirian pada anak-anaknya. Aku iri jika melihat kehidupan tetangga yang tertata dengan baik. Ada Tasutri yang meskipun punya anak banyak tetapi bisa hidup layak, karena setiap anak diberi tanggung jawab mengurus diri sendiri. Anak pertama, setelah dewasa wajib membantu orang tua mengurus adiknya sampai mandiri. Kemudian siadik harus mau mengurus adiknya lagi. Adiknya mengurus adik........................demikian seterusnya.&lt;br /&gt;Tanggung jawab berantai ini mampu memperkuat tali persaudaraan. Inilah yang lepas dari keluargaku, akibatnya begitu orang tua lepas tangan anak-anak tercerai berai memburu nasib sendiri-sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;Aku bergandeng tangan dengan Suyono menyelamatkan ekonomi keluarga. Dalam suasana kebersamaan, kami berjuang melepaskan jerat kemiskinan. Kami membangun kembali perusahaan tahu yang bangrut.&lt;br /&gt;Manajemen bakul tahu yang dulu sering kuamati benar-benar benar-benar ku praktekan. Aku menyusun strategi dagang, membuat kalkulasi, untung rugi, memproduksi garam, menjual kepasar, membeli bahan baku, menghitung laba, mengatur belanja harian dan seterusnya. Aku mengisi hari-hari dengan kelelahan demi kelelahan.&lt;br /&gt;Setiap hari Suyono mendampingiku jualan. Ia memikul tahu dari rumah sampai pasar. Langkah-langkah kakinya yang setia adalah pengorbanan. Peluk keringat yang tercucur dari tubuhnya menjadi saksi ketulusannya menjalani nasib. Saat itu umur Suyono belum genap 15 tahun. &lt;br /&gt;Pernah terjadi peristiwa menggelikan, saat memikul tahu kaki Suyono terperosok dan tubuhnya jatuh, pikulan terlepas dari bahunya tahu tumpah ruah ketanah. Sejumlah orang mengerumunginya membantu memunguti tahu. &lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Monoton itu sangat membosankan, dan aku merasakannya setelah bertahun-tahun menjalani hidup sebagai penjual tahu.&lt;br /&gt; DUA DUNIA &lt;br /&gt;Meskipun penjual tahu, tapi aku tak ingin bermental tahu kalimat itu teris melekat dan menghujam dalam-dalam, merasuki segenap urat-urat nadiku. &lt;br /&gt;Tekat itu benar-benar kubuktikan dalam perbaulan sehari-hari aku lebih suka bergaul dengan tokoh-tokoh berpangkat dari pada rakyat biasa. Dalam memilih teman aku sangat selektif. Akal pikiranku mengatakan : temanku harus orang berbobot supaya aku bisa mendapatkan sesuatu dari mereka. &lt;br /&gt;Meskipun penjual tahu, aku tidak malu mendekat dengan pejabat, tokoh partai, tentara dan orang-orang berpangkat lainnya. Aku berkawan akrab dengan Berto, tokoh PNI nomor 1 di Batang aku juga dekat dengan Mulyono (................) lewat bantuan Mulyono aku bisa berkenalan dengan sejumlah Bupati diwilayah Se Karisidenan Pekalongan.&lt;br /&gt;Aku sempat gabung dengan PNI ( tahun .........) meskipun hanya tercatat sebagai ………………………….. untuk mempermudah komunikasi dengan para pejabat, aku tak segan minta saran dari teman-teman. Aku mengasah kecerdasan dengan membaca buku-buku penting. Buku yang sangat mempengaruhi jalan pikiranku adalah SARINAH KARYA BUNG KARNO. Aku termasuk penggemar berat Bung Karno. Dari buku Sarinah aku memperoleh pencerahan dan pelajaran yang mengesankan. Aku merasa diperkenalkan dengan seorang tohoh yang ..................................  &lt;br /&gt; ISI BUKU SARINAH &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ku dapat lewat pergaulan memang bukan uang. Tapi semacam rasa terhibur karena sebagai orang kecil aku bisa diterima oleh orang berpengkat. Tidak selamanya benar pendapat yang menyatakan bahwa pergaulan hanya terjalin normal jika seseorang berada pada level yang sama.&lt;br /&gt;Aku benar-benar berada di tengah-tengah dua dunia : dunia bakul tahu dan dunia lain yang menghibur.&lt;br /&gt;Kesibukanku beragam. Sebagai bakul tahu jelas waktuku banyak tersita untuk urusan rutin. Tapi aku masih menyempatkan diri untuk kursus mengetik.&lt;br /&gt;Di lingkungan tempat tinggalku, orang bisa mengetik masih jarang. Mengetik dianggap hanya milik orang kantoran. Maka saat aku masuk kursus, para tetangga mencitir, mengira aku gila. Aku dianggap melakukan pekerjaan sia-sia dan bertentangan dengan duniaku yang sebenarnya : dunia bakul tahu.&lt;br /&gt;Tapi aku cuek bebek suara-suara sumbang itu kubuang jauh-jauh ke dasar sumur tua biar tenggelam dan tidak muncul lagi.&lt;br /&gt;Tak cukup sampai di sini, dalam melirik laki-laki pun aku tebang pilih .Aku tidak tertarik pada laki-laki tukang tahu.Aku berharap punya suami yang cerdas,energik dan bekerja keras.Medskipun sadar tampang ku Cuma pas-pasan.&lt;br /&gt;Mungkin ada yang mengira aku perempuanyang tak pandai mengaca diri,hanya penjual tahu tapi berselera tnggi,aku tak peduli.&lt;br /&gt;Karena selera tinggi itulah,aku begitu benci pada kucit,karyawan tahu yang selalu menggoda ku.Di mataku,kucit bukan hanya bertampang kurangstandar tapi juga jorok karena suka jahil mulutnya suka bicara jorok yang tak layak masuk telinga.aku punya kenangan tersendiritentang sosok kucit yang akan ku ceritaka pada bab berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAAFKAN AKU KUCIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasan suka pada lawan jenis dan merindukan kehadiranya muncul dalam diriku semenjak usia ku menapak,.................tahu.&lt;br /&gt;Ketertarikan pada laki-laki nyaris seperti pungguk merindukan bulan. Aku sadar, dengan tampang fisikku yang pas-pasan. Tapi dalam diriku selalu penya harapan bisa bersanding dengan laki-laki tampan dan bertaji.&lt;br /&gt;Kucit, meskipun selalu menggodaku dengan seribu jurus gombalnya tak sanggup melunturkan seleraku. Kucit yang hanya buruh pabrik tahu tidak masuk hitungan. &lt;br /&gt;Kuakui, aku penya dosa pada laki-laki kerempeng ini. Kata-kata buruk keluar dari mulutku, terpaksa, karena kemarahanku pecah “Celeng kamu !” kalimat semacam itu semestinya kusimpan dalam-dalam andai saja Kucit mau berhenti menggodaku. Kalimat itu melesat seperti anak panah meloncat dari busurnya. Peristiwa itu terjadi siang hari, aku lupa tanggal, bulan dan tahunnya. Waktu itu aku sedang bersama Kisut diruang produksi tahu. Itu semua terjadi karena Kisut mendahului berkata tak senonoh sebagai perempuan muda aku tersinggung dan berusaha membela harga diri. &lt;br /&gt;Tetapi aku sangat menyesal setelah mencaci Kisut. Aku dihantui rasa bersalah, mau meminta maaf malu. Aku takut terjadi sesuatu yang menyiksa diriku : jatuh cinta pada Kisut misalnya. Kalau sampai aku jatuh cinta padanya, sungguh ini merupakan kutukan yang memalukan. &lt;br /&gt;Hatiku tertekan luar biasa. Maka aku segera menemui adikku Suyono di ........................ untuk melepas beban. “Yon, aku baru saja misui Lek Kucit, aku ngucap celeng. Tapi sekarang aku menyesal. Benar-benar menyesal piye, Yon !” kataku. &lt;br /&gt;Aku berharap ada komentar yang melegakan dari adikku. Setidaknya bisa memberi solusi agar rasa bersalah hilang, tetapi apa jawaban Yono ? Yono ternyata tidak mengaggap diriku salah : &lt;br /&gt;“Kamu bilang dia celeng ?”&lt;br /&gt;“Ia, Yon”&lt;br /&gt;“Pantas saja karena dia kan tidak tampan !”&lt;br /&gt;Suyono ternyata anak cerdas. Di usianya yang belum genap 15 tahun sudah bisa menyusun kalimat satire semacam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ARJUNAKU (1) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas kehendak Allah aku bertemu dengan Nurlilah. Pemuda yang cukup ganteng dalam pandangan mataku. Pertama kali bertemu di 1965 dalam suatu acara ……………………. lagi-lagi aku tak ingat hari tanggal dan bulannya. Perkenalanku dengan Nurlilah tak lepas dari peran Hadi, adiknya. Hadi lebih dulu jadi temanku sejak ...............&lt;br /&gt;Nurlilah bekerja di Perusahaan milik Pak Kanar, PT. Agung. Pak Kanar adalah pernah Paman. Ayah Nurlilah seorang supir yang meninggal karena tumor ganas. &lt;br /&gt;Aku pacaran dengan Nurlila sekitar 2 tahun. Sering nonton film bersama di bioskop Merdeka Pekalongan.&lt;br /&gt;Pertimbanganku memilih Nurlilah cukup simpel. Selain ganteng, ia Pegawai Perusahaan, dan yang penting, dia bukan penjual tahu. Hubunganku dengan Nurlilah direstui keluarga, apalagi hubungan antara emak dengan nenek kakek telah pulih kembali setelah kelahiran 2 adik sambungku. Supri Irianto dan ……………………..&lt;br /&gt;Semangatku jadi penjual tahu kian terpacu dengan kehadiran Nurlilah dan membaiknya hubungan kakek nenek dengan emak.&lt;br /&gt;Aku jadi tulang punggung keluarga, yang harus mengurus adik-adik dan nenek. Kakak-kakakku tak bisa diandalkan, dan aku bertekad untuk jadi penolong bagi anggota keluarga.&lt;br /&gt;Alhamdulillah, Allah mengaruniaku rasa belas kasih pada adik-adik, emak, nenek bahkan ayah tiri. Tidak ada rasa dendam sedikitpun pada emak yang pernah menelantarkan hidupku, semua kejadian menyakitkan kuambil hikmahnya. Aku ditelantarkan emak akhirnya bisa bangkit dan hidup mandiri meskipun hanya menjadi bakul tahu. Hanya dengan kebesaran jiwa aku bisa tegar menghadapi guncangan hidup.&lt;br /&gt;Aku tak punya alasan secuilpun untuk membenci emak. Bagaimanapun keadaannya emak adalah orang tuaku. Aku keturunan emak. Meskipun aku tidak punya bekal agama yang cukup, aku yakin setiap perbuatan baik akan memancarkan cahaya kebahagiaan.&lt;br /&gt;Aku dikariniai cinta dan kasih sayang pada semua  orang. Aku punya belas kasih pada orang-orang yang menderita. Aku suka memberi jika ada yang meminta.&lt;br /&gt;Kejadian kecil yang cukup membahagiakan adalah saat bertemu Lik Turadi, tetangga dekatku yang jadi pelanggan minta uang rokok. Dengan logat jenaka sekali waktu Lik Turadi minta uang seribu buat beli rokok, aku mengulurkan tangan dengan penuh kerelaan. Dengan cara ini aku bisa bahagia. Rezeki yang kusisihkan untuk kebahagiaan orang lain menjadi semacam magnet yang mampu menarik keberkahan dari langit. Berkah kebahagiaan antaranya.&lt;br /&gt;Sebagai seorang perempuan lajang aku tertarik pada bujang, aku tak ingin hubungan dengan Nurlilah hanya sekadar kedekatan batin yang tanpa tujuan, aku juga menginginkan kedekatan lebih jauh : kedekatan fisik, perasaan, hati, dan kesamaan tujuan.&lt;br /&gt;Maka aku tidak menolak saat Nurlilah melamarku. Demikian jadi keluargaku semua merestui pernikahan kami. Kami menikah tahun 1965, tepatnya ..........usia 21 tahun. Dari pernikahan ini, dikaruniai empat anak, Lilin, Yuyun,              , Rani.&lt;br /&gt;Dalam kurun waktu­­­­­­­­­ ______ tahun, romantika hidup kami jalani. Kebahagiaan perkawinan tak pernah utuh. Kami dibleit kesulitan, dianugerahi materi dan diguncang prahara. Sesuatu yang tak kuperkirakan datang dengan sendirinya. Sisi buruk kehidupan datang mewarnai nasib.&lt;br /&gt;Hidup jadi terasa aneh. Aku mengalami banyak ketasepahaman dengan suami, terutama dalam hal mencari dan mengelola harta benda, tetapi aku mampu bertahan hidup serumah dalam hitungan belasan tahun. Aku banyak menemukan mozaik kehidupan yang aneh selama berumah tangga, kalau tidak karena kehendak Allah, aku tak mungkin punya anak-anak, harta benda, aku tak mungkin punya usaha bernama “Batang indah” (BI).&lt;br /&gt;BI menjadi ikon perjuanganku meraih harta benda sampai kudapatkan apa yang kuinginkan. Penuh liku-liku dan jalan terjal. Perjalanan bisnis ini akan kuceritakan pada bab tersendiri.&lt;br /&gt; GERWANI&lt;br /&gt;Dari pak Berto aku sedikit mengenal dunia politik. Aku pernah bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI), yang kemudian menjelma jadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Aku masuk PNI sekadar cari pengalaman. Dan yang plaing penting bisa punya banyak teman. Bisa bergaul dengan kalangan bukan bakul tahu.&lt;br /&gt;Pak Berto adalah dedengkot partai yang disegani di Batang. Namanya menjulang dan dikenal banyak kalangan. Pak Berto identik dengan partai berlambang Banteng.&lt;br /&gt;Pemuka partai lain yang terkenal saat itu adalah…………..(partai…………………..)……………….,……………………. Suatu ketika aku diajak……………………. Untuk latihan senjata dikompleks BODM sebagai perempuan berjiwa muda, siapa tidak bangga bisa pegang senjata. Meskipun aku tidak tahu persis apa tujuan latihan itu. Yang ada dalam pikiranku hanyalah rasa senang bisa bergaul dengan kalangan bukan penjual tahu.&lt;br /&gt;Dari sini aku mengenal Dito, yang punya kakak komandan BODM. Ketika Dito mengajakku latihan senjata, aku tak menolak. Tanpa pikir panjang aku bergabung dengan pasukan ………….yang jadi pelatih saat itu adalah………….. kami dilatih baris-berbaris, pegang senjata,………………., pokoknya seperti tentara.&lt;br /&gt;Aku sama sekali tidak mengerti apa dan siapa yang berada di balik kegiatan itu, baru sadar setelah diberitahu asumsi sendiri. Bahwa latihan itu diprakarsai PKI aku nyaris direkrut jadi anggota gerakan Wanita Tani (Gerwani), underbow PKI yang terkenal saat itu.&lt;br /&gt;Begitu tahu di belakangnya ada PKI, aku mengambil jarak. Sikapku menjauhi Gerwani ternyata menyelamatkan mukaku dari coretan orang.&lt;br /&gt;Meletusnya G30S/1965 berbuntut pada tragedi berdarah...................................... .................................................... ................................................&lt;br /&gt;Diinstruksi ikut hansip, dilatih Bu Kumirah, ustad Abdurahman (Lurah), pelatihan di sikalong (kampung).&lt;br /&gt;Gardim (BODM) pak Towo &lt;br /&gt;Temanku mbah cah pinter “cet” menaklukan musuh.&lt;br /&gt; KIOS BENSIN “SEDULURKU”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumus bakul tahu dengan pendapatan kecil yang dihasilkan akhirnya kuhapus dari memoriku. Setelah menikah dan berumah tangga aku sadar tak mungkin bisa hidup layak hanya dari menjajakan tahu. Sudah saatnya aku lepas tangan dn membuka lembaran baru bersama suami.&lt;br /&gt;Aku mengontrak rumah milik Sutini didepan kantor Kejaksaan negeri Batang Jalan Jendral Sudirman. Dari sini aku mengawali usaha baru dengan membuka kios bensin yang kuberi nama “SEDULURKU”. Tak seberapa tapi aku bersyukur menemukan celah usaha baru.&lt;br /&gt;Aku jadi sempat jualan kolak didepan gedung DPRD Batang. Tiap hari aku belanja kepasar jalan kaki sambil menggendong Lilin anak pertamaku. Inilah masa0masa sulit yang mesti kujalani dengan jiwa besar. Untuk menambah penghasilan, jualan untingan kayu pun kulakukan. Sebab aku sadar gaji suami sebagai karyawan perusahaan swasta tak mencukupi kebutuhan kami.&lt;br /&gt;Kesulitan hidup memang harus disaisati dengan berbagai jalan. Aku terkejut saat suamiku membuka agen penjualan kupon berhadiah PORKAS yang sengaja diselenggarakan pemerintah untuk kegiatan olah raga.&lt;br /&gt;Orang yang masih berpikiran jernih mengetahui, PORKAS adalah judi yang dilegalkan. Betapa mudahnya menggali dana dari masyarakat kecil yang miskin, hanya dengan menjual kupon berisi angka-angka. Masyarakat miskin terbuai angan-angan bisa mendapatkan hadian jutaan.&lt;br /&gt;Keinginan suam imenjadi  agen judi tak kuasa kubendung. Aku hanya bisa berpesan agar suami jangan  ikut berjudi.&lt;br /&gt; RAMALAN MBAH DJENIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun aku tak tahu seperti apa sosok Mbah Djenis tapi nama peramal ini sangat terkenal dikota Batang, terutama dikalangan penggila kupon (judi) berhadiah. Mbah Djenis terkenal jago meramal angka-angka. Tak heran jika banyak pembelikupon judi yang percaya pada prediksi-prediksi Mbah Djenis.&lt;br /&gt;Mbah Djenis adalah………………………………………..&lt;br /&gt;Orang Boyongsari, satu kampung dapat semua. &lt;br /&gt;Gara-gara Mbah Djenis, suamiku kalang kabut dan dikejar-kejar warga satu kampung. Entah jenis kekuatan gaib macam apa Mbah Djenis mampu meramalkan angka yang keluar malam itu. Karena ramalannya, warga kampung……………………….menang semua. Mereka berbondong-bondong mendatangi rumah kontrakan kami untuk menagih hadiah. &lt;br /&gt;Suamiku tak bisa berbuat apa-apa saat mereka mendesak meminta hadiah yang jumlahnya ratusan ribu rupiah. Ratusan ribu ditahun 80 an merupakan angka yang tidak sedikit untuk ukuran penjual bensin. Hadiah sebesar itu dibebankan pada suamiku sebagai hutang yang harus segera dibayar. Suamiku strees berat, aku tak bisa tidur memikirkan nasip aneh yang menimpa suami.&lt;br /&gt;Aku hanya bisa memaki dan menyalahkan suami. Kami sadar dan menyesal telah bertindak sebodoh ini. Semenjak kejadian itu, suami ku berubah sensitif, lemah semangat dan tak mau mengurus kios. Ia sangat terpukul dan jadi orang pesimis menjalani hidup, tapi aku tidak. Peristiwa memalukan itu justru memacu semangatku untuk bangkit melawan ketidak berdayaan. Usaha kios bensin dan kolak harus tetap jalan, nasib harus berubah.&lt;br /&gt; PEJABAT SERTIFIKAT &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obsesiku meledak-ledak seperti mercon brondongan. Batin bawah sadarku mengatakan : aku harus bisa membeli tanah, nasipku harus berubah. Setidaknya dengan memiliki tanah …………………………..syukur didekat jalur pantura ………………………………..aku bisa leluasa bergerak, berusaha mencari rizki yang halal tidak terjerumus pada bisnis kupon berhadiah. Tidak hanya bertahan mengelola kios bensin dan kolak dengan hasil pas-pasan.&lt;br /&gt;Membeli sebidang tanah didekat jalur pantura bagiku saat itu adalah mimpi. Bagaimana mungkin aku bisa membeli tanah dengan penghasilan rata Rp. …………………………./hari butuh berapa tahun aku jika harus menabung ? &lt;br /&gt;Tapi hidup memang perlu bermimpi. Setidaknya dengan bermimpi bisa memiliki sesuatu, aku merasa terhibur dan punya harapan. Kurasa impianku wajar. Punya kontrakan kios dipinggir jalan, tak ada salahnya berharap punya tanah dipinggir jalan. Suasana di sekitar gedung Wakil Rakyat saat itu memang masih sepi, tapi aku memiliki semacam prediksi kelak kota Batang bagian barat ini bakal ramai. Jika aku bisa membeli tanah disini, maka dalam jangka kurang dari 20 tahun aku bisa memiliki aset ratusan juta. Itu obsesiku, itu mimpi seorang penjual bensin eceran dan kolak pisang.&lt;br /&gt;Wajah suamiku kecut mendengar impianku. Dia merupakan orang pertama yang menebar racun pesimis dalam diriku. Suamiku masih bangga dengan profesinya sebagai Pegawai Perusahaan Swasta, PT Agung yang tak pernah membesarkan namanya. Maka ketika aku mendapat kesempatan emas membeli tanah, suamiku lebih senang jadi Pak Ogah, reaksinya lemah.&lt;br /&gt;Ceritanya cukup berliku, Dito adalah orang yang sangat berjasa dalam hidupku. Sebagai adik komandan tentara, Dito punya banyak koneksi. Orangnya pemurah dan rendah hati meskipun berasal dari keluarga kaya.&lt;br /&gt;Entah dengan alasan apa tiba-tiba ada orang menjual tanah letaknya strategis, persis seperti yang ku idamkan : dipinggir jalan pantura, jauh dari kios kontrakanku. &lt;br /&gt;Mungkin orang beranggapan aku punya banyak uang. Kios bensinku memang sedikit berkembang meski lewat jalan hutang. Lagi-lagi ini atas jasa baik Dito yang mau memberikan order. Beberapa drum bensin terpajang dikiosku. Dan sejumlah pelanggan mulai melirik kios ku, kursiku termasuk BODM Batang alias Kodim. Nafasku terasa lebih panjang. Aku merasa lega, setidaknya bisa dipandang sebagai orang berkembang. Aku dianggap punya uang. Jika tidak, mustahil ada pihak yang menawari tanah. Hanya, tanah yang ditawarkan padaku agak bermasalah. Pemilik asli belum jelas, karenanya aku perlu mencari informasi akurat tentang status tanah seluas 525 m2 tersebut (Depan DPR) seharga : lupa (akjul wabe TM 7).&lt;br /&gt;Ketika sipenjual datang padaku, dengan lantang aku bisa bertanya : “atas dasar apa Bapak bau menjual tanah ini ?”.&lt;br /&gt;Laki-laki itu tampak terkejut mendengar pertanyaanku. Aku sengaja berlagak kritis untuk mengoreksi lebih jauh status tanah yang sebenarnya, usut punya usut, pemilik tanah tersebut adalah P. Suyud Komandan Boom (tersangkut PKI). Akhirnya aku paham mengapa tanah itu mau dijual.&lt;br /&gt;Dilema muncul jika aku benar-benar ingin membeli tanah itu, syaratnya cukup berliku untuk memperoleh sertifikat. Jika peluang ini kuabaikan, maka selamanya mungkin mungkin aku tak bisa beli tanah. Karena obsesiku sangat kuat, maka kuputuskan menempuh jalur berliku aku sudah terbiasa menghadapi tantangan. &lt;br /&gt;Bertemu dengan siapapun akan kulakukan untuk bisa membeli tanah yang kuimpi-impikan. Aku mencoba memancing suami agar mau membantu, tapi dia cuma santai saja. Ia menganggap tugas yang kuberikan maha berat. Aku mendesaknya agar menemui .........................................., minimal menemaniku berpergian.&lt;br /&gt;Aku berusaha mencari dana dengan menjual mobil tahun 7.&lt;br /&gt; BATANG INDAH &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara bangga dan haru aku mampu mengeksekusi nasib dan mewujudkan mimpi memiliki tanah di dekat jalur Pantura. Hatiku bersorak merayakan kemenangan ini. Tuhan menunjukan kebesarannya dihadapanku. Merubah sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin.&lt;br /&gt;Aku lupa hari dan tanggalnya saat pindah dari rumah kontrakan. Diatas lahan itu ku bangun rumah (................................x....................). disitu pula aku membuka usaha ................................................masa transisi ini berjalan mendebarkan. Seolah tak percaya bahwa aku telah memiliki aset senilai Rp. …………………..&lt;br /&gt;Untuk memacu semangat usaha, aku merancang icon bisnis, mencari nama yang pas untuk usahaku. Tercetuslah nama “Batang Indah” dalam benakku nama ini kurasa sangat tepat untuk mengenang semangatku. Aku berharap semua usahaku berakhir indah meskipun awalnya penuh tantangan. Dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. &lt;br /&gt;Nama Batang Indah juga untuk menghargai tanah kelahiranku, Batang. Meskipun Batang hanya kota kecil, tapi aku tetap bangga dengannya. Setidaknya dengan memiliki tanah di......................................aku menjadi bagian dari kota yang bersebelahan dengan Pekalongan. Aku ingin Batang Indah menjadi tempat usaha yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.&lt;br /&gt;Tahun .....................aku mulai memasuki babak baru kehidupan, meneruskan perjuangan sebelumnya. Dengan modal Rp. ...................................aku membangun toko dan menjual aneka kebutuhan rumah tangga seperti ................................................... &lt;br /&gt;Bersama suami aku mengelola usaha ini dengan penuh harap. Tempat ini relatif masih sepi, di sekitarnya masih banyak lahan persawahan. Tapi aku berusaha menemui cara untuk menarik konsumsi.&lt;br /&gt;Situasi dunia usaha di kota Batang di tahun ………………..an tergolong masih sepi. Masih jarang pusat perbelanjaan yang bisa diadakan untuk membeli produk-produk tertentu, warga Batang masih bangga perke ke Pekalongan. Kota Batang belum banyak dilirik infestor untuk membuka usaha. Supermarket belum ada. Belum ada pusat keramain yang bisa diandalkan.&lt;br /&gt;Satu-satunya daya tarik kegiatan ekonomi bagi warga Batang adalah pasar tradisional di alun-alun Batang yang muncul tiap Jum’at Kliwon yang dikenal dengan sebutan Kliwonan. Pasar semalam ini di manfaatkan warga Batang dan sekitarnya sebagai tempat berbelanja aneka kebutuhan rumah tangga mulai pakaian, alat-alat dapur, jajanan dan mainan anak-anak.&lt;br /&gt;Di luar itu, toko-toko berjalan apa adanya. Tampak biasa-biasa saja. Aku ingin Batang Indah tampil beda dan diingat orang. Di Batang belum ada nama toko yang mengaitkan atau nama mencantumkan daerah atau kota dalam satu rangkaian nama toko Nah,aku sengaja mencantumkan nama Batang di depan kata indah untuk menarik perhatian. Agar orang-orang menjadi penasaran kemudin datang.&lt;br /&gt;Dalam pikiran ku,orang datang tidak harus membeli barang. Bisa saja sekedar melihat-lihat suasana,menawar barang dagangan atau malah mengajak kerjasama. Para pendatang adalah tamu yang harus ku hormati.Tamu adalah mahluk Tuhan yang membawa rezeki.&lt;br /&gt;Batang Indah merupakan dunia usaha yang berbeda dengan jualan tahu.Ketika masih menjadi bakol tahu aku mangandalkan tenaga fisik,tapi mengelola Batang Indah harus pandai mengasah pikiran,memutar strategi bagaimana agar daganganya laku apalagi yang ku jual di Batang Indah.&lt;br /&gt;Produk kebutuhan harian seperti tahu,dalam masa-masa awal penghasilan ku tak seberapa.Perhari rata-rata mendapat hasil Rp............................. .Karyawan ku berjumlah...........................orang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-1117765194355922779?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/1117765194355922779/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=1117765194355922779' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/1117765194355922779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/1117765194355922779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2010/09/sarjana-tahu.html' title='SARJANA TAHU'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-7160301318215313500</id><published>2010-08-25T07:56:00.000-07:00</published><updated>2010-08-25T07:59:43.411-07:00</updated><title type='text'>Goenawan Mohamad Kalau tidak Bisa, Silakan Pisah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/THUvwWAuayI/AAAAAAAAAG8/oQBUXJel2io/s1600/Goenawan-Mohamad-f_573_f_270.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/THUvwWAuayI/AAAAAAAAAG8/oQBUXJel2io/s320/Goenawan-Mohamad-f_573_f_270.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5509362226746518306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSPEKTIF BARU&lt;br /&gt;Edisi 200 | 04 Jan 2000 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pergantian tahun ini yang juga pergantian abad 100 tahun dan milenium 1000 tahun, banyak yang menguatirkan akan terjadi disintegrasi nasional, pengeroposan kekuasaan dan mungkin kudeta militer. Saya tidak termasuk diantara mereka. Saya justru melihat tumbuhnya suatu ‘civil society’, suatu masyarakat madani atau suatu lapisan politik yang muda dan militan dan sadar politik. Banyak yang terjadi dibawah permukaan, generasi muda tidak mengandalkan Gus Dur dan Megawati saja, mereka mengandalkan dirinya sendiri. Aceh memang merupakan suatu dilema, tapi kita harus menyadari bahwa hak azasi manusia dan kebebasan merupakan hal yang lebih penting dari pada bentuk ketatanegaraan manapun. Indonesia yang kita cintai adalah Indonesia yang penuh kelembutan dan kesantunan, bukan Indonesia yang diwakili kekerasan dan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang berpikir jernih, tidaklah penting bentuk otonomi apa yang akan terjadi, apakah akan jadi negara federal, apakah akan ada propinsi menjadi merdeka. Yang penting, rakyat Aceh bersahabat lagi dengan rakyat Indonesia bagian lain. Itu yang terjadi di Timor Timur. Pemimpin mereka, Xanana Gusmao, adalah kawan baik pemerintah Indonesia sekarang. Gerakan pro demokrasi di Indonesia dan gerakan kemerdekaan Timor Timur adalah mitra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sama-sama menentang pelanggaran HAM, membenci korupsi. Rakyat Aceh juga sama, tapi bagaimana mereka mau percaya pemerintah Indonesia, kalau belum ada bukti? Kita hanya bisa berharap, suatu saat bukti itu akan muncul, dan rakyat Aceh akan berubah pendapat dan menerima kembali Indonesia sebagai tempat dimana kita semua sebaiknya berada. Sementara itu, kita tidak punya hak sama sekali untuk menentukan sikap rakyat Aceh, untuk mendikte bagaimana mereka harus berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berhak meminta kemerdekaan. Orang Aceh harus menjadi subyek politik, bukan obyek manipulasi begitu kira-kira katanya Munir SH. Aceh merdeka belum berarti bencana bagi semua, sebab ada banyak bentuk kemerdekaan yang bisa mempertahankan hubungan historis dan emosional. Kita harus mengalihkan perhatian kita dari letupan emosi hari ini kepada persiapan masa depan bersama. Penderitaan rakyat Aceh belum terobati, dan kalau kita menghadapi manusia yang sedang kesakitan, kita tidak menyembuhkan lukanya dengan menceramahi atau mendikte mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usahakanlah agar kaum yang menderita itu terlindungi dari siksaan lebih lanjut. Persiapkanlah lingkungan untuk menerima mereka suatu saat. Tidak ada gunanya bagi Gus Dur atau Megawati untuk pergi berdiskusi di Aceh sekarang. Apa yang mau di diskusikan? Bereskanlah dulu TNI dan Polri, hindarilah kemungkinan kekejaman lebih lanjut. Janji Indonesia kepada rakyat Aceh berkali-kali dilanggar dalam masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun pelanggaran dilakukan oleh pemerintah Soeharto dan Habibie, pemerintah yang baru belum sempat melakukan koreksi yang meyakinkan. Marilah kita belajar dari pengalaman, jangan memberikan solusi dari atas ke bawah. Pemerintah harus mengikuti rakyatnya, bukan sebaliknya. Itulah pikiran saya, Wimar Witoelar, pemandu Perspektif Baru, pada pergantian tahun dan pergantian millenium. Bagaimana pikiran Goenawan Mohamad, kita ikuti dalam wawancara berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kita keluar dari terowongan yang gelap dan mendapatkan udara terbuka dan cahaya, ternyata dibalik persoalan-persoalan keseharian seakan-akan muncul semacam keraguan akan identitas kita sebagai bangsa atau pengertian persatuan, apakah perasaan kekuatiran itu pada tempatnya? Bagaimana masalah integrasi bangsa atau disintegrasi pada umumnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya khawatir kalau dari kejadian di Aceh, kemudian Irian Jaya, orang akan berkesimpulan bahwa gara-gara Suharto tidak ada ini semua terjadi. Seolah-olah Suharto adalah penjaga kesatuan Republik Indonesia. Seharusnya orang berpikir bahwa, justru karena Suharto, maka problem-problem ini timbul. Yang lebih buruk lagi adalah cara-cara militer yang dipakai. Militer menganggap dirinya penjaga kesatuan Republik Indonesia. Pada akhirnya merekalah yang menimbulkan perpecahan. Karena dengan tindakan militer, orang merasa bahwa dirinya diperalat oleh orang yang datang dari pemerintah pusat. Ketiga, salah satu akibat samping dari tindakan kita di Timor Timur adalah tiba-tiba orang disadarkan bahwa wilayah Indonesia ini bisa dibikin dengan kekerasan. Padahal wilayah Indonesia ini dimulai dengan suatu imagining, suatu pembayangan tentang sebuah bangsa bersama. Tapi dengan terjadinya Timtim orang lalu menjadi sadar, bahwa bukan imajining yang terjadi disini, bukan pembayangan bersama, bukan suatu proyek bersama yang sukarela, tapi pemaksaan. Ini yang menimbulkan dasar-dasar keretakan yang terjadi sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan argumen sementara orang yang mengatakan bahwa sebetulnya identitas daerah-daerah di Indonesia itu memang beda, terutama untuk Aceh, Maluku dan Irian. Jadi dari dulunya memang belum jelas partisipasinya dalam Indonesia dan sekarang identitas itu keluar. Apa ada benarnya secara sejarah atau budaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sekarang itu dimana-mana politik identitas menonjol. Kalau tidak berdasarkan etnis, berdasarkan agama, daerah. Ini terjadi dimana mana diseluruh dunia. Mungkin karena orang bereaksi terhadap keterbukaan, atau pada dorongan-dorongan global yang ada sekarang, orang lalu rindu pada akar-akar yang dianggap ada. Tapi sebetulnya kalau ditelaah, identitas etnis ini juga suatu perhelatan. Misalnya Aceh, apa sih Aceh? sama dengan apa itu Indonesia? Saya kira baru pada abad 19 orang Dayak mempunyai identitas Dayak, yang agak dibantu dengan administrasi Belanda. Kita ingat bahwa di tahun 30-an itu kalau saya tidak salah, Belanda ingin memaksakan suatu kemurnian identitas. Misalnya orang Belanda harus berbahasa Belanda yang baik, induknya dari Netherland. Orang Jawa harus berbahasa Jawa yang baik, induknya dari Solo dan Yogya. Ideologi kemurnian budaya, ideologi budaya sebagai satu-satunya sumber, itu dipaksakan oleh Belanda. Administrasinya terjadi dengan membagi Jawa Tengah berbeda dengan Jawa Barat. Ada imposisi administratif terhadap peta kebudayaan yang sebetulnya sangat cair, mengalir dan tidak pasti. Lalu seolah-olah ada identitas, misalnya Jawa, saya selalu mengatakan yang disebut Jawa itu apa? Jawa itu tidak pernah ada. Orang Yogya dengan Solo saja wayangnya lain dan bersaing, belum lagi bahasa di Banyumas, di Tegal yang berbeda-beda. Dan di Jawa Tengah sendiri, saya orang pesisir tidak pernah merasa bahwa Solo itu Sunannya adalah Sunan saya. Kita semua hormat pada Hamengkubuwono bukan karena dia raja dari Yogya, tapi karena dia tokoh revolusi di Republik. Jadi Jawa itu apa, tidak jelas. Aceh juga demikian. Ini kalau identitas etnis, suku ini sekarang dikumandangkan, sebetulnya itu juga suatu artificial, sesuatu yang ditemukan kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sekarang kita boleh menemukan kejujuran kita kembali, apa ini saat yang bagus untuk mempertimbangkan kembali apakah jenis persatuan yang dipaksakan rejim yang lalu itu perlu dilanjutkan dengan modifikasi sederhana, ataukah kita harus kembali kepada pemikiran yang lebih mendasar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang menurut saya ingin selalu dikumandangkan, sekarang apalagi, ide Indonesia itu adalah ide yang bagus, ide yang mulia. Karena apa? Karena itu terkandung keinginan untuk menemui orang yang berbeda, bekerjasama dengan orang yang berbeda. Kita melupakan sebentar asa-usul kita untuk persatuan yang lebih dengan manusia lain. Tapi karena penyelewengan oleh militer Orde Baru maka ide Indonesia ini seakan-akan dibunuh, dirusak. Akibatnya sekarang terjadi Aceh, dan sebentar lagi Irian Jaya, yang serius kedua-duanya. Nah, sayangnya pemerintah Habibie maupun pemerintahan Gus Dur terlalu sedikit upaya untuk mencegah ini dan terlalu lambat. Akhirnya kita harus berpikir mencari suatu imajinasi baru mengenai Indonesia. Ada beberapa alternatif, meneruskan negara kesatuan seperti sekarang, seolah-olah sepertinya suatu yang sakral, ataukah kesatuan dengan otonom yang seperti dalam UU yang baru yang menurut Rektor UGM, Ichlasul Amal, sebetulnya federalisme, karena semuanya diserahkan pada daerah kecuali soal militer, politik luar negeri dan moneter. Seorang teman mengatakan ada 18 variasi federalisme. Kita belum semuanya tahu. Saya pernah ke Spanyol, saya lihat negeri Basque Republik Bach punya presiden sendiri, Menteri Luar Negeri sendiri, bisa menanam modal langsung di Indonesia. Cuma tidak punya militer, dan memang militer menjadi kurang penting karena tidak ada perang di sana. Bahkan negara Spanyolpun akhirnya tidak penting karena masuk bagian dari Uni Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi dikatakan Indonesia itu ide yang bagus, terus sebagus apa ide itu atau sejauh apa harus dipertahankan. Kalau kita bicara negara ujung-ujungnya mempertahannya harus secara militer juga, pada saat mana kita memutuskan untuk memberi kesempatan pada disintegrasi bangsa atau memang saat itu nggak akan datang, menurut mas Gunawan bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira kalau kita bersikukuh harus menjadi satu, jalannya adalah jalan militer. Selama ini jalan militer menunjukan kegagalan bahkan berbalik hasilnya. Jadi tidak ada jalan militer yang bisa diterima. Kalau saya selalu bertolak dari yang paling dramatis dengan skenario yang paling buruk, yaitu pecah saja, disintegrsi nasional. Saya tidak setuju dengan Gus Dur bahwa tidak akan memberikan opsi kemerdekaan pada rakyat Aceh, menurut saya itu harus diberikan, itu hak. Lagi pula Indonesia adalah proyek bersama, kalau proyek ini tidak suka rela buat apa. Jadi menurut saya biarkan saja Aceh merdeka, Irian merdeka biarkan saja. It’s not going to be the end of the world. Saya bertemu dengan orang-orang Aceh Merdeka di Stockholm, Huzaimi Hasan, orang nomor dua saya kira dan kami berdiskusi bahwa mungkin saja terjadi beberapa negara di Nusantara ini, lalu bisa menjadi dalam satu uni atau pasaran bersama. Hanya yang saya agak cemas dengan teman-teman dari Aceh Merdeka selama saya baca di koran adalah soal claim mereka sampai ke Lampung bertolak dari masa lalu zaman Iskandar Muda. Bertolak dari masa lalu ini bisa menimbulkan problem, sebab masa lalu itu ditarik dari mana? Sebelum Iskandar Muda atau sesudah Iskandar Muda, atau jaman Iskandar Muda. Sama dengan Majapahit. Itu omong kosong kalau kita bertolak dari Majapahit. Teman-teman Aceh Merdeka ini juga menganggap ide Indonesia ini buruk, itu yang saya tentang. Bagi saya ide Indonesia ini baik sekali. Bagi saya itulah yang dipertahankan. Bagi saya sumpah 28 Oktober itu suatu warisan yang sangat berharga, karena itu melintasi kesukuan kita, ras kita, agama kita untuk bersama dengan orang lain. Jadi menurut saya disintegrasi nasional yang disebut disintegrasi adalah rakyat Aceh Merdeka, Irian merdeka, atau daerah lain lagi merdeka, it’s not going to be end of the world. Karena persoalan saya adalah dengan federalisme. Memang sebaiknya setelah Aceh nggak ada, Irian nggak ada, kita pertimbangkan lagi lah bentuknya, federalisme atau variasi dari federalisme atau kombinasi federalisme dan kesatuan. Federalisme itu sebagai contohnya di Amerika, itu didukung oleh suatu supremasi hukum federal yang tinggi, yang diakui. Sebagai contoh waktu di Arkansas, anak-anak kulit hitam tidak boleh masuk sekolah kulit putih menurut Undang-undang disitu, anak-anak ini mengadukan ke pengadilan dan Mahkamah Agung mengatakan mereka boleh sekolah. Itu menurut Undang-Undang Dasar Amerika, tidak boleh ada diskriminasi. Untuk itu presiden Eisenhower mengirim Nasional Guard, menjaga anak-anak itu bersekolah dari gangguan orang-orang setempat dan dari gangguan Undang-Undang setempat. Dengan kata lain ada intervensi dari negeri federal, dan seringkali negara bagian di Amerika itu kuno, seperti ada yang tidak setuju aborsi, tidak setuju keluarga berencana, macam-macam. Nah disitu negara federal dengan supremasi hukum melakukan intervensi. Apakah seandainya di Aceh sebagai bagian dari Indonesia yang federal kelak, orang tidak pakai jilbab dipotong rambutnya? Apakah kalau nanti Undang-Undang Dasar Indonesia kelak mengatakan bahwa perempuan punya hak yang sama dengan laki-laki, boleh memilih pakaiannya dan sebagainya? Apakah bisa pemerintah federal Indonesia campur tangan ke Aceh, saya ragu. Negeri federal harus didukung dengan kesepakatan untuk mendukung hukum yang lebih besar dari negara-negara bagian. Itu yang saya ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut anda ekpresi ingin merdeka, ingin bebas itu taktik atau memang begitu keinginannya katakanlah untuk Aceh atau Irian. Artinya apakah ini peristiwa politik atau memang suatu perang kemerdekaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira ini serius sekali yang saya lihat di Aceh dan Irian. Masalahnya apa itu soal lain, bagaimana caranya itu soal lain, tapi serius mereka ingin merdeka. Menurut saya mereka akan punya problem juga. Karena begini, ada seorang teman dari Irian Jaya menulis surat kepada saya bagaimana pendapat saya. Dia seorang aktivis Hak Azasi Manusia. Saya bilang karena aniaya yang dilakukan oleh tentara disana, saya bisa mengerti orang ini ingin merdeka. Tapi apakah berdirinya negara baru akan menjamin hak azasi? Apalagi kalau politik identitas etnis jadi begitu dominan sehingga akan ada perbedaan antara etnisnya A dengan etnis B, apakah itu akan merupakan dukungan bagi apatisme. Kedua power corrupt oleh penguasa-penguasa baru di Indonesia akan melakukan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru kalau mau bikin negara federal itu harus dalam keadaan dimana pemerintah sentralnya kuat, jadi transisi ke arah federal kalaupun diinginkan menurut anda mungkin atau tidak sekarang atau malah akan betul-betul pecah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu bertolak dari skenario yang terburuk yaitu pecah, tidak apa-apa. Tapi kalau transisi sekarang bisa lancar, kalau kita masih mau negosiasi terus menerus mungkin bisa, tanpa menghilangkan kemungkinan bahwa selalu sifatnya sementara. Ini seperti di Kanada, Queback terus-terusan saja minta merdeka, asal bagi saya dengan damai, sebab kalau tidak damai, secara militer itu akan kalah. Juga bagi daerah-daerah yang ingin merdeka akan menimbulkan kekuatan militer sendiri yang akan bertentangan dengan cita-cita kemerdekaan yang sebenarnya kelak. Karena dimana ada militer yang dalam keadaan perang, hak-hak demokrasi harus ditekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sebenarnya menghadapi gejala ingin berpisahnya Aceh atau manapun, tentara sih sampai kapan-kapan jangan turun tangan. Jadi senjatanya disimpan saja, tidak ada kondisi apapun dimana tentara harus masuk membela merah putih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentara kalau mau membela Merah-Putih, dia harus membersihkan dosa-dosa. Seorang patriot yang sebenarnya adalah seorang patriot yang membersihkan tanah air kita ini dari dosa-dosa. Seorang patriot bukannya mempertahankan tanah airnya dengan segala dosanya, itu akan memberi cacat pada tanah air. Saya merasa itu yang terlanggar dan saya sedih karena kita semua nggak punya pilihan lain selain punya negara ini, tanah air ini, tapi diberi cacat yang kita nggak bisa ditebus. Karena itu jangan sampai tentara bertindak lagi menambah cacat-cacat. Kenapa tidak diadili saja para pelanggar itu, bukan demi ABRI atau demi TNI, tapi demi tanah air. Korbankan orang-orang itu. Kalau mau berkorban mati kenapa nggak Jendral-jendral diadili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat tepat, jadi tidak ada rekonsiliasi sebelum ada kebenaran. Kalau kita lihat kenyataannya ketidakpuasan daerah-daerah itu adalah terhadap rejim, kecuali ada orang yang menganggap ide Indonesia itu kurang bagus. Sekarang bagaimana kans dari rejim yang ini untuk menghilangkan keragu-raguan itu, apakah sudah bisa dikomentari 2 bulan setelah dia lahir, apakah sekarang akan lebih baik dari rezim Suharto dan Habibie?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya kesalahan dari rezim Suharto adalah menggunakan simbol-simbol Jawa untuk memperkuat kekuasaannya sehingga indentifikasi Suharto, Orde Baru dengan Jawa itu ketat. Sehingga seolah-olah ada kolonialisme Jawa, padahal itu kan tidak ada. Orang diluar tidak tahu perbedaan antara Pulau Jawa dan Javanese. Rejim yang sekarang atau pemerintah yang sekarang justeru punya kans, karena tidak punya kebiasaan untuk ber-Jawa-Jawa. Gus Dur itu kan dari kalangan santri, tidak ada hubungannya dengan Jawa-Jawanya yang dikemukakan oleh Suharto. Megawati orang Indonesia yang paling Indonesia secara genetik. Ibunya orang Sumatera, neneknya orang Bali, yang lain-lain seperti kita-kita nggak ada yang Se Indonesia seperti dia. Dia adalah pengewejantahan dari cita-cita bung Karno pribadi sebagai sebuah bangsa. Dia sebetulnya bisa menggunakan hal ini. Nah, problem dari pemerintahan sekarang kelihatannya tidak punya agenda yang jelas, langkah pertama ini, langkah kedua ini, langkah ketiga ini, sehingga ada lelucon Gus Dur hanya mau ke Aceh kalau Aceh sudah jadi luar negeri karena Gus Dur suka bepergian ke luar negeri. Problemnya juga bahwa Gus Dur maupun Mega tidak biasa memimpin suatu organisasi yang modern, artinya sebagai eksekutif. Sebagai eksekutif itu tidak mungkin kita memimpin negara seperti perpetual talk show, talk show yang terus-terusan, ngomong sana-ngomong sini, bikin dewan ini bikin dewan itu. Memang asyik bagi kita semua, bagi yang berdebat, tapi tidak ada yang bisa dilakukan. Kalau eksekutif kan ada rencana, ada evaluasi, ada kontrol. Problemnya adalah pemerintah sekarang tidak punya oposisi, semua didalam, sehingga nggak ada orang yang menakut-nakuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kita harus menyerah pada suatu pemerintahan yang memang tidak diperintah secara modern atau menunggu dia diganti atau secara reaktif menunggu oposisi. Apa yang harus dilakukan oleh orang-orang yang tadinya menyingkirkan Suharto Habibie, dan menyambut baik datangnya Gus Dur dan Mega?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira kita harus agak sabar juga. Pemerintah kan belum mengajukan budget anggaran, dari anggaran itu kan akan kelihatan, karena anggaran kan bukan angka. Anggaran adalah agenda, anggaran adalah rencana dan prioritas. Dari anggaran kelihatan bagaimana kita harus bisa menilai pemerintah ini dikerjakan secara serius atau tidak. Dan kita memang harus membikin suatu jaringan, yang disebut as such oposition, oposisi bikin-bikinan, karena bukan di parlemen dan kita sebenarnya tidak mewakili siapa-siapa, tapi dengan sikap yang berbeda. Ini pemerintah yang dibikin oleh rakyat, kita tidak boleh mendongkel ditengah jalan. Kita harus membiarkan pemerintah ini selesai sampai masa jabatannya, supaya ada tradisi bahwa pemerintah bisa diganti secara reguler dan damai. Kedua kita jangan lupa bahwa bagaimanapun juga pemerintah itu akan dipaksa oleh keadaan untuk bertindak dan juga oleh suara-suara diluar. Sebagai contoh pembentukan Dewan Ekonomi Nasional. Itu kan sempat ada nama Fuad Bawazir, Bambang Subiyakto, sampai menjadi sekarang suatu Dewan yang menurut saya bagus sekali, dengan segala unsur yang bagus ada disana. Dengan kata lain sebetulnya presiden Abdurachman Wahid dan Megawati cukup terbuka untuk dengarkan kritik , cuma ini masih belum melembaga semuanya, dan kita selalu harus berasumsi bahwa kekuasaan itu bisa menyesatkan orang. Justeru karena tidak ada oposisi harusnya bisa mengendalikan diri dengan baik. Saya harap misalnya Gus Dur dapat mencegah pembangunan gedung NU yang menelan biaya sampai 20 milyar. Itu kan tidak begitu bagus justeru karena Gus Dur sebagai presiden, kalau Gus Dur dulu sebagai orang diluar, itu sah saja, ide yang baik. Ini untuk nama baik dia juga. Tunjukan isyarat-isyarat bahwa kekuasaan ini tidak menyebabkan lupa. Saya harapkan juga dari Mega, ulang tahun cucunya nggak usah besar-besaran. Hal-hal yang kecil tapi menunjukan kesadaran bahwa setan itu datangnya dengan langkah-langkah kecil, dari godaan-godaan kecil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-7160301318215313500?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/7160301318215313500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=7160301318215313500' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/7160301318215313500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/7160301318215313500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2010/08/goenawan-mohamad-kalau-tidak-bisa.html' title='Goenawan Mohamad Kalau tidak Bisa, Silakan Pisah'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/THUvwWAuayI/AAAAAAAAAG8/oQBUXJel2io/s72-c/Goenawan-Mohamad-f_573_f_270.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-518517143557253534</id><published>2010-08-25T07:40:00.000-07:00</published><updated>2011-05-02T23:53:39.473-07:00</updated><title type='text'>Kata Blog Nahi Munkar tentang GM</title><content type='html'>maaf, polemik ini sementara dikosongkan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-518517143557253534?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/518517143557253534/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=518517143557253534' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/518517143557253534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/518517143557253534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2010/08/kata-blog-nahi-munkar-tentang-gm.html' title='Kata Blog Nahi Munkar tentang GM'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-733730009653006359</id><published>2010-08-25T07:30:00.000-07:00</published><updated>2010-08-25T07:31:07.062-07:00</updated><title type='text'>Goenawan Mohamad dan Asam Ranjinya</title><content type='html'>*&lt;br /&gt;      06 Oktober 2003&lt;br /&gt;      Asam Ranji di Rumah Goenawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Tiga pohon asam ranji mengacung di halaman rumah Goenawan Mohamad yang tak luas. Batang-batang yang besar dan kukuh. Tingginya telah lebih dari tiga meter dengan ranting yang banyak dan telah bertabrakan satu sama lain. "Bibitnya saya bawa dari kampung saya di Batang, Jawa Tengah. Saya dan istri saya menanamnya ketika kami baru pindah ke rumah ini," kata Goenawan Mohamad, 62 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Hujan baru saja reda di rumah sederhana di kawasan Tanah Mas, Jakarta Timur itu. Udara tak dingin. Angin datang membawa bau tanah basah dan sisa air hujan. Beberapa wartawan televisi yang mewawancarai redaktur senior Majalah TEMPO itu telah lama pulang. Malam belum terlalu larut. Goenawan Mohamad, yang mengenakan kemeja warna hitam, memandang ke atas, ke arah pucuk pohon asam ranji. "Setiap orang yang menanam ingin melihat pohon yang ditanamnya menjadi besar," katanya lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Ketiga pokok pohon itu memang telah membubung. Tapi boleh jadi Goenawan tak akan pernah memilikinya lagi. Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin pekan lalu, menyita rumah itu sebagai jaminan atas kasus penghinaan yang membelitnya. Ia dituding bersalah karena mengatakan Indonesia tak boleh jatuh ke tangan preman dan Tomy Winata-pengusaha yang kini beperkara dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Semuanya terjadi begitu saja. Senin itu, sang esais sedang rapat di Yayasan Lontar-sebuah lembaga yang menerbitkan buku-buku sastra terjemahan-ketika petugas pengadilan datang. Mereka berseragam: mencatat, dan membacakan surat tanda rumah itu dibeslah. Tak ada orang di rumah kecuali dua pembantu dan seorang sopir. Widarti, istri Goenawan, sedang berada di Budapest, Hongaria, untuk sebuah tugas. Kedua anak Goenawan yang sudah dewasa sudah tak lagi tinggal di rumah itu. Di luar, sejumlah wartawan dan tetangga masih berkerumun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dibeli hampir 20 tahun lalu, rumah itu adalah sehimpun kenangan buat Goenawan. "Harganya sekitar Rp 120 juta," ujarnya. Rumah itu tak besar. Tanahnya 400 meter dengan bangunan 300 meter persegi. Rumah itu lalu dirombak: langit-langitnya ditinggikan agar udara lebih bebas bergerak. Dinding tebal yang kaku diganti dengan pintu geser berkaca buram agar tak menghabiskan tempat. "Saya dibantu arsitek bernama Suwarno Supeno. Tapi ia tak mau dibayar. Gratis," kata Goenawan, tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Rumah di Tanah Mas adalah persinggahan kesekian dalam hidup Goenawan Mohamad selama di Jakarta. Ketika muda, ia kos dari satu pondokan ke pondokan yang lain. Ia pernah tinggal di rumah Salim Said, almarhum Zainal Sakse, Wiratmo Sukito, dan penyair Hartojo Andang Jaja. Sehabis menikah dengan Widarti pada 1968, ia mengontrak di Pasar Genjing, Jakarta Timur. "Rumah itu bocor sehingga kalau hujan harus kami tadahi payung," katanya. Tahun 1971, Goenawan membeli rumah di Kompleks PWI Cipinang Muara, Jakarta Timur. Setelah bermukim di sana lebih dari 10 tahun, keluarga Goenawan pindah ke Tanah Mas karena menganggap rumah lama mereka terlalu sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dua puluh tahun berlalu, dan kini rayap menggerogoti atap rumah "baru" mereka. Langit-langit ruang tamu tampak terbuka, tanda sedang diperbaiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Tak ada yang istimewa dengan rumah bercahaya redup tersebut. Ruang tamu nyaris tanpa perabot. Hanya ada seperangkat kursi tamu, lemari kuno, beberapa reproduksi lukisan Picasso, sebuah lukisan Nashar yang kertasnya sudah menguning, gambar Tisna Sanjaya, dan patung karya Anusapati. Bufet besar di ruang keluarga hanya diisi sedikit buku, beberapa suvenir, dan televisi yang jarang berbunyi. Debu tipis menyelimuti pelbagai perabot. "Sejak semula tak ada yang berubah dalam rumah ini," kata Goenawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Di sebelah kiri pintu masuk terdapat tiga kamar yang tak besar. Satu di antaranya adalah kamar tidur Goenawan. Di dalamnya terdapat dipan berukuran sedang dengan seprai putih. Dua bantal lurik tanpa sarung tergeletak di arah kaki. Di dekatnya terdapat keranjang pakaian bersih. Lalu, ada foto-foto kecil yang ditempel pada sebuah papan kayu lunak yang terletak di belakang pintu. Ada foto kedua anak Goenawan di masa kanak-kanak-Hidayat Jati dan Paramita-foto Goenawan dengan sahabatnya Marsilam Simanjuntak, potret Goenawan muda dengan pipi yang penuh bulat dan tak bermisai. Agak ke luar, terdapat kamar mandi dengan wastafel yang berkarat dan keran air panas yang airnya tak lagi mengucur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Goenawan lalu mengenang. Di ruang tamu, pada 1994, beberapa petinggi TEMPO pernah berapat untuk membahas masa depan majalah mereka yang baru saja dibredel. Beberapa hari sebelumnya, tawaran datang dari pengusaha Hashim Djojohadikusumo, yang menjanjikan bisa mengupayakan TEMPO hidup kembali. "Tapi, syarat yang mereka ajukan, mereka harus bisa mengatur isi redaksi," kata GM. Tawaran itu ditolak. "Lebih baik," kata Goenawan, "kami mati secara terhormat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      "Ayo makan," kata GM tiba-tiba kepada beberapa wartawan yang hadir malam itu. Di meja telah tersaji nasi putih, ikan goreng, kerupuk, dan sayur. "Barangkali ini jamuan saya yang terakhir di rumah ini," tuturnya setengah bergurau. Di dekat meja makan terdapat beberapa lemari dan meja antik. Agak ke depan, terlihat taman Jepang kecil yang tak terurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      "Saya selalu ingin pulang ketika sedang capek atau kangen makanan rumah," katanya. Jika sedang sibuk, ia sesekali menginap di kantornya di Teater Utan Kayu, Jakarta Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Jika di rumah, Goenawan mengaku jarang tidur di kamarnya sendiri. Sehari-hari ia lebih asyik di perpustakaan merangkap kamar kerjanya, yang terletak di lantai dua. Inilah ruangan yang paling "hidup" di rumah itu. Kamar dengan dinding yang ditumbuhi buku. Lantai kayu berlapis karpet lusuh yang tertimbun oleh berbagai kitab. Di bawah jendela kaca terdapat tempat tidur seukuran badan dengan kasur dingin berlapis seprai biru. Di sinilah Goenawan biasa merebahkan badan. Sesungguhnya ia tak pernah benar-benar tidur. "Saya cuma terlelap sebentar-sebentar," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Hidupnya memang tak teratur. "Bapak bisa pulang pukul empat pagi, tidur pukul lima, lalu minta dibangunkan pukul 6.30 WIB," kata Bubun, sopir Goenawan, yang setia mengantar ke mana dia pergi. Jumat malam dipastikan ia akan melek sampai pagi karena menulis Catatan Pinggir, kolom tetapnya di Majalah TEMPO. "Di kamar inilah banyak puisi saya yang lahir," kata Goenawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Di perpustakaan pribadi itu, di antara tumpukan buku yang lusuh, terselip lukisan pensil wajah GM hasil karya Hidayat Jati, anaknya. Goenawan mencintai Jati, yang telah memberinya seorang cucu perempuan. Pada 1976, ia pernah menulis sajak untuk sang putra:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Tiap tengah malam hujan mendarat&lt;br /&gt;          Pada atap anak yang mimpi&lt;br /&gt;          Tentang seorang pilot, tanpa pesawat&lt;br /&gt;          Di atas sawah dan pagi hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Cemas itu, nak, memang telah jadi umum&lt;br /&gt;          dan akan sampai pula kemari&lt;br /&gt;          nah, rapikan rambutmu sebelum kucium&lt;br /&gt;          dengan tangkai daun yang telah lama mati &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Cemaskah kini Goenawan menghadapi prahara yang menimpanya? Ia mengaku tidak. "Saya memang tak tahu akan pindah ke mana jika rumah ini jadi disita. Tapi saya telah siap untuk kecewa," katanya. Ia tersenyum, matanya menyipit. Lalu, sekali lagi, ia tengadah menatap pucuk pohon asam ranji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Arif Zulkifli&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-733730009653006359?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/733730009653006359/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=733730009653006359' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/733730009653006359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/733730009653006359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2010/08/goenawan-mohamad-dan-asam-ranjinya.html' title='Goenawan Mohamad dan Asam Ranjinya'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-4861487060976349109</id><published>2010-08-25T07:02:00.000-07:00</published><updated>2010-08-25T07:05:18.762-07:00</updated><title type='text'>Cerita untuk Mita</title><content type='html'>i tromol itu kulihat permen dan bintang-bintang&lt;br /&gt;dan gambar seorang perempuan pirang.&lt;br /&gt;Ia memperkenalkan: “Aku dari sebuah masa kecil.&lt;br /&gt;Kau kukenal dalam kenangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku tak banyak punya kenangan&lt;br /&gt;tapi malu untuk ditertawakan.&lt;br /&gt;“Oh, ya, siapa ya nyonya, kapan datang dari Belanda?”&lt;br /&gt;Ia tertawa: “Salah, aku merk manisan Amerika.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1976&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Hasan Aspahani:&lt;br /&gt;GM yang mengutip Goethe; menulis tentang Zagreb untuk Xanana Gusmao; menyajak untuk pelukis Frida Kahlo, dan penyair Amerika Allen Ginsberg; tentang New York, Sarajevo, Sydney dan Hiroshima; eh tiba-tiba saja ada menulis sajak tentang permen dan gambar seorang perempuan pirang yang dikenal dari sebuah masa kecil, dalam sebuah kenangan di merk manisan Amerika.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mita adalah nama kecil dari putri Goenawan Mohamad.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-4861487060976349109?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/4861487060976349109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=4861487060976349109' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/4861487060976349109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/4861487060976349109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2010/08/cerita-untuk-mita.html' title='Cerita untuk Mita'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-4759485479758300306</id><published>2010-07-20T05:42:00.000-07:00</published><updated>2010-07-20T05:53:11.445-07:00</updated><title type='text'>Segera Terbit: Profil PRM Proyonanggan Utara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/TEWbW2qAaXI/AAAAAAAAAG0/_N7c60HCWPA/s1600/cover+sample.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 246px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/TEWbW2qAaXI/AAAAAAAAAG0/_N7c60HCWPA/s320/cover+sample.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495969737206688114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-4759485479758300306?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/4759485479758300306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=4759485479758300306' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/4759485479758300306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/4759485479758300306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2010/07/segera-terbit-profil-prm-proyonanggan.html' title='Segera Terbit: Profil PRM Proyonanggan Utara'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/TEWbW2qAaXI/AAAAAAAAAG0/_N7c60HCWPA/s72-c/cover+sample.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-580193937557297325</id><published>2010-07-02T18:52:00.000-07:00</published><updated>2010-07-02T18:55:40.396-07:00</updated><title type='text'>Goenawan Mohamad Tolak Hadiah</title><content type='html'>Wacana SUARA MERDEKA&lt;br /&gt;30 Juni 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GM dan Pengembalian Bakrie Award&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Oleh Wijaya Herlambang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GM menyatakan mengembalikan hadiah itu karena tak setuju cara Bakrie akhir-akhir ini dalam memperkuat posisi politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIAPA tak kenal Goenawan Mohamad (GM)? Dia selalu berusaha jadi figur sederhana, meski sebenarnya sangat berpengaruh. Dia selebritas kebudayaan, pemimpin budaya ”pembebasan”, terutama bagi penggemar ideologi liberalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 22 Juni lalu, penanda tangan Manifes Kebudayaan tahun 1963 itu mengembalikan Bakrie Award yang dia terima tahun 2004 ke penyelenggara pemberian penghargaan, yakni Freedom Institute. Hal itu mengejutkan banyak pihak, terutama yang selama ini mengamati aktivitas kebudayaan nasional. Pertama, karena GM sebelumnya dikenal dekat dengan Freedom Institute yang didirikan keluarga Aburizal Bakrie. Kedua, sebelum kasus Bank Century meletus, yang menyeret nama Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, hubungan GM dan Bakrie baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GM menyatakan mengembalikan hadiah itu karena tak setuju cara Bakrie akhir-akhir ini dalam memperkuat posisi politik. Lebih spesifik, GM menyatakan mengetahui Bakrie memotori serangan terhadap Boediono dan Sri Mulyani. Meski, menurut pendapat dia, kedua pejabat itu ”tak bersalah” dalam kasus Bank Century.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari benar atau tidak, alasan itu masuk akal. Sebab, baik langsung maupun tidak, Bakrie punya andil besar dalam pendongkelan Sri Mulyani dari kursi menteri. Melihat sikap politik GM yang mendukung pencalonan Boediono sebagai wakil presiden pada Pemilu 2009, wajar bila ada yang menyimpulkan pengembalian Bakrie Award merupakan bagian dari usaha GM mempertahankan dukungan pada Boediono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dia merasa wajib membersihkan nama Boediono dan Sri Mulyani, dengan meyakinkan publik bahwa kedua pejabat negara itu tak bersalah. Namun ada pula yang berpendapat, pengembalian hadiah itu berkait dengan pandangan ideologis GM. Rekam jejak GM dalam membela ”prinsip kemanusiaan” atas nama ”kebebasan berekspresi” sudah dikenal sejak tahun 1960-an, meski berakibat fatal bagi penulis kiri yang tergabung dalam Lekra, lembaga kebudayaan yang berafiliasi ke PKI. Akibat kampanye ideologis kelompok penanda tangan Manifes Kebudayaan, tradisi ”kiri” — terutama dalam perkembangan sastra selama masa Orde Baru — tersingkir secara dramatis.&lt;br /&gt;Pintu Gerbang Kemampuan GM menjalin kontak dengan lembaga dan tokoh berpengaruh di dalam dan luar negeri juga tak dapat diragukan. Hubungan yang dia bangun dengan diplomat kebudayaan, seperti Ivan Kats dari Congress for Cultural Freedom tahun 1960-an atau John McGlynn dari Yayasan Lontar, menjadi salah satu pintu gerbang penting bagi lalu lintas kebudayaan transnasional di Indonesia. Kedekatan GM dengan tokoh-tokoh berpengaruh, seperti mantan perwakilan Ford untuk Indonesia, Philip Yampolsky dan Mary Zurbuchen, mantan Direktur Bank Dunia, Paul Wolfowitz, dan mantan Direktur USAID untuk Indonesia, Mark Johnson, juga merupakan petunjuk penting: dia memiliki jaringan luas dengan perwakilan lembaga donor dari Amerika Serikat (AS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situlah terbangun kontak antara GM dan Ford Foundation, Rockefeller Foundation, Asia Foundation, dan USAID. Atas dasar itu, tak mengejutkan bila banyak tuduhan dilemparkan bahwa GM merupakan agen kebudayaan (neo)-liberalisme, meski tuduhan itu masih harus didukung bukti lebih meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, mengapa GM ngotot membela Boediono dan terutama Sri Mulyani yang terjungkal gara-gara kampanye Bakrie di DPR untuk mengusut kasus Bank Century? Mengapa kasus Boediono-Sri Mulyani dalam skandal Bank Century bisa mengubah aliansi GM dan Bakrie menjadi seteru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diingat, kedekatan GM dan kelompok Bakrie bermula dari kolaborasi GM dan proteges-nya seperti Nirwan Dewanto dan aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Freedom Institute awal tahun 2000-an. Sejak GM mendirikan JIL tahun 2001, sebagai bagian dari Komunitas Utan Kayu yang berpengaruh, hingga Komunitas Salihara yang dibangun tahun 2008, keluarga Bakrie melalui Freedom Institute menjadi salah satu penyandang dana terbesar, selain AS melalui the Asia Foundation dan USAID serta lembaga donor asing lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi tahun 2005 GM bekerja sama dengan Freedom Institute untuk mendukung kebijakan pemerintah menghapus subsidi bahan bakar minyak dengan mengumpulkan tanda tangan dari para tokoh terkenal, termasuk Frans Magnis-Suseno yang pernah diunggulkan sebagai penerima Bakrie Award. Itu menunjukkan, pada suatu masa pandangan GM seiring dengan kepentingan politik Bakrie yang menginginkan privatisasi (pasar bebas) sumber energi. Bahkan GM mempertahankan Bakrie Award ketika Aburizal Bakrie jadi pusat kritik sejak tahun 2006 akibat kasus lumpur Lapindo.&lt;br /&gt;Washington Consensus Sementara itu, keberpihakan GM pada Boediono dan Sri Mulyani juga dapat dilihat berdasar peran kedua pejabat itu, terutama Sri Mulyani, yang kerap dituduh sebagai pendukung kebijakan pasar bebas (market fundamentalism) yang diperkenalkan pakar ekonomi dari Institute for International Economics, John Williamson, melalui istilah Washington Consensus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Washington Consensus merupakan doktrin untuk menggunakan perangkat ekonomi, seperti stabilitas ekonomi makro, pasar modal, perdagangan bebas, dan privatisasi perusahaan negara, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di dunia ketiga, termasuk Indonesia. Tentu cara itu menuai kritik tajam dari berbagai kalangan, termasuk dari pakar linguistik dan politik seperti Noam Chomsky dan sejarawan sekaligus novelis dari jurnal New Left Review, Tariq Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berpendapat, doktrin pasar bebas yang diterapkan melalui Washington Consensus tak lain adalah upaya negara maju membuka pasar buruh dari negara berkembang untuk dieskploitasi perusahaan raksasa dari negara maju, terutama AS. Dalam konteks kebijakan pasar bebas itulah, pandangan GM berkesesuaian dengan perspektif Boediono dan Sri Mulyani, yang menurut sebagian orang pro-Washington Consensus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GM tentu sadar keputusan mengembalikan Bakrie Award tak hanya memicu kontroversi di masyarakat, tetapi juga memicu permusuhan dengan Bakrie. Konsekuensi dari alasan GM mengembalikan hadiah itu bisa jadi merugikan reputasi dan kepentingan politiknya. Pertama, pengembalian penghargaan itu dengan alasan membela Boediono dan Sri Mulyani memunculkan penilaian: keputusan GM lebih dipengaruhi kepentingan politik ketimbang perspektif moral dalam membela korban lumpur Lapindo yang lebih substansial. Kedua, ada pendapat lebih elok GM mengembalikan hadiah itu ketika malapetaka Lapindo meletus tahun 2006. Ketiga, pengembalian penghargaan itu mengakibatkan hubungan politik yang dia bina dengan Bakrie selama ini hancur, sekaligus secara tak langsung GM memopulerkan penghargaan itu. Pendek kata, jika GM hendak menunjukkan sikap sebagai pejuang ”pembebasan”, alasan pengembalian Barkrie Awad itu tidak tepat dan terlambat. Namun, ternyata, kepentingan politik lebih berharga ketimbang yang lain. (51)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Wijaya Herlambang, kandidat doktor pada The School of Languages and Comparative Cultural Studies, The University of Queensland, Australia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-580193937557297325?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/580193937557297325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=580193937557297325' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/580193937557297325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/580193937557297325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2010/07/goenawan-mohamad-tolak-hadiah.html' title='Goenawan Mohamad Tolak Hadiah'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-6795853207141734635</id><published>2010-06-14T21:17:00.000-07:00</published><updated>2010-06-14T21:18:36.812-07:00</updated><title type='text'>Matahari Dekat Sekali</title><content type='html'>Aku berjalan menembus hutan. Matahari tampak sangat dekat, seperti menggantung di atas kepalaku. Kuamati benda langit itu. Aneh, permukaannya retak-retak membentuk tulisan Arab. Tertera kalimat “Allah”, indah sekali mirip kaligrafi. Bola raksasa itu mengejarku seolah minta dipeluk. Lama-lama mengecil dan dapat kugenggam. Begitulah mimpi yang datang semalam, dan aku sangat gembira menerimanya. &lt;br /&gt;Tiba-tiba aku teringat mimpi Nabi Yusuf as ketika melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, semua sujud padanya (1). Mimpi tersebut mengandung isyarat luar biasa.  Lalu ada isyarat apa dalam mimpiku? Aku percaya, setiap mimpi yang menyenangkan adalah kiriman Tuhan --  bukan rekayasa setan --  maka aku berani menceritakan pada siapapun.&lt;br /&gt;Orang pertama yang kuberi tahu adalah Fitri, istriku. Aku meniru kebiasaan istriku, setiap kali ia bermimpi – apapun mimpinya --  akulah orang pertama yang dimintai pendapat. Jika istriku mimpi buruk, dikejar-kejar lelaki misalnya, aku hanya jadi pendengar setia. Aku tak komentar apa-apa selain “hmmm....” lalu kusuruh ia baca istighfar dan meludah ke kiri. Kalau mimpinya baik, kusuruh ia meludah ke kanan dan berucap Alhamdulillah. &lt;br /&gt;Mata Fitri bersinar.&lt;br /&gt;“Kok mimpi kita bisa sama ya, Kang?. Semalam aku mimpi melihat bulan.” &lt;br /&gt;“Mungkin kita akan mendapat anugerah besar. Novelku bakal laku keras seperti Ayat-Ayat Cinta atau Laskar Pelangi.”&lt;br /&gt;Istriku tersenyum.&lt;br /&gt;“Sudah sampai mana novel Malaikat Pencatat Cinta-nya, Kang?”&lt;br /&gt;“Hampir selesai, tinggal memantapkan judul.”&lt;br /&gt;“Apa judul MPC belum mantap?”&lt;br /&gt;“Sementara belum menemukan judul lain yang dahsyat. Kata seorang penulis di Jakarta, judul itu terlalu serius. Tapi temanku di Wiradesa sangat penasaran dan minta dikirimi tiga bab awal. Seorang tukang parkir, teman sekolahku dulu,  malah mengusulkan judul lain: Sang Pencatat Cinta.”&lt;br /&gt;“Bagus juga.”&lt;br /&gt;“Ya begitulah, semua kuhargai. Dari sekian sms , rata-rata pilih MPC. Tadinya mau kuberi judul Mayat-Mayat Cinta, unik sebenarnya, tapi kesannya mengekor Habiburrahman El-Shirazy...”&lt;br /&gt;“Lho, bukankah Kang Abik juga ndompleng ketenaran novel Ayat-Ayat Setan? Tak apa-apa kan kalau Kang Ata ndompleng Ayat-Ayat Cinta. Maknanya kan beda.” &lt;br /&gt;Aku manggut-manggut. &lt;br /&gt;“Ya, mudah-mudahan saja novel itu bisa selesai tepat waktu dan terbit tahun ini. Laku keras dan royaltinya bisa buat bayar utang dan lain-lain.”&lt;br /&gt;“Iya ya, Kang. Fitri doakan...&lt;br /&gt;#  #  #&lt;br /&gt;Orang kedua yang kuberi tahu adalah Ilham, putra pertamaku yang belum genap lima tahun. Aku yakin,  seorang balita tak mungkin berpikir aneh karena jiwanya masih bersih, belum terbebani dosa.  Menjelang tidur, anakku minta diceritakan sesuatu. Tiap hari aku harus mengarang cerita untuknya. Jika kehabisan ide, cerita lama kuulang lagi. Tak sampai lima menit, anakku terlelap.&lt;br /&gt;“Bapak punya cerita bagus sekali, Ilham mau?” kataku suatu malam. Seperti biasa, Ilham berbaring di tengah diapit aku dan istriku. &lt;br /&gt;“Mauuuuuu.....” teriak Ilham.&lt;br /&gt;“Syaratnya, berdoa dulu, sayang?....”&lt;br /&gt;“Bismika Allahumma ahya wa bismika amuuuuuuuuuuuttttttt...”&lt;br /&gt;“Huruf U-nya jangan panjang-panjang, Sayang?”&lt;br /&gt;“Amuuut...”&lt;br /&gt;“Huruf U-nya tiga saja!”&lt;br /&gt;“Amuuut”.&lt;br /&gt;Mulailah aku bercerita. Anakku mendengarkan penuh perhatian. Matanya berkedip-kedip. Wajahnya sumringah. Mulutnya menganga, tersenyum lebar. Anakku berkomentar:&lt;br /&gt;“.......”&lt;br /&gt;Jiwaku bergetar. &lt;br /&gt;#  #  #&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kelas dua SMP aku punya cita-cita. Cita-cita yang sangat sederhana, yakni bagaimana menulis novel yang menggetarkan dan bisa dibaca para tetangga.  Sejak remaja aku senang mengarang cerita dan mengirimkannya ke media cetak. Naskah-naskah yang kukirim ditolak redaksi, tak terhitung jumlahnya. Tapi aku tak pernah bosan menanti harapan. Cita-cita adalah doa tak terucap, tercetus dari alam bawah sadar.    &lt;br /&gt;Aku teringat Pak Sahuri -- guru madrasah  tsanawiyah yang lembut – suatu ketika menyarankan aku masuk fakultas sastra. Pesan yang hanya bisa kutelan tanpa bisa menjalankannya. Aku tak bisa kuliah karena tak punya biaya. Bisa masuk SMA saja aku merasa bahagia.&lt;br /&gt;Lantaran pendidikan formal tak memadai, aku kesulitan melamar pekerjaan. Tiap kali membaca iklan lowongan kerja, selalu tercantum syarat mutlak: pendidikan yang cukup. Untuk jenis pekerjaan tertentu pelamar harus sarjana atau minimal D-3. Ijazah sekolah menengah hanya kutemukan pada iklan lowongan sales.&lt;br /&gt;Aku mendapat info ajaib dari seseorang, lupa namanya. Tentang lowongan pekerjaan yang tidak menuntut pendidikan formal, yakni mengarang. Untuk menjadi seorang pengarang, tidak dibutuhkan ijazah ini-itu. Hanya dibutuhkan talenta membaca dan menulis. Aku pun mengikuti alur itu. Aku mulai mencintai koran, majalah dan buku-buku. Aku mengira menulis di media cetak itu mudah. Aku mengira setiap tulisan yang dikirim pasti dimuat dan mendapat imbalan. Ternyata dugaanku keliru. Untuk bisa menulis sebuah cerita pendek ternyata harus berpikir keras.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-6795853207141734635?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/6795853207141734635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=6795853207141734635' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/6795853207141734635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/6795853207141734635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2010/06/matahari-dekat-sekali.html' title='Matahari Dekat Sekali'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-5818011414967605827</id><published>2010-06-14T21:14:00.000-07:00</published><updated>2010-06-14T21:16:10.733-07:00</updated><title type='text'>Fatima, Selamat Jalan...</title><content type='html'>Harun mengambil Foto Fatima dari dompetnya dan menunjukkan padaku malam itu. Wajah lembut dan indah terpancar di sana. Fatima adalah putri Bu Zakiah, seorang guru sekolah dasar di kampungku. Harun adalah kekasihnya. Keduanya sama-sama anggota Gita Nada. Harun sangat pintar memainkan saxophone, sedangkan Fatima masuk tim penari bendera. Tapi entah kenapa, hubungan keduanya tak berlanjut. Harun menyerahkan foto itu padaku. Aneh, untuk apa?  &lt;br /&gt;“Ata, kalau kau suka Fatima, dekati saja, siapa tahu mau jadi pacarmu,” kata  Harun santai.&lt;br /&gt;Aku tertawa.&lt;br /&gt;“Ini serius. Aku sudah putus kok sama dia.”&lt;br /&gt;“Putus, lalu kaulempar padaku, begitu?”&lt;br /&gt;“Ya kalau kau mau. Siapa tahu orang tuanya mau menerima kamu.”&lt;br /&gt;“Jadi orang tua Fatima tak merestui cinta kalian?”&lt;br /&gt;“Benar, kawan. Dan sekarang antara aku dan dia tak ada hubungan apa-apa, putus total.”&lt;br /&gt;“Jangan begitu, Run. Rencana boleh terpotong, tapi silaturahmi jangan.”&lt;br /&gt;“Terserahlah, yang pasti aku dan dia tak mungkin bersatu. Dan aku minta tolong, foto ini kembalikan pada Fatima. Atau kalau kamu mau menyimpannya juga tak apa-apa. Pokoknya aku ingin foto ini lepas dari tanganku.”&lt;br /&gt;“Kenapa tidak kaubakar saja?”&lt;br /&gt;“Aku tak tega melakukannya, meskipun hatiku sebenarnya sangat sakit.”&lt;br /&gt;“Memangnya ada persoalan serius antara kamu dengan Fatima?”&lt;br /&gt;“Kukira orang-orang di kampung ini sudah banyak yang tahu. Apa kau tak mendengar?”&lt;br /&gt;“Tentang sikap orang tua Fatima yang keterlaluan itu?”&lt;br /&gt;“Ya. Tahu kan?”&lt;br /&gt;Aku mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;“Jadi cerita yang beredar itu benar? Fatima disiksa ibunya sendiri? Kenapa bisa begitu?”&lt;br /&gt;“Aku sendiri tak tahu, kenapa seorang ibu bisa bersikap kejam pada anaknya sendiri. Menyiksa lahir batin. Kau lihat sendiri kan? Fatima sekarang stres berat. Kemarin kulihat tubuhnya agak kurus. Wajahnya pucat. Siapa tahu kedatanganmu bisa jadi obat buat dia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#  #  #  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku dan warga kampung lainnya nonton TV di rumah Pak Tibum. Aku bertemu Fatima. Aneh, penampilan Fatima tak seperti malam-malam sebelumnya.  Wajahnya muram seperti menyimpan sesuatu. Kudekati Fatima yang tengah duduk di pojok ruangan. &lt;br /&gt;“Fat, tolong ke halaman rumah. Aku ada perlu sama kamu, sebentar saja.”&lt;br /&gt; “Perlu apa? Kan bisa bicara di sini.”&lt;br /&gt; “Sebentar saja, ayo kita keluar, please!”&lt;br /&gt; Fatima keluar ruangan. Tak ada mata yang memandang curiga, semua konsentrasi pada acara TV. Di halaman rumah kami bertemu beberapa menit. Aku hanya menyerahkan selembar foto yang kuterima dari Harun. Sikap Fatimah sungguh mengejutkan. Ia langsung merobek-robek foto itu menjadi serpihan-serpihan kecil,  kemudian membuangnya ke tanah dan diinjak-injak. &lt;br /&gt;Aku tak menyangka Fatima bisa sesadis itu.  &lt;br /&gt;“Kenapa dirobek-robek? Kenapa, Fat?” tanyaku heran. &lt;br /&gt;“Biarkan...” sahut Fatima tanpa beban. Ia langsung meninggalkan aku. Kupungut kembali serpihan-serpihan foto itu seperti memunguti biji-biji yang berserakan di tanah. Wajah anggun dalam foto itu menguap entah kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#  #  #&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sore aku bertemu Fatima di sebuah pertigaan jalan, tak jauh dari rumah Pak Tibum. Kami sama-sama ingin menemui Mbah Amad, pedagang bakso keliling yang biasa mangkal di dekat rumah Pak  Tibum. &lt;br /&gt;Fatima melangkahkah tanpa gairah. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus.  &lt;br /&gt;“Traktir dong...” candanya lirih. &lt;br /&gt;Aku tak menyangka itu adalah pertemuanku kami yang terakhir.  &lt;br /&gt;Beberapa hari setelah kejadian itu, Fatima tidak muncul di rumah Pak Tibum. Aku kesulitan menemuinya. Sore hari di lapangan volli juga tak tampak. Kucari di arena latihan marching band juga juga tidak ada. Kemanakah ia? Berhari-hari aku kehilangan jejaknya, hingga akhirnya terdengar kabar bahwa Fatima terserang liver. Berkali-kali keluarganya membawa ke sejumlah dokter tapi tak juga sembuh. Malah penyakitnya semakin parah. Tak lama kemudian Fatima meninggal dunia. Innalillahiwainnailaihiraaji’uunn.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis pertemuan remaja masjid aku mencegat Wim di sebuah gang kecil menuju rumahnya. Langkah Wim terhenti. Wajahnya menunduk. Dua tangannya memdekap buku catatan kegiatan di dadanya. Malam itu Wim mengenakan busana rapat, hanya bagian wajah dan telapak tangannya yang kelihatan.&lt;br /&gt;“Wim!” sapaku lirih.&lt;br /&gt;“Ada apa, Mas?”&lt;br /&gt;“Bagaimana suratku kemarin? Sudah kau baca?”&lt;br /&gt;“Entahlah...”&lt;br /&gt;Sambil berucap begitu, Wim berlari meninggalkanku.&lt;br /&gt;Seminggu sebelumnya aku mengirim surat pada Wim lewat Satri. Isinya tidak terlalu penting. Kuajak dia menghadiri undangan pernikahan Fahmi dan Neriana. Kebetulan aku dan Wim mendapat undangan. Fahmi dan Neriana adalah mantan ketua dan sekretaris remaja masjid yang terlibat cinta lokasi. &lt;br /&gt;Aku iri dengan kebahagiaan pasangan muda itu. Pikiran konyol tiba-tiba bersarang di kepalaku. Aku sengaja mengajak Wim menghadiri resepsi pernikahan mereka, dan berharap Wim juga punya perasaan yang sama. Sebab teman-teman di kampung menganggap aku dan Wim pasangan yang serasi setelah kami aktif di taman pendidikan al-Quran (TPQ). Tiap habis Asar kami bertemu di madrasah meski jarang sekali terlibat obrolan. Habis mengajar anak-anak, kami langsung pulang. &lt;br /&gt;Semula aku tak punya perasaan apa-apa terhadap Wim. Tapi setelah beberapa bulan sering bertemu, tiba-tiba muncul perasaan aneh. Apa yang ada dalam diri Wim tampak indah dan semuanya kuperhatikan. Tidak hanya senyumannya yang menawan, tapi tutur katanya yang lembut, langkah kakinya, cara mengerdipkan mata, tulisan dan tanda tangannya, warna kerudungnya, sering kuperhatikan. Dan akhirnya aku memberanikan mengungkapkan cinta lewat  sepucuk surat surat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Ata  yang aku hormati...&lt;br /&gt;Maaf  aku baru membalas surat saat ini. Begini Mas, pada dasarnya aku tak berani menolak kehadiran seorang laki-laki yang berniat baik padaku. Aku paling takut menolak hadirnya cinta seorang pria. &lt;br /&gt;Tapi perlu Mas Ata ketahui bahwa saat ini aku sedang bingung menentukan sikap. Kira-kira seminggu yang lalu ada seorang pria langsung menemui orang tuaku. Dia berkeinginan memetik aku (maaf, tak  perlu kusebut namanya). &lt;br /&gt;Dan kalau harus jujur, sebenarnya aku lebih condong memilih Mas Ata. Kita sudah cukup lama saling kenal. Sementara laki-laki yang menemui orang tuaku sama sekali belum aku kenal. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika menikah dengan seorang lelaki yang belum kukenali. &lt;br /&gt;Aku dan orang tuaku beda pendapat.  Aku ingin ke barat tapi orang tuaku ke selatan. Dan aku juga tak berani menentang kehendak orang tua. Saat ini aku dipaksa menerima laki-laki yang tidak aku sukai. Terus terang Mas, saat ini aku sedang bingung menentukan sikap.&lt;br /&gt;Sekali lagi, aku mohon maaf jika kedatangan surat ini membuat Mas Harun tidak nyaman.&lt;br /&gt;Wardah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aki tak mengira Wim sedang punya masalah. Bu Kaput, ibunya Wim marah besar begitu tahu anak gadisnya berdekatan dengan aku. Dan yang kemudian terjadi sungguh di luar dugaan. Sesuatu yang sangat memalukan. Suatu siang saat aku melintasi jalan kampung, Bu Kaput mencegatku dan  menghujani makian layaknya memarahi anak kecil.&lt;br /&gt;“Setan kamu! Berani-beraninya mengganggu anakku. Mentang-mentang pengarang berani mengganggu tunangan orang. Wim itu sudah ada yang punya, tahu! Kamu tak usah mengganggu...” &lt;br /&gt;Wajah perempuan itu merah padam, sorot matanya tajam menusuk perasaan. Aku benar-benar tak mengira bisa terjadi peristiwa aneh ini. Benar-benar seperti mimpi. Tapi ini bukan mimpi. Jalan pikiranku tiba-tiba macet, tak tahu harus berkata apa. Aku hanya bisa melangkah cepat meninggalkan perempuan itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-5818011414967605827?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/5818011414967605827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=5818011414967605827' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/5818011414967605827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/5818011414967605827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2010/06/fatima-selamat-jalan.html' title='Fatima, Selamat Jalan...'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-7257028549706061320</id><published>2010-06-14T21:08:00.000-07:00</published><updated>2010-06-14T21:09:48.474-07:00</updated><title type='text'>Asmaradana</title><content type='html'>Asmaradana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang usia seperempat abad, memoriku terisi wajah-wajah perempuan tetangga. Mereka adalah Fatima, Arin, Wim dan Nadia, kusebut gadis empat (G-4). Gadis-gadis itu seakan menjadi bagian dari diriku. Aku terkejut setiap kali  mendengar namanya disebut. Senyumnya menggetarkan. Aku suka mengamati tingkah mereka, terutama saat latihan marching band di lapangan selatan kampung. Aku terpukau menyaksikan kelincahan mereka beratraksi.&lt;br /&gt;Dukuh Lengkong punya grup marching band Gita Nada. Personilnya para petani dan perajin emping laki-laki perempuan ragam usia. Ada gadis-gadis belia, janda muda, ibu rumah tangga dan laki-laki 40-an tahun. Dua kali seminggu mereka latihan. Di bulan Agustus, Gita Nada sering diundang karnavalan HUT Kemerdekaan RI di berbagai desa. Group ini kian berkibar setelah menjuarai festival marching tingkat kabupaten. Hadiahnya tampil dalam acara Parade Senja.&lt;br /&gt;Ketika Gita Nada tampil di halaman istana kepresidenan Gondomanan, Yogyakarta, aku memotretnya menggunakan kamera pocket. Tujuanku mencari momen untuk merekam wajah gadis-gadis kampung yang menjadi penari latar. Di halaman gedung megah itu, Gita Nada tampil atraktif mengelilingi tugu Dagoba  seolah sedang menghibur patung Dwarapala yang telah puluhan tahun menjaga pintu gedung agung itu.  &lt;br /&gt; Gedung Negara itu beralih fungsi. Biasanya dikunjungi tamu-tamu agung, tapi sore itu menampung rakyat jelata dari desa.  Sebelum masuk komplek istana, mereka melakukan karnaval melintasi jalan Malioboro. Aneh sekali, yang kunikmati saat itu bukanlah hiruk-pikuk keramaian jantung Yogyakarta, bukan para pedagang souvenir yang memadati trotoar Malioboro, bukan turis asing yang lalu lalang, bukan keramaian pasar Bringharjo,  tetapi wajah-wajah manis para pemain marching band yang berbalut kostum indah.&lt;br /&gt;Kenangan itu mengukuhkan keinginanku memilih salah satu dari G-4. Sepulang dari Yogya, mulai kuatur strategi mendapatkan kekasih. Bukan hanya aku. Para pemuda kampung lainnya juga berusaha mendapatkan cinta 4-G. Mereka berlomba mengungkapkan perasaannya dengan cara-cara biasa: menulis  surat dengan bahasa menggebu-gebu dan merayu mereka dengan ungkapan meliuk-liuk seperti nyiur dibelai angin. Para pemuda yang tak pandai bermain kata-kata mencoba mencuri hati gadis kampung dengan  bertandang ke rumahnya sambil memamerkan jabatan dan kekayaan, seperti cerita raja-raja negeri antah berantah. Jika cintanya ditolak, hatinya terbelah.&lt;br /&gt;Tak mudah menaklukkan hati perempuan. Aku tak ingin bernasib seperti anjing terusir dari rumah. Aku ingin menyatakan cinta dengan cara yang berbeda. Halus tapi mengena. Aku ingin cintaku hadir seperti tamu istimewa. Diterima apa adanya atau ditolak dengan hormat.  &lt;br /&gt;Aku ingin mendekati gadis-gadis itu dengan cara berbeda: menulis cerita pendek bertema cinta romantis. Dalam cerpen itu kuselipkan pesan-pesan melankolis atau puisi-puisi romantis seperti yang pernah kulakukan ketika masih di es em pe. Dulu aku punya banyak teman perempuan karena suka menulis puisi dan membagikan pada mereka. Mereka menyambut penuh antusias. Suatu ketika mereka mendatangiku sambil menggenggam  buku diary dan memintaku menulis puisi di sana. Aku pun menulis puisi dengan hati bergetar dan perasaan penuh bunga-bunga.&lt;br /&gt;Tak ada salahnya aku mengulang cara lama, siapa tahu salah satu gadis yang kutaksir bisa menjadi kekasihku. Aku ingin punya kekasih yang tinggal satu kampung. Alasannya sederhana: aku tak ingin repot-repot melamar perempuan dari tempat yang jauh, apalagi harus menyeberangi selat. Ah, tidak! Aku mau pilih perempuan yang sudah kukenal sejak kecil, sebab kupikir di mana-mana perempuan itu sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#  #  #&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kusiapkan sebuah cerpen khusus untuk mereka. Cerita tentang hari Minggu yang ceria saat kelompok pemuda-pemudi mengunjungi Curug  Genting, obyek wisata lokal yang belum tercatat di kantor Dinas Pariwisata kabupaten. Aku cs dan kelompok G-4 menyusuri jalan setapak melintasi perbukitan sejauh tujuh kilometer, merayapi tebing curam dengan bergelantungan pada akar-akar pepohonan. Kami  usir kelelahan dengan canda tawa dan nyanyian. &lt;br /&gt;Di hari-hari libur kawasan Curug Genting dikunjungi muda-mudi yang ingin menikmati panorama alam. Kami lebih senang mengunjungi obyek wisata dengan berkelompok. Ini cara paling aman karena bisa saling menolong jika terjadi insiden yang tak mengenakkan. Air terjun itu deras menghunjam bebatuan di bawahnya. Kami duduk santai di atas batu-batu berlumut. Di kanan kirinya mengalir air jernih. Butiran-butiran air bertaburan menerpa tubuh kami seperti gerimis siang hari.&lt;br /&gt;Saat-saat membahagiakan itu kurangkai menjadi sebuah kisah indah, kukemas dalam bahasa fiksi yang memikat hati. Aku berharap G-4 mau membacanya. Aku berusaha menjadi pencerita yang penuh perhatian dengan melibatkan G-4 menjadi tokoh penting. Ini semua kulakukan agar mereka merasa berharga, atau setidaknya mau mengenang keindahan Curug Genting yang berair bening dan menyejukkan pikiran. &lt;br /&gt; Tak lupa kutulis peristiwa dramatis di Curug Genting, saat Arin berusaha membebaskan diri dari tikaman derasnya air sungai.   &lt;br /&gt; “Aiiii, tolooooong!” pekik Arin di bawah sana. Kakinya tergelincir dan tubuhnya tercebur ke air. Ia megap-megap berusaha lepas dari kepungan air dengan merayap ke arah batu besar. Pakaian basah kuyup. Kuambil sebatang galah bambu kering yang tergeletak di pinggi sungai. Aku mendekati Arin, melompat dari batu ke batu. Batang galah kujulurkan ke arahnya.&lt;br /&gt;“Arin! Pegang erat-erat!” pintaku.&lt;br /&gt;Teman-teman lain memandangi kami penuh perhatian. &lt;br /&gt;Galah kutarik ke atas. Pegangan lepas.&lt;br /&gt;“Aaaaa!....”&lt;br /&gt;Arin kembali tercebur.&lt;br /&gt;“Ayo pegang lagi yang erat, naik!” &lt;br /&gt;Arin tampak kelelahan setelah menaiki tebing batu. Kami berdua duduk di atas batu sebesar kerbau dewasa. Kulihat kaki Arin berdarah. Puluhan pacet menempel di betisnya, menghisap darah kuat-kuat. Dalam waktu beberapa menit lintah-lintah hitam itu melempung penuh darah. Aku membantu melepas pacet-pacet itu. Gigitannya sangat kuat. Begitu terlepas, bekas gigitannya keluar darah segar. Arin meringis menahan perih.&lt;br /&gt;Aku cemas jika ada Lingseng masuk ke tubuhnya dan bersemayam di organ-organ penting. Sungai-sungai daerah pegunungan yang jarang terkena sinar matahari kerap dihuni lintah berbahaya ini. Lingseng mampu bertahan hidup dalam tubuh manusia dalam jangka lama dan merobek organ-organ penting seperti jantung, paru-paru dan hati. Aku ingat Sulbi tetanggaku muntah darah gara-gara disusupi binatang ini. Setelah dibawa ke dokter dan diberi obat, dari mulutnya keluar lintah sebesar jempol orang dewasa. Oh, aku berharap kejadian menggiriskan itu tak menimpa Arin.&lt;br /&gt;Aku semakin dekat dengan kelompok G-4. Aku berhasil menjinakkan kelinci-kelinci manis itu. Komunikasi diantara kami kian cair. Aku memperoleh simpati  mereka dengan cara yang tak pernah dipikirkan orang. Sejumlah pemuda kampung heran melihat aku bisa dekat dengan G-4.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-7257028549706061320?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/7257028549706061320/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=7257028549706061320' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/7257028549706061320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/7257028549706061320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2010/06/asmaradana.html' title='Asmaradana'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-2857406963618777135</id><published>2010-06-14T21:05:00.000-07:00</published><updated>2010-06-14T21:06:19.515-07:00</updated><title type='text'>Goenawan Mohamad</title><content type='html'>Dua rumah tua di Kelurahan Karangasem, Batang. Satu menghadap ke selatan dan satunya lagi menghadap ke arah jalan menuju pantai. Dilihat dari luar, tidak ada yang istimewa kecuali kondisi temboknya yang rapuh. Desain ruangan tak jauh beda dengan rumah-rumah lain pada umumnya. Hanya ada sebuah bilik kecil yang menarik perhatianku, berisi rak tinggi berisi tumpukan buku dan majalah kuno. Di sana terpajang foto Goenawan Mohamad (GM) ketika muda, bersanding dengan seorang balita. &lt;br /&gt;Di ruangan itulah aku menemukan ragam bacaan. Selain buku-buku, ada pula majalah Tempo dari edisi ke edisi. Sejak es-em-pe aku mengenal majalah berita mingguan ini. Bukan berarti selalu membaca setiap terbit. Aku sering melewatkan berita-berita menarik di era 80-an. Atau sempat kubaca tapi yang tersisa di kepala hanya judul-judulnya yang menghiasi cover depan.&lt;br /&gt;Mungkin ada yang bertanya, bagaimana aku bisa “tersesat” di tempat ini?&lt;br /&gt;Di rumah inilah GM lahir dari rahim seorang perempuan tegar bernama Rukayah. Sedangkan ayahanda GM bernama Zaid Mohamad, pria asal Kudus yang hijrah ke Batang sekitar 1925. Selain dikenal sebagai pengusaha galangan kapal, Zaid juga aktivis pergerakan yang sangat dibenci Belanda. &lt;br /&gt;Karena dianggap merongrong kewibawaan penjajah, Zaid pernah dibuang ke Digul. Setelah dibebaskan dan kembali ke Batang, jiwa pergerakannya tetap membara. Belanda pun menempuh langkah represif. Zaid diburu serdadu Belanda. Ia sempat bersembunyi dan meminta perlindungan pada salah seorang kerabatnya yang menjadi pegawai pemerintah, tetapi sang kerabat justru menunjukan keberadaannya. &lt;br /&gt; Rumah itu menjadi saksi bisu insiden penculikan Zaid Mohamad oleh serdadu Belanda. Dini hari menjelang waktu sahur, Zaid diculik gerombolan bersenjata kemudian dibantai di daerah Nganjir, kecamatan Warungasem sekitar tahun 1947.&lt;br /&gt; Itulah sepenggal cerita yang tak tercatat dalam buku sejarah, kudengar dari para kerabatnya. Di Karangasem, para sesepuh hapal dengan cerita itu. Bahkan ada yang melebih-lebihkan dan menganggap Zaid sebagai tokoh sakti. Konon beberapa kali serdadu Belanda mengepung rumah Zaid tapi tersesat dan gagal menemukan Zaid. Ketika dikepung, rumah tua itu tiba-tiba berubah jadi hutan dan tentara Belanda ketakutan. &lt;br /&gt;Aku tahu nama Zaid Mohamad dari ejaan yang tertera pada rekening listrik. Di tahun 80-an aku sering disuruh Bu Hik, kakak perempuan GM, untuk membayar listrik di kantor bank BRI Batang. Saat itu aku memang menjadi anak asuh Bu Hik dan tinggal bersama beliau menempati rumah tua peninggalan orang tuanya. Waktu itu GM dan saudara-saudara Bu Hik lainnya sudah melenggang ke Jakarta dan menemukan dunianya sendiri, sedangkan anak-anak Bu Hik sibuk dengan sekolahnya di luar kota.&lt;br /&gt;Sebagai tokoh Aisyiyah, Bu Hik sering melakukan perjalanan dakwah keluar masuk kampung, hingga akhirnya memungut seorang anak yatim untuk diasuh, itulah aku. Bu Hik juga mendirikan sebuah panti asuhan. GM turut andil mewakafkan lahan padang ilalang di kawasan Batang selatan, di sanalah asrama berdiri dan dihuni puluhan anak asuh.&lt;br /&gt;Rumah tua yang kami tempati adalah “sekolah” kehidupan, sebab di sini aku menemukan pelajaran tentang seni menjalani hidup dengan segala tantangannya. Masa remajaku adalah dunia keprihatinan seorang anak yang ditinggal mati bapaknya sejak usia sepuluh tahun. Beruntung aku menemukan Bu Hik, ibu kedua yang mau membimbingku dalam mencari jati diri. Aku dimasukkan ke sebuah madrasah Muhammadiyah kelas sore agar pagi hari bisa membantu Bu Hik jualan aneka makanan ringan. Beruntung aku bisa diterima menjadi bagian dari keluarga yang menyukai bacaan sekaligus menyediakan lapangan kerja.&lt;br /&gt;Aku ingat pesan Bu Hik saat pertama kali masuk rumah tua itu.  &lt;br /&gt;“Hidup bersama ibu harus berani susah. Selain sekolah kamu harus kerja keras bantu itu membuat kerupuk.”&lt;br /&gt;Bu Hik adalah sosok perempuan yang tak suka menyukai basa-basi tapi senang menasehati aku. Jika beliau memberi petuah, aku hanya menyahut dengan satu kata “inggih....” .&lt;br /&gt;Di rumah tua itu aku benar-benar menghayati makna kerja keras. Tak jarang aku menerima hukuman dari Bu Hik jika melakukan kesalahan, sekecil apapun. Aku sampai hapal beberapa jenis hukuman yang pernah kuterima dari yang ringan sampai menyakitkan: kalau tidak diomel, biasanya didiamkan selama beberapa hari dan tidak ditawari makan.&lt;br /&gt;Biasanya sehabis menjalani hukuman aku menjadi anak yang rajin sehingga Bu Hik kembali tersenyum. Hidup numpang di rumah orang memang tak sebebas di rumah orang tua sendiri. Masa remajaku nyaris kehilangan waktu bermain. Aku sangat dibatasi keluar rumah, kecuali untuk urusan yang berhubungan dengan sekolah dan pekerjaan. Satu-satunya hiburan adalah nonton. Tahu sendiri, channel televisi di tahun 80-an hanya TVRI yang oleh anak-anak desa dibaca TURI. Kalau pikiran sedang suntuk, aku bersembunyi di bilik kecil berisi buku-buku. Dan ujung-ujungnya aku menjadi mahluk kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#  #  #&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menempati sebuah kamar di perbatasan dua rumah. Keluarga Bu Hik menempati rumah pertama yang berada di pinggir jalan, sedangkan rumah tua kedua ditempati keluarga pendatang. Atas kemurahan hati Bu Hik, rumah belakang ditempati secara gratis oleh keluarga warga keturunan Arab asal Pekalongan. Karena tidur di “wilayah perbatasan”, maka aku bisa memasuki dua rumah itu. Kebetulan anggota  keluarga keturunan Arab berjumlah tujuh orang itu sangat baik dan menganggap aku seperti keluarga sendiri.  &lt;br /&gt;Dari sinilah aku bisa berkenalan dengan seorang gadis bernama Nurma, satu dari tujuh penghuni rumah belakang. Usia Nurma satu tahun lebih muda dari aku. Ia kelas satu SMA, tetapi pikirannya sungguh brilian untuk ukuran remaja seusianya. Aku dan Nurma sering terlibat diskusi di bilik kecil sambil menikmati bacaan yang diinginkan. Entah mengapa setiap kali berada di dekatnya aku merasa bahagia. &lt;br /&gt;Dialah yang mengenalkan lebih jauh sosok GM kepadaku. Dia menyerahkan koran harian terbitan Jakarta yang memuat profil GM. Aku tahu Nurma menyukai sastra dan senang mengarang. Lewat sorot matanya yang bening dapat kutangkap cahaya kecerdasan. Dalam hal pelajaran di sekolah, sejak SD sampai SMA Nurma selalu juara kelas.  Sejumlah lomba mengarang dan baca puisi tingkat kabupaten hingga propinsi juga berhasil dimenangkan. Piagam dan piala berderet di kamarnya.&lt;br /&gt;Para pemuda berlomba mendekati Nurma. Tiap hari surat berdatangan lewat pos setelah majalah dwi mingguan memuat profilnya. Nurma dinobatkan sebagai gadis jilbab yang berprestasi. &lt;br /&gt;Nurma sangat menjaga jarak dengan pemuda, kecuali yang sudah dikenal. Sebagian temanku merasa iri karena aku bisa dekat dengan Nurma. Bahkan ada yang menuduh kami pacaran, setelah mereka melihat kami menghadiri rapat remaja masjid bersama suatu malam. Nurma cuek saja. Mereka tidak tahu kalau diantara kami sudah seperti anggota keluarga. Bahkan kadang makan dalam satu meja bersama saudara-saudara yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#  #  #  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari yang kelabu 1985 dan tanggalnya aku lupa. Suatu siang ketika aku dan Bu Hik sedang sibuk di ruang belakang, tiba-tiba pembantu yang merawat ibundanya berteriak-teriak. Bu Hik lari ke kamar ibunya, aku pun membuntutinya. Kulihat dari dekat, wanita renta itu menggigil seperti sangat kedinginan, dan tak lama kemudian memejamkan mata. Kulihat Bu Hik memuntahkan kesedihannya nadanya pilu. &lt;br /&gt;Seorang penyair kondang kehilangan sebagian sayapnya. Rumah tua itu menjadi saksi perginya seorang perempuan yang sangat berjasa dalam kehidupan GM. Hajah Rukayah, begitu para tetangga menyebutnya, berhenti detak jantungnya setelah bertahun-tahun menderita stroke. &lt;br /&gt;Di dekat jenazah ibunya, GM berdiri dengan wajah sendu dan pandangan kosong. Seperti ada sesuatu yang tengah dipikirkan. Seperti ada hutang jasa yang belum terlunasi pada perempuan yang pernah melahirkan dan mengasihi setulus hati. Mungkinkah ia teringat salah satu puisi dan essai yang pernah ditulisnya? Oh, itu hanya dugaanku semata. Menduga-duga memang mengasyikkan, meskipun hasilnya seratus persen salah. Paling tidak, dari cara menduga-duga itu, muncul daya kreatif untuk mencari informasi dan data-data.&lt;br /&gt;GM mungkin sedang tak sadar bahwa salah satu puisinya sedang hadir di hadapan jenazah ibunya. Aku ingat sebuah puisi yang terbuat dalam buku kesusasteraan kelas dua es-em pe. Judulnya “Senjapun Jadi Kecil, Kota pun Jadi Putih”.  Pada bait terakhir tertulis: ketika kita berdiri sunyi pada dinding biru ini/ menghitung ketidakpuasan dan bahagia/ menunggu seluruh usia. Bait yang sangat menggetarkan. GM menghadapi kenyataan, ibunda tercinta benar-benar telah menunggu seluruh usia.  &lt;br /&gt; Dalam essai “Potret Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang” GM bercerita tentang dirinya setelah meninggalkan rumah tua di desa kelahirannya:&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;Jakarta, sejak tahun 1960 itu, adalah tempat yang keras dan asing, di mana seorang anak dusun bisa mcnggosok-gosokkan punggungnya hingga tebal dan kukuh, dan menggosok-gosokkannya hingga beberapa sisa masa lalu yang melekat seperti daki itu kikis, makin pudar. Dan ia merasa memerlukan kekukuhan. la merasa bahwa kesusastraan, dunia yang dipilihnya, bukanlah proyek permainan. Untuk itulah ia belajar psikologi dan filsafat di Universitas dan bergaul dengan orang-orang dengan siapa ia bisa berguru dan bertengkar pendapat.&lt;br /&gt;Universitas, dan pergaulan itu memberikan suatu kegembiraan dalam hatinya: semacam pembebasan dari masa lalu. Kenapa harus ada kegembiraan semacam itu baginya tidak jelas benar. Yang jelas: ia memang tak begitu intim dengan beberapa hal dari masa lalu. Padanya hanya ada perasaan tak terumuskan, bahwa dunia tempat ia berjalan bolak-balik dulu, sebuah desa pesisir di sebuah kota kecil Jawa Tengah, adalah dunia yang memandang dan dipandangnya dengan setengah hati. &lt;br /&gt;Barangkali kini ia mengerti kenapa: anak seorang ayah pendatang, yang mewariskan kepadanya hidup dengan buku-buku bacaan, adalah seorang anak yang terlalu lunak dan manja bagi sebuah desa nelayan. Waktu itu ia tak tahu. Waktu itu ia tak tahu bahwa khayalan-khayalannya menggelikan kawan sepermainannya, ketika untuk beberapa lama, sambil bermain bola dibayangkannya padang-padang Prairie, meskipun yang mengitarinya hanyalah lapangan rumput bekas pabrik, di mana sebatang randu tua tegak dan pohon-pohon mangga melebat.&lt;br /&gt;Memang banyak hal tak dimengertinya ketika misalnya, baginya bukan suatu perbuatan bodoh jika seorang meminjamkan buku terjemahan Treasure Island kepada rombongan ketoprak amatir desa, yang sedang sibuk mencari sebuah kisah seru setelah mereka mementaskan Damarwulan.&lt;br /&gt;Kini ia mengerti, bahwa jarak antara Damarwulan, lakon berbahasa Jawa yang populer itu, dengan terjemahan Indonesia dari Treasure Island, pada hakikatnya sama dan sejajar dengan jarak antara dirinya dengan orang-orang desanya. Anak muda itu sebenamya sudah mengembara, tanpa ia sadari sendiri, jauh sebelum ia berangkat ke Jakarta pada suatu pagi hari dari stasiun sunyi di dekat kantor camat kotanya. Suatu ketika ia balik. Suatu ketika ia kembali bertemu dengan tetangga-tetangganya dan saling menyapa. &lt;br /&gt;Tapi adakah mereka menerimanya dan adakah ia menerima mereka? &lt;br /&gt;Kini wajah-wajah tetangga itu mewakili suatu masa lalu yang asing. Kini yang teringat olehnya dari tahun-tahun itu adalah orang-orang yang tak dekat, laut yang lamban dan tidak biru, pohon-pohon yang tak hijau. Mengapa ia tak akan ingin membebaskan diri dari semua itu sebagai suatu hiburan, seperti dulu ia menghibur dirinya di bawah cemara dengan membaca, setiap kali kawan-kawannya sepermainan menjauh?&lt;br /&gt;Berdiri bebas tanpa masa lalu, itulah seharusnya seorang harus tampil. Demikian pikirnya. Ini berarti bahwa ia, dalam arti tertentu tegak tersendiri. Dan sebagaimana kesusastraan menyediakan kemerdekaan kepadanya, kesusastraan pun menyediakan sesuatu, di mana ia dapat merasakan keasyikan bersendiri itu....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-2857406963618777135?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/2857406963618777135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=2857406963618777135' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/2857406963618777135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/2857406963618777135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2010/06/goenawan-mohamad.html' title='Goenawan Mohamad'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-8301665608715773535</id><published>2010-06-14T20:53:00.000-07:00</published><updated>2010-06-14T20:54:09.111-07:00</updated><title type='text'>Oh, Salang!</title><content type='html'>Pagi hari aku lapar sekali sehabis membelah kayu bakar di belakang rumah. Aku  melangkah menuju dapur. Kutemukan cething tengkurap di lantai tanah. Kubuka di dalamnya seekor tikus mati kekenyangan. Sejak kejadian itu, ibuku membuat salang. Tali tambang dirangkai menyerupai jaring dan dipasang untuk menggantung cething. Ini  Mengamankan nasi dari incaran tikus-tikus rakus. &lt;br /&gt;Begitulah ibu mengajari kami menghargai sesuap nasi. Tiap hari ibu membagi-bagi nasi untuk satu keluarga. Sehabis acara makan malam, ibu selalu menyisakan nasi di pojok cething agar aku sebagai anak terkecil bisa makan esok paginya. Untuk bertahan hidup, dalam keluarga kami berlaku rumus: bekerja sehari untuk makan sehari. Malam hari ibu sering tak bisa tidur karena pusing memikirkan apa yang akan besok. &lt;br /&gt;Penghasilan para buruh emping tak menentu. Kalau sedang musim melinjo, mereka bisa bekerja lembur hingga larut malam. Upah tentu bertambah. Tetapi pada saat paceklik, produksi emping berhenti sampai datang pasokan melinjo dari luar daerah. Pada saat seperti inilah biasanya ibu dan dua kakak perempuanku beralih pekerjaan menjadi tukang ngasag: berkelana dari sawah ke sawah mencari petani memanen padi untuk memunguti sisa-sisa gabah yang bertebaran di tanah.&lt;br /&gt;Ibuku sering bercerita betapa pedihnya jadi pengasag. Bukan hanya kelelahan fisik yang didapat, tapi juga cacian dan hinaan dari pemilik lahan yang congkak. Para pengasag saling bersaing memperebutkan sisa gabah. Mereka rela bergelut dengan lumpur, duduk tertunduk diantara tumpukan jerami di bawah sengatan matahari yang ganas. &lt;br /&gt;Di madrasah ibtidaiyah (sekolah dasar swasta itu), dua kakak perempuanku, Nais dan Lara  menjadi orang kalah. Keduanya terpaksa mutik (berhenti sekolah) di  kelas tiga lantaran tak tahan diperlakukan tidak adil oleh seorang oknum guru laki-laki bernama Kadri. Kadri, siapapun tahu, adalah guru paling galak yang suka memperlakukan murid-muridnya secara sadis, seperti petani memusuhi tikus.&lt;br /&gt;Ubun-ubun Kak Lara pernah dijitak sampai benjol hanya karena mengenakan kerudung bolong, satu-satunya tutup kepala miliknya pemberian seorang tetangga. Kak Lara menderita sakit kepala berhari-hari.  Kak Nais juga pernah diperlakukan kasar: kepalanya dibenturkan ke papan tulis karena dianggap lamban menyerap pelajaran. &lt;br /&gt;Di usia belasan tahun Kak Nais dan Kak Lara harus bertarung melawan nasib. Tak ada mimpi indah di usia remajanya.  Dan yang ada di depan mata hanya pertaruhan keras mempertahankan hidup: bagaimana seluruh anggota keluarga bisa makan. Aku memaklumi mereka yang kadang ketus dan suka marah-marah tanpa sebab.  &lt;br /&gt;Kalau sedang marah, mereka mengusirku dari rumah. &lt;br /&gt;“Sana pergi cari makan sendiri!” hardik Nais dengan suara keras.&lt;br /&gt;Aku pun pergi meninggalkan rumah menuju hutan melinjo. Kampung Lengkong dikelilingi ratusan hektar hutan melinjo milik rakyat. Aku berjalan menyusuri hutan mencari biji melinjo yang jatuh dari pohon. Kupunguti biji-biji itu dan kumasukkan dalam kantung kain yang kubuat sendiri. Jika angin bertiup kencang, biji melinjo banyak yang rontok dan jatuh ke tanah jadi rebutan anak-anak. Siapa cepat, dialah yang dapat. Sebutir biji melinjo sangat berharga bagi anak-anak miskin. Aku tak berani pulang kalau belum mendapat biji melinjo yang cukup. Kakakku pasti tambah marah kalau aku pulang dengan tangan kosong.&lt;br /&gt;Mendung tebal menutupi langit. Angin bertiup kencang. Hujan deras yang turun siang itu membuatku girang. Biji-biji melinjo rontok dan berjatuhan ke tanah. Kupunguti satu per satu, tak peduli petir menggelegar. Alam telah mengajariku berani menantang badai. Setiap butir biji melinjo yang jatuh dari pohon adalah rejeki yang tak dapat ditolak untuk menyambung napas. Aku terus berjalan menyusuri hutan sampai kantongku terasa berat dipenuhi biji melinjo. Aku bisa pulang ke rumah dengan perasaan menang. Kemarahan kakak-kakakku mereda begitu melihat aku pulang dengan tubuh menggigil dan wajah pucat. Tubuhku langsung diguyur dengan air hangat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-8301665608715773535?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/8301665608715773535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=8301665608715773535' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/8301665608715773535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/8301665608715773535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2010/06/oh-salang.html' title='Oh, Salang!'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-7524182359791738530</id><published>2010-06-14T20:52:00.000-07:00</published><updated>2010-06-14T20:53:12.502-07:00</updated><title type='text'>Blurut</title><content type='html'>“Ada blurut!”&lt;br /&gt;“Dipukuli beramai-ramai!”&lt;br /&gt;“Mencuri arloji di rumah Pak Koid!”&lt;br /&gt;“Kita kesana!”&lt;br /&gt;“Ogah! Aku takut darah!”&lt;br /&gt;“Ah kecing! Penakut! Anak laki-laki tak boleh kecing!”&lt;br /&gt; Teriakan-teriakan itu keluar dari mulut teman-teman.  Siang itu kami tengah bermain bola di halaman sekolah, mengisi jam istirahat. Mereka berlari saling mendahului menuju rumah Pak Koid. Kuikuti langkah mereka dengan jantung berdebar. Bola plastik kutendang ke arah gawang kosong. Melesat mengenai pal gol bambu. &lt;br /&gt; Puluhan orang dewasa dan anak-anak memadati halaman rumah Pak Koid. Mereka mengerumuni seorang pemuda tanggung yang lunglai bersimbah darah. Ia tertangkap basah mencuri sebuah arloji milik Pak Koid. Barang bukti ditemukan di saku celana komprang warna hitam.&lt;br /&gt; Orang-orang berteriak bersahutan.&lt;br /&gt; “Blurut! Pencuri siang hari!”&lt;br /&gt;“Seret ke rumah Pak Kadus biar habis kentutnya!”&lt;br /&gt;“Jambak saja rambutnya!”&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;“Jangan sampai mati lho?” teriak seorang perempuan tua. &lt;br /&gt; Pemuda itu meraung-raung kesakitan saat dipukuli beramai-ramai. Wajahnya lebam. Darah segar keluar dari mulut dan lubang telinganya. Ia berjalan dengan langkah gontai saat diarak menuju rumah kepala dusun. Dalam perjalanan tubuh kurusnya terus dihujani pukulan dan tendangan. Nasibnya mirip bola plastik yang baru saja kutendang ke arah gawang. Ratapan tangisnya mengundang iba. Hakim-hakim kampung tak peduli. Mereka terus memukul dan menendang. Ada yang menarik kupingnya, menyodok pelipisnya, menggebuk punggungnya, menarik-narik kaosnya, menampar wajahnya.... &lt;br /&gt; “Hyeeee......Hwaaaaaa.....” rengeknya meminta iba, tak kuasa menahan sakit. &lt;br /&gt; Saat ditanya identitasnya, ia menyebut namanya Juned, warga desa sebelah, putra seorang modin. Ia nekat mencuri di siang hari karena terdesak kebutuhan, ibunya sakit keras dan harus segera diobati. &lt;br /&gt; Aku dan teman-teman yang masih mengenakan seragam dilarang mendekat. Seorang lelaki mengusir kami.  “Anak-anak sekolah jangan di sini! Ayo semua pergi!!!’&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-7524182359791738530?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/7524182359791738530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=7524182359791738530' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/7524182359791738530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/7524182359791738530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2010/06/blurut.html' title='Blurut'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-5425768248519152163</id><published>2010-06-14T20:50:00.000-07:00</published><updated>2010-06-14T20:51:49.819-07:00</updated><title type='text'>Karet Gelang (Pengantin Putih)</title><content type='html'>Ingatan masa kecil yang tak pernah lekang adalah karet gelang. Sahabat paling elastis dan gampang diajak kompromi oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja. Hadir dimana-mana menjadi teman bermain yang tak pernah membosankan. Aku dan anak-anak kampung lainnya menjadikan karet gelang sebagai pembatas lompatan, ikat pinggang, media sulapan, dijadikan peluru bedil-bedilan,  pengikat balon, dan barter nonton TV.&lt;br /&gt;Memiliki koleksi karet gelang adalah kebanggan, lambang kebahagiaan. Aku ingat, betapa sedihnya saat kehilangan benda-benda kesayangan itu, karena tak bisa setiap saat membelinya. Untuk memiliki segantang karet gelang warna-warni harus menghiba menguras air mata di hadapan ibu. Hanya dengan cara begitu, ibu mau menyisihkan uang belanja agar aku bisa tersenyum. &lt;br /&gt;Alkisah di tahun 70-an. Untuk bisa menyaksikan atraksi tinju Muhammad Ali vs Larry Holmes pada layar hitam putih milik tetangga, anak-anak miskin dukuh Lengkong harus merelakan karet gelang kesayangannya diberikan pada si badung, anak angkat Pak Tibum, namanya Lazym. Usia Lazym terpaut satu tahun lebih tua dari aku. Jika hatinya sedang bolong, Lazym bisa menjadi sahabat yang sangat baik. Tetapi giliran hatinya sedang mampat, ia kerap bertingkah seperti anak serigala yang suka menerkam, atau kadang mirip kancil yang licik.&lt;br /&gt;Ayah angkat Lazym adalah seorang kepala dusun yang disegani. Sebagai anak angkat tokoh kampung yang terhormat, Lazim selalu mendapat pulung: segala keinginannya terpenuhi. Ia punya ragam jenis mainan yang tak dimiliki anak-anak lain seusianya. Dan yang paling membanggakan, di rumahnya ada televisi 21 inci. Tiap malam rumahnya yang dipadati para tetangga yang haus hiburan.&lt;br /&gt;Malam Rabu adalah saat paling ramai ketika para penonton dari segala lapis usia memadati ruangan depan. Mereka duduk tertib di lantai tigel dan risbang (sofa kayu) menunggu acara Kethoprak Mataram. Jika mulai terdengar suara kentongan bertalu-talu, tanda kethoprak dimulai, mereka begitu khusyuk menikmati adegan demi adegan. Tak ada yang berani bersuara. Pikiran dan perasaannya terpaku pada layar kaca.&lt;br /&gt;Menit demi menit adalah waktu yang mesti diperhitungkan. TV tak dinyalakan jika acara dianggap tidak bagus. Acara paling dibenci adalah warta berita dan hal-hal lain yang hanya berisi orang pidato. Biasanya TV dimatikan dengan alasan ekonomis:  menghemat strum aki. Kehabisan strum aki pada saat acara bagus adalah mimpi buruk yang menyusahkan.&lt;br /&gt;Dalam detik-detik menunggu acara bagus, anak-anak bermain sesuai selera masing-masing. Boleh jingkrak-jingkrak, kejar-kejaran di halaman rumah, main petak umpet, main kartu. Tapi tuan rumah melarang permainan yang paling disukai anak-anak: bantingan karet gelang. &lt;br /&gt;Kami berlima: aku, Lazim, Satri, Mugi dan Totok siap adu peruntungan.&lt;br /&gt;Prosesi dimulai. Mula-mula para peserta mengumpulkan karet gelang, jumlahnya tergantung kesepakatan. Makin banyak pemain  kian banyak pula karet gelangnya. Setelah terkumpul, karet-karet itu dibundeli membentuk bulatan. Kami pun  ber-hompimpah untuk menentukan urutan membanting. Hompimpah pertama, aku yang menang. Di belakangnya Mugi, Satri, Totok dan Lazym.  Sebagai pemilik urut terakhir, Lazym  mengawali bantingan.&lt;br /&gt;“Puk! Aduh!”&lt;br /&gt;Diikuti urutan di atasnya....&lt;br /&gt;“Puk!! Sial!!”&lt;br /&gt;Giliran berikutnya...&lt;br /&gt;“Puk!!! Ih atos!”&lt;br /&gt;Berikutnya lahgi.&lt;br /&gt;“Puk!!!! Hah! Bandel!”&lt;br /&gt;Makin sering dibanting, bundelan kian longgar, akhirnya terlepas dan pecah.  Siapa yang berhasil memecah bundelan, dialah pemenangnya. Semua karet gelang jadi miliknya. &lt;br /&gt;Berikutnya giliranku...&lt;br /&gt;“Puk!!!! ... Hyaaa...aku menaaangg!”&lt;br /&gt;Rasa girang mendadak hilang begitu melihat seorang perempuan berdiri dengan raut wajah penuh amarah. Perempuan itu bernama Dekar, istri Pak Tibun. &lt;br /&gt;“Masya Allaaaaah.... Kalian main bantingan?!!! Itu judi tau! Dosa besar! Kalian dibanting di neraka!” &lt;br /&gt;Kami mati kutu. Kami menghentikan permainan. Seluruh karet gelang yang terkumpul diminta Lazym.&lt;br /&gt;“Karet-karet ini untuk bayar nonton tivi!” katanya tegas.&lt;br /&gt;Pernyataan anak kepala dusun tak ada yang berani membantah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-5425768248519152163?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/5425768248519152163/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=5425768248519152163' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/5425768248519152163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/5425768248519152163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2010/06/karet-gelang-pengantin-putih.html' title='Karet Gelang (Pengantin Putih)'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-3552964448717602514</id><published>2010-06-14T20:48:00.000-07:00</published><updated>2010-06-14T20:50:29.734-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='A'/><title type='text'>Anak Selatan</title><content type='html'>Cindankdorocicik...&lt;br /&gt;Begitulah teman-teman mencibirku dengan nyanyian. Anak paling sinis dan sangat getol menghinaku adalah Atmo, anak Pak Kurdi, tuan tanah di kampung Lengkong. Tiap kali bertemu, tak peduli dimana tempatnya, Atmo mencibirku dengan kalimat itu. Di depan kelas saat jam pelajaran kosong, Atmo mendendangkan  cindankdorocicik menjadi lagu tanpa judul. Teman-temannya pun menirukannya sambil berjoget menggeleng-gelengkan kepala dan menepuk-nepuk paha. Sebagian anak menabuh meja.&lt;br /&gt;“ Cincankdorociciiiiiiikkkkk, pok  pok!...”&lt;br /&gt;“ Cincankdorociciiiiiiikkkkk, dok dok!...”&lt;br /&gt;“ Cincankdorociciiiiiiikkkkk, pok pok!...”&lt;br /&gt;Sangat gaduh. Nyanyian sumbang itu baru berhenti setelah Pak Jazri masuk kelas dan menegur anak-anak dengan keras. &lt;br /&gt;Saat jam istirahat, lagu buruk itu didendangkan lagi. Atmo yang mengomando. Sebagai anak orang kaya, Atmo seperti raja kecil di mata anak-anak Kata-katanya bertuah dan tindakannya diikuti meskipun salah. &lt;br /&gt;Atmo menganggapku musuh yang mesti disingkiri. Tampak dari kilatan matanya yang menyambar-nyambar tiap kali berpapasan denganku. Aku diremehkan. Anak-anak kelas lima dilarang bermain denganku. Ia bilang aku berasal dari dukuh selatan, tak layak bergabung dengan anak-anak dukuh utara. Aku tak boleh menginjak serambi masjid dan tak dilarang  pegang gagang bedug. Aku dipaksa duduk mematung sendirian di pojok masjid Al Abror, depan sekolahku.&lt;br /&gt;“Tempatmu di si sini, hai anak selatan!...”&lt;br /&gt;“Awas, jangan gerak!”  &lt;br /&gt;Aku hanya bisa memandang anak-anak utara duduk mengelilingi tabuh bedug. Ata memutar silinder kayu  itu sambil berteriak “Polisi!” Tabuh bedug itu mula-mula berputar cepat, makin lama makin melemah dan berhenti. Bagian ujungnya mengarah ke Atmo.  Anak itu berdiri jingkrak-jingkrak merayakan kemenangannya.&lt;br /&gt;“Huiiii.... aku jadi polisiiii.....akan kutangkap maling ubiiiii....” &lt;br /&gt;Yang lain menyoraki.&lt;br /&gt;Hatiku perih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#  #  #&lt;br /&gt; Cincankdorocicik.&lt;br /&gt;Aku berusaha mencari tahu maksud kalimat aneh itu. Kutanya sejumlah teman, tak ada yang berani menjawab. Semua pengecut kecuali Satri, satu-satunya eman sekelas yang tak pernah menghinaku.&lt;br /&gt; “Sat, tolong jelaskan, apa maksud mereka?”  pintaku.&lt;br /&gt;“Kuberi tahu, tapi janji, jangan marah ya?” kata Sat.&lt;br /&gt; “Ya, aku tak marah. Katakan, Sat. Apa artinya?”&lt;br /&gt; Satri mendekat dan membisikkan sesuatu ke telingaku: cincank sebutan untuk ayahmu, doro artinya mencuri, cicik artinya talas.&lt;br /&gt; “Jadi mereka bilang, bapakku mencuri talas?” kataku.&lt;br /&gt;Panas hatiku.&lt;br /&gt; “Ya, mereka bilang begitu.”&lt;br /&gt;Dalam kamus bahasa manapun, tak ada kalimat seaneh itu. Entah siapa pencetusnya. Akronim itu ditiup seperti terompet. Suaranya menyeruak ke seantero desa. Anak-anak menghapalkannya untuk memburuk-burukkan ayahku. &lt;br /&gt;“Sat, kau tahu siapa pengarangnya?”&lt;br /&gt;Satri menggeleng.&lt;br /&gt;#  #  #&lt;br /&gt;Cincankdorocicik.&lt;br /&gt;Gara-gara ulah satu orang penebar dusta, seisi kampung tahu makna kosa kata aneh itu. Sebagian orang dewasa pun hanyut ikut-ikutan mencibir keluargaku. Demi harga diri, aku harus membuat perhitungan. Akan kubalas kejahatan itu. Satri setuju dan bersedia membantuku, katanya untuk memberi pelajaran bagi anak-anak congkak.  &lt;br /&gt;Tapi bagaimana caranya? Apakah aku harus lapor sama Pak Berok, residivis yang kejam itu? Aku yakin, laki-laki kekar itu secara suka rela mau membungkam mulut Atmo dan mematahkan lidahnya. Orang-orang kampung sudah mengenal siapa Pak Berok: berkali-kali keluar masuk penjara dan pernah jadi target Petrus di masa Orde Baru.  Beruntung dia lolos dari incaran tim rahasia berdarah dingin itu karena bersembunyi di belakang warga. Pak Berok akhirnya bertobat dan menjalani hidup secara wajar sebagai petani gurem. Namun naluri buasnya bisa bangkit jika melihat orang teraniaya. Laki-laki bertato itu hampir saja menyembelih Pak Jono, tetangganya, gara-gara anak Pak Bero dipukuli anak Pak Jono. &lt;br /&gt;“Jangan! Jangan panggil Pak Berok! Atmo bisa mati, dan kamu masuk bui!” cegah Satri.&lt;br /&gt;“Lalu gimana, Sat?”&lt;br /&gt;“Ikut aku ke ladang!”&lt;br /&gt;Satri menarik lenganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#  #  #&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar tak paham  jalan pikiran Satri. Ia malah mengajakku memanen talas di ladang orang tuanya. Ladang itu cukup luas dan sebagian berisi tanaman talas. Katanya, sang ayah sudah mengijinkan sebagian talasnya disumbangkan kepada siapa saja yang membutuhkan. &lt;br /&gt;“Kau harus berani! Mereka harus diberi pelajaran biar tak jadi anak kurang ajar,” kata Satri.&lt;br /&gt;“Tapi aku takut, Sat!”&lt;br /&gt;“Takut? Kenapa? Waktu dituduh Pak Mandor mencuri kayu kamu berani melawan karena merasa tidak melakukan apa-apa. Akhirnya Pak Mandor kalah kan?”&lt;br /&gt;“Iya ya?”&lt;br /&gt;“Aku yakin mereka tak akan macam-macam lagi sama kamu kalau kita berani melawan. Pokoknya aku bantu menghadapi mereka.”&lt;br /&gt;Senin pagi Satri masuk kelas dengan menggendong tas punggung besar. Teman-teman memandangnya penuh heran. Tak biasanya Satri ke sekolah membawa tas besar. Pelajaran belum dimulai. Pak Jazri juga belum tiba di kelas. &lt;br /&gt; Seisi kelaster bengong melihat Satri membuka tasnya dan mengeluarkan isinya: talas besar-besar kira-kira lima kiloan. Umbi mentah yang telah dicuci bersih itu ditaruh di meja guru. Anak-anak  mengira pekerjaan Satri ada hubungannya dengan pelajaran Ilmu Hayat.&lt;br /&gt;Satri berdiri di depan kelas dan mulai bicara.&lt;br /&gt;“Teman-teman sekalian....Sebagai ketua kelas, saya menyampaikan pengumuman penting. Hari ini teman kita Muhammad Ata berniat mengembalikan talas kepada siapa saja yang merasa kehilangan talas di ladang. Ayo, siapa saja yang merasa talasnya dicuri orang harap segera mengambil talas ini untuk  dibawa pulang...”&lt;br /&gt;Tak ada reaksi. &lt;br /&gt;“Atau tunjukkan jari kalau diantara kalian ada yang tahu siapa orang yang kehilangan talas di ladang, beritahu Ata, agar ia segera mengembalikan talas ini kepada pemiliknya...”&lt;br /&gt;Tak ada yang unjuk jari. &lt;br /&gt;“Kamu Atmo? Mungkin tahu?”&lt;br /&gt;Atmo menggelengkan kepala. Wajahnya memerah.&lt;br /&gt;“Yang lain? Jangan diam teman-teman. Katakan siapa yang pernah melihat ayah Ata mencuri talas?”&lt;br /&gt;Anak-anak berisik saling melempar kesalahan.&lt;br /&gt;“Aku cuma dengar ucapan orang...&lt;br /&gt;Aku juga katanya orang...&lt;br /&gt;Iya, aku juga dengar kata-kata orang...”&lt;br /&gt;“Stop!!! Jika tak ada yang tahu masalahnya, sebaiknya kalian diam. Dan mulai hari ini kalian tak boleh lagi memperolok-olok Ata dan menyebut-nyebutnya anak pencuri.”&lt;br /&gt;Aku tak menduga Satri akan berbuat sejauh itu untuk menyelamatkan keluargaku dari hinaan orang. Di balik tubuhnya yang kurus kecil, ternyata tersimpan kecerdikan dan keberanian luar biasa yang jarang dimiliki anak-anak seusianya. Sejak peristiwa itu, persahabatanku dengan Satri semakin erat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-3552964448717602514?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/3552964448717602514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=3552964448717602514' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/3552964448717602514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/3552964448717602514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2010/06/anak-selatan.html' title='Anak Selatan'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-4045311924628219833</id><published>2010-06-14T20:42:00.000-07:00</published><updated>2010-06-14T20:43:55.744-07:00</updated><title type='text'>Pengantin Putih (Buceng)</title><content type='html'>Aku dan Satri membuntuti langkah Saudah. Kami ingin tahu apa yang akan dilakukan perempuan tua bergigi merah itu. Mulutnya disumpal tembakau pepeh berbentuk bulat. Seperti perempuan desa lainnya, Saudah suka nginang dan menaruh susur di sela-sela bibir.&lt;br /&gt;Dengan langkah santai Saudah menuju lereng sebuah bukit kecil di tenggara kampung Lengkong. Dukun Jawa itu membawa perlengkapan sesaji buceng: cabe gunung, bawang merah, nasi putih, beras kunir, sebutir telur ayam, uang logam lima rupiah dan wadah kemenyan dari batok kelapa. Dinamai buceng, dari akar kata bucu, yakni gunungan nasi putih berbentuk kerucut mungil. &lt;br /&gt;Buceng diletakkan di dekat tuk nangka, mata air yang biasa dimanfaatkan warga untuk keperluan sehari-hari. Disebut tuk nangka, konon dahulu di dekat mata air itu tumbuh sebuah pohon nangka raksasa yang dipercaya ada penunggunya. Orang-orang jaman selalu dulu mengidentikkan pohon besar dengan keangkeran, apalagi jika tumbuh di dekat mata air. Siapa saja yang hendak memanfaatkan air di sana harus minta restu pada si penunggu agar tidak diganggu. Siapa berani melanggar adat bisa kena petaka: kesurupan atau sakit. Buceng menjadi semacam tolak bala sekaligus pengumuman simbolis. Jika sesaji ini digelar di sekitar tuk nangka, artinya ada warga Lengkong  yang menderita.&lt;br /&gt;Aku ingat, guru agama di madrasah pernah mengajari anak-anak agar tidak mempercayai mitos. Dalam kelas anak-anak berlomba menghapalkan istilah tahayul, bid’ah, churafat – biasa disingkat te-be-ce.  Aku  pun menganggap apa yang dilakukan Saudah merupakan bagian dari te-be-ce, maka harus dimusnahkan, apapun risikonya.&lt;br /&gt;“Gasak saja makanan setan itu!”  kataku.&lt;br /&gt;“Tapi aku  mau yang itu!” sambung Satri menggebu-gebu.&lt;br /&gt;Saudah mungkin mendengar teriakan kami, tapi ia tak peduli. Ia sibuk menata sesaji. Cabe dan bawang merah ditusuk menggunakan lidi, kemudian ditancapkan ke tanah. Bucu ditaruh di sampingnya berdekatan dengan kemenyan, sedangkan beras kunir ditebar di sekelilingnya. &lt;br /&gt;Sambil menyalakan kemenyan, mulut Saudah komat-kamit mengucap mantra. &lt;br /&gt;Kami mengintai dari balik pohon beringin yang tumbuh tak jauh dari mata air sambil berusaha mendengarkan mantra yang dirapalkan perempuan itu. Tak jelas kalimat apa yang diucapkan perempuan buta huruf itu. Asap kemenyan mengepul ke udara menebarkan bau tak sedap. &lt;br /&gt;“Tuh lihat Mbah Saudah sedang menjamu setan!” kata Satri setengah berbisik.&lt;br /&gt; “Emangnya setan doyan cabe?” &lt;br /&gt;“Setan mata sambal kali.”&lt;br /&gt;“Terasinya mana?”&lt;br /&gt;“Tak ada! Cuma ada telur mentah.”&lt;br /&gt;“Itu kesukaanmu kan? Kamu telurnya, aku duitnya!”&lt;br /&gt;“Beras kuniranya untuk siapa?”&lt;br /&gt;“Ayam kampung!”&lt;br /&gt;“Hik hik hik...”&lt;br /&gt;Kami tertawa kecil, berharap Saudah cepat pergi.&lt;br /&gt;Usai membaca mantra, Saudah meninggalkan sesaji. Wajahnya beku nyaris tanpa ekspresi. Setelah punggungnya tak kelihatan, aku dan Satri segera berlari mendekati buceng dan berebut telur mentah. Kami saling dorong seperti anak-anak ayam berebut makanan. Tanpa sadar kaki Satri menginjak dupa kemenyan. Ia mengaduh kesakitan. Telur lepas dari genggaman tangannya dan terjatuh menimpuk batu, pecah. Pertarungan tanpa pemenang itu berakhir. Kami tertawa lepas.&lt;br /&gt;Sama sekali tak mengira Saudah datang kembali. Ekspresi wajahnya tegang menyaksikan buceng buatannya hancur berantakan. Perempuan itu marah namun tak sepatah katapun terucap lewat mulutnya. Kami hanya dipelototi lama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#  #  #&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama kemudian di dekat tuk nangka dibangun jamban umum. Secara gotong-royong warga Dukuh Lengkong membangun bak penampungan air berukuran agak besar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-4045311924628219833?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/4045311924628219833/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=4045311924628219833' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/4045311924628219833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/4045311924628219833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2010/06/pengantin-putih-buceng.html' title='Pengantin Putih (Buceng)'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-6654114236536561569</id><published>2010-06-14T20:19:00.000-07:00</published><updated>2010-06-14T20:23:18.012-07:00</updated><title type='text'>Mahkota Daun Nangka</title><content type='html'>Daun nangka kering yang berserakan di halaman  rumah adalah taburan keindahan dan harapan. Dengan girang aku memungutinya. Kulipat-lipat penuh semangat. Kutusuk dan kurangkai menggunakan tutus bambu membentuk sebuah mahkota. Kukenakan di kepala menutupi rambutku yang lurus kaku. Aku sangat bahagia meskipun lewat jalan amat sederhana. Daun-daun nangka kering yang biasanya hanya dimakan kambing tiba-tiba berubah jadi benda yang istimewa yang bertengger di kepala.&lt;br /&gt;Aku berlari kecil menuju kolam tak jauh dari pohon nangka dan bercermin lewat genangan airnya. Ah, wajahku tampak gagah seperti seorang ksatria dalam kisah wayang. Warna daun nangka kering beradu dengan warna debu kaos oblong yang kukenakan siang itu. Kusam, sejalan dengan garis-garis kulit kecoklatan. Anak dusun seperti aku begitu bangga bisa mengubah daun-daun kering menjadi mainan yang menyenangkan. Aku ingin mahkota sederhana itu bisa menemani dalam pentas puisi di pendopo kecamatan pekan depan. &lt;br /&gt;Setelah puas bercermin di air, aku menari sendirian di pelataran kolam. Tubuhku yang kerempeng kugerakkan meniru gaya seorang penari yang pernah kulihat di layar televisi. Mulutku bergumam menirukan irama gamelan.&lt;br /&gt;Ningenong ning gung... &lt;br /&gt;Ningenong ning gung...&lt;br /&gt;Ah, lapar sekali. Sejak bangun tidur hingga matahari meninggi, perutku hanya terisi sepotong singkong bakar yang kumakan bersama ayah. Ayahku suka singkong bakar, entah kenapa.&lt;br /&gt;“Ata! Kemari!” teriak ibuku dari bilik belakang. &lt;br /&gt;Aku tahu ada tugas harian yang mesti kukerjakan. &lt;br /&gt;“Ya, Biyung. Sebentar.” &lt;br /&gt; Biyung tak lain nama panggilan khas seorang anak kepada ibunya. Di kampung kelahiranku, Dukuh Lengkong, kata biyung makin jarang digunakan karena dianggap usang. Teman-teman sebayaku lebih bangga memanggil ibunya dengan sebutan mak. Tapi sejak kecil aku dikondisikan dengan panggilan itu.&lt;br /&gt; “Ata!” &lt;br /&gt;Teriakan ibu kedua terdengar kencang. Aku tetap asyik dengan irama gamelan di mulut. Teriakan ketiga lebih kencang lagi. Aku bergegas menemui ibu.  Malas rasanya masuk gubuk sumpek. Pondok bambu berukuran empat kali enam meter itu dihuni lima anggota keluarga. Selain aku dan ibu, ada tiga penghuni lain: dua kakak pempuanku, Kak Nais dan Kak Lara. Dan satunya lagi lelaki renta yang terbaring tak berdaya. &lt;br /&gt; “Lihat bapakmu!” kata ibu. &lt;br /&gt;Ayahku terbatuk-batuk, napasnya tersengal-sengal. Kuman TBC yang bertahun-tahun bersarang di tubuh ayah telah membungkukkan punggungnya. Nyaris tak ada yang mengurus. Penyakit berbahaya itu dibiarkan menggerogoti tubuh ayah yang rapuh. Sekali waktu ibuku hanya memberikan tablet sesak napas yang dibeli dari tukang obat di emperan pasar. &lt;br /&gt;“Kamu tahu, Ata. Ayahmu tak bisa kerja. Kamulah penggantinya.”&lt;br /&gt;“Iya, Biyung.”&lt;br /&gt;Sejak ayah sakit-sakitan, ibu dan dua kakakku menjadi tulang punggung keluarga. Mereka menjadi buruh emping melinjo pada Pak Dayun, juragan emping di kampung Lengkong. Sehari-hari bekerja mengolah biji-biji melinjo menjadi emping. Siang malam mereka bekerja tak kenal lelah dengan upah  minim.  Mereka adalah perempuan-perempuan yang hebat dan tabah terhimpit nasib pait. Kadangkala demi mengejar setoran, mereka bekerja sampai larut malam. Telingaku sangat hapal suara dentuman palu besi beradu lempengan batu saat biji-biji melinjo dipipihkan menjadi lingkaran sebesar bendong, pecahan uang jaman Jepang. Itulah emping melinjo, makanan ringan yang disukai banyak orang.  &lt;br /&gt;Pelajaran berharga kuterima dari perempuan buta huruf yang pernah mengandung janinku. Ibuku selalu menanamkan petuah pendek pada anak-anaknya agar saling bekerja sama. Seluruh penghuni rumah mendapat jatah pekerjaan masing-masing. Sebagai anak paling kecil, aku mendapat dua pekerjaan: mencari kayu bakar dan membantu mengupas biji melinjo. Sepuluh tahun usiaku saat ibu mulai mengenalkan  tanggungjawab. &lt;br /&gt; “Pilih salah satu. Mengupas melinjo atau cari kayu bakar!” kata ibu serius.&lt;br /&gt;  Aku tercenung, menimbang antara dua pilihan. Membantu kakak membuat emping, berarti harus siap duduk membungkuk di depan tungku sambil mengupas cangkang melinjo panas; siap pula dibentak-bentak kakakku bila melakukan kesalahan. Sementara jika kupilih tugas kedua, aku harus berjalan kaki dua kilometer lebih melintasi perbukitan sambil memikul kayu bakar. Bayangan kehadiran mandor hutan yang galak dan babi hitam  yang ganas menari-nari di benakku. &lt;br /&gt;“Ayo, pilih mana?” tegas ibu.&lt;br /&gt;“Ata...Ata... pilih kedua, Biyung...”&lt;br /&gt;Aku teringat Satri, sahabatku yang pintar memanjat pohon. Akan kuajak anak bertubuh mungil itu menyusuri hutan pinus.&lt;br /&gt; Kutepuk-tepuk perut sendiri. Bukan hanya tong kosong yang berbunyi nyaring.&lt;br /&gt; “Biyung ngerti, wetengmu lapar kan?  Lepas topimu!”&lt;br /&gt;Aku berkelit saat ibu meraih mahkota daun nangka kering yang bertengger di kepalaku. &lt;br /&gt;“Apa topi jelek ini bisa bikin kenyang?”&lt;br /&gt; “Aduh Biyung! Jangan dilepas! Ata janji, hari ini mau ke hutan bersama Satri! Ata mau cari ranting kering yang banyak!”&lt;br /&gt; “Sungguh?!”&lt;br /&gt; Aku mengangguk-angguk. &lt;br /&gt; “Bagus. Sekarang kamu boleh makan!”&lt;br /&gt; Ibu mengambil cething dari gantungan salang dan meletakkannya di atas meja kecil. Jika musim paceklik tiba, yang kutemui di meja kayu sengon itu hanya menu sederhana: nasi jagung, ikan asin bakar dan sambal terasi. Aku bosan melihatnya. Mau apa lagi. Daripada mati kelaparan, apa yang ada kumakan juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     # # #&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Satri hanya berani menebang tanaman senggani yang tumbuh di sela-sela pohon pinus. Kami tak berani nekat  memotong dahan pinus, takut dimarahi mandor hutan. Ditemani tarian pucuk-pucuk pinus dan kicau kutilang, aku dan Satri sibuk menebangi tanaman senggani yang bagian pucuknya menyembulkan bunga berwarna ungu. Mulut kami bersenandung keras melantunkan lirik  Pucuk-pucuk Pinus milik penyanyi Ebiet G. Ade: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pucuk-pucuk pinus seperti berebut&lt;br /&gt;bergesek berdesak berjalin tangan&lt;br /&gt;ranting kering lurus adalah nyanyian&lt;br /&gt;selaksa puisi bergayut di dahan&lt;br /&gt;leburlah di sini...&lt;br /&gt;kini tinggal menunggu datang hembusan angin&lt;br /&gt;..ooo sempurnalah segalanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengayun parang sambil bersenandung riang terasa seperti terbang di awang-awang. Kami tak menyadari kehadiran seorang lelaki kekar dari arah belakang. Pak Sudar, mandor hutan yang terkenal galak itu, memegang telingaku. &lt;br /&gt; “Naaaaa..... ini dia ...” &lt;br /&gt;Aku terperanjat, tubuhku bergetar, seperti melihat hantu. Satri mencoba lari tapi dengan gerakan gesit Pak Sudar menarik lengannya. Tubuh Satri kecil itu nyaris terjungkal. Mahkota daun nangka di kepalaku ditarik dan dilemparkan ke atas, melayang-layang, berputar-putar di udara dan akhirnya jatuh menembus barisan semak belukar.&lt;br /&gt;Tanpa basa-basi, Pak Sudar  memaki-maki.&lt;br /&gt;“Kalian... kecil-kecil jadi maling,  berani merusak hutan!”&lt;br /&gt;Kami membantah.&lt;br /&gt;“Berani sumpah, Pak Mandor! Kami hanya mengambil senggani. Bukan pinus!”&lt;br /&gt;“Betul, Pak Mandor,” timpal Satri.&lt;br /&gt;“Jangan coba-coba mengelak! Ini buktinya!...”&lt;br /&gt;Pak Sudar menyodorkan sepotong ranting pinus sebesar lenganku.&lt;br /&gt;“Nih lihat! Lihat! Di sebelah sana juga banyak batang pinus ditebang. Siapa pelakunya kalau kalau bukan kalian?!”&lt;br /&gt;“Sumpah Pak Mandor! Kami tidak...”&lt;br /&gt;“Yang penting ini buktinya!” &lt;br /&gt;Merasa tak bersalah, aku pantang menyerah. Kugejrotkan kakiku ke tanah. Kuacung-acungkan parang ke arah wajah bercambang itu.  Entah, kenapa tiba-tiba aku punya keberanian melawan tuduhan.&lt;br /&gt;“Pak Mandor jangan ngawur! Bukan kami yang menebang. Lihat Pak Mandor, di sini hanya ada kayu senggani!” kataku tegas.&lt;br /&gt;“Betul Pak Mandor,” tegas Satri.&lt;br /&gt;“Kalian nantang ya!?”&lt;br /&gt;“Bukan begitu Pak Mandor. Memangnya Bapak melihat kami menebangi pinus? Tidak kan?” &lt;br /&gt;“Memang tidak....”&lt;br /&gt;“Lalu kenapa Pak Mandor menuduh kami?”&lt;br /&gt;Pak Sudar diam sesaat, matanya menatap kami bergantian.  &lt;br /&gt;“Oke...Coba buktikan kalau kalian tak bersalah.”&lt;br /&gt;Aku membisikkan sesuatu ke telinga Satri, ia mengangguk.&lt;br /&gt;Kami menyodorkan parang ke arah Pak  Sudar.&lt;br /&gt;“Cium parang ini, Pak Mandor. Kalau ada bau getah pinus, bawa kami ke kantor polisi.” &lt;br /&gt;Pak Sudar menciumi parang  satu per satu seperti anjing menemukan bangkai. &lt;br /&gt;“Hmmmmhh....” dengusnya seraya menggeleng-gelengkan kepala.&lt;br /&gt;Laki-laki yang mulai ubanan itu manggut-manggut. Lewat peristiwa kecil itulah aku memperoleh pelajaran tentang keberanian. Keberanian membela diri dengan mengatakan sesuatu yang benar. Harga diriku bangkit  begitu melihat wajah Pak Sudar tertunduk malu, merasa bersalah telah gegabah menuduh anak kecil tanpa bukti. &lt;br /&gt;Tiba-tiba...&lt;br /&gt;“Krosak...krosak...krosak!!!!.... Huik...huik huiiiiiiiik..”&lt;br /&gt;Lima ekor babi hutan muncul dari balik semak-semak menerobos tumpukan kayu senggani dan nyaris menyeruduk kami. &lt;br /&gt;Kami berteriak.&lt;br /&gt;“Hwaaa.... celeeeeeng...”&lt;br /&gt;“Celeeeng....”&lt;br /&gt;Untuk menghindari serudukan si moncong panjang itu,  kami lari berpencar. Satri yang bertubuh kerempeng begitu gesit memanjat pohon pinus. Aku menyusul di belakangnya.  Pak Sudar entah raib kemana.  Aku dan Satri bertengger di atas dahan sambil mendekap batang pinus erat-erat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-6654114236536561569?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/6654114236536561569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=6654114236536561569' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/6654114236536561569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/6654114236536561569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2010/06/pengantin-putih.html' title='Mahkota Daun Nangka'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-5533813870767573511</id><published>2010-06-14T20:11:00.000-07:00</published><updated>2010-06-14T20:17:28.495-07:00</updated><title type='text'>Wonotunggal  (Jangan) Tertinggal</title><content type='html'>SUARA MERDEKA, 04 Mei 2010&lt;br /&gt;Oleh Kawe Shamudra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALAU ada kecamatan di Kabupaten Batang yang belum memiliki terminal dan pasar, itulah Wonotunggal. Artinya, moda ekonomi di kecamatan ini belum memadai. Jika dibandingkan dengan kecamatan lain seperti Limpung, Tersono, Subah, Batang dan lainnya, Wonotunggal masih tertinggal. Bagaimana mengangkatnya agar sejajar dengan kecamatan lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan pasar dan terminal menjadi indikator kemajuan ekonomi suatu daerah. Selama ini masyarakat Wonotunggal hanya bisa memanfaatkan Pasar Manis di Desa Kedungmalang yang notabene merupakan pasar desa. Lumayan, pasar yang beroperasi lima hari sekali ini bisa  sedikit menggairahkan ekonomi masyarakat Wonotunggal meskipun belum memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kini sudah dibangun beberapa los pasar di Tugu Mulya, tak jauh dari kantor kecamatan. Tapi entah kenapa pembangunannya berhenti di tengah jalan. Puluhan bangunan los dibiarkan mangkrak dan dan kanan-kirinya ditumbuhi  semak-semak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak terjadi pro-kontra soal lokasi, pembangunan Pasar Wonotunggal terkatung-katung. Padahal masyarakat telah lama menunggu hadirnya pasar yang cukup representatif di daerahnya sendiri. Masyarakat tentu iri dengan Limpung, Subah, Tersono, Bandar dan kecamatan lainnya yang sudah memiliki pasar induk sebagai pusat perbelanjaan yang ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan kegiatan jual-beli, selama ini masyarakat memanfaatkan dua pasar di kecamatan yang berbeda yakni Pasar Kota (Batang) dan Pasar Bandar. Tidak heran jika dua pasar ini mengalami perkembangan cukup pesat, tampak  dari mobilitas ekonomi warga yang ramai setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, potensi ekonomi Kecamatan Wonotunggal akhirnya terserap ke kecamatan lain. Padahal secara ekonomis Kecamatan Wonotunggal sebenarnya tidak kalah dengan kecamatan lain, terutama hasil buminya. Potensi tersebut hanya bisa dikelola dengan baik jika kecamatan ini memiliki pasar sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memiliki pasar sendiri, aktivitas ekonomi masyarakat bisa berjalan lebih optimal dan efektif. Sebagian warga kecamatan bermukim di desa-desa kawasan perbukitan dan dikelilingi hutan. Mereka harus menempuh perjalanan cukup jauh jika hendak ke Pasar Bandar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan Pasar Wonotunggal perlu dilakukan lebih serius. Pro-kontra soal lokasi pasar sudah saatnya diakhiri agar para pengambil kebijakan lebih mudah menentukan sikap.  Apapun statusnya (pasar desa atau pasar kecamatan) yang penting masyarakat memiliki sarana untuk mengembangkan potensi ekonomi yang dimiliki. Setidaknya, mereka tak perlu jauh-jauh mengunjungi pasar lain kecamatan jika jika sudah punya pasar sendiri.&lt;br /&gt;Pasar Manis&lt;br /&gt;Ada alternatif yang lebih rasional jika pembangunan Pasar Wonotunggal gagal, yakni dengan memanfaatkan Pasar Manis secara optimal. Menjelang hari pasaran (Manis), pengunjung pasar ini cukup banyak. Hanya saja, sarana dan prasarananya belum memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar yang tumbuh dari kreativitas masyarakat ini perlu dihidupkan (dikembangkan) dengan menambah unit-unit perbelanjaan yang lebih representatif. Saat ini tempat berjualan masih sangat sederhana dengan menfungsikan bangunan lama yang sudah mulai lapuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari kondisi saat ini, Pasar Manis menunjukkan prospek yang cukup bagus sebagai pasar induk di kecamatan. Belakangan ini muncul tanda-tanda perkembangan yang cukup menggembirakan, setidaknya bisa dilihat dari antusiasnya warga setempat dalam membangun unit-unit usaha baru secara mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirnya sebuah pasar memang tidak harus menunggu uluran tangan pemerintah. Masyarakatlah yang bergerak membangun pasar sesuai kemampuan  yang ada. Itulah sisi budaya yang tak boleh diabaikan. Bahwa masyarakat memiliki kreativitas dan budaya kerja dengan menciptakan peluang-peluang usaha yang rasional.  Masyarakat Wonotunggal secara diam-diam namun penuh kesungguhan berusaha membangun wadah ekonomi (pasar) sesuai keyakinannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan letak bangunan pasar (yang kini mangkrak) dengan lokasi Pasar Manis tidak terlalu jauh, hanya berjarak sekitar 1 kilometer. Kenyataan yang terjadi saat ini, Pasar Wonotunggal masih sepi. Los-los yang dibangun belum difungsikan, bahkan sebagian bangunan mulai rusak. Sementara Pasar Manis dengan kekuatan tradisionalnya justru menunjukkan tanda-tanda kehidupannya. Sayang keramaiannya hanya terjadi lima hari sekali. (10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;— Kawe Shamudra, aktivis Komunitas Pena Batang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-5533813870767573511?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/5533813870767573511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=5533813870767573511' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/5533813870767573511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/5533813870767573511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2010/06/wonotunggal-jangan-tertinggal.html' title='Wonotunggal  (Jangan) Tertinggal'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-7967136556848413136</id><published>2009-11-21T18:36:00.000-08:00</published><updated>2009-11-21T18:39:26.790-08:00</updated><title type='text'>Habib Luthfi Pekalongan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SwikQ3efkOI/AAAAAAAAAGo/SyPnI7t1Hyg/s1600/habib+luthfi.bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 192px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SwikQ3efkOI/AAAAAAAAAGo/SyPnI7t1Hyg/s320/habib+luthfi.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406751962334990562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOSOK ULAMA KHARISMATIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa tak kenal Habib Luthfi. Sosok ulama yang satu ini memang fenomenal. Selain dikenal cerdas dan luas ilmunya, beliau juga dekat dengan berbagai kalangan. Dilahirkan di Pekalongan pada hari Senin, pagi tanggal 27 Rajab tahun 1367 H. Bertepatan tanggal 10 November, tahun 1947 M. Dilahirkan dari seorang syarifah, yang memiliki nama dan nasab: sayidah al Karimah as Syarifah Nur binti Sayid Muhsin bin Sayid Salim bin Sayid al Imam Shalih bin Sayid Muhsin bin Sayid Hasan bin Sasyid Imam ‘Alawi bin Sayid al Imam Muhammad bin al Imam ‘Alawi bin Imam al Kabir Sayid Abdullah bin Imam Salim bin Imam Muhammad bin Sayid Sahal bin Imam Abd Rahman Maula Dawileh bin Imam ‘Ali bin Imam ‘Alawi bin Sayidina Imam al Faqih al Muqadam bin ‘Ali Bâ Alawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasab beliau dari jalur ayah:&lt;br /&gt;Al Habib Muhammad Luthfi bin Sayid Ali al Ghalib bin Sayid Hasyim bin Sayid Umar Bin Sayid Thaha sahibur ratib (yang menyusun ratib Kubro) bin Sayid Muhammad bin Sayid Thaha bin Sayid Hasan bin Sayid Syekh bin Sayid Ahmad bin Sayid Yahya bin Sayid Hasan bin Sayid ‘Ali bin Sayid Muhammad Faqih Muqadam bin Sayid ‘Alawi bin Sayid ‘Ali bin Sayid Muhammad Sahib Marbath bin Sayid Khala ‘Ali Qasam bin Sayid ‘Alawi bin Sayid Muhammad bin Sayid Muhammad an Naqib bin Sayid ‘Isa an Naqib bin Sayid Ahmad al Muhajir bin Sayid Abdullah bin Sayid ‘Alawi bin Sayid ‘Ali al ‘Uraidhi bin Sayid Ja’far Shadiq bin Sayid Muhammad al Baqir bin Sayid ‘Ali Zainal Abidin bin Sayid Imam Husain as Sibthi bin Sayidatina Fathimah az Zahra binti Sayidina Muhammad Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan&lt;br /&gt;Pendidikan pertama Maulana Habib Luthfi diterima dari ayahanda al Habib al Hafidz ‘Ali al Ghalib. Selanjutnya beliau belajar di Madrasah Salafiah. Guru-guru beliau di Madrasah itu diantaranya:&lt;br /&gt;• Al Alim al ‘Alamah Sayid Ahmad bin ‘Ali bin Al Alamah al Qutb As Sayid ‘Ahmad bin Abdullah bin Thalib al Athas&lt;br /&gt;• Sayid al Habib al ‘Alim Husain bin Sayid Hasyim bin Sayid Umar bin Sayid Thaha bin Yahya (paman beliau sendiri)&lt;br /&gt;• Sayid al ‘Alim Abu Bakar bin Abdullah bin ‘Alawi bin Abdullah bin Muhammad al ‘Athas Bâ ‘Alawi&lt;br /&gt;• Sayid ‘Al Alim Muhammad bin Husain bin Ahmad bin Abdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi.&lt;br /&gt;Beliau belajar di madrasah tersebut selama tiga tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Ilmiah&lt;br /&gt;Selanjutnya pada tahun 1959 M, beliau melanjutkan studinya ke pondok pesantren Benda Kerep, Cirebon. Kemudian Indramayu, Purwokerto dan Tegal. Setelah itu melanjutkan ke Mekah, Madinah dan dinegara lainnya. Beliau menerima ilmu syari’ah, thariqah dan tasawuf dari para ulama-ulama besar, wali-wali Allah yang utama, guru-guru yang penguasaan ilmunya tidak diragukan lagi.&lt;br /&gt;Dari Guru-guru tersebut beliau mendapat ijazah Khas (khusus), dan juga ‘Am (umum) dalam Da’wah dan nasyru syari’ah (menyebarkan syari’ah), thariqah, tashawuf, kitab-kitab hadits, tafsir, sanad, riwayat, dirayat, nahwu, kitab-kitab tauhid, tashwuf, bacaan-bacaan aurad, hizib-hizib, kitab-kitab shalawat, kitab thariqah, sanad-sanadnya, nasab, kitab-kitab kedokteran. Dan beliau juga mendapat ijazah untuk membai’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silsilah Thariqah dan Baiat:&lt;br /&gt;Al Habib Muhammad Luthfi Bin Ali Yahya mengambil thariqah dan hirqah Muhammadiah dari para tokoh ulama. Dari guru-gurunya beliau mendapat ijazah untuk membaiat dan menjadi mursyid. Diantara guru-gurunya itu adalah:&lt;br /&gt;Thariqah Naqsyabandiah Khalidiyah dan Syadziliah al ‘Aliah&lt;br /&gt;Dari Al Hafidz al Muhadits al Mufasir al Musnid al Alim al Alamah Ghauts az Zaman Sayidi Syekh Muhammad Ash’ad Abd Malik bin Qutb al Kabir al Imam al Alamah Sayidi Syekh Muhammad Ilyas bin Ali bi Hamid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Sanad Naqsyabandiayah al Khalidiyah:&lt;br /&gt;Sayidi Syekh ash’ad Abd Malik dari bapaknya Sayidi Syekh Muhammad Ilyas bin Ali bi Hamid dari Quth al Kabir Sayid Salaman Zuhdi dari Qutb al Arif Sulaiman al Quraimi dari Qutb al Arif Sayid Abdullah Afandi dari Qutb al Ghauts al Jami’ al Mujadid Maulana Muhammad Khalid sampai pada Qutb al Ghauts al Jami’ Sayidi Syah Muhammad Baha’udin an Naqsyabandi al Hasni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Syadziliyah :&lt;br /&gt;Dari Sayidi Syekh Muhammad Ash’Ad Abd Malik dari al Alim al al Alamah Ahmad an Nahrawi al Maki dari Mufti Mekah-Madinah al Kabir Sayid Shalih al Hanafi ra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thariqah al ‘Alawiya al ‘Idrusyiah al ‘Atha’iyah al Hadadiah dan Yahyawiyah:&lt;br /&gt;• Dari al Alim al Alamah Qutb al Kabir al Habib ‘Ali bin Husain al ‘Athas.&lt;br /&gt;• Afrad Zamanihi Akabir Aulia al Alamah al habib Hasan bin Qutb al Ghauts Mufti al kabir al habib al Iamam ‘Utsman bin Abdullah bin ‘Aqil bin Yahya Bâ ‘Alawi.&lt;br /&gt;• Al Ustadz al kabir al Muhadits al Musnid Sayidi al Al Alamah al Habib Abdullah bin Abd Qadir bin Ahmad Bilfaqih Bâ ‘Alawi.&lt;br /&gt;• Al Alim al Alamah al Arif billah al Habib Ali bin Sayid Al Qutb Al Al Alamah Ahmad bin Abdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi.&lt;br /&gt;• Al Alim al Arif billah al Habib Hasan bin Salim al ‘Athas Singapura.&lt;br /&gt;• Al Alim al Alamah al Arif billah al Habib Umar bin Hafidz bin Syekh Abu Bakar bin Salim Bâ ‘Alawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari guru-guru tersebut beliau mendapat ijazah menjadi mursyid, hirqah dan ijazah untuk baiat, talqin dzikir khas dan ‘Am.&lt;br /&gt;Thariqah Al Qadiriyah an Naqsyabandiyah:&lt;br /&gt;• Dari Al Alim al Alamah tabahur dalam Ilmu syaria’at, thariqah, hakikat dan tashawuf Sayidi al Imam ‘Ali bin Umar bin Idrus bin Zain bin Qutb al Ghauts al Habib ‘Alawi Bâfaqih Bâ ‘Alawi Negara Bali. Sayid Ali bin Umar dari Al Alim al Alamah Auhad Akabir Ulama Sayidi Syekh Ahmad Khalil bin Abd Lathif Bangkalan. ra. Dari kedua gurunya itu, al Habib Muhammad Luthfi mendapat ijazah menjadi mursyid, hirqah, talqin dzikir dan ijazah untuk bai’at talqin.&lt;br /&gt;Jami’uthuruq (semua thariqat) dengan sanad dan silsilahnya:&lt;br /&gt;Al Imam al Alim al Alamah al Muhadits al Musnid al Mufasir Qutb al Haramain Syekh Muhammad al Maliki bin Imam Sayid Mufti al Haramain ‘Alawi bin Abas al Maliki al Hasni al Husaini Mekah.&lt;br /&gt;Dari beliau, Maulana Habib Luthfi mendapat ijazah mursyid, hirqah, talqin dzikir, bai’at khas, dan ‘Am, kitab-kitab karangan syekh Maliki, wirid-wirid, hizib-hizib, kitab-kitab hadis dan sanadnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thariqah Tijaniah:&lt;br /&gt;• Al Alim al Alamah Akabir Aulia al Kiram ra’su al Muhibin Ahli bait Sayidi Sa’id bin Armiya Giren Tegal. Kiyai Sa’id menerima dari dua gurunya; pertama Syekh’Ali bin Abu Bakar Bâsalamah. Syekh Ali bin Abu Bakar Bâsalamah menerima dari Sayid ‘Alawi al Maliki. Kedua Syekh Sa’id menerima langsung dari Sayid ‘Alawi al Maliki.&lt;br /&gt;Dari Syekh Sa’id bin Armiya itu Maulana Habib Luthfi mendapat ijazah, talqin dzikir, dan menjadi mursyid dan ijazah bai’at untuk khas dan ‘am.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan-kegiatan Habib Luthfi:&lt;br /&gt;• Pengajian Thariqah tiap jum’at Kliwon pagi (Jami'ul Usul thariq al Aulia).&lt;br /&gt;• Pengajian Ihya Ulumidin tiap Selasa malam.&lt;br /&gt;• Pengajian Fath Qarib tiap Rabu pagi(husus untuk ibu-ibu)&lt;br /&gt;• Pengajian Ahad pagi, pengajian thariqah husus ibu-ibu.&lt;br /&gt;• Pengajian tiap bulan Ramadhan (untuk santri tingkat Aliyah).&lt;br /&gt;• Da’wah ilallah berupa umum di berbagai daerah di Nusantara.&lt;br /&gt;• Rangakain Maulid Kanzus (lebih dari 60 tempat) di kota Pekalongan dan daerah sekitarnya. Dan kegiatan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabatan Organisasi:&lt;br /&gt;• Ra’is ‘Am jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah.&lt;br /&gt;• Ketua Umum MUI Jawa Tengah.&lt;br /&gt;• Anggota Syuriyah PBNU.dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: /www.habiblutfiyahya.ne/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-7967136556848413136?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/7967136556848413136/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=7967136556848413136' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/7967136556848413136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/7967136556848413136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/11/habib-luthfi-pekalongan.html' title='Habib Luthfi Pekalongan'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SwikQ3efkOI/AAAAAAAAAGo/SyPnI7t1Hyg/s72-c/habib+luthfi.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-6730467540006949751</id><published>2009-11-16T22:42:00.001-08:00</published><updated>2009-11-21T18:41:30.496-08:00</updated><title type='text'>TKW Batang Hilang di Malaysia</title><content type='html'>MENCARI SARINAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarinah, seorang TKW asal Wonotunggal, Batang, Jawa tengah berangkat ke Malaysia 7 tahun silam dan hingga saat ini tidak pernah menghubungi keluarganya di Ujungsari, Gringging. Kabar terakhir yang bersangkutan tinggal di &lt;br /&gt;Dimohon siapa saja yang mengetahui keberadaan Sarinah agar menghubungi suaminya (Soheh) lewat HP 081548125769.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-6730467540006949751?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/6730467540006949751/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=6730467540006949751' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/6730467540006949751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/6730467540006949751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/11/cari-uang-lewat-internet.html' title='TKW Batang Hilang di Malaysia'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-2782021326285996554</id><published>2009-11-09T17:07:00.000-08:00</published><updated>2009-11-09T17:11:28.464-08:00</updated><title type='text'>Profil MTs Muhammadiyah Batang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/Svi9ke2GolI/AAAAAAAAAGg/k2geTs3B3pM/s1600-h/MTsM+Btg.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/Svi9ke2GolI/AAAAAAAAAGg/k2geTs3B3pM/s320/MTsM+Btg.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402276187483841106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;MADRASAH, TEMPAT MENDEDAH &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;KADER MUHAMMADIYAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdirinya Madrasan Tsanawiyah Muhammadiyah (MTsM) tidak lepas dari peran sejumlah tokoh (aktivis Muhammadiyah dan Aisyiyah). Pada tahun 1959 berkumpullah sejumlah tokoh antara lain Ibu Chikmah Mohamad, Ibu Chamim Thoha, Ibu Pardijo, Mochamad Soeprapta. Mereka menggelar rapat intern membicarakan persoalan ummat. Pada saat itu warga Muhammadiyah masih berjumlah belasan orang antara lain Bapak Mochamad Soeprapta dan didampingi sejumlah nama antara lain Bapak Mawardi, Bapak Soewartoyo, Bapak Achmad Barowi, KH. Abdul Lathif dan tokoh-tokoh lain.&lt;br /&gt;Dari pembicaraan tersebut, terbentuklah Pimpinan Cabang Muhammadiyah Batang terdiri dari 11 orang yaitu: Bapak H. Chamim Thoha (alm) selaku bPDM dan anggota, Bapak Slamet Mashal (alm), Bapak Mawardi (alm), Bapak M. Kaprawi, Bapak Mubin Sanusi (alm), Bapak Fadholi (alm), Bapak Nachmud Yunus (alm), Bapak Moch. Rochim, Bapak Suardi PGS, Bapak Chumaidi (alm), dan Bapak S. Abdul Karim (alm).&lt;br /&gt;Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Batang sudah dilantik di gedung Kabupaten (sekarang pendopo) oleh Bapak Abdul Kadir dari Pekajangan. Saat itu Batang masih masuk wilayah Karesidenan Pekalongan.&lt;br /&gt;Lewat pengajian dan kursus-kursus yang diselenggarakan di gedung kabupaten, Muhammadiyah Batang mulai menampakkan bentuknya sebagai sebuah gerakan dakwah, meskipun untuk memasang papan nama masih menemui sejumlah kendala. Selain menyelenggarakan pengajian yang diisi oleh Bapak Mochamad Zaini, di gedung kabupaten juga diselenggarakan shalat Jumat. Dan di tempat itulah warga Muhammadiyah Batang menyelenggarakan ibadah shalat Jumat yang pertama kalinya. &lt;br /&gt;Seiring dengan perjalanan organisasi Muhammadiyah, segenap pimpinan Muhammadiyah Kecamatan Batang berfikir ke depan untuk memikirkan regenerasi melalui wadah yang resmi, sesuai kaidah organisasi, bahwa apabila Muhammadiyah ingin mendiriksn sekolah sebagai tempat pengkaderan harus berdiri terlebih dahulu sebuah madrasah (sekolah).&lt;br /&gt; Dan yang cukup menggembirakan, tidak lama kemudian ide tentang sekolah Muhammadiyah mulai diwujudkan dengan mendirikan Pendidikan Guru Agama Muhammadiyah (PGAM) sebagai embrio berdirinya Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Batang.&lt;br /&gt;Semenjak tangal 1 Januari 1975, bersamaan diterbitkannya SKB Tiga Menteri (Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Menteri Dalam Negeri) maka PGA dilebur menjadi Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah.&lt;br /&gt;. Meskipun belum memiliki gedung, para pengurus berani membuka pendaftaran calon siswa dan Alhamdulillah ada sekitar 9 siswa yang mendaftarkan diri. Mereka akhirnya ditampung dan proses belajar mengajar berlangsung dengan meminjam gedung TK Aisyiyah Kauman selama kurang lebih 4 tahun. Kemudian pindah di Gedung Pendidikan Muhammadiyah Tampangsono Kauman dari tahun 1979 s/d 2001 yang saat itu bersamaan dengan Madrasah Aliyah Muhammadiyah dan akhirnya sekarang menetap di Jl. Yos Sudarso Gg. Progo No. 122/2 atau di Kompleks Masjid Bustanul Jannah RT 01/ RW IV Kebonan, Proyonanggan Utara Kecamatan Batang.&lt;br /&gt;. Anak didik terpaksa bersekolah di gedung yang sederhana dengan sarana-prasarana terbatas: tempat duduk menggunakan kursi kecil. Sejumlah murid mengaku sempat minder karena sering diledek oleh murid-murid dari sekolah lain.&lt;br /&gt;Bangunan fisik yang cukup gagah saat ini dapat terwujud lewat rintisan yang panjang. Para pengampunya berjuang penuh dedikasi untuk membesarkan sekolah ini.&lt;br /&gt;Kita tidak bisa melupakan jasa-jasa para pendiri dan pengelola pada masa-masa awal, ketika MTsM mulai dirintis. Sejulah nama yang ikut “babat alas” saat itu antara lain Bapak Mubin Sanusi (alm) Bapak SA Karim (alm), Bapak Mochamad Rochim, Bapak Achmad Barowi (alm), Bapak HR. Soeprapta, Bapak Kafrawi, Ibu Umalichah, Bapak HM. Harto Setiyono, BA. &lt;br /&gt;Perjuangan mereka tidak boleh dianggap remeh, bukan saja dalam hal mengusahakan bersirinya bangunan fisik, tetapi bagaimana harus mengelola sebuah lembaga pendidikan yang baik sehingga bisa dipercaya masyarakat, sesuai dengan tujuan pendidikan Muhammadiyah: Membentuk manusia muslim yang beriman, bertaqwa, berakhlaq mulia, cakap, percaya pada diri sendiri, berdisiplin, bertanggungjawab, cinta tanah air, memajukan dan memperkembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan, dan beramal menuju terwujudnya masyarakat utama, adil, makmur yang diridlai Allah Subhanahu Wata’ala (Bab I Pasal 3 Qoidah Dikdasmen Muhammadiyah  Tahun 1998 ). &lt;br /&gt; Selain itu, pendidikan Muhammadiyah juga selaras dengan tujuan Pendidikan Nasional: mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME, dan berbudfi pekerti luhur, memilkiki pengetahuan dan nketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tangungjawab lemasyarakatn dan kebangsaan. (UUPN No.2 Th 1989 Bab II Pasal 4 ).&lt;br /&gt; Perjuangan untuk mewujudkan cita-cita luhur semacam itu tidak serta-merta memperoleh dukungan dari masyarakat. Dahulu, keputusan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di MTsM barangkali dianggap bodoh. Di era 80-an, sekolah ini dianggap sebagai pilihan terakhir, yang menampung anak-anak buangan dari sekolah negeri.&lt;br /&gt;Belum lagi adanya stigma minir dari warga masyarakat yang menganggap remeh organisasi Muhammadiyah. Dan harus diakui bahwa warga Muhammadiyah di Batang saat itu jumlahnya sangat sedikit dan hanya bisa dihitung dengan jari. Hal ini dapat dilihat dari jumlah mereka yang mengikuti pengajian selapanan di Gedung Pendidikan Muhammadiyah (sekarang MAM dan SMK).&lt;br /&gt;Ada kisah menarik berkenaan dengan semangat juang para pengelola MTsM saat itu, yang dengan segala keterbatasannya menyelenggarakan proses belajar mengajar. &lt;br /&gt;Bagaimana kesabaran para guru dalam mengajar beberapa gelintir murid dengan sarana dan prasarana yang terbatas.&lt;br /&gt;Bahkan di tahun 1980-an siswa/siswi MTsM harus rela sekolah sore karena pagi hari gedung digunakan untuk MAM. Sebuah kenyataan yang cukp melelahkan tentunya, di saat fisik anak-anak maupun para guru terasa lelah mereka harus sekolah. Apapun kenyataannya, sekolah sore menjadi satu-satunya pilihan yang tidak bisa ditolak.&lt;br /&gt;MTsM yang saat itu statusnya masih terdaftar berusaha memberikan layanan pendidikan yang memadai dengan menitikberatkan sisi keagamaan. Ketika layanan pendidikan berbasis keagamaan di Batang masih minim, MTsM berusaha tampil dengan kebersahajaan tetapi penuh kesungguhan, meskipun dengan menghadirkan tenaga pendidik paruh waktu. Pagi hari para guru mengajar di sekolah lain, sementara sorenya mengajar di MTsM. Mereka antara lain Bapak Kafrawi, Bapak Gudharonie, Bapak Sudama HS, Bapak Sahuri, Bapak Achmad Barowi, Ibu Umalichah, Bapak Supardjo, Bapak Subaryanto, Bapak Tri Budiyanto, Bapak Subangun, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Lantas buah apa yang kemudian bisa dipetik dari etos juang semacam itu? Perlahan-lahan MTsM mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Ibarat emas, kadarnya meningkat dan mulai diperhitungkan.&lt;br /&gt;Kurikulum yang digunakan MTsM adalah kurikulum dari Departemen Agama dan Dinas Pendidikan dengan mata pelajaran Agama dan Umum. Pendidikan Agama: Fiqih, Aqidah Akhlak, Bahasa Arab, Sejaran Kebudayaan (Sejarah Islam), Al Qur’an Hadits. Adapun Pendidikan Umum meliputi: Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, PKn, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, Pendidikan Seni, Penjaskes, Pengembangan Dilengkapi pula dengan muatan lokal Pendidikan Keterampilan dan Kemuhammadiyahan. &lt;br /&gt;Setelah MTsM berjalan warga merasa lega sehingga banyak yang menitipkan putra-putrinya untuk dididik di dalamnya karena waktu itu merupakan sekolah agama yang berdiri paling awal di Batang. Masyarakat tahu bahwa pendidikan yang diajarkan adalah 70% Pendidikan Umum dan 30% Pendidikan Agama. Sampai sekarang keberadaan MTsM sudah sederajat SMP, bahkan bias disebut SMP Plus karena memiliki kelebihan di bidang agama. Ujian Nasional pun mengikuti aturan sama persis dengan SMP dan setelah tamat dapat melanjutkan ke sekolah umum baik Negeri maupun Swasta.&lt;br /&gt;Dari sisi status kelembagaan, MTsM menapaki jenjang-jenjang akreditasi dari status terdaftar tahun 1975 hingga diakui tahun 1991. Menjelang tahun 2006 terakreditasi B. Hingga tahun 2008 jumlah alumnus tercatat 1913 orang.&lt;br /&gt;Perkembangan tersebut tidak lepas dari jasa-jasa para funding father yang telah banyak mengorbankan waktu, tenaga maupun fikirannya untuk berjuang di Jalan Allah. Harus diakui bahwa MTsM merupakan warisan dari orang-orang yang ikhlas berjuang tanpa pamrih. Mulai dari para pengurus, kepala sekolah, guru-guru, dan staf Tata Usaha, semua rela mendedikasikan diri untuk hidupnya sekolah Muhammadiyah yang berbasis keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini perjalanan MTsM menjadi kian mantap dalam mengemban visi: “unggul dalam bidang mutu akademis yang berpijak pada akhlak mulia.” Adapun misi MTsM adalah: &lt;br /&gt; Menumbuhkan Idealisme segenap warga sekolah agar memiliki motivasi yang kuat untuk mencapai prestasi sekolah yang optimal.&lt;br /&gt; Meningkatkan profesionalisme guru dan tenaga kependidikan lainnya agar memiliki keahlian, tanggungjawab dan kesejawatan dalam mencapai puncak prestasi sekolah. &lt;br /&gt; Melaksanakan pembelajaran dan pembimbingan siswa secara efektif dan efisien.&lt;br /&gt; Mendorong dan membantu siswa mengenali potensi dirinya sehingga  dapat dikembangkan secara optimal&lt;br /&gt; Meningkatkan penghayatan dan pengamalan ajaran agama untuk berperilaku/ berakhlaq mulia.&lt;br /&gt; Meningkatkan penerapan partisispasi dengan melibatkan segenap warga sekolah dan kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah/ madrasah.&lt;br /&gt; Meningkatkan KBM dalam rangka mencapai nilai mutu akademis secara periodik dan berkesinambungan.&lt;br /&gt;  Memperkokoh landasan ketaqwaan dalam mewujudkan akhlaq mulia anak didik dengan sesama murid, guru dan masyarakat. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profil Kepala MTsM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah lembaga pendidikan tidak lepas dari peran seorang leader yang memimpin jalannya aktifitas belajar mengajar. Semenjak berdirinya hingga buku ini ditulis, MTsM Batang mengalami beberapa pergantian Kepala Sekolah. Tidak bisa dilupakan jasa-jasa besar sejumlah Kepala Sekolah yang menjadi pandega MTsM antara lain Bapak HR. Moch. Soeprapta (masa transisi: 1975),  Bapak S. Abdul Karim (1975 - Mei 1982 &amp;amp; Januari 1984 - Juli 1986), Bapak Achmad Barowi (Agustus 1982-Januari 1983), Bapak Mobin Sanusi (Mei 1983 - Agustus ), dan Bapak Harto Setiyono, BA (1986-sekarang).&lt;br /&gt;Mereka adalah nama-nama yang tak terlupakan, yang sebagian hidupnya diabdikan untuk membesarkan MTsM. Jiwa mereka digerakkan oleh keikhlasan sehingga merasa tidak terbebani dalam mengemban amanah ummat dengan penuh semangat hanya mengharap ridha Allah swt.&lt;br /&gt;Untuk mengenal lebih dekat pribadi dan kiprah mereka, berikut ini profil singkatnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HM. Moch Soeprapta adalah Kepala MTsM tahun 1975 (masa transisi). Lahir di Beji, Ungaran 24 Nopember 1931. Pernah sekolah guru zaman Jepang hingga RI lulus tahun 1953 di Surakarta, selanjutnya hijrah ke Batang tahun itu juga. Beliau adalah pendidik sejati yang mengenyam banyak pengalaman di bidangnya.  dan termasuk salah seorang perintis berdirinya PD Muhammadiyah Kabupaten Batang dan menjabat Ketua (1959-1964). Kariernya di bidang pendidikan  antara lain pernah menjadi Kepala SMP 4 Pasekaran Batang(1980-1988), Kepala SMP Negeri Subah (1976-1980) dan Kepala SMP Negeri  Buaran Pekalongan (1988-1991). Sejak muda aktif di berbagai organisasi dan menjadi panitia pendiri berbagai sekolah di Batang antara lain SMEA Persiapan  (sekarang SMKN 1 Batang), pendiri SMP Negeri 1 Batang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobin Sanusi (alm) dikenal sebagai Kepala Sekolah paling nyentrik, suka memakai sarung. Lahir di Pakah, Mantingan Ngawi Jawa Timur pada 9 Maret 1936 dan meninggal di tanggal yang sama pula: 9 Maret 1995. Tiba di Batang tahun 1958. Menempuh pendidikan di SR/SD Gondong, SMP Sragen, SMEA Solo dan Sekolah Tinggi Ekonomi Pekalongan (1963). Tidak banyak yang bisa diketahui dari sosok pria sederhana ini, namun usahanya dalam merintis pendidikan Muhammadiyah di Batang bisa dirasakan hingga sekarang..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S. Abdul Karim (alm) dikenal sebagai sosok yang teguh menjalankan tugas dengan kepemimpinan yang low profil. Menjabat Kepala MTsM selama dua periode (tahun 1975- Mei 1982) dan (Januari 1984 - Juli 1986). Beliau dikenal penyabar dan telaten dalam  menghadapi murid-muridnya dan senantiasa berusaha menunjukkan sikap santun di hadapan siapapun. Sampai di usia tuanya beliau tetap konsisten berdakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Achmad Barowi (alm) lahir di Batang 17 Mei 1937. Sebagai alumnus MTs Islam Tebuireng Jombang (1953-1950) dan PGA beliau dikenal tegas dalam mendidik murid-muridnya. Karier dalam bidang pendidikan: pernah menjadi Guru MI Keputon Blado (1964 – 1965), Guru Agama SD Islam Krapyak Pekalongan, Guru Agama SD Muhammadiyah Warungasem, Guru Agama SD Kalipucang Wetan, Guru Agama SD Proyonanggan I, VII, X  (Kebonan), Guru dan Kepala MTsM Batang (Agustus 1982-Januari 1983).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; HM. Harto Setiyono, BA lahir di Magelang, 31 Desember 1949. Suami Hj. Umalichah, S.Ag yang memiliki tiga anak ini mengawali kariernya menjadi Pegawai Kantor PPAI Kecamatan Secang, Magelang. Pernah menjadi Guru berbagai sekolah antara lain SMP Muallimin Bondowoso, Mertoyudan. Setelah pindah ke Batang pernah menjadi Pegawai Kantor PPAI Wonotunggal, Guru MTs Attaqwa Bandar, Guru Agama SDN Kadilangu dan SDN Pasekaran, Guru MA Muhammadiyah Batang, Guru Madin Wustho Muhammadiyah Batang. Menjadi Kepala MtsM Batang sejak  1986. Beliau memiliki motto kehidupan: setiap kegiatan apapun dilandasi dengan niat ibadah, ikhlas karena Allah Swt dan sedikit bicara banyak bekerja. Pengalaman berorganisasi antara lain: pernah menjadi sekretaris PS Amor Club di Bondowoso Magelang, menjadi aktivis IMM Universitas Muhammadiyah Magelang, sekretaris Kelompok Keluarga Korpri Kebonan, Ketua Komda Tapak Suci Putra Muhammadiyah Batang, menjadi PDM Majlis Pempina Kader, Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Batang, sekretaris Bidang Pendidikan Panti Umar bin Khottob Cepokokuning Batang, sekretaris Kwarda Hizbul Wathon Kabupaten Batang, anggota PDM Majlis Dikdasmen Kab. Batang, Pimpinan Cabang Majlis Tabligh Kec. Batang, Pimpinan Ranting Muhammadiyah Proyonanggan Utara, Ketua Takmir Masjid Bustanul Jannah, Ketua dan Penasehat PHBI Kelurahan Proyonanggan Utara dan Ketua Paguyuban KBIH Aisyiyah kelurahan Proyonanggan Utara Angkatan ke-IV.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-2782021326285996554?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/2782021326285996554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=2782021326285996554' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/2782021326285996554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/2782021326285996554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/11/profil-mts-muhammadiyah-batang.html' title='Profil MTs Muhammadiyah Batang'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/Svi9ke2GolI/AAAAAAAAAGg/k2geTs3B3pM/s72-c/MTsM+Btg.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-3425145438612192761</id><published>2009-11-09T17:06:00.000-08:00</published><updated>2009-11-09T17:07:19.684-08:00</updated><title type='text'>SAMBUTAN HANGAT</title><content type='html'>Tak diduga, berangkat dari sebuah keisengan, kehadiran PENA PANTURA ternyata mendapat sambutan hangat dari masyarakat, terbukti dengan adanya permintaan penulisan profil seperti perusahaan, tempat wisata, sekolah dan tokoh. Kami sangat berterima kasih dengan kepercayaan tersebut, mudah-mudahan kami bisa memenuhi harapan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih kepada Bapak H. Harto Setyono, BA Kepala MTsM Batang yang mempercayakan pada kami penulisan profil Masjid Bustanul Jannah Proyonanggan Utara dan MTsM Batang. Juga Kepala SMKN1 Batang, Bapak Drs. Sugito yang berminat memprofilkan sekolah tersebut. Tak ketinggalan Ibu Caswati Direktur sebuah PJTKI di Semarang yang turut memberi atensi hadirnya PENA PANTURA. Anggota DPRD Batang Bapak Yuswanto dan Bapak Hasan Efendi juga menyambut positif hadirnya PENA PANTURA. Kemudian Bapak Hadi Subowo, SE pemilik agrowisata kebun salak Selopajang Timur beberapa waktu lalu juga kontak PENA PANTURA untuk menuliskan profil usahanya. &lt;br /&gt;Kami membuka kesempatan pada siapa saja untuk berpartisipasi mengisi blog ini agar lebih ramai. Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;Kawe Shamudra&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-3425145438612192761?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/3425145438612192761/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=3425145438612192761' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/3425145438612192761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/3425145438612192761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/11/sambutan-hangat.html' title='SAMBUTAN HANGAT'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-4181119188134741819</id><published>2009-11-09T17:04:00.000-08:00</published><updated>2009-11-09T17:05:44.488-08:00</updated><title type='text'>TENTANG PENA PANTURA</title><content type='html'>Bicara soal dokumentasi, tulisan bisa menjadi wakil sebuah gagasan untuk merekam peristiwa yang telah lewat menjadi pengalaman hidup. Memang, rekaman kamera bisa menjadi alat dokumentasi, tetapi tanpa diimbuhi teks pendukung terasa belum lengkap.&lt;br /&gt;Sebuah peristiwa penting yang menyangkut nama, tempat kejadian dan hal-hal lainnya bisa telupakan dan hilang sia-sia karena tidak ditulis. Atau sebuah pengalaman kehidupan yang unik akan hilang begitu saja ditelan zaman lantaran tidak terdokumentasikan dalam tulisan. &lt;br /&gt;Semenarik apapun kejadian yang dialami seseorang menjadi kehilangan daya pikatnya jika hanya dituturkan secara lisan dalam ruang lingkup terbatas. Padahal ada kalanya pengalaman hidup seseorang menyimpan sejumlah hikmah/ pelajaran yang bisa dipetik orang lain. Banyak hal yang bisa dicontoh dari jejak peristiwa masa silam. Dan banyak pula hal yang perlu direkam  dari jejak-jejak masa lalu.&lt;br /&gt;  Seorang anak bisa jadi sangat menyesal karena tidak tahu jejak dan pengalaman hidup orang tuanya. Padahal orang tuanya adalah orang hebat yang disegani pada zamannya. Sang anak hanya tahu sedikit soal penggalan-penggalan pengalaman hidup orang tuanya, itupun hanya bedasarkan pada cerita orang lain, bukan penuturan langsung dari orang tuanya.&lt;br /&gt;Itu contoh dari sisi kehidupan individu. Sementara dalam ruang hidup yang lebih luas kita kerap menemukan fakta, betapa banyak lembaga (organisasi) yang kehilangan akar cerita karena tidak memiliki dokumentasi tertulis yang memadai yang bisa dijadikan alat bukti sejarah. Betapa banyak lembaga yang sudah hidup bertahun-tahun tetapi hanya menyisakan sedikit cerita karena luput dari perhatian (pendokumentasian).&lt;br /&gt;Menyadari hal itu, maka kami memberi ruang ekspresi seluas-luasnya untuk membantu masyarakat yang ingin mendokumentasikan pengalaman hidup lewat tulisan. Ruang tersebut bernama PENA PANTURA, sebuah blog sederhana yang menampung ragam informasi seputar budaya kawasan pantura.&lt;br /&gt;Kami ingin menampilkan tulisan-tulisan khas dengan bahasa yang bersahaja dan akrab, dengan materi beragam seputar dinamika masyarakat pantura meliputi kejadian-kejadian penting, profil tokoh, lembaga dan lingkungan. Segala hal yang bermanfaat akan coba kami tampilkan di sini dengan harapan dapat menjadi cermin kehidupan. &lt;br /&gt;Kami ingin menampilkan hal-hal yang tampak sederhana  namun (ternyata) bernilai sebagai sarana pembelajaran bersama. Kami berusaha menggali potensi lokal yang luput dari perhatian.&lt;br /&gt; Perkembangan teknologi informasi belakangan ini menjadi titik temu antara kebutuhan masyarakat akan informasi dan cara mengaksesnya secara cepat dan murah. Internet menjadi media yang ampuh saat ini untuk mobilitas informasi tanpa dibatasi sekat-sekat geografis. Maka seluruh data kami simpan dan umumkan lewat internet agar bisa diakses masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa PENA PANTURA?&lt;br /&gt;Pada mulanya blog PENA PANTURA hanya tampil main-main. Berisi kumpulan tulisan yang pernah dimuat di media cetak. Kehadirannya juga tidak ajeg karena hanya menjadi semacam rak pribadi. Namun blog tersebut akhirnya mendapat apresiasi yang cukup melegakan dari masyarakat. Akhirnya kami berniat mengelola blog ini lebih serius, syukur nantinya bisa menjadi domain yang permanen dan bisa tampil dengan info-info baru. Yang pasti, kami bertekad menghadirkan tulisan-tulisan khas hasil penggalian sendiri, tidak sekadar meng-copy paste karya media lain. Dan perlu kami tekankan di sini bahwa pembaca boleh mengutip materi di PENA PANTURA dengan syarat menyebutkan sumbernya.&lt;br /&gt;PENA PANTURA juga memberi ruang kerja sama dengan pihak manapun terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan dunia tulis-menulis. Dan terima kasih pada semua pihak yang selama ini memberi support atas hadirnya PENA PANTURA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIM WORK:&lt;br /&gt;Kawe Shamudra (Koordinator)&lt;br /&gt;Perwakilan:&lt;br /&gt;Waskitho AS (Batang)&lt;br /&gt;Nur Khasanah (Wonotunggal) &lt;br /&gt;MuntoroAbdurrahman (Tersono)&lt;br /&gt;Irvandy (Kendal)&lt;br /&gt;Senja Salehati (Reban)&lt;br /&gt;Mohamad Sorimin (Bawang)&lt;br /&gt;Hamid Kaha (Gringsing)&lt;br /&gt;Vie’s (Subah)&lt;br /&gt;Sulistio Suparno (Banyuputih)&lt;br /&gt;T. Jirien (Warungasem)&lt;br /&gt;Amirudin (Bandar)&lt;br /&gt;Blado (belum ada)&lt;br /&gt;M. Fakhrudin Hidayat (Bawang)&lt;br /&gt;Kandeman (belum ada)&lt;br /&gt;Pecalungan (belum ada)&lt;br /&gt;Aveuz Har (Pekalongan)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-4181119188134741819?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/4181119188134741819/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=4181119188134741819' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/4181119188134741819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/4181119188134741819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/11/tentang-pena-pantura.html' title='TENTANG PENA PANTURA'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-4101505787871693024</id><published>2009-11-09T17:01:00.000-08:00</published><updated>2009-11-09T17:03:42.770-08:00</updated><title type='text'>UNDANGAN Penulisan Profil</title><content type='html'> &lt;br /&gt;PENA PANTURA melayani kerja sama penulisan  berbagai profil, perjalanan karier  dan prestasi seorang tokoh masyarakat, pejabat, pengusaha, artis dan sebagainya. Juga profil lembaga/ instansi, perusahaan, organisasi kemasyarakatan, masjid, sanggar, paguyuban, keluarga prestasi dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JENIS PELAYANAN&lt;br /&gt;a. Layanan Langsung dimana kami akan mendatangi Anda untuk menggali data-data yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;b. Layanan Online, dimana anda bisa mengirim e-mail berisi catatan penting tentang lembaga/ diri anda kemudian kami yang melakukan editing bahasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BIAYA&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PENA PANTURA menerapkan biaya terjangkau dan fleksibel berdasarkan panjang-pendek materi profil dan tingkat kesulitan penulisan. Namun untuk penulisan profil pendek (5000-10000 karakter) dikenakan biaya Rp 150.000,- (seratus limapuluh ribu rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONTAK KAMI&lt;br /&gt;Cara mendaftar via  SMS dan tulis PROFIL (spasi) NAMA ANDA  (spasi) NAMA INSTANSI/PERUSAHAAN/ORGANISASI. Kirim ke 081548125769.&lt;br /&gt;Contoh: PROFIL BAMBANG KARANG TARUNA BATANG &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-4101505787871693024?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/4101505787871693024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=4101505787871693024' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/4101505787871693024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/4101505787871693024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/11/undangan-penulisan-profil.html' title='UNDANGAN Penulisan Profil'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-1900040474231172511</id><published>2009-10-05T21:17:00.000-07:00</published><updated>2009-10-05T21:47:13.959-07:00</updated><title type='text'>Kampung Unik Pranten</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SsrLcFDSDgI/AAAAAAAAAGY/sF7UVUWD4cQ/s1600-h/IMG_3380.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SsrLcFDSDgI/AAAAAAAAAGY/sF7UVUWD4cQ/s320/IMG_3380.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389343587354938882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SsrKhL7RxLI/AAAAAAAAAGQ/n5O6tS3uZpY/s1600-h/IMG_3445.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SsrKhL7RxLI/AAAAAAAAAGQ/n5O6tS3uZpY/s320/IMG_3445.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389342575588132018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SsrJKZ7tR7I/AAAAAAAAAGI/vZR3mAuJEbk/s1600-h/IMG_3432.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SsrJKZ7tR7I/AAAAAAAAAGI/vZR3mAuJEbk/s320/IMG_3432.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389341084699412402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SsrGWQ7_qXI/AAAAAAAAAGA/6zWGirAd_xc/s1600-h/IMG_3436.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SsrGWQ7_qXI/AAAAAAAAAGA/6zWGirAd_xc/s320/IMG_3436.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389337989908244850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto dan teks: kawe shamudra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:20;"&gt;Refleksi Kehidupan Petani Pranten&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=""&gt;Catatan Kawe Shamudra&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Rasanya tidak ada yang membantah soal keindahan dan keunikan desa Pranten kecamatan Bawang, Batang. Perkampungan mungil di perbatasan Batang-Wonosobo ini memang memukau dari sudut alam, budaya dan ekonomi. Maka tidak heran jika akhirnya dijuluki kampung wisata gunung perahu lantaran berada di lereng gunung Perahu (Bromosari). Dusun ini juga diapit gunung Sipandu yang menjulang tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Banyak hal menarik di kampung berpenghuni 113 KK ini. Selain dikelilingi perbukitan hijau (kebun sayuran) juga kawasan hutan lindung yang asri dengan hiasan sejumlah air terjun (curug) yang indah dan berair jernih (ada pula curug berair panas).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Di sebelah barat terdapat area pemakaman umum yang unik, berada di bukit dikelilingi tebing curam ratusan meter. Dari arah makam bisa melihat pemandangan sekeliling yang elok. Para petani sibuk mengolah lahan di sana dengan penuh kesungguhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Etos kerja masyarakat Pranten begitu tinggi. Mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hidup bersahabat dengan alam (mengolah lahan) dan menanami ragam sayuran seperti kentang, kubis, seladri, kapri dan lain-lain. Rumah-rumah mereka dikelilingi kebun sayur. Halaman rumah pun ikut digarap jadi ladang sayur. Nyaris tak ada sepetak tanah pun yang terabaikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Yang tampak di sana adalah etos kerja dalam budaya tani. Mereka tampak bersungguh-sungguh menjalani kehidupan. Hawa dingin yang menusuk kulit tidak membuat mereka bermanja-manja di dekat tungku mencari kehangatan, tetapi dijadikan tantangan untuk terus bekerja keras melahirkan produktivitas. Mengolah tanah adalah sebuah keharusan untuk mengisi dan memaknai kehidupan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sepetak tanah sanggup menghasilkan “emas” dan harapan hidup. Saya terhenyak saat menemui seorang petani yang tengah memanen solong daun bawang tak jauh dari rumahnya. Tanah sempit di sudut rumah (hanya beberapa meter persegi) ternyata sanggup menghasilkan 1 ton daun bawang dengan harga Rp 4 ribu per kilo. Itu sekadar gambaran (rumus kecil) penghasilan petani di sana. Tentunya sebagai lambang kemakmuran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Di manapun, kerja keras pasti membuahkan hasil yang memuaskan. Leseriusan dan ketelatenan membuahkan kekaguman. Warga Pranten hidup dari rezeki bumi dan berkah air hujan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dan yang tak kalah memukau adalah keramahan penduduknya. Jika pengunjung melintasi lorong-lorong perkampungan bisa dipastikan mendapat sapaan hangat dari warga (menyuruh singgah ke rumahnya). Saat berkunjung ke kampung Pranten beberapa waktu lalu, di jalan saya berpapasan dengan sejumlah petani perempuan yang pulang dari ladang. Sambil menggendong hasil bumi mereka mengajak salaman dengan antusias.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Mereka mendiami rumah-rumah sederhana, tetapi tampak makmur dan bahagia. Kemakmuran rupanya tidak dipandang dari rumah bagus atau gemerlap lahiriah, tetapi bisa dilihat lewat cara pandang dalam memahami realitas hidup dan kebersahajaan lahir batin. Jika diamati, rumah-rumah yang mereka diami tampak sederhana, tetapi mereka punya uang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dan yang menarik lagi, warga Pranten tidak tertarik menjadi TKI di luar negeri. “Di sini tidak ada TKI. Kalau ke luar negeri mereka takut tak bisa pulang,” seloroh Rondi, sang kepala dusun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Satu hal yang juga sangat mengejutkan adalah kehidupan anak-anak Pranten yang ternyata turut hanyut dalam budaya kerja keras. Mereka tidak dimanjakan dengan permainan mekanis dan senda gurau modernitas. Tetapi sehari-hari dilatih untuk mencintai pekerjaan ala desa dan membantu orang tua. Budaya pegunungan memandang aib bagi anak-anak usia 10 tahun ke atas yang tidak bisa cari rumput, mengampak kayu, dan memanggul hasil bumi. Dan sempat saya saksikan pula dimana sejumlah bocah begitu lihai membelah kayu bakar dengan kapak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Mengunjungi kampung wisata Pranten tentunya tak sekadar menikmati keindahan alam, tapi bisa belajar dari refleksi budaya masyarakat desa yang bersahaja dan berdamai dengan lingkungan. Kebersahajaan ternyata sanggup menawarkan keademan, ketulusan dan sikap hidup yang penuh kearifan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Mengunjungi kampung wisata tak sekadar menikmati obyek yang terlihat oleh mata, tetapi bisa belajar pada apa yang tersirat dan tersurat di sana. Dan sudah semestinya Pranten ditata sedemikian rupa agar bertahan menjadi kampung yang ramah bagi siapa saja. Julukan kampung wisata semestinya bisa menjadi sebuah tantangan budaya untuk mengelola realitas keindahan dan keunikan menjadi obyek pembelajaran, dimana alam dan manusia menjelma dalam sinergi yang serasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 36pt;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Kawe Shamudra&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;, aktivis Komunitas Pena Batang &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-1900040474231172511?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/1900040474231172511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=1900040474231172511' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/1900040474231172511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/1900040474231172511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/10/kampung-wisata-pranten.html' title='Kampung Unik Pranten'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SsrLcFDSDgI/AAAAAAAAAGY/sF7UVUWD4cQ/s72-c/IMG_3380.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-740116531009033928</id><published>2009-10-05T21:10:00.000-07:00</published><updated>2009-10-05T21:15:58.501-07:00</updated><title type='text'>ISUL SENJA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SsrEBhv3PEI/AAAAAAAAAF4/ugYATxecrFo/s1600-h/ISUL+LEHAH.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 259px; height: 144px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SsrEBhv3PEI/AAAAAAAAAF4/ugYATxecrFo/s320/ISUL+LEHAH.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389335434620255298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isul, mae, pae, mbak lehah, kang sam, ulin...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-740116531009033928?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/740116531009033928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=740116531009033928' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/740116531009033928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/740116531009033928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/10/isul-senja.html' title='ISUL SENJA'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SsrEBhv3PEI/AAAAAAAAAF4/ugYATxecrFo/s72-c/ISUL+LEHAH.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-55588971329956345</id><published>2009-03-14T18:13:00.000-07:00</published><updated>2009-03-21T23:07:25.043-07:00</updated><title type='text'>Simpanan File</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;ANCAMAN USAHA EMPING&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Oleh : Kawe Shamudra&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;Ribuan buruh emping di Limpung Batang kini sedang lesu / meriang. Mereka umumnya perempuan dan kerap disebut pengrajin. Selama puluhan tahun nasibnya kurang beruntung karena terpingit keadaan, sulit berkembang dan hanya jadi pelengkap penderita di bawah pengaruh kekuatan capital (tengkulak).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;Mereka boleh bilang buruh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan dengan upah tidak tetap bahkan jika dengan “bunting” tidak dapat upah sama sekali. Mari kita cermati situasi saat ini. Bahan &lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;baku&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; melinjo perkilo harganya Rp. 10.000,-/kg&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sementara harga emping Rp. 19.000,- /kg . padahal 1 kg emping memerlukan 2 kg bahan &lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;baku&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; melinjo (=Rp. 20.000,-) jadi jika usaha emping dijalani rugi seribu perkilogram emping.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;Tragis bukan. Maka wajar bila saat ini para perajin emping memilih menghentikan usahanya dan menganggur. Kondisi Kolaps semacam itu terjadi berulang-ulang tanpa diketahui persis apa penyebabnya. &lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang menduga, ini Cuma akal-akalan para tengkulak (pedagang besar) untuk memukul bakul emping kecil-kecilan yang dianggap menyaingi usahanya. Dugaan ini ditengarai oleh kejanggalan mekanisme pasar yang selama ini tidak dipahami benar oleh para pengrajin. Selama ini emping menjadi komoditas ekspor. Artinya harganya sudah ditentukan lewat kontrak. Dalam kurun waktu tentu tidak berubah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;Tapi para tengkulak anehnya bisa mengomando harga dan harga emping bisa naik turun sewaktu-waktu. Inilah yang sering merugikan perajin. Artinya, dunia usaha emping selama ini dikuasai matia yang ingin meraup untung besar dan tidak ingin usahanya disaingi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;Belakangan ini muncul sejumlah pedagang emping yang memanfaatkan pasar lokal. Mereka merekrut buruh setempat untuk memproduksi emping dan dijual di berbagai kota-kota seperti &lt;st1:city&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:city&gt;Semarang&lt;/st1:city&gt; bahkan sampai &lt;st1:place&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;. Jika pedagang lokal terus tumbuh, maka importir akan kalang kabut dan kehabisan stok.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;Dari dulu, harga emping tak pernah stabil sehingga menyulitkan gerak pengrajin keil yang bermodal pas-pasan. Sering terjadi keanehan yang tak masuk akan, harga bahan &lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;baku&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; lebih tinggi dari harga emping seperti yang terjadi saat ini. Sesuatu yang sulit diterima oleh hukum ekonomi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;Terjadi mekanisme dagang yang aneh dimana pengrajin tidak bisa menentukan harga jual emping, yang menentukan harga tengkulak. Tidak seperti usaha dagang lainnya, dimana perajin produk tertentu bisa menentukan bandrol sesuai mekanisme pasar normal. Kondisi tersebut sudah menjadi blunder dan terjadi terus menerus. Berbagai cara ditempuh untuk “memerdekakan” perajin dari belitan kaum tengkulak, tetapi hasilnya nihil. Tengkulak tetap jadi raja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;Masalahnya, para pengrajin selama ini tak mau bersatu mereka selalu jalan sendiri-sendiri dan tidak percaya pada strategi perjuangan secara berkelompok. Padahal kalau mereka bersatu (membentuk koprasi yang valid misal) bisa punya bergaining untuk menetapkan harga apalagi jika pengurus kelompok tersebut kreatif mencari terobosan pasar sendiri. Ide semacam itu sudah sering dilontarkan sejumlah pihak, tetapi sulit dipraktekkan, sebab pola pikir para perajin masih tradisional yang mereka pikirkan hanya beli melinjo, dibuat emping lalu dijual ke tengkulak. Mereka sering &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;spekulasi dengan perubahan-perubahan harga. Kalau sedang dapat untung terus membuat emping, kalau situasi sepi nganggur atau kerja lain. Tidak ada greget untuk mengembangkan diri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;Bahkan belakangan ini jumlah perajin emping semakin berkurang, yang masih bertahan hanya kaum perempuan yang sudah tua, sementara generasi mudanya kurang tertarik meneruskan usaha ini. Jika ini dibiarkan, lambat laun usaha emping bisa hilang karena tidak ada generasi penerus yang melanjutkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;Punahnya 10 industri pengempingan yang ditandai faktor keputusasaan. Beberapa tahun belakangan ini para petori (pemilik kebun melinjo) juga tampak frustasi dan menebangi pohon melinjo karena dianggap tidak memiliki prospek. Mereka lebih senang menanam sengon.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;Kian nyata tanda-tanda punahnya tradisi ngemping. Apalagi belakangan ini juga santer munculnya rumor bahwa emping mengandung zat-zat tertentu yang memicu munculnya asam urat, maka penggemar emping makin berkurang jumlahnya. Usaha emping terancam bubar jika tidak ada upaya pembenahan pelestarian. Tinggal menunggu waktu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-55588971329956345?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/55588971329956345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=55588971329956345' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/55588971329956345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/55588971329956345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/03/simpanan-file.html' title='Simpanan File'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-6810095238272262637</id><published>2009-03-11T18:55:00.000-07:00</published><updated>2009-03-11T18:56:25.127-07:00</updated><title type='text'>Jadilah Sahabat Lebah</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.4pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Oleh: Wong Sodong&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.4pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.4pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lebah mendatangkah berkah. Itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan kehidupan penangkar / peternak lebah madu di Batang. Lewat lebah inilah mereka bisa menyerap manisnya rejeki sambil belajar tentang banyak hal dari koloni kehidupan lebah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.4pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mencermati dinamika para peternak lebah, sesungguhnya seperti tengah menyaksikan drama hidup yang memukau, dahsyat dan penuh liku. Mereka menjalani hidup penuh perjuangan dan keletihan. Mereka mengembara dari satu daerah ke daerah lain untuk menggembalakan lebah dan memburu madunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.4pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Setiap saat mereka harus memboyong ratusan kotak (sarang labar) dan mengangkutnya menggunakan truk menuju daerah gembalaan (perkebunan rambutan, kelengkeng, randu, dan sebagainya) Untuk memburu jenis madu yang diinginkan, para peternak tidak jarang harus tinggal di suatu daerah selama beberapa waktu dan meninggalkan keluarganya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.4pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mustakim (36 th) peternak asal Tersono mengaku biasa memboyong kotak-kotak lebahnya sampai Jawa Barat jika ingin memburu madu kelengkeng. Sedangkan untuk memburu madu kapuk, karet, kopi, jagung dan lainnya, dia dan teman-temannya cukup menggembalakan lebahnya di sejumlah Kecamatan di Batang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.4pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mustakim hanyalah satu contoh dari puluhan peternak lebah yang tabah menjalani hidup dalam pengembaraan. Nasib manis pun diraihnya dengan memanen madu yang laris manis di pasaran dan pembeli pun berdatangan. Boleh dibilang, madu dari Batang kini sudah go publik, dan peta pemasaran madu masih cukup lebar dan terus menunggu langkah-langkah pengembangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.4pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Artinya, peluang usaha madu masih terbuka lebar, dan sudah saatnya ditangkap oleh para penganggur yang ingin memiliki pekerjaan. Mereka bisa berguru pada para peternak yang telah mapan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.4pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Wilayah Batang yang dikenal ijo royo-royo cukup potensial untuk pengembangan ternak serangga emas ini. Masih banyak celah yang bisa digarap untuk memaksimalkan pemanfaatan potensi alam karunia Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.4pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Selama beberapa dekade, usaha penangkaran lebah di Batang cenderung terfokus di Kecamatan Gringsing dan Tersono atau Batang Timur. Padahal di Batang Barat masih banyak kawasan ijo royo-royo (hutan) yang belum dilirik peternak tawon seperti Kecamatan Bandar, Wonotunggal, Pecalungan Kandeman dan Warungasem.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.4pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Padahal kalau mau, warga di sejumlah kecamatan tersebut bisa meniru jejak para peternak lebah di Gringging dan Tersono. Selama ini di Wonotunggal hanya ada sejumlah pemburu madu lebah liar dari hutan-hutan. Mereka hanya mengunduh madu dari sarang-sarang tawon liar dan belum ada usaha penangkaran secara serius. Memang madu jenis ini sangat digemari konsumen dan harganya lebih mahal. Namun karena barangnya yang langka, maka permintaan pasar tidak bisa terpenuhi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.4pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tidak ada jeleknya meniru sesuatu yang baik dan menguntungkan. Masyarakat yang masih menganggur tak perlu malu untuk bertanya dan belajar beternak madu ke Gringsing, kemudian membuka usaha serupa di desanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.4pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tidak perlu ada kekhawatiran soal pemasaran, sebab kini Batang selalu kekurangan stok madu karena banyaknya permintaan. Sudah saatnya masyarakat lebih peka dengan potensi alam sekitar. Jadilah sahabat-sahabat lebah sejati agar mendapatkan rejeki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.4pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di tengah-tengah sulitnya dunia usaha akibat krisis global, kita tidak boleh berpangku tangan meratapi keputusasaan. Manusia adalah makhluk yang dibekali akal dan hati sebagai bekal menanggulangi segala problem kehidupan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.4pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Keberadaan lebah hanya salah satu dari jalan rejeki yang diciptakan Tuhan untuk kemaslahan umat manusia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-6810095238272262637?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/6810095238272262637/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=6810095238272262637' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/6810095238272262637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/6810095238272262637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/03/jadilah-sahabat-lebah.html' title='Jadilah Sahabat Lebah'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-8014644188827001466</id><published>2009-03-11T18:03:00.000-07:00</published><updated>2009-03-11T18:04:40.628-07:00</updated><title type='text'>Mencari Kearifan Bethet Thingthong</title><content type='html'>&lt;span class="date"&gt;Dimuat SUARA MERDEKA, 10 Maret 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;        &lt;span class="links2"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Oleh Kawe Shamudra&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;          Bethet thingthong&lt;br /&gt;dangdut gong&lt;br /&gt;Gonge ilang cacao gula tetes&lt;br /&gt;Wung kedawung ilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SYAIR&lt;/span&gt; dolanan itu pada era 1980-an masih kerap bergema lewat bibir&lt;br /&gt;anak-anak pedesaan di Batang. Tetapi kini nyanyian itu sudah jarang terdengar. Bahkan anak-anak zaman sekarang sudah tak mengenalinya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka lebih akrab dengan syair-syair lagu pop orang dewasa semacam ’’Cucak Rawa’’, ’’Ketahuan’’, ’’Cukup Sampai di Sini’’, ’’Bukan Superstar’’, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Mereka hanyut dalam arena permainan modern yang tak pernah bertahan lama dan lebih banyak menawarkan kedunguan, kurang greget dan cepat membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman saya kecil dulu, Bethet Thingthong adalah syair dolanan kebanggaan anak-anak dan kerap disejajarkan dengan syair ’’Ilir-ilir’’, ’’Sipadadari’’, ’’Cublak-cublak Suweng’’ dan lain-lain. Meskipun tidak tahu persis maknanya,&lt;br /&gt;tetapi anak-anak saat itu mendendangkannya bersama-sama penuh semangat sambil menari membentuk sebuah kerumunan dan saling beradu jari tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna lagu tidak begitu dihiraukan, namun yang penting bisa mencecap kebahagiaan bersama-sama dalam suasana akrab dan guyub tanpa ada sekat yang menghalangi. Apa pun latar belakang keluarganya, anak-anak bisa bermain riang penuh kebersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang semua itu tinggal kenangan. Anak-anak kita sudah hanyut dalam budaya instan lewat permainan modern yang diadopsi dari tontonan digital, VCD, ringtone handphone dan download internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perangkat teknologi yang serbadigital telah memudahkan penyebaran aneka macam lagu ke tengah publik, yang dengan mudah bisa diserap anak-anak. Karena itu tidak heran jika anak-anak balita zaman sekarang begitu mudah menghapal syair-syair lagu orang dewasa meskipun kadang terdengar vulgar dan tidak mendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Bethet Thingthong’’ merupakan syair anonim yang diwariskan secara turun-menurun oleh nenek moyang, kmudian diserap anak-anak melalui budaya lisan. Syair ini menyiratkan pesan tersembunyi yang memungkinkan tumbuhnya aneka penafsiran, tergantung siapa yang memaknai. Di sinilah letak kehebatan orang-orang zaman dulu yang mampu merangkai kata-kata indah, kaya makna, interpretatif dan menghibur.&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Kehilangan&lt;/h4&gt; Sekilas, syair pendek itu bercerita tentang peristiwa kehilangan (lenyapnya sesuatu) baik yang material maupun nonmaterial. Bethet Thingthong seolah menjadi isyarat kedatangan sebuah zaman yang penuh dengan peristiwa kehilangan banyak hal: nyawa, harga diri, rasa malu, peluang, bahkan semangat hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perputaran zaman (digambarkan sebagai ’’gong’’ waktu) yang terus bergema ternyata sanggup menghadirkan pemahaman yang kompleks tentang berbagai peristiwa petaka serta fenomena hidup yang tumpang tindih dan saling berbenturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan manusia kerap kehilangan kesabaran dalam menghadapi impitan hidup yang berkepanjangan sehingga lebih memilih jalan pintas meskipun harus kehilangan jati diri dan jiwa kemanusiaannya. Kita dapat melihat kenyataan di lingkungan terdekat bagaiman banyak orang telah kehilangan seni hidup dan semangat juang. Kemudian yang tampak di permukaan adalah pertaruhan dan perlombaan mempe- rebutkan posisi dan ambisi individual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ranah politik, ekonomi maupun budaya pada skup daerah telah menghadirkan dinamika sekaligus konflik. Terjadi paradoks dan kebejatan di sana-sini akibat kian kemelumeran tangung jawab sosial dan kemenipisan rasa kejujuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyelesaikan segala permasalahan tidak  bisa melupakan budaya setempat. Kita tidak akan kuasa menampik posisi dan peran akar kebudayaan sebagai bagian dari tawaran solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya masyarakat Batang yang dikenal guyub perlu dijaga bersama-sama dalam segala suasana, untuk menciptakan kedamaian dan keserasian hidup.&lt;br /&gt;Menciptakan Batang sebagai daerah yang kondusif sebagaimana digembar-gemborkan para pejabat setempat rasanya perlu ditransformasikan dalam tindakan budaya yang nyata, tidak berhenti pada tataran slogan dan wacana.&lt;br /&gt;Tradisi guyub rukun sebagaimana digambarkan lewat syair ’’Bethet Thingthong’’ (permainan anak-anak) perlu dijaga dan dilestarikan agar masyarakat selalu diingatkan pada bahaya akibat kehilangan pegangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi guyub rukun perlu dibangun sejak dini (kanak-kanak) agar masyarakat tidak kehilangan makna hidup. Maka tidak ada salahnya jika syair dolanan semacam ’’Bethet Thingthong’’ dihidupkan kembali dalam kancah pergaulan anak-anak dan dijadikan sebagai alat pergaulan agar mereka lebih mengakrabi atau mengenal teman sebaya dan dunia sekeliling. Biarkan anak-anak tampil (bermain) dengan kepolosan, sementara orang tua berusaha menangkap kearifan yang terkandung dalam syair ’’Bethet Thingthong’’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membentuk mental kebersamaan perlu diupayakan semenjak dini untuk menghindari terpaan arus individualisme yang kian deras. Dan masyarakat Batang bisa belajar dari kearifan masa lalu untuk ditransformasikan dalam tindakan nyata. (35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kawe Shamudra, anggota Komunitas Pena di Batang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-8014644188827001466?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/8014644188827001466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=8014644188827001466' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/8014644188827001466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/8014644188827001466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/03/mencari-kearifan-bethet-thingthong.html' title='Mencari Kearifan Bethet Thingthong'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-1178953942692617623</id><published>2009-03-06T20:29:00.000-08:00</published><updated>2009-03-06T20:30:10.810-08:00</updated><title type='text'>Mencentrang dengan Tenang</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Oleh KAWE SHAMUDRA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 36pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Boleh jadi sebagian rakyat kini ada yang merasa tengah terpenjara dalam kebingungan, mau memilih partai mana dan calon wakil rakyat yang bagaimana pada 9 April nanti. Mungkin juga masih ada yang dibayang-bayangi ketakutan oleh intimidasi tersembunyi dan berusaha memberikan perlawanan diam-diam. Muncullah semacam ketidaktenangan yang bisa mempengaruhi langkahnya menuju tempat pemungutan suara (TPS).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Suara rakyat pada Pemilu 2009 benar-benar sedang diperhitungkan sekaligus dipertaruhkan. Suara mereka amat penting dan menjadi penentu keabsahan dan keberhasilan demokrasi. Maka yang tidak kalah penting adalah bagaimana secara bersama-sama menciptakan situasi yang aman agar rakyat bisa menunaikan hak pilihnya secara baik dan benar : mencentrang dengan tenang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kata "tenang" perlu ditekankan di sini dengan penuh kemantapan dan keyakinan sebagai relasi dari kondisi aman, nyaman dalam makna seluas-luasnya. Pertanyaannya, bagaimana rakyat bisa memilih dengan tenang dan jitu jika kondisinya tidak nyaman-aman. Aman dalam pengertian tidak tertekan oleh segala bentuk intimidasi, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kondisi psikologis yang tenang jelas sangat dibutuhkan ketika melakukan pencontrengan. Apalagi sistem sistem baru pengganti pencoblosan ini baru diterapkan dan dimungkinkan dalam prakteknya nanti banyak terjadi kesalahan tak disengaja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Memilih merupakan bagian dari proses berpikir dan berpendapat. Seseorang dapat berpikir dan bersuara secara benar (tepat) jika kondisi psikologisnya sedang nyaman/ tenang dan tidak ada sesuatu yang membebani pikirannya. Dalam konteks radikal, tidak ada "kegilaan" yang berkecambuk dan menekan jiwanya, baik tekanan kasar maupun lembut. Dan semua ini berkaitan dengan kondisi masa-masa sebelum hari H pencentrangan, dimana terjadi rayuan kampanye dengan segala hiruk-pikuknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Peristiwa kampanye dengan segala variannya telah menjejali pikiran jutaan calon pemilih untuk menentukan sebuah keputusan. Dalam masa kampanye segenap elit partai dan calon wakil rakyat berusaha meyakinkan rakyat bahwa diri/ kelompoknya adalah yang "terbaik" dan “terunggul”. Terciptalah polarisasi dan subjektivisme dalam mengeksplorasi makna kebaikan dan keunggulan. Rakyat (pemilih) seolah dipaksa untuk bimbang dalam menentukan pilihannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lantaran bimbang, maka jiwanya tidak tenang. Dan jika perasaan tidak tenang ini terbawa sampai ke bilik suara, maka dapat memunculkan keraguan, kalut, takut dan akhirnya salah pilih, salah centrang, bahkan surat suara bisa rusak. Jika ini yang terjadi, maka pengorbanannya mendatangi TPS hanya sia-sia. Dapat dibayangkan berapa kerugian negara jika situasi semacam ini menimpa jutaan pemilih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Harus diakui bahwa masih banyak pemilih yang rentan terhadap persoalan ini seperti kaum manula, kalangan buta huruf dan kelompok awam yang tinggal di desa-desa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Penulis masih ingat saat menjadi anggota pemantau Pemilu, ada seorang pemilih yang kebingungan saat berada di bilik suara dan akhirnya dengan sikap cemas bolak-balik minta penjelasan petugas KPPS.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Intimidasi Tersembunyi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Belum lagi kalau bicara soal ketidaktenangan pemilih yang disebabkan oleh intimidasi. Seperti yang terjadi pada jaman orba, dimana intimidasi dijadikan “jimat” ampuh untuk menakut-nakuti rakyat. Agar bersikukuh (meskipun terpaksa) untuk mendukung partai tertentu. Dan siapa yang berani bersikap beda dengan penguasa saat itu akan dikucilkan, bahkan diteror. Penulis masih ingat kejadian pada Pemilu 1977 saat kakek dimaki-maki dan dibentur-benturkan kepalanya pada tiang rumah lantaran tidak mau tunduk pada pengurus parpol tertentu yang merasa sok kuasa. Bahkan salah seorang tetangga penulis yang diketahui memasang gambar/ lambang partai kecil, malam hari digelandang menuju markas tentara dan dijadikan bulan-bulanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Intimidasi dalam pemilu di era sekarang mungkin sudah berubah bentuk. Tidak lagi berupa ancaman fisik semacam pukulan atau tendangan, tetapi dalam bentuk pemboikotan dana-dana pembangunan. Intimidasi bersifat kelompok ini misalnya terjadi pada sebuah desa yang ketahuan bukan menjadi basis pendukung partai x (yang sedang berkuasa) maka alokasi dana yang digelantarkan pihak penguasa akan lebih kecil, atau tidak diberikan sama sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kelompok elit partai yang sedang berkuasa bisa saja memanfaatkan kekuasaan untuk menekan para pejabat (dari tingkat kabupaten sampai desa) agar mendukung partai tertentu. Bupati menekan Camat, Camat menekan Lurah, Lrah menekan kadus, kadus menekan ketua RT dan yang terakhir Ketua RT menekan warga.Terjadi rantai intimidasi yang demikian kuat seperti yang pernah dipraktekkan partai besar pada jaman Orba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dan bukan tidak mungkin, cara-cara semacam itu dihidupkan kembali pada era saat ini. Itulah sesungguhnya bentuk-bentuk ketidaknyamanan yang mengganggu pikiran rakyat, terutama masyarakat awam yang masih gampang dibodohi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Intimidasi dengan dalih apapun merupakan bagian dari bentuk kekerasan dan merupakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cermin sebuah kekerdilan berpikir. Dalam ranah politik, intimidasi sudah semestinya dilenyapkan karena hanya menghasilkan dukungan (suara) semu. Orang hanya mendukung &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;partai tertentu. Secara pura-pura (bukan dari kemauan hati nurani) tetapi lantaran perasaan takut ancaman. Mendukung bukan karena simpati tetapi hanya karena ketidakberdayaan menghadapi tekanan/ancaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Akibatnya, partisipasi politiknya tidak riil. Rakyat memilih sambil menggerutu di belakang layar hanya karena ingin berdamai dengan keadaan. Tak ingin ribut (susah-susah) maka dipilihlah cara paling mudah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Intimidasi memang bisa membuat orang keder dan minder. Masyarakat awam kadang begitu mudah menyerah pada keadaan yang menekan (jditakut-takuti dan dicekal kepentingannya). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jaman Orba dahulu, keputusan untuk tidak memilih partai tertentu yang berkuasa dianggap sebuah pemberontakan (melawan pemerintah), dan konsekuensinya akan dikucilkan dan dibuat tidak tenang. Apakah saat ini masih juga berlaku hal-hal demikian?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.6pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;KAWE SHAMUDRA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;, anggota KPPS&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di Batang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-1178953942692617623?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/1178953942692617623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=1178953942692617623' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/1178953942692617623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/1178953942692617623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/03/mencentrang-dengan-tenang.html' title='Mencentrang dengan Tenang'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-2628208919036510830</id><published>2009-03-06T18:29:00.000-08:00</published><updated>2009-03-06T18:30:48.743-08:00</updated><title type='text'>Menjaga Gawang Kasih Sayang</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Oleh Kawe Shamudra&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ngerayain hari valentine barangkali nggak terlalu penting, atau boleh jadi tak berguna sama sekali jika kita nggak tahu persis duduk masalahnya. Kenapa? Selain tidak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jelas asal-usulnya, tradisi itu juga kerap disalahpahami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kasih sayang yang sebenarnya bermakna&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sakral dan perlu dibudayakan setiap kesempatan, malah dibatasi pengertiannya secara picik dan sempit. Bahkan kasih saying kerap ternoda oleh sikap-sikap busuk kita yang masih suka ngumbar pergaulan liar antar lawan jenis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kasih sayang kerap diobral begitu murah nyaris tanpa harga sampai si pengobralnya jadi hilang harga diri dan karakternya sebagai makhluk terhormat (manusia). Tahu sendirilah contohnya dan tercecer di kanan-kiri kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Hari valentine hanyalah produk tradisi yang dibesar-besarkan seolah-olah punya power mulia untuk menghiasi pergaulan ini. Dan kita tanpa sadar menjadi terbius dan ikut-ikutan bertanding untuk memamerkan kasih sayang itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Bolehlah moment 14 Pebruari dijadiin tonggak buat memahami kasih sayang secara benar. Sekadar buat ngingetin kita semua bahwa kasih sayang emang penting dalam hidup ini dan perlu dijaga sedemikian rupa agar tidak lenyap di muka bumi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Yang nggak kalah penting adalah memaknai kasih sayang secara benar dan menempatkannya secara benar juga biar kita nggak kesasar dalam mengapresiasinya. Apa maksudnya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kita jangan sampai keliru persepsi soal kasih sayang yang udah kadung jadi bahasa umum ini. Tapi parahnya tanpa sadar kita kadang cuma bisa membebek definisi yang selama ini menjadi jargon anak-anak muda. Mereka begitu lihai bicara soal kasih sayang (dan mencoba mempraktekkannya) dengan caranya sendiri:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pelukan, ciuman, pelukan, gandengan tangan, jawil-jawilan dengan lawan jenis yang bukan haknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Waduh, jika ini yang mereka pahami, maka rusaklah jagad pergaulan ini karena pola kasih sayang hanya mempertontonkan keseronokan dan kegenitan. Cuma nafsi-nafsi alias ngumbar nafsu. Itu jelas-jelas jadi penyakit kronis yang mesti segera diobati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kasih sayang adalah format pergaulan antar sesama manusia dan makhluk lainnya. Kasih sayang mutlak diperlukan dalam hidup untuk menggapai kebahagiaan sejati, bukan kesenangan-kesenangan semu. Kasih sayang terhadap sesama perlu dibudayakan secara utuh, tulus dan berkesinambungan, tidak hanya digalakkan dalam momen-momen tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Namanya kasih sayang (dari kata “kasih” dan “sayang”). Na, ditengok dari sisi bahasa saja maknanya udah jelas. Orang paling bodoh sekampung sekalipun so pasti ngerti maknanya. Kasih itu memberi alias ngasih sesuatu yang bermakna/ berharga. Dan kalau kita memiliki/ mencintai sesuatu, pasti akan dijaga dan dipelihara, tidak dibuang sia-sia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Begitu pula dengan kasih sayang. Karena sangat berharga dalam hidup ini, maka perlu dijaga dan ditempatkan pada posisi yang berwibawa. Pergaulan ini emang perlu dihiasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kasih sayang. Ibarat rumah, kasih sayang adalah pintu masuknya kebaikan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalau kasih sayang udah hilang, berarti rumah itu nggak punya celah alias rapet pet nggak ada ruang. Suasananya so pasti pengap kayak gudang tembakau. Hiii&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Maka buatlah “rumah kehidupan” yang baik. Jaga pintu kasih sayang itu sebaik mungkin. Pelihara dari gangguan penjahat-penjahat buas yang ingin merusak keharmonisan hidup. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kenapa jadi serius gini? Emang ini persoalan serius. Bisa dibayangin jika hidup ini udah kehilangan kasih sayang. Bumi ini pasti geger melulu kayak suasana jalur Gaza.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Yang bikin hidup jadi kacau sebenarnya kebobrokan mental manusia itu sendiri yang udah kehilangan rasa kasih sayang. Orang kalau mentalnya udah bobrok selalu nggak peduli dengan keadaan sekeliling. Perbuatannya selalu bikin kacau. Bilangnya demi kasih sayang, demi perdamaian, demi cinta sesame, padahal sebenarnya dia si penghancur kasih sayang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Maka waspadalah pada siapapun yang gemar ngelancarin propaganda kasih sayang palsu. Kembalikan kasih sayang pada “makom” aslinya. Kasih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sayang yang bersumber dari kebajikan , yang bangkit dari nilai-nilai ketuhanan yang memancarkan aura kebaikan dan kebahagiaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Yakinlah jika kasih sayang udah dimaknai secara benar, dijaga &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan dipraktekkan secara benar pula, so pasti akan membuahkan kebaikan dan kebahagiaan sejati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sebaliknya, jika kasih sayang dimaknai dan dilakoni secara salah maka yang lahir adalah brutallisme dan kekisruhan di sana-sini. Hidup nggak nyaman penuh onak duri. Bener-bener ngeri sekali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;Dimuat SUARA MERDEKA, 8 Pebruari 2009 rubrik Kantin Banget&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-2628208919036510830?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/2628208919036510830/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=2628208919036510830' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/2628208919036510830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/2628208919036510830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/03/menjaga-gawang-kasih-sayang.html' title='Menjaga Gawang Kasih Sayang'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-1318673080446070193</id><published>2009-03-06T18:26:00.000-08:00</published><updated>2009-03-06T18:27:30.809-08:00</updated><title type='text'>Ngetrek di Jalur Becek</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Oleh : Kawe Shamudra&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Ngetrek di jalan becek (jelek) sambil belajar mengenali karakteristik jalan-jalan desa barangkali inilah barangkali ide yang muncul di benak para crosser di Batang. Hal tersebut tampaknya tidak jauh bergeser dari filosofi "bali ndesa" yang pernah kini sedang jadi Kredo Premrov Jateng lewat deret kepemimpinan Bibit&lt;span style=""&gt;                               &lt;/span&gt;Waluyo-Rustriningsih. Lantas apa korelasinya dengan aksi para crosser di Batang yang belakangan ini suka mengelajahi (ngetrek) desa-desa? Mungkin tidak ada sangkut paut sama sekali dan hanya faktor kebetulan belaka.&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Beberapa bulan terakhir ini Batang dilanda demam ngetrek. Banyak bermunculan klub-klub pecinta balap motor di berbagai pelosok baik dari kalangan muda maupun tua. Bahkan sejumlah instansi di jajaran Pemkab Batang juga memiliki klub pecinta motor "owor-owor" ini. Termasuk Bupati Batang Bambang Bintoro juga tak mau ketinggalan turut ambil bagian di arena balapan ini. Maka tidak heran jika akhirnya Pemkab membangun sirkuit motocross di Sigandu Kecamatan Tulis utuk menfasilitasi aktifitas kebut-kebutan ini, sekaligus sebagai sarana menyalurkan bakat bagi siapa saja yang suka ngetrek. Inilah solusi paling tepat untuk mencegah munculnya pembalap-pembalap liar yang sebelumnya kerap meresahkan masyarakat menyalahgubakan jalanan umum untuk trek-trekan, yang membawa korban.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Masyarakat &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; Batang sebelumnya pernah dibuat gerah dengan ulah kelompok pembali di jalan Kalisari yang kerap beraksi ugal-ugalan hingga menabrak pengguna jalan yang tidak bersalah. &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; salah satu korban yang cacat permanen gara-gara tertabrak bocak ugal-ugalan ini. Sekarang kebiasaan buruk trek-trekan di jalan raya sudah mulai hilang dan beralih ke jaluar-jalur pedesaan (jalan antar kampung yang jelek dan becek). Meskipun jalan-jalan ke pedesaan telah diaspal, tetapi masih banyak jalur-jalur antar dukuh yang belum diaspal (kalau musim hujan jadi becek) atau jalur ladang tetapi justru jalan seperti inilah yang dicari para crosser, apalagi jika jalan tersebut berliku-liku dengan medan sulit, makin sering dilalui. Keberadaan sirkuit tidak serta mertaa memuaskan para penggemar trek-trekan, para crosser justru lebih suka berlatih di jaluar-jalur pedesaan dan berusaha menaklukkan meda-medan sulit.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Mengendarai motor keliling desa melintasi jalur-jalur sulit tampoaknya lebih menantang dan menghibur karena bisa menikmati pemandangan alam dan dinamika hidup masyarakat desa. Kebetulan Kabupaten Batang memiliki banyak jalur ladang yang cukup menantang untuk dilalui misalnya di Desa Sodong-Pedati (Kecamatan Wonotunggal), Desa Pranten (Bawang), Desa Sendang (Tersono), Kedawung (Banyuputih), Ngaliyan (Limpung) dan masih banyak lagi. Pendek kata, jalur-jalur sempit inilah yang kini sedang diburu dan ditaklukan para crosser, maka jangan heran jika jalur-jalur tersebut (yang semula tertutup rumput) kini menjadi penting mblasur seperti habis digaru. Jaluar Sodong –Silurah misalnya nyaris setiap minggu dilakui crosser. Bahkan belum lama ini dijadikan ajang latihan oleh ratusan crosser dari berbagai club di Batang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Aktifitas trek-trekan ini cukup tontonan gratis masyarakat pedesaan yang memang sangat haus hiburan. Bolehlah hal tersebut dibilang sebagai penjajakan rute sekaligus inventarisasi jalur-jalur ladang yang ada di Batang, sehingga klub-klub pecinta motor punya peta (rute) di daerahnya sendiri. Dan suatu saat jika memungkinkan jalur-jalur ini dijadikan sebagai medan lonceng bagi para crosser syukur sekali-kali diadakan semacam parade motor se Kabupaten Batang misalnya untuk memperingati hari jadi Kabupaten Batang bulan April ini dalam rangka menumbuhkan rasa cinta pada Batang dan meramaikan suasana desa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Namun perlu diingat, bahwa ngetrek dijalur pedesaan bukan tanpa resiko. &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang sulit (dan tak jarang melintasi jurang) bisa membahayakan si pengendara motor, maupun pejalan kaki. Dan kalau sampai terjadi apa-apa (menabrak anak-anak misalnya) maka resikonya bisa fatal. Boleh jadi warga kampung akan marah dan menghajar si penabrak ramai-ramai. Namanya warga kampung punya solidaritas tinggi untuk menghadapi mencegah bahaya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Mereka memiliki sensitifitas tinggi terhadap ancaman kecelakaan dan bisa bergerak spontan utuk membalas siapa saja yang mengusik kedamaian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-1318673080446070193?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/1318673080446070193/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=1318673080446070193' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/1318673080446070193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/1318673080446070193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/03/ngetrek-di-jalur-becek.html' title='Ngetrek di Jalur Becek'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-2002347558202183847</id><published>2009-03-06T17:28:00.000-08:00</published><updated>2009-03-06T18:24:40.163-08:00</updated><title type='text'>Perempuan Mejeng di Baliho</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Oleh : Kawe Shamudra&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Wacana feminisme tak pernah kehabisan gagasan menggelitik untuk didiskusikan. Cobalah amati euforia politik jelang Pemilu &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;saat ini dan tataplah wajah-wajah perempuan dalam baliho di pinggir-pinggir jalan dan ruang publik lainnya. Begitu sumringan dan memancarkan optimisme yang mendalam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dimana-mana wajah-wajah perempuan terpampang dalam berbagai pose: serius, senyum bahkan &lt;i style=""&gt;mbathut&lt;/i&gt;. Semua ini dalam rangka sosialisasi diri di hadapan masyarakat. Minimal agar masyarakat bisa kenal wajah-wajah perempuan calon anggota dewan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Modal fisik perempuan (diwakili oleh wajah close up) yang terpampang di sudut-sudut manapun dapat dimaknai sebagai atalase terbuka yang sengaja dipertontonkan untuk mendukung spekulasi pendulangan suara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kursi dewan yang dianggap&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;prestisius ini kini tengah diperebutkan dalam perhelatan politik. Atas nama demokrasi, wajah-wajah perempuan baliho dipoles sedemikian rupa agar tampak mencorong, anggun dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menghadirkan daya pikat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di era digital ini, dengan tehnologi komputer, wajah dalam foto bisa didandani sedemikian rupa. Dipoles agar tampak lebih menarik dari wajah aslinya sehingga dalam baliho tampak mencorong dan meyakinkan. Membuat siapa yang memandang menjadi senang. Inilah lipstik politik untuk menghadirkan performance di hadapan publik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sesok perempuan dengan segala karakteristiknya kini sedang diperlombakan di arena politik praktis. Sedang diuji sampai sejauh mana ia mampu menghadirkan kejutan-kejutan. Ia sedasng dipertaruhkan (dipilih atau diabaikan, dicintai atau dibenci, dipuji atau dikecam, atau lebih tepatnya dicentrang atau dikemplang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dunia politik ternyata sanggup menghadirkan narsisme kolektif atau semalam pengagungan diri yang berlebihan. Wajah-wajah perempuan baliho tampil dengan performance penuh percaya diri dalam rangka mencoba menyakinkan publik bahwa dirinya ada dan merasa berguna, maka pantas dipilih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kampanye menjadi ajang legitimasi untuk mencoba meraih dukungan suara sebanyak mungkin agar lolos menjadi anggota dewan. Dengan demikian, kaum perempuan berharap bisa berkespresi secara memadai untuk mengejar cita-cita politiknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Cita-cita politik perempuan sesungguhnya berawal dari sebuah keinginan bersama untuk bangkit mengkitisi keadaan, dimana keterwakilan kaum perempuan di parlemen selama ini belum sepadan dengan jumlah perempuan yang ada di negeri ini, yang notabene merupakan pemilih mayoritas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Muncul semacam gugatan, mengapa kaum perempuan bisa tersingkir di ajang politik praktis, padahal jumlah mereka cukup besar. Apakah selama ini kaum perempuan lalai terhadap potensi dirinya? Adakah yang keliru dari perhelatan politik selama ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Meskipun perlu disadari bahwa kehadiran perempuan di parlemen tidak serta merta mewakili aspirasi seluruh perempuan. Tetapi paling tidak, dari sisi psikologis, perempuan kini tampak mulai berani unjuk gigi. Masyarakat boleh merasa bangga, banyak perempuan yang berani tampil dalam konstelasi politik. Artinya sebagai tokoh perempuan mulai diperlukan untuk menandingi kekuatan patriaskis yang selama ini mendominasi parlemen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bukan sebuah kebetulan kalau akhirnya perempuan mulai meretas jalan untuk memasuki area kekuasaan politik lewat kekuatan feminitasnya. Dan dalam konteks baliho yang kini terpampang di ruang-ruang publik, dunia perempuan sepertinya sedang mengalami demam politik dan membutuhkan imunitas dukungan yang memadai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Perempuan berlaga di tengah-tengah apatisme masyarakat tentang perubahan dinamika politik dan kekuasaan. Apakah perempuan kelak mampu memberi warna baru kehidupan berbangsa / bernegara? Atau sekadar jadi pendamping kekuasaan kaum laki-laki? Semua terpulang dari usaha dan niat mereka dalam berkiprah dalam dunia politik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Yang pasti wajah-wajah perempuan baliho kini sedang menantang kita semua dan siap diperebutkan pada 9 April nanti. Terpilih atau tidaknya jadi anggota dewan tergantung dari hasil seleksi nurani masyarakat sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kawe Shamudra&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;, anggota KPPS Dukuh Silegok, Desa Sodong, Wonotunggal, Batang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 30.8pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl"&gt;&lt;span dir="ltr" style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-2002347558202183847?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/2002347558202183847/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=2002347558202183847' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/2002347558202183847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/2002347558202183847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/03/perempuan-mejeng-di-baliho.html' title='Perempuan Mejeng di Baliho'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-7678282983480804714</id><published>2009-03-06T17:26:00.000-08:00</published><updated>2009-03-06T17:28:18.563-08:00</updated><title type='text'>Jangan Khianati Maulid Nabi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Oleh Kawe Shamudra&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dari tahun ke tahun nyaris menjadi tradisi simbolis yang semu dan kurang memberi dampak positif yang nyata dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Figur Rasulullah SAW yang jujur, terpercaya, bersahaja, penyayang, tidak korup dan sifat-sifat mulia lainnya baru sebatas dipuji secara lisan dan belum benar-benar dikagumi secara utuh dan belum diteladani secara memadai, tetapi hanya sebatas dibangga-banggakan secara lisan, bahkan mengarah pada pengkultusan individu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bahkan muncul paradoks yang cukup memprihatinkan: di mana-mana Maulid Nabi selalu diperingati secara nasional oleh para pejabat dan masyasrakat awam, , tetapi fakta sosial menunjukkan bahwa tingkah polah manusia kian jauh dari keteladanan Nabi. Banyak pejabat “ngidam” berbuat jahat: sombong, tidak jujur (koruptif) dan sifat-sifat negatif lainnya. Di sana-sini terjadi kepalsuan cinta terhadap sosok Muhammad SAW. Cintanya hanya sebatas dalam ucapan dan belum diwujudkan dalam tindakan sosial yang nyata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Spirit keagamaan yang dibawa Nabi Muhammad SAW lewat ajakan berbuat kebajikan dengan mudahnya dikhianati. Terjadi pelanggaran normas-norma kehidupan yang justru dilakukan oleh oknum yang mengaku mencintai Nabi Muhammad SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Jika seseorang benar-benar mencintai Nabi, mestinya dirinya mampu mengaguminya secara utuh (tidak cukup hanya memuji-muji). Tetapi berusaha meneladani sikap-sikap beliau yang mulia: jujur, pemberani, adil, rendah hati, bijaksana, pemaaf dan terpercaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sepanjang sejarah, kepribadian Nabi Muhammad yang agung tidak bisa dibantah. Dan mestinya itulah yang senantiasa dijadikan spirit dalam peringatan maulid.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Beragama atas dasar keimanan yang benar perlu dibuktikan dalam tindakan psikologis yang nyata dan mampu melahirkan sikap-sikap positif yang berguna baik dalam tataran individu maupun sosial. Sikap meneladai perilaku Nabi bisa benar-benar dihayati jika seseorang memahami fakta kehidupan beliau (yang mulia) secara menyeluruh sehingga melahirkan pengaguman yang riil bahwa Muhammad SAW memang sosok yang pantas dicintai dan jadi panutan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mencintai Nabi berarti mengikuti dan mematuhi ajaran-ajarannya dan tidak mengkhianatinya baik secara terang-terangan maupun tersembunyi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Psikolog Nancy Good menyatakan, mencintai airtinya mengagumi secara tulus. Dalam perspektif kekaguman, maka dalam diri seseorang yang mengagumi senantiasa muncul dorongan ingin meniru sikap-perilaku sosok yang dikagumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mencintai dan mengagumi Nabi secara sungguh-sungguh akan melahirkan konteks perilaku yang sepadan dengan beliau. Kepribadian Nabi Muhammad SAW yang agung mestinya juga terpancar lewat perilaku para pengikut/ pecintanya dan bisa diteladai pihak lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tanpa adanya semangat untuk mencintai dan meneladani Nabi, maka peringatan Maulid Nabi hanyalah menjadi tradisi semu yang kering dan tidak melahirkan makna yang berarti, kecuali sekadar kegandrungan dan kelatahan semata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam sejarahnya, peringatan Maulid Nabi dilakukan dengan spirit keagamaan yang tinggi untuk membentuk karakter keteladanan. Kita bisa menengok kembali lembar sejarah ketika masa-masa awal tradisi Maulid Nabi mulai dipopulerkan di Mesir pada tahun 580 Hijriah/ 1184 Masehi yang dirintis oleh Shalahuddin Yusuf Al Ayyubi dari Dinasti Bani Ayyub. Peringatan Maulid Nabi yang pertama saat itu dilatarbelakangi oleh kondisi sosial yang mempriatinkan, dimana mental kaum muslimin sedang jatuh akibat suasana perang. Pada 1099 pasukan sekutu Eropa berhasil merebut Jerussalem dan mengubah masjid Al Aqsha. Saat itulah dunia Islam seperti kehilangan semangat jihat dan ukhuwah karena secara politis terpecah dalam beberapa kerajaan. Maka Sultan Shalahuddin (orang Barat menyebutnya Saladin) berusaha membangkitkan kembali semangat kaum muslimin dengan menggelar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;peringatan Maulid Nabi pada 12 Rabi’ul Awwal. Menurut Sultan, semangat jihad itu harus dibangkitkan dengan cara mempertebal kecintaan umat pada Nabi Muhammad SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Terbukti peringatan Maulid Nabi saat itu mampu menggelorakan kembali semangat jihad dunia Islam menghadapi agresi Barat. Shalahuddin berhasil merebut kembali Jerussalem dan masjidil Aqsha pada 583 Hijriah/ 1187 Masehi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Nukilan sejaran tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana sebuah kecintaan pada Nabi SAW bisa dibangun lewat semangat Maulid. Sayang jika Maulid tersebut kini mengalami pergeseran makna dan orientasi, sekadar menjadi tuntutan tradisi dan kelatahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sungguh memperihatinkan jika kini telah terjadi krisis cinta kepada Nabi Muhammad SAW justru oleh kelompok yang mengaku umat Muhammad. Fakta sosial menunjukkan terjadinya berbagai skandal moral, politik, ekonomi dan kebudayaan dan telah mencabik-cabik kehidupan akibat merosotnya nilai-nilai kejujuran dan keadilan. Kian banyak orang berperilaku ngedan dan jauh dari keteladanan Nabi. Di mana-mana terjadi manipulasi dan kebohongan. Penyakit “ngidam” berbuat jahat seolah menjadi trend kehidupan modern yang sulit disembuhkan. Semoga peringatan Maulid Nabi tahun ini benar-benar dilandasi oleh kesadaran bersama untuk kembali meneladani perilaku Nabi Muhammad SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;Kawe Shamudra, anggota Komunitas Pena di Batang.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-7678282983480804714?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/7678282983480804714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=7678282983480804714' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/7678282983480804714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/7678282983480804714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/03/jangan-khianati-maulid-nabi.html' title='Jangan Khianati Maulid Nabi'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-8032704667162383095</id><published>2009-01-25T19:00:00.001-08:00</published><updated>2009-01-25T19:03:15.192-08:00</updated><title type='text'>BUSTANUL JANNAH (REVISI)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="IN"&gt;KATA PENGANTAR&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Alhamdulillah puji syukur hanya ditujukan kepada Allah SWT atas perkenan dan ijin-Nya, penulisan buku Profil dan Sejarah Masjid &lt;i style=""&gt;Bustanul Jannah&lt;/i&gt; Proyonanggan Utara Batang bisa terlaksana sesuai rencana. Atas prakarsa berbagai pihak, penelusuran dan penggalian informasi berjalan lancar. Sejumlah Nara Sumber yang kami hubungi bisa memberikan keterangan dan data-data yang valid karena semuanya merupakan saksi sejarah yang tidak diragukan kiprahnya dalam mobilisasi dakwah Muhammadiyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Penyusunan buku semacam ini cukup penting sebagai upaya pendokumentasian data yang terserak. Ini merupakan langkah awal untuk merekonstruksi aktivitas dakwah Muhammadiyah dalam lingkup paling bawah (ranting) sebagai upaya mewariskan semangat dari aktifis dakwah para pendahulu agar diketahui oleh generasi-generasi berikutnya. Sehingga, sekecil apapun aktifitas dakwah yang dilakukan sebuah komunitas semacam Muhammadiyah bisa dibaca oleh generasi mendatang. Harapannya para kader dan simpatisan Muhammadiyah tidak kehilangan jejak dengan masa lalu. Minimal mereka bisa bercermin dari apa yang pernah dilakukan orang-orang dahulu, sehingga alur dakwah yang dilakukan oleh Muhammadiyah tidak terputus di tengah jalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Meskipun belum banyak yang bisa dilakukan PRM Proyonanggan Utara, tetapi kami merasa perlu menyusun riwayat ini. Dan memang terlalu dini untuk menyebutnya sebagai sejarah, karena rentang perjalanan waktu yang belum begitu jauh. Tetapi tidak ada salahnya sebuah peristiwa ditulis dan dibukukan lebih awal agar data-data yang ada tidak hilang atau terlupakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Apapun keadaannya, keberadaan masjid &lt;i style=""&gt;Bustanul Jannah&lt;/i&gt; merupakan sebuah monumen dakwah, yang di dalamnya tersimpan banyak aktifitas yang penuh makna. Masjid ini berdiri karena adanya sebuah desakan kebutuhan pentingnya sentral dakwah yang paling fleksibel dan populis. Oleh sebab itulah Muhammadiyah bergerak untuk memperjuangkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebuah masjid menyimpan banyak nilai kearifan, sebagai basis pembinaan ummat. Masjid sebagai pusat aktifitas spiritual yang diharapkan dapat memancarkan semangat dan aura beribadah bagi para jamaah di sekitarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Buku ini tidak semata-mata mendedah peristiwa yang telah lewat dan terjadi pada seputar pendirian masjid. Juga tidak semata-mata memuat data-data fisik, tetapi juga menyelipkan pesan-pesan reflektif, bahwa di balik berdirinya masjid &lt;i style=""&gt;Bustanul Jannah&lt;/i&gt;, ada sesuatu yang melatarbelakanginya. Ada hal-hal yang menggerakkan hati sekelompok orang untuk bergerak dan berbuat sesuatu&lt;/span&gt; secara ikhlas&lt;span style="" lang="IN"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam realitas sejarah, di mana-mana, masjid dibangun sebagai media dakwah. Semenjak jaman Nabi, sahabat, auliya dan seterusnya, pendirian masjid bertujuan untuk pembinaan ummat sekaligus simbol persatuan akidah dan kehidupan spiritual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bustanul Jannah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; adalah awal sebuah cita-cita. Para pendirinya berharap, ini bukan sekadar nama sebuah masjid, tetapi di dalamnya ada semangat untuk menggapai sesuatu. &lt;i style=""&gt;Bustanul Jannah&lt;/i&gt; menjadi semacam ikon perjalanan dakwah dalam sebuah komunitas Muhammadiyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Cita-cita membentuk sebuah ”kebun” yang bisa mengantarkan ke surga adalah menjadi tanggung jawab setiap muslim. Cita-cita semacam itu akan selalu aktual dan tidak lekang oleh waktu. Dan untuk benar-benar menjadi sebuah kebun yang ideal, tentunya tidak cukup hanya dilakukan generasi sekarang, tetapi perlu diteruskan oleh generasi mendatang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Buku ini merupakan kilasan sejarah dan denyut dakwah Muhammadiyah di Proyonanggan Utara dengan segala sisi keterbatasannya. Dan dilengkapi juga profil Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah (MTsM) Batang dari masa-masa awal berdiri sampai perkembangannya menjadi sebuah lembaga pendidikan yang dipercaya masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Mudah-mudahan&lt;span style="" lang="IN"&gt; terbitnya buku ini dapat memberi kontribusi yang berarti serta mampu menggugah semangat juang bagi generasi mendatang untuk melanjutkan cita-cita para pendahulunya. Semoga Allah SWT meridhoi langklah ini, amin. ***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 36pt;" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Batang, Januari 2009.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="IN"&gt;SEJARAH PRM PROYONANGGAN UTARA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Berdirinya PRM Proyonanggan Utara tidak lepas dari keberadaan masjid &lt;i style=""&gt;Bustanul Jannah&lt;/i&gt;. Ini terkait dengan pengajuan dana bantuan ke PP Muhammadiyah yang mensyaratkan berdirinya ranting Muhammadiyah terlebih dahulu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;PRM Proyo&lt;/span&gt;nanggan&lt;span style="" lang="IN"&gt; Utara secara resmi berdiri tanggal 18 Shafar 1419 H/ 13 Juni 1998 dengan ketua pertamanya Bapoak HM. Harto, BA. Hal tersebut didasarkan pada Surat Pengesahan Nomor 103/skpd/prm/1995-2000 yang ditanda tangani Ketua PDM Batang Bapak H. Shomadun, BA, dan sekretarisnya Drs. Sholihin Hayat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Nama-nama lain yang tercantum dalam surat tersebut adalah: Bapak Suradal, Bapak Amiril, Bapak Tri Irianto, Bapak Sri Sujoko, Bapak Abdul Rochim, dan Bapak Haryanto.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tetapi berdirinya PRM tidak semata-mata didorong oleh rencana pembangunan masjid. Sebab jauh sebelumnya para kader dan simpatisan Muhammadiyah sudah bergerak menjalankan aktivitas dakwah, misalnya dengan menyelenggarakan Madrasah Diniyah yang merupakan enbrio anal usaha Muhammadiyah. Hanya saja, bendera Muhammadiyah sengaja tidak dimunculkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bapak HM. Harto, dkk pada awalnya bergerak lewah wadah PHBI (Panitia Hari Besar Islam). Masyarakat muslim Proyonanggan Utara diajak untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan lewat pengajian-pengajian untuk pembinaan kerohanian bagi masyarakat. Selain itu, juga menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak melalui Madrasah Diniyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Para pengurus dan aktivis masjid/ mushalla di sekitar Proyonanggan Utara diajak duduk bersama untuk memikirkan strategi dakwah yang dapat menyentuh hati masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan saat itu antara lain shalat id di lapangan, arisan kurban dan membangun tempat ibadah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Melalui forum-forum pengajian tersebut perlahan-lahan ideologi Muhammadiyah sampai pada pendengar dan bisa diterima masyarakat. Semangat yang ditampilkan saat itu bukanlah mengajak masyarakat masuk Muhammadiyah secara langsung, tetapi yang terpenting ideologi Islam yang dibawa Muhammadiyah bisa diterima oleh masyarakat dan bisa diimplementasikan dalam kehidupan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Peinsip paling mendasar adalah berusaha agar Muhammadiyah bisa memberikan andil sebanyak-banyak dalam memajukan masyarakat. Dari sisi keanggotaan, warga Muhammadiyah Ranting Proyonanggan Utara hanya beberapa&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;gelintir orang. Tetapi seiring dengan diaktifkannya forum-forum pengajian, akhirnya menumbuhkan simpati masyarakat. Masyarakat Proyo Utara merasa diuntungkan oleh hadirnya Muhammadiyah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dan boleh dikatakan, masuknya Muhammadiyah ke kelurahan ini berjalan lancar dan tidak menimbulkan pertentangan. Tidak ada reaksi keras dari tokoh-tokoh organisasi lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kiprah PRM Proyonanggan Utara semakin nyata setelah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dibangn masjid &lt;i style=""&gt;Bustanul Jannah&lt;/i&gt; sebagai sentral kegiatan dakwah. Pembinaan warga terus dilakukan &lt;/span&gt;secara intensif &lt;span style="" lang="IN"&gt;lewat forum-forum pengajian.***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="IN"&gt;SHALAT ID PERTAMA DI LAPANGAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Inilah sekelumit kisah bagaimana para kader Muhammadiyah (yang jumlahnya seikit) berjuang untuk menyelenggarakan shalat Ied di lahan terbuka yang terjadi pada era 1990-an. M&lt;/span&gt;ereka berusaha membangun gebrakan awal untuk menggerakkan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pada saat itu, setidaknya bagi warga Batang dan sekitarnya, shalat id di tempat terbuka belum begitu membudaya. Bukan lantaran masyarakat tidak mau melaksanakan ajaran sunnah atau tidak mengerti agama, tetapi memang belum ada pihak yang mengawali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saat itu, menggelar shalat id di lapangan merupakan sebuah gebrakan yang dianggap &lt;i style=""&gt;nyleneh&lt;/i&gt; oleh masyarakat umum. Tetapi bagi yang mengetahui dasar hukumnya tidak menjadi masalah. Justru malah merasa gembira karena selain bias melaksanakan sunnah, juga bisa mengambil khikmah di dalamnya, sekaligus menjawab realitas sosial yang ada dalam masyarakat, utamanya soal keterbatasan tempat shalat (mushalla/ masjid) di lingkungan Proyonanggan Utara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Harus diakui bahwa di kelurahan Proyonanggan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Utara saat itu hanya terdapat beberapa mushallah/ masjid, yang tidak mungkin bisa menampung seluruh jamaah. Ada sebuah analisa sederhana yang cukup menyentuh, dan bias dijadikan lahan berdakwah. Bahwa warga Proyonanggan Utara yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan itu tidak semuanya rajin ke mushalla. Kalau shalat id hanya diikuti jamaah yang biasa ke masjid, maka tentu sangat sedikit. Bahkan boleh jadi, orang yang tidak biasa menginjak mushalla akan merasa malu naik mushalla. Padahal mereka sangat ingin merayakan Hari Raya dan melaksanakan shalat meskipun hanya bersifat tahunan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Fakta demikianlah yang menjadi bahan pemikiran bagi para pengurus ranting Muhammadiyah Proyonanggan Utara untuk merumuskan strategi dakwah yang membumi dan menyentuh hati masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Celah-celah semacam itu tampak sederhana, tetapi perlu dijalankan untuk menggiring masyarakat agar mau menjalankan shalat. Bisa dikatakan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;inilah model dakwah yang aspiratif dan langsung menjawab kebutuhan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Salah satu karakteristik masyarakat Proyonanggan Utara yang bias diamati saat itu adalah bahwa mereka pada prinsipnya masih bersahaja dalam hal berpikir maupun bertindah, apalagi menyangkut pemahaman keagamaan. Artinya, mereka gampang diajak kompromi dan diarahkan untuk hal-hal yang baik, tergantung dari siapa yang berada di depan (pemimpin).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kenyataan tersebut bias terbaca lewat pelaksanaan shalat id di lapangan. Pertama kali digelar, jamaahnya cukup &lt;/span&gt;banyak&lt;span style="" lang="IN"&gt;. Warga menerimanya tanpa protes apapun, malah mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tampak beg&lt;/span&gt;itu&lt;span style="" lang="IN"&gt; antusias membantu perlengkapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Keberhasilan tersebut juga tidak lepas dari kerja sama yang kompak antara segenap pimpinan ranting dan upaya pendekatan dengan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Pengurus tidak bekerja sendirian dan secara intensif melakukan pendekatan dengan tokoh-tokoh setempat seperti aparat desa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Peran perangkat desa tidak bias diabaikan, terutama ketua RT/RW. Kebetulan yang jadi ketua RW pada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saat itu, yakni Bapak Nurhadi Susilo, BA (alm),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;termasuk sosok&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang cukup aspiratif dan mau memahami kebutuhan masyarakat. Dibuktikan, ketika panitia mengajukan ijin mengadakan shalat &lt;/span&gt;I&lt;span style="" lang="IN"&gt;d di lapangan, beliau langsung tanggap dan mengijinkan. Ketika pendekatan tersebut berhasil, masyarakat pun dengan mudah mengikuti di belakangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Selanjutnya, pelaksanaan shalat id di lapangan menjadi rutinitas tahunan yang diterima warga muslim setempat, bahkan ditunggu-tunggu. ***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="IN"&gt;MELAWAN KETAKUTAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bagaimanakah sebuah masjid bisa dibangun di atas lahan yang oleh warga sekitar dianggap angker dan menakutkan? Inilah tantangan awal pembangunan masjid Bustanul Jannah Proyonanggan Utara, Batang. Yang ada dalam benak panitia adalah semangat membangun Rumah Allah. Masjid harus berdiri, apapun resikonya, meskipun belum ada dana memadai.&lt;/span&gt; Tekad itu sudah membulat dan melahirkan semangat yang menyala-nyala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Selain itu muncul pula semangat untuk melawan rasa takut yang bukan pada tempatnya, yakni ketakutan pada hantu dan jenis makhluk halus lainnya yang notabene sama-sama makhluk Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Boleh dikatakan masjid Bustanul Jannah dibangun dengan semangat ingin membebaskan masyarakat dari rasa tidak aman lantaran lemahnya akidah dan mudah dipengaruhi oleh cerita-cerita mistik yang tidak jelas asal-usulnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kebetulan, lokasi masjid dulunya merupakan lahan kosong penuh semak belukar dan kotor. Meskipun di dekatnya sudah ada bangunan sekolah, tetapi di sekitarnya masih ditumbuhi aneka pepohonan. Sesuai nama desanya, Kebonan, suasananya memang masih banyak kebun kosong tidak terawat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Menurut cerita sejumlah warga setempat, d&lt;span style="" lang="IN"&gt;i lahan dekat makam itu meskipun ada jalan kecil, tetapi kalau menjelang sore dan malam hari orang merasa miris kalau melewatinya. Masyarakat percaya, di tempat itu dihuni makhluk halus. Ditambah lagi dengan rumor-rumor mistis yang beredar dari mulut ke mulut semakin menguatkan imajinasi orang tentang keadaan yang menyeramkan. Akibatnya, warga menjadi terbelenggu daya nalarnya dan dihantui ketakutan yang berlebihan pada sosok yang tak jelas. Mereka lebih takut pada daya-daya khayal yang diciptakannya sendiri, melebihi rasa takutnya kepada Allah SWT, penguasa jagad raya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Untuk mendobrak ideologi klenik semacam itu Muhammadiyah Ranting Proyonanggan Utara memiliki konsep yang cukup strategis dengan mengikisnya secara perlahan-lahan terhadap pemikiran khayal tersebut dan diarahkan dengan penalaran agama. Tidak ada cara lain kecuali merubah kondisi fisik lingkungan yang semula dikesankan angker menjadi tempat yang banar (menenangkan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Maka tercetuslah ide membangun masjid di tempat angker itu dengan sebuah asumsi bahwa dengan adanya masjid, diharapkan suasana akan berubah ramai karena dipenuhi jamaah. Harapannya, selain sebagai tempat shalat, masjid juga dijadikan sebagai pusat dakwah menyebarkan ajaran Islam. Masyarakat dididik untuk mengenal ajaran Islam secara mendalam sehingga diharapkan mampu menangkal ketakhayulan dan kesyirikan, seperti yang sudah menjadi jargon dakwah Muhammadiyah selama ini, yakni pemberantasan Takhayyul, Bid’ah dan Churafat (TBC).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Berkat ridha Allah SWT, lahan kumuh tersebut oleh pemiliknya, yakni Bapak Mahmud Yunus bin KH Abdul Lathif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diserahkan pada Muhammadiyah. Sejak awal Pak Yunus memang memang sudah memiliki niatan mulia untuk mewakafkan sebidang tanah miliknya seluas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;660 m2 untuk kemaslahatan ummat. Tanah tersebut, separo dibeli dan sisanya diwakafkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pembangunan benar-benar dilaksanakan dari nol. Panitia berusaha mencari dana dengan melakukan berbagai terobosan, antara lain menggelar pengajian akbar dan mengajukan proposal bantuan ke PP Muhammadiyah dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tahun 1992 bantunan dana turun. Dana tersebut digunakan sebagai modal awal membangun masjid. Peletakan batu pertama dihadiri oleh Bapak KH. Ahmad Dimyati dari PP Muhammadiyah Majlis Tabligh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebelumnya dalam rangka penggalangan d ana juga diselenggarakan pengajian akbar dengan menghadirkan pembicara Hj Sitoresmi. Melalui langkah-langkah semacam itulah akhirnya menumbuhkan simpati dan kepercayaan masyarakat luas. Mereka pun akhirnya terketuk hatinya dan rela membantu mengulurkan bantuannya atas dasar kerelaan masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam waktu tidak begitu lama, proses pembangunan pun dilakukan. Panitian dibentuk dan diketuai oleh Bapak HM. Harto Setiyono, BA. Pada tanggal 5 Dzulhijjah 1412 H/ 6 Juni 1992 dibuatlah nota kesepakatan pembangunan masjid Bustanul Jannah dengan dana sebesar Rp. 17 juta yang ditandatangani Ketua PCM Batang, Bapak Slamet Mashal (alm) yang diketahui oleh PWM Jawa Tengah yang pada saat itu diketuai Bapak H. Midchal, BA.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Masjid Bustanul Jannah selesai dibangun tepat waktu, dengan dana total Rp 52 juta. Dan dalam perkembangan kemudian masjid tersebut benar-benar menjadi pusat akti&lt;/span&gt;f&lt;span style="" lang="IN"&gt;itas dakwah bagi Muhammadiyah Ranting Proyonanggan Utara dan perlahan-lahan ideolog&lt;/span&gt;i&lt;span style="" lang="IN"&gt; takhayyul seputar hantu dan penampakan mulai terkikis. Masyarakat lebih terbuka cakrawala berpikirnya, dan tidak lagi didominasi alur pemikiran mistik yang menyesatkan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Kini sudah tidak terdengar lagi kisah-kisah menyeramkan, dan masyarakat tidak lagi dihantui rasa takut melintasi kawasan ini. Apalagi setelah di dekat masjid dibangun Madrasah yang menambah semarak suasana. &lt;span style="" lang="IN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="IN"&gt;MENGGESER KEMAKSIATAN DENGAN IMAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Satu lagi yang melecutkan semangat dakwah di Proyonanggan Utara adalah adanya penyakit masyarakat yang merisaukan warga. Dan sudah bukan rahasia lagi bahwa di lingkungan Proyonanggan Utara pada era 1990-an dikenal sebagai “area gelap”, tempat orang-orang mabuk.Tidak ada cara untuk menggeser kemaksiatan ini kecuali dengan membangun pondasi keimanan bagi warga sekitar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menyadari akan bahaya minuman keras (miras) terhadap kehidupan, segenap aktivis dakwah berusaha menangkal kebiasaan buruk itu dengan pendekatan agama. Dakwal melalui jalur pendidikan dirasa cukup efektif untuk membuka kesadaran masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bahkan keberadaan masjid dengan segala dinamikanya ternyata memiliki andil besar dalam menggeser kecenderungan mabuk-mabukan tadi. Praktik kemaksiatan yang semula dilakukan secara terbuka tanpa malu-malu, perlahan-lahan jadi hilang. Para penenggak minuman haram tersebut akhirnya merasa risih sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ternyata masjid juga berfungsi efektif untuk membenahi mental masyarakat. Kharisma masjid dirasakan membias pada lingkungan sekitar. Para pemabuk akhirnya menyadari ketidak-etisan berbuat maksiat di dekat tempat ibadah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dakwah menggeser mabuk-mabukan tidak harus dilakukan secara konfrontatif, melainkan bisa juga melalui pendekatan lingkungan dan secara tidak langsung mengajak masyarakat berperilaku positif demi menjaga nama baik lingkungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kalau dahulu Proyonanggan Utara dikenal sebagai kawasan keruh yang berbau tak sedap, maka kini namanya sudah mulai harum. Dan masyarakat bisa merasakan sendiri dampak positif kehadiran Muhammadiyah dengan gerakannya yang membumi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Shalat berjamaah di masjid menjadi media yang cukup efektif untuk membimbing masyarakat (jamaah) agar memiliki dan merasakan spirit keagamaan. Hal tersebut tidak lepas dari peran sejumlah imam masjid. Pada masa-masa awal, yang aktif menjadi imam di masjid Bustanul Jannah adalah Bapak Slamet Mashal dan Bapak Suwardi. Adapun yang menjadi khatib pada shalat Jumat antara lain&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bapak Drs. Sholohin Hayat, Bapak Slamat Mashal, Bapak Suwardi PGS, Bapak Waluyo, Bapak Takhril dan Bapak S. Abdul Karim.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dengan jiwa ikhlas dan ketelatenan yang mendalam mereka berusaha memakmurkan masjid bersama jamaah. Menggugah masyarakat agar memiliki semangat ibadah untuk merubah keadaan sekeliling menjadi lebih baik. &lt;span style="" lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="IN"&gt;ANTARA KUBURAN DAN KEBUN SURGA&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pemberian nama &lt;i style=""&gt;Bustanul Jannah&lt;/i&gt; tidak terlepas dari nilai-nilai filosofi sebuah masjid. Pencetus nama ini adalah Bapak HM. Harto Setiyono, BA. Usulan nama terebut mulanya ada yang tidak menyetujuinya, tetapi akhirnya dengan argumen yang masuk akal, &lt;/span&gt;nama &lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bustanul Jannah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; dipakai juga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Semuanya tidak lepas dari akar sejarah pembangunan masjid itu yang menemui jalan berliku. Lahan yang semula angker berubah menjadi tempat ibadah yang menenteramkan, jelas memiliki nilai yang mengesankan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bustanul Jannah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; yang berarti “Kebun Surga” sesungguhnya merupakan ungkapan yang penuh makna (simbol), juga sekaligus doa. Harapannya, kelak di lingkungan masjid tersebut benar-benar bisa menjelma menjadi sebuah taman indah yang dapat mengantarkan jamaah menjadi penghuni surga (jannah).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebuah ajakan mulia pada segenap kaum muslimin, sekaligus mengingatkan bahwa setelah hidup di dunia, ada alam lain yang menampung nasib manusia di hadapan Sang Khalik, apakah kita tergolong orang-orang yang beruntung atau celaka di akhirat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Masjid &lt;i style=""&gt;Bustanul Jannah&lt;/i&gt; yang berdekatan dengan kuburan juga mengandung isyarat bahwa sadar atau tidak, para jamaah hampir setiap saat diingatkan akan datangnya kematian yang tidak bisa ditolak. Melalui gambaran fisik saja sudah jelas, tiap kali seseorang melintasi lingkungan masjid itu akan melihat nisan-nisan berjejer dan di dalam tanah bersemayam jasad-jasad manusia yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lebih awal dipanggil ke haribaan Ilahi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ini merupakan peringatan dan pelajaran harian yang bisa dijadikan bahan renungan. Dan inilah salah satu sisi unik masjid &lt;i style=""&gt;Bustanul Jannah&lt;/i&gt;. Meskipun berada di kawasan tidak begitu ramai (tengah-tengah permukiman penduduk) tetapi mampu menghadirkan aroma spiritual yang kental.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jarak antara masjid dengan kuburan seolah mengisyaratkan bahwa jarak antara hidup dan mati tidak begitu jauh, hanya berseling jumlah usia manusia yang tidak seberapa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bahkan bagi para jamaah yang jeli bisa mengambil pelajaran melalui gaya arsitekturnya. Bangunan masjid &lt;i style=""&gt;Bustanul Jannah&lt;/i&gt; yang dirancang oleh Bapak Mochamad Rochim itu sengaja meniru masjid&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Beliaulah yang mengurusi segala sesuatu berkenaan dengan pembangunan, termasuk mengkoordinir para dermawan yang ingin men&lt;/span&gt;ginfaqkan hartanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hampir semua srsitektur masjid mengandung makna yang sama, yakni sebagai simbol pendekatan dan penghambaan manusia kepada yang Maha Kuasa. Bangunan kokoh yang dirancang melambangkan fungsi masjid dalam membentuk keimanan masyarakat yang kuat dan mampu menampung jamaah shalat lebih besar. Masjid juga mempunyai persepsi vertikalisme menuju satu titik diatas sebagai simbol hubungan antara manusia dan Tuhannya (Hablumminallah) disamping merupakan simbol perjalanan hidup manusia (sebagai hamba Allah) dalam tiga alam yaitu alam rahim, dunia dan akhirat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Selain itu, sebuah bangunan, apalagi bangunan yang mempunyai nilai-nilai historis, maka di dalamnya juga memiliki  makna tentang maksud dan tujuan bangunan itu didirikan (Konsep Filosofis). Hal ini agar  bangunan itu mempunyai karakter atau cerminan tersendiri di sekitar tempatnya berada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di dunia arsitektur telah dikenal sebuah konsep untuk bangunan-bangunan yang direncanakan untuk jangka panjang, sebaiknya memenuhi kriteria Fron follow the function atau bentuk  mengikuti fungsi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Masjid sebagai tempat ibadah kepada Allah harus bisa mengesankan ekspresi yang kuat di kala berdoa. Untuk itu  struktur bangunan dibuat menonjol seperti layaknya tangan manusia yang menengadahkan tangannya di kala berdoa kepada Allah Azza Wajalla. Pintu utama didesain &lt;/span&gt;sedemikian rupa &lt;span style="" lang="IN"&gt;agar jamaah waktu memasuki Ruang Utama Masjid (rumah Allah) sebaiknya tidak bersikap Sombong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Yang harus memakmurkan Masjid  adalah Manusia. Manusia terdiri dari empat unsur yakni: tanah yang dimaknai dengan warna hitam; air dimaknai dengan warna kuning; api dimaknai dengan warna merah dan udara dimaknai dengan warna putih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Bangunan fisik didominasi warna coklat dan putih. Coklat adalah warna tanah yang mengingatkan manusia berasal dari tanah, sedangkan warna putih bermakna kesucian mengingatkan tentang nilai kesucian yang perlu dijaga sepanjang masa. Dan diharapkan dalam hidup manusia selalu mengingat masjid (senantiasa menjaga kedekatan dengan Allah) untuk memelihara kesucian lahir batin.&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="IN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="IN"&gt;MADRASAH, TEMPAT MENDEDAH KADER MUHAMMADIYAH&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam perkembangan berikutnya masjid &lt;i style=""&gt;Bustanul Jannah&lt;/i&gt; semakin menunjukkan eksistensinya sebagai sebuah kebun (taman) ketika berdampingan dengan bangunan Madrasan Tsanawiyah Muhammadiyah (MTsM) sebagai tempat menyemai bibit-bibit kader yang kelak diharapkan dapat menerima estafet kepemimpinan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Berdirinya MTsM tidak lepas dari peran sejumlah tokoh (aktivis Muhammadiyah dan Aisyiyah). Pada tahun 1959 berkumpullah sejumlah tokoh antara lain Ibu Chikmah Mohamad, Ibu Chamim Thoha, Ibu Pardijo, Mochamad Soeprapta. Mereka menggelar rapat intern membicarakan persoalan ummat. Pada saat itu warga Muhammadiyah masih berjumlah belasan orang antara lain Bapak Mochamad Soeprapta dan didampingi sejumlah nama antara lain Bapak Mawardi, Bapak Soewartoyo, Bapak Achmad Barowi, KH. Abdul Lathif dan tokoh-tokoh lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dari pembicaraan tersebut, terbentuklah Pimpinan Cabang Muhammadiyah Batang terdiri dari 11 orang yaitu: Bapak H. Chamim Thoha (alm) selaku bPDM dan anggota, Bapak Slamet Mashal (alm), Bapak Mawardi (alm), Bapak M. Kaprawi, Bapak Mubin Sanusi (alm), Bapak Fadholi (alm), Bapak Nachmud Yunus (alm), Bapak Moch. Rochim, Bapak Suardi PGS, Bapak Chumaidi (alm), dan Bapak S. Abdul Karim (alm).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Batang sudah dilantik di gedung Kabupaten (sekarang pendopo) oleh Bapak Abdul Kadir dari Pekajangan. Saat itu Batang masih masuk wilayah Karesidenan Pekalongan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lewat pengajian dan kursus-kursus yang diselenggarakan di gedung kabupaten, Muhammadiyah Batang mulai menampakkan bentuknya sebagai sebuah gerakan dakwah, meskipun untuk memasang papan nama masih menemui sejumlah kendala. Selain menyelenggarakan pengajian yang diisi oleh Bapak Mochamad Zaini, di gedung kabupaten juga diselenggarakan shalat Jumat. Dan di tempat itulah warga Muhammadiyah Batang menyelenggarakan ibadah shalat Jumat yang pertama kalinya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Seiring dengan perjalanan organisasi Muhammadiyah, segenap pimpinan Muhammadiyah Kecamatan Batang berfikir ke depan untuk memikirkan regenerasi melalui wadah yang resmi, sesuai kaidah organisasi, bahwa apabila Muhammadiyah ingin mendiriksn sekolah sebagai tempat pengkaderan harus berdiri terlebih dahulu sebuah madrasah (sekolah).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dan yang cukup menggembirakan, tidak lama kemudian ide tentang sekolah Muhammadiyah mulai diwujudkan dengan mendirikan Pendidikan Guru Agama Muhammadiyah (PGAM)&lt;/span&gt; sebagai embrio berdirinya Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Batang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Semenjak tangal 1 Januari 1975, bersamaan diterbitkannya SKB Tiga Menteri (Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Menteri Dalam Negeri) maka PGA dilebur menjadi Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;. Meskipun belum memiliki gedung, para pengurus berani membuka pendaftaran calon siswa dan Alhamdulillah ada sekitar 9 siswa yang mendaftarkan diri. Mereka akhirnya ditampung dan proses belajar mengajar berlangsung &lt;/span&gt;dengan &lt;span style="" lang="IN"&gt;meminjam gedung TK Aisyiyah Kauman&lt;/span&gt; selama kurang lebih 4 tahun. Kemudian pindah di Gedung Pendidikan Muhammadiyah Tampangsono Kauman dari tahun 1979 s/d 2001 yang saat itu bersamaan dengan Madrasah Aliyah Muhammadiyah dan akhirnya sekarang menetap di Jl. Yos Sudarso Gg. Progo No. 122/2 atau di Kompleks Masjid Bustanul Jannah RT 01/ RW IV Kebonan, Proyonanggan Utara Kecamatan Batang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;. Anak didik terpaksa bersekolah di gedung yang sederhana dengan sarana-prasarana terbatas: tempat duduk menggunakan kursi kecil. Sejumlah murid mengaku sempat minder karena sering diledek oleh murid-murid dari sekolah lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bangunan fisik yang cukup gagah saat ini dapat terwujud lewat rintisan yang panjang. Para pengampunya berjuang penuh dedikasi untuk membesarkan sekolah ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kita tidak bisa melupakan jasa-jasa para pendiri dan pengelola pada masa-masa awal, ketika MTsM mulai dirintis. Sejulah nama yang ikut “babat alas” saat itu antara lain Bapak Mubin Sanusi (alm) Bapak SA Karim (alm), Bapak Mochamad Rochim, Bapak Achmad Barowi (alm), Bapak HR. Soeprapta, Bapak Kafrawi, Ibu Umalichah, Bapak HM. Harto Setiyono, BA. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Perjuangan mereka tidak boleh dianggap remeh, bukan saja dalam hal mengusahakan bersirinya bangunan fisik, tetapi bagaimana harus mengelola sebuah lembaga pendidikan yang baik sehingga bisa dipercaya masyarakat, sesuai dengan tujuan pendidikan Muhammadiyah: Membentuk manusia muslim yang beriman, bertaqwa, berakhlaq mulia, cakap, percaya pada diri sendiri, berdisiplin, bertanggungjawab, cinta tanah air, memajukan dan memperkembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan, dan beramal menuju terwujudnya masyarakat utama, adil, makmur yang diridlai Allah Subhanahu Wata’ala (Bab I Pasal 3 Qoidah Dikdasmen Muhammadiyah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tahun 1998 ). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Selain itu, pendidikan Muhammadiyah juga selaras dengan tujuan Pendidikan Nasional: mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME, dan berbudfi pekerti luhur, memilkiki pengetahuan dan nketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tangungjawab lemasyarakatn dan kebangsaan. (UUPN No.2 Th 1989 Bab II Pasal 4 ).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Perjuangan untuk mewujudkan cita-cita luhur semacam itu tidak serta-merta memperoleh dukungan dari masyarakat. Dahulu, keputusan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di MTsM barangkali dianggap bodoh. Di era 80-an, sekolah ini dianggap sebagai pilihan terakhir, yang menampung anak-anak buangan dari sekolah negeri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Belum lagi adanya stigma minir dari warga masyarakat yang menganggap remeh organisasi Muhammadiyah. Dan harus diakui bahwa warga Muhammadiyah di Batang saat itu jumlahnya sangat sedikit dan hanya bisa dihitung dengan jari. Hal ini dapat dilihat dari jumlah mereka yang mengikuti pengajian selapanan di Gedung Pendidikan Muhammadiyah (sekarang MAM dan SMK).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ada kisah menarik berkenaan dengan semangat juang para pengelola MTsM saat itu, yang dengan segala keterbatasannya menyelenggarakan proses belajar mengajar. Bagaimana kesabaran para guru dalam mengajar beberapa gelintir murid dengan sarana dan prasarana yang terbatas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bahkan di tahun 1980-an siswa/siswi MTsM harus rela sekolah sore karena pagi hari gedung digunakan untuk MAM. Sebuah kenyataan yang cukp melelahkan tentunya, di saat fisik anak-anak maupun para guru terasa lelah mereka harus sekolah. Apapun kenyataannya, sekolah sore menjadi satu-satunya pilihan yang tidak bisa ditolak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;MTsM yang saat itu statusnya masih terdaftar berusaha memberikan layanan pendidikan yang memadai dengan menitikberatkan sisi keagamaan. Ketika layanan pendidikan berbasis keagamaan di Batang masih minim, MTsM berusaha tampil dengan kebersahajaan tetapi penuh kesungguhan, meskipun dengan menghadirkan tenaga pendidik paruh waktu. Pagi hari para guru mengajar di sekolah lain, sementara sorenya mengajar di MTsM. Mereka antara lain Bapak Kafrawi, Bapak Gudharonie, Bapak Sudama HS, Bapak Sahuri, Bapak Achmad Barowi, Ibu Umalichah, Bapak Supardjo, Bapak Subaryanto, Bapak Tri Budiyanto, Bapak Subangun, dan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lantas buah apa yang kemudian bisa dipetik dari etos juang semacam itu? Perlahan-lahan MTsM mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Ibarat emas, kadarnya meningkat dan mulai diperhitungkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Kurikulum yang digunakan MTsM adalah kurikulum dari Departemen Agama dan Dinas Pendidikan dengan mata pelajaran Agama dan Umum. Pendidikan Agama: Fiqih, Aqidah Akhlak, Bahasa Arab, Sejaran Kebudayaan (Sejarah Islam), Al Qur’an Hadits. Adapun Pendidikan Umum meliputi: Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, PKn, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, Pendidikan Seni, Penjaskes, Pengembangan Dilengkapi pula dengan muatan lokal Pendidikan Keterampilan dan Kemuhammadiyahan.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Setelah MTsM berjalan warga merasa lega sehingga banyak yang menitipkan putra-putrinya untuk dididik di dalamnya karena waktu itu merupakan sekolah agama yang berdiri paling awal di Batang. &lt;/span&gt;Masyarakat tahu bahwa pendidikan yang diajarkan adalah 70% Pendidikan Umum dan 30% Pendidikan Agama. Sampai sekarang keberadaan MTsM sudah sederajat SMP, bahkan bias disebut SMP Plus karena memiliki kelebihan di bidang agama. Ujian Nasional pun mengikuti aturan sama persis dengan SMP dan setelah tamat dapat melanjutkan ke sekolah umum baik Negeri maupun Swasta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dari sisi status kelembagaan, MTsM menapaki jenjang-jenjang akreditasi dari status terdaftar tahun 1975 hingga diakui tahun 1991. Menjelang tahun 2006 terakreditasi B. Hingga tahun 2008 jumlah alumnus tercatat 1913 orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Perkembangan tersebut tidak lepas dari jasa-jasa para funding father yang telah banyak mengorbankan waktu, tenaga maupun fikirannya untuk berjuang di Jalan Allah. Harus diakui bahwa MTsM merupakan warisan dari orang-orang yang ikhlas berjuang tanpa pamrih. Mulai dari para pengurus, kepala sekolah, guru-guru, dan staf Tata Usaha, semua rela mendedikasikan diri untuk hidupnya sekolah Muhammadiyah yang berbasis keagamaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tidak bisa dilupakan pula jasa-jasa besar sejumlah Kepala Sekolah yang menjadi pandega MTsM antara lain Bapak &lt;/span&gt;HR. &lt;span style="" lang="IN"&gt;M&lt;/span&gt;och&lt;span style="" lang="IN"&gt;. Soeprapta (&lt;/span&gt;masa transisi: &lt;span style="" lang="IN"&gt;1975),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bapak S. Abdul Karim (197&lt;/span&gt;5 &lt;span style="" lang="IN"&gt;-&lt;/span&gt; Mei &lt;span style="" lang="IN"&gt;1982 &amp;amp; &lt;/span&gt;Januari &lt;span style="" lang="IN"&gt;198&lt;/span&gt;4 &lt;span style="" lang="IN"&gt;-&lt;/span&gt; Juli &lt;span style="" lang="IN"&gt;1986), Bapak Achmad Barowi (&lt;/span&gt;Agustus &lt;span style="" lang="IN"&gt;1982-&lt;/span&gt;Januari &lt;span style="" lang="IN"&gt;1983), Bapak Mobin Sanusi (&lt;/span&gt;Mei &lt;span style="" lang="IN"&gt;1983&lt;/span&gt; - Agustus &lt;span style="" lang="IN"&gt;), dan Bapak Harto Setiyono, BA (1986-sekarang).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kini perjalanan MTsM menjadi kian mantap dalam mengemban visi: “&lt;i style=""&gt;unggul dalam bidang mutu akademis yang berpijak pada akhlak mulia.”&lt;/i&gt; Adapun misi MTsM adalah: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menumbuhkan Idealisme segenap warga sekolah agar memiliki motivasi yang kuat untuk mencapai prestasi sekolah yang optimal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Meningkatkan profesionalisme guru dan tenaga kependidikan lainnya agar memiliki keahlian, tanggungjawab dan kesejawatan dalam mencapai puncak prestasi sekolah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Melaksanakan pembelajaran dan pembimbingan siswa secara efektif dan efisien.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mendorong dan membantu siswa mengenali potensi dirinya sehingga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dapat dikembangkan secara optimal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Meningkatkan penghayatan dan pengamalan ajaran agama untuk berperilaku/ berakhlaq mulia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Meningkatkan penerapan partisispasi dengan melibatkan segenap warga sekolah dan kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah/ madrasah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Meningkatkan KBM dalam rangka mencapai nilai mutu akademis secara periodik dan berkesinambungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Memperkokoh landasan ketaqwaan dalam mewujudkan akhlaq mulia anak didik dengan sesama murid, guru dan masyarakat. ***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;FOTO-FOTO KENANGAN &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:246pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\komp\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" title="khutbah"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/komp/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" shapes="_x0000_i1025" height="478" width="328" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1026" type="#_x0000_t75" style="'width:362.25pt;height:261.75pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\komp\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.jpg" title="shalat%20id2"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/komp/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.jpg" shapes="_x0000_i1026" height="349" width="483" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1027" type="#_x0000_t75" style="'width:342.75pt;height:256.5pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\komp\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.jpg" title="shalat%20id1"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/komp/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image006.jpg" shapes="_x0000_i1027" height="342" width="457" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1028" type="#_x0000_t75" style="'width:358.5pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\komp\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image007.jpg" title="panitia%20id"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/komp/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image008.jpg" shapes="_x0000_i1028" height="333" width="478" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Misi MTs Muhammadiyah Batang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;TUJUAN PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-8032704667162383095?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/8032704667162383095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=8032704667162383095' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/8032704667162383095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/8032704667162383095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/01/bustanul-jannah-revisi.html' title='BUSTANUL JANNAH (REVISI)'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-8744203103657458732</id><published>2009-01-17T23:43:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T00:02:48.393-08:00</updated><title type='text'>Selamat Berjuang Ustad Anang</title><content type='html'>Ustad muda Anang Rizka Masyhadi boleh jadi kini sedang menjadi ikon dakwah di kawasan pantura. Lewat forum pengajian di berbagai tempat dengan ribuan jamaah, sosok yang satu ini mencoba membuat gebrakan dakwah gaya baru dengan memanfaatkan teknologi digital. Alumnus Universitas Al Azhar Kairo ini sedang "menikmati" kepercayaan yang diberikan masyarakat. Dia ingin menularkan kemampuan dan ilmunya dengan cara yang praktis dan gampang diserap khalayak. Tentang kegiatan yang satu ini kiranya tak perlu diperbincangkan terlalu panjang.&lt;br /&gt;    Saya terkesan dengan ide baru yang dilontarkan Ustad Anang belum lama ini saat mengisi kultum di Gedung Dakwah Bandar. Beliau melontarkan sebuah gagasan menarik soal penyantunan warga miskin melalui jalur kesehatan, yang menurut saya cukup efektif, praktis dan tidak birokratis. Sebuah gerakan yang menyentuh dan sangat dinantikan warga miskin, yakni pengobatan gratis. Ustad Anang memperoleh kepercayaan sejumlah dokter, bahwa sia saja (orang miskin) yang datang kepada dokter yang bersangkutan tidak akan dikenai biaya apapun dengan syarat mendapat rekomendasi dari Ustad Anang. "Pumpung masih banyak dokter baik, mari kita manfaatkan kesempatan ini. Mari berkerak bersama untuk mewujudkan gagasan ini," kata Anang.&lt;br /&gt;    Inilah barangkali salah satu tehnik menolong warga miskin, tidak harus memberi sesuatu yang bersifat tunai, tetapi dengan cara pemberian rekomendasi: MENGANTARKAN WARGA MISKIN UNTUK MENCARI DAN MENEMUKAN HAK-HAKNYA.&lt;br /&gt;    Saya kira apa yang telah dilakukan Anang bisa ditiru oleh yang lain, dengan memanfaatkan kepercayaan yang diberikan seseorang untuk menolong sesama. Siapapun yang punya kolega, kenalan orang-orang baik bisa mengajak mereka untuk berbuat mulia mensyukuri segala nikmat yang dilimpahkan gusti Allah.&lt;br /&gt;    Selamat berjuang Ustad Anang untuk mewujudkan impian-impian dakwah yang menyentuh dan membumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawe Shamudra&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-8744203103657458732?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/8744203103657458732/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=8744203103657458732' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/8744203103657458732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/8744203103657458732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/01/selamat-berjuang-ustad-anang.html' title='Selamat Berjuang Ustad Anang'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-7202494988795490395</id><published>2009-01-17T23:41:00.000-08:00</published><updated>2009-01-17T23:42:40.783-08:00</updated><title type='text'>Awas! Gerakan JaHOM!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 22pt;" lang="IN"&gt;Jangan Hardik Orang Miskin (JaHOM)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jangan hardik orang-orang miskin! Mereka adalah bagian dari kehidupan. Punya jiwa dan perasaan seperti kita. Punya hak hidup dan mempertahankannya. Punya harga diri dan ingin menjaganya. Punya cita-cita yang hendak dicapainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mungkin mereka ada di sekeliling kita. Menjadi teman dekat, tetangga, bahkan saudara kita. Hanya karena mereka tak pernah bersuara dan tidak mau meminta-minta, maka kita tidak mendengar jeritan batinnya dan membiarkannya hidup dalam kesempitan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Apakah kita tetap akan membiarkan kemiskinan menjadi sampah zaman? Tegakah kita membiarkannya lapar, sementara kita sendiri kekenyangan dan tidur nyaman di atas dipan-dipan kemakmuran?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Inilah tempat berbagi cerita, menyapa dan bersahabat dengan orang-orang miskin. Jika anda sependapat dengan kami, punya pengalaman berkaitan dengan kehidupan orang miskin (pernah merasakan jadi orang miskin, pernah membantu orang miskin) atau memiliki kepedulian terhadap nasib mereka, curahkan di sini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kami ingin merangkumnya menjadi informasi yang bermanfaat. Pengalaman yang anda tuangkan di sini akan membantu gerakan penyadaran terhadap orang-orang kaya. Kami yakin di negeri ini sudah banyak orang kaya yang peduli pada sesama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kami bukanlah lembaga penampung sumbangan, tetapi hanya sebuah gerakan sosial yang berusaha menyuarakan jeritan masyarakat miskin dan juga suara-suara hati orang kaya yang lembut dan mau menyapa orang-orang yang ditimpa kekurangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mudah-mudahan dengan berbagi cerita dan pengalaman, bisa menumbuhkan keyakinan bahwa bangsa ini bisa berjaya. Kita bisa saling bergerak dan memberi contoh dalam mengekspresikan kebajikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Untuk memudahkan komunikasi dan agar gampang diingat, gerakan ini kami namakan JANGAN HARDIK ORANG-ORANG MISKIN! dan disingkat JAHOM. Mudah-mudahan akronim ini bisa menjadi kosa kata yang familiar di tengah masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Terus terang istilah ini kami adopsi dari kitab suci Al Quran Surah Alma’un.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Cara paling praktis dan efisien untuk mengatasi problem kemiskinan adalah dengan mengamati realita sekeliling, atau melihat realita paling dekat, kemudian langsung bergerak untuk berbuat sesuatu. Bagi yang merasa memiliki harta berlebih, langsung membantunya, bisa dengan jalan memberi sumbangan langsung (konsumtif), tetapi bisa juga dengan memberdayakannya dengan memberi mereka pekerjaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Alangkah indahnya jika orang-orang kaya (kelompok aghniya) memiliki kesadaran semacam itu dan terpanggil jiwanya untuk berbuat untuk kemanusiaan. Jika satu keluarga orang kaya bisa membantu satu orang miskin saja, maka logikanya, kemiskinan di Indonesia akan bisa diatasi secara revolusioner. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Data penduduk miskin di Indonesia ada sekian persen dari penduduk negeri ini. Dari sini saja bisa diasumsikan, jika&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sekian persen yang kaya itu mau menolong saudara kita yang miskin, maka berkuranglah beban pemerintah untuk mengatasi persoalan kemiskinan di negeri ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kemiskinan tetap ada di muka bumi lantaran banyak orang kaya yang menutup hati, mata dan telinga, sehingga enggan berbuat sesuatu untuk menolong sesama. Mereka lebih memilih sibuk mengurusi diri dan menumpuk-numpuk harta demi pemenuhan hasrat pribadi dan kelompoknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menuruti kepentingan diri, tidak akan pernah ada selesainya sampai umur kita habis. Alangkah malangnya nasib orang-orang kaya yang harta bendanya telah menjerumuskan dirinya dalam kebakhilan dan kesombongan. Sia-sialah kehidupannya. Di dunia dicela sebagai pendusta agama dan di akhirat, wallahu a’lam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam tahap yang lebih parah, orang-orang kaya yang terlalu bakhil akan banyak memiliki musuh yang setiap saat mengancam kehidupannya. Kejadian pencurian, perampokan disertai pembunuhan, penjarahan merupakan contoh paling nyata, dimana kekayaan yang dibakhilkan akhirnya mendatangkan musuh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Memang ada sebagian orang kaya yang sadar diri bahwa kekayaan yang direngkuhnya sebagian merupakan hak orang miskin. Mereka rela menyumbangkan sebagian rizkinya untuk kepentingan orang yang membutuhkan. Di kalangan muslim misalnya, dikenal berbagai istilah keagamaan yang intinya merupakan anjuran untuk menyantuni fakir-miskin seperti Zakat, Infaq dan Shodaqoh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di kalangan non muslim, masing-masing agama juga memiliki anjuran dan aturan untuk berderma dan menolong sesama dengan mengeluarkan sebagian harta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Konsep yang sebenarnya bagus, tetapi apa artinya kalau hanya menjadi wacana tanpa ada gerakan nyata untuk mempraktekkannya. Sekarang saatnya aksi sosial terus digalakkan. Jadikan perilaku membantu orang miskin menjadi trend di masyarakat, dimana orang-orang miskin ditempatkan pada posisi yang dikasihi, bukan dihardik dan disalahkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Yang dibutuhkan sekarang adalah sebuah gerakan bersama untuk saling menyadarkan orang-orang kaya bahwa sebagian rezeki yang mereka simpan, ada hak-hak orang lain yang mesti ditunaikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="" lang="IN"&gt;KAWE SHAMUDRA, koordinator JaHOM&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-7202494988795490395?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/7202494988795490395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=7202494988795490395' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/7202494988795490395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/7202494988795490395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/01/awas-gerakan-jahom.html' title='Awas! Gerakan JaHOM!'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-4627196618883618678</id><published>2009-01-17T23:36:00.000-08:00</published><updated>2009-01-17T23:38:47.431-08:00</updated><title type='text'>Ayo Naiki Pesawat 2008/2009</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Pesawat "2008/2009"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Oleh Kawe Shamudra&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Dimuat Suara Merdeka, 28 Desember 2008.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Monumen macam apakah yang pantas dibikin buat ngerayain pergantian tahun? Masing-masing orang punya cara berbeda buat ngisi waktu yang terus bergulir dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari hingga tahun ke tahun. Satu tahun melesat begitu cepat laksana kilat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tanpa terasa tiba-tiba tahun 2008 bakal segera lepas dari genggaman kita dan berganti 2009. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dan kita kini tengah berada di tengah-tengah antara kenangan (pengalaman) dan harapan. Masa lalu dan mendatang tengah menghimpit kita. Kita pun menjerit, bahkan mungkin ada yang menyesali tindakan bodoh di hari-hari lalu yang kurang bermakna. Waktu yang menyambangi kita dibiarkan kosong melompong tanpa diisi sesuatu yang bermutu. &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Kehadiran tahun baru 2009 menyadarkan kita tentang pentingnya menatap hari depan yang lebih cerah penuh harapan. Setumpuk agenda yang dicanangkan tahun 2008 dibongkar kembali dan dievaluasi satu per satu. Mungkin ada sejumlah agenda yang telah sukses dijalani dan membuahkan hasil gemilang lantaran diimbangi dengan kerja keras. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tapi mungkin ada pula sejumlah agenda yang tetap bertengger dalam angan-angan menjadi onggokan mimpi kosong, karena tidak ada greget untuk mengubahnya menjadi keberhasilan. Mungkin kita keburu diterjang badai keputus asaan sebelum meraih sesuatu yang diinginkan. Kita gagal menepis segala godaan yang melemahkan semangat juang. Waktu yang kita lalui banyak diisi dengan hura-hura dan haru-biru kecengengan. Detik demi detik dibiarkan berlalu tanpa jejak dan kesan yang bermakna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Masih beruntung kalau kita mau introspeksi diri mengakui kemalasan yang telah lewat, kemudian mencoba bangkit kembali buat menata diri untuk meraih harapan yang lebih baik. Sikap menyesal (telah berbuat khilaf) ada nilai positifnya jika diimbangi hasrat kuat untuk merubah keadaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Akhir tahun dan Tahun Baru hanyalah sebuah momentum dan sekat dari hitungan perputaran waktu. Hakikatnya adalah bahwa kita sedang berhadapan dengan perjalanan waktu yang stabil dan netral, tergantung bagaimana kita menyikapi setiap kesempatan yang datang dan pergi. Waktu adalah kesempatan terbaik yang dianugerahkan Tuhan untuk makhluk-Nya di muka bumi ini agar dimanfaatkan sebaik mungkin buat ngejar kesuksesan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam menghadapi waktu, ibarat kita naik pesawat, apakah kita mau tidur melulu atau berbuat sesuatu yang lebih bermanfaat. Pesawat tetap berjalan dan pada akhirnya seluruh penumpangnya harus turun. Jika selama dalam pesawat kita cuma ngisi waktu dengan ngantuk melulu, mungkin kita hanya mendapatkan impian kosong, bahkan bisa jadi mimpi buruk. Sebaliknya, jika kita tetep melek dan berbuat sesuatu (berpikir misalnya) maka boleh jadi begitu turun dari pesawat kita menemukan ide-ide cemerlang untuk merubah nasib.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Selama kita konsisten menjaga pikiran dan perasaan, isnya Allah ide-ide perubahan akan muncul. Kesuksesan manusia tak pernah lepas dari cara berpikir cerdas dalam merespon sesuatu yang dilihat dan didengar selama kita menyusuri jejak waktu. Jika selama waktu berjalan kita terus-terusan telmi (telat mikir) maka telat pula datangnya kesuksesan. Apalagi jika kita tak pernah berpikir sama sekali, maka ibarat hidup tanpa visi dan missi. Ahai, betapa tololnya kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Segala cita-cita pada awalnya adalah cetusan ide yang muncul dari kegiatan berfikir sehat dan cerdas. Sedangkan kerja keras (usaha) adalah upaya positif untuk mengisi waktu secara sportif, dan hasilnya tentu akan mendatangkan kebaikan. Itu sudah jadi rumusan jitu dari "sana". Hukum Tuhan adalah pasti: siapa giat pasti dapat; siapa belajar pasti pintar; siapa bersyukur pasti mujur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Waktu terus melaju menyambangi setiap generasi. Jejak waktu yang sedang kita tapaki saat ini jika diisi dengan hal-hal bernilai maka hasilnya pasti bernilai dan bermanfaat di hari kemudian. Usaha hari ini adalah tabungan yang bisa dipetik hari depan. Ayo kita songsong 2009 dengan penuh semangat buat ngejar ketertinggalan. Kita naiki "pesawat" waktu itu dengan hati-hati. Semoga selamat sampai tujuan yang dicita-citakan, amin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-4627196618883618678?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/4627196618883618678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=4627196618883618678' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/4627196618883618678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/4627196618883618678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2009/01/ayo-naiki-pesawat-20082009.html' title='Ayo Naiki Pesawat 2008/2009'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-1711410795746184601</id><published>2008-12-11T20:33:00.001-08:00</published><updated>2008-12-12T22:44:50.765-08:00</updated><title type='text'>Kepala  M Ts M Batang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SUNZrJ-YMhI/AAAAAAAAAFA/RF_FWtKfpFU/s1600-h/Harto+Setiyono,+BA.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 258px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SUNZrJ-YMhI/AAAAAAAAAFA/RF_FWtKfpFU/s320/Harto+Setiyono,+BA.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279161786155151890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SUHqIu6iAmI/AAAAAAAAAEw/V8KVH_wB7ok/s1600-h/S.+Abdul+Karim.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 258px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SUHqIu6iAmI/AAAAAAAAAEw/V8KVH_wB7ok/s320/S.+Abdul+Karim.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278757674008314466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SUHqBjfhdiI/AAAAAAAAAEo/xfNvBJtl-xs/s1600-h/Mobin+Sanusi.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 256px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SUHqBjfhdiI/AAAAAAAAAEo/xfNvBJtl-xs/s320/Mobin+Sanusi.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278757550683158050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SUHp6tB14MI/AAAAAAAAAEg/ALzzRaYZTAw/s1600-h/Achmad+Barowi.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 256px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SUHp6tB14MI/AAAAAAAAAEg/ALzzRaYZTAw/s320/Achmad+Barowi.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278757432983937218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SUHpyhWO2HI/AAAAAAAAAEY/XJHb0QBDy0s/s1600-h/Mochamad+Suprapta.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 239px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SUHpyhWO2HI/AAAAAAAAAEY/XJHb0QBDy0s/s320/Mochamad+Suprapta.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278757292409280626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-1711410795746184601?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/1711410795746184601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=1711410795746184601' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/1711410795746184601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/1711410795746184601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2008/12/pendiri-mtsm-batang.html' title='Kepala  M Ts M Batang'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SUNZrJ-YMhI/AAAAAAAAAFA/RF_FWtKfpFU/s72-c/Harto+Setiyono,+BA.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-2650953040716686937</id><published>2008-12-06T19:07:00.002-08:00</published><updated>2008-12-06T19:26:23.668-08:00</updated><title type='text'>Dalam Tatapan Sipir Rawabelang</title><content type='html'>&lt;p&gt;Catatan Penulis:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Artikel ini saya tulis dini hari 2 Desember 2008 secara manual dalam buku tulis kertas tipis milik anak saya, siangnya saya ketik di warnet dan dikirim ke Suara Merdeka. Alhamdulillah keesokan harinya 3 Desember 2008 dimuat dan sehari kemudian honorarium masuk rekening. Saya pikir ini sebuah keajaiban, begitulah kalau Gusti Allah sudah bertitah dan menghadirkan rejeki bagi saya.&lt;b&gt; Kawe Shamudra&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;        &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DALAM&lt;/span&gt; beberapa tahun belakangan ini, wajah Desa Rawabelang, di Kabupaten Batang agak berubah. Bukan lantaran pembangunan jalan-jalan desa beraspal yang kerap dibanggakan para pamong setempat, melainkan karena di lingkungan desa tersebut telah berdiri sebuah bangunan cukup luas/ megah bernama rumah tahanan negara alias rutan, tempat bermukim para tersangka dan terpidana berbagai kasus kriminal, dari maling ayam, pembunuhan, sampai penjarah uang rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rutan baru itu pula sejumlah mantan orang penting di Batang “menikmati” hari-harinya yang pengap penuh cibiran dan kutukan. Mereka harus menerima nasib kelam yang tak pernah diduga sebelumnya. Hidup dalam pengawasan para sipir dengan tatapan ekstrawaspada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, Penjara Rawabelang sampai kapan pun tetap terbuka lebar untuk menampung penghuni baru, mengingat berbagai kasus kriminal masih bejibun di lembaga kepolisian dan kejaksaan, dari pelanggaran hukum paling ringan sampai tindak pidana kemanusiaan lain yang memalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan kesalahan orang, apalagi menggunjingnya bertubi-tubi, barangkali telah menjadi watak sosial yang sulit ditangkal di tengah-tengah maraknya abnormalitas hidup akibat skandal yang dilakukan para penjahat. Masyarakat dengan mudah bisa menilai baik-buruk dan mencela orang-orang yang dianggap salah/ jahat, bahkan sebagian dari kita berusaha menghakiminya dengan caranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita masih ingat sejumlah kasus penganiayaan yang mengakibatkan cacat atau tewasnya oknum pelaku kejahatan. Di Desa Gringgingsari, Kecamatan Wonotunggal, Batang, pernah ada maling kelas teri dihakimi massa dan digantung seharian dalam posisi kepala di bawah dan jadi tontonan warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian di Kampung Kluwih Krajan, Kecamatan Bandar, seorang lelaki dibantai di kebun kopi lantaran dituduh berselingkuh dengan istri tetangga. Lalu di kecamatan yang sama pula pernah terjadi kasus pengeroyokan terhadap seorang lelaki yang dianggap preman, dan nyawa pun melayang sia-sia dengan cara yang sangat mengenaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus tersebut hanyalah contoh kecil, dan masih banyak lagi kasus-kasus kejahatan kemanusiaan lainnya yang menggiring para pelakunya masuk bui Rawabelang. Rutan itu memang siap menampung siapa saja yang terbukti melanggar hukum di wilayah Kabupaten Batang. Kini polisi tidak perlu susah-susah meitipkan para terpidana ke lembaga pemasyarakatan (lapas) daerah lain karena penjara Rawabelang masih cukup luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Miris dan Malu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar nama Rawabelang, barangkali sebagian orang merasa miris ketakutan, bahkan mungkin malu. Entah kenapa lokasi penampungan narapidana (napi) itu dipilih di desa tersebut. Apakah disengaja atau hanya kebetulan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Rawabelang, menurut cerita berasal dari kata ìrawaî dan ìbelangî. “Rawa” artinya rawa-rawa, lokasi kumuh yang tidak menyenangkan bagi manusia; sedangkan ìbelangî artinya cela atau aib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks rutan, Rawabelang dapat diartikan sebuah tempat (hunian) bagi makhluk yang punya aib alias tercela. Namun demikian, masyarakat Desa Rawabelang tidak merasa tersudut dengan julukan tersebut. Malah dengan keisengannya, ada yang menghiasi pintu gerbang masuk Desa Rawabelang dengan tulisan “Gang Napi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, hadirnya rutan itu membawa “berkah” tersendiri bagi warga sekitar. Lingkungan sekitar bangunan rutan kini kelihatan lebih sumringah dengan hadirnya kedai-kedai dan tempat usaha lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahan yang semula ditumbuhi belukar, kini berubah menjadi bangunan semipermanen tempat berjualan aneka dagangan. Jalan masuk menuju Desa Rawabelang yang semula angker (terutama kawasan Sicakar), sekarang menjadi ramai, dan di malam hari orang tidak ketakutan lagi melintas jalur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Rutan Rawabelang membawa dampak ekonomis bagi warga di sekelilingnya. Bahkan mereka justru merasa nyaman berjualan di sekitar rutan karena setiap saat dijaga oleh para sipir yang terus-menerus mengamati keadaan sekeliling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara psikologis, masyarakat lain di luar Desa Rawabelang juga bisa bercermin kepada keberadaan rutan itu, apalagi lokasinya berdekatan dengan jalur ramai yang menghubungkan Kecamatan Kota dengan Kecamatan Bandar. Dari kendaraan, para penumpang bisa menyaksikan bangunan rutan itu dengan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika saya memergoki sejumlah penumpang di kendaraan umum yang tengah melintasi kawasan Rutan Rawabelang. Mereka berceloteh tentang hunian napi itu dengan bahasa khas Batang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu lho kalau mau lihat rumah megah milik para penjahat. Amit-amit deh, dibayar berapa pun aku tak sudi masuk ke sana" begitulah seloroh seorang wanita paruh baya yang memancing tawa para penumpang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang lain saya saksikan juga seorang ibu dan seorang pemuda dengan membawa sejumlah perbekalan turun dari angkutan umum dan memasuki Rutan Rawabelang dengan wajah beku menahan malu. Mungkin mereka hendak menjenguk kerabatnya yang tengah meringkuk di rutan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang yang berjiwa sehat tentu tidak bercita-cita masuk penjara, semegah apa pun bangunannya. Hidup penuh kegundahan di balik terali besi dengan pengawasan para sipir yang menegangkan adalah “neraka dunia” yang tidak menyenangkan. Maka, jangan berkriminal!(68)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-2650953040716686937?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/2650953040716686937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=2650953040716686937' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/2650953040716686937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/2650953040716686937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2008/12/dalam-tatapan-sipir-rawabelang.html' title='Dalam Tatapan Sipir Rawabelang'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-715145673736484593</id><published>2008-12-06T18:53:00.001-08:00</published><updated>2008-12-06T18:59:18.538-08:00</updated><title type='text'>Antara Ngeyel dan Ngebo (poros remaja)</title><content type='html'>Oleh Kawe Shamudra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mala dinasehati mamanya agar jangan terlalu sering keluar malam bareng cowok, apalagi keperluannya nggak terlalu penting. Tapi Mala berontak dan ngeyel.&lt;br /&gt; “Aku bisa jaga diri, Ma. Mala kan udah dewasa,” jawab Mala niru adegan sinetron.&lt;br /&gt;“Iya, mama ngerti, tapi kencan malam hari itu nggak baik. Bahaya!”&lt;br /&gt;“Mala tahu, Ma! Tapi bahaya atau tidak kan tergantung orangnya. Kencan siang hari juga bisa bahaya kalau nggak hati-hati. Benar kan, Ma?”&lt;br /&gt;“Kamu memang susah diatur, Mala! Suka ngeyel. Sulit dinasehati kayak kerbau!”&lt;br /&gt;“Terserah mama mau bilang apa, yang penting malam ini Mala mau pergi...”&lt;br /&gt;Di malam yang lain, Mala kembali dinasehati mamanya. Kali ini Mala cuma diam, seolah berubah menjadi anak yang baik dan penurut. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Mamanya jadi gembira. Nggak tahunya Mala tengah ngeluarin jurus ngebo: ura-pura jadi pendengar yang baik, padahal nasehat mamanya telah dibuang jauh-jauh dari memorinya.&lt;br /&gt;Malam itu secara diam-diam Mala meninggalkan rumah lewat pintu belakang dan kencan bersama cowok yang dicintainya. Akibat melanggar nasehat mama, Mala jadi cewek urakan, bahkan jadi korban perkosaan sekelompok pemuda berandalan. Idiii, ngeri...&lt;br /&gt;Paparan di atas cuma ilustrasi sikap yang tampak berlawanan, tapi sebenarnya sama-sama mengandung sisi negatif dan pahit.  Hukum sebab-akibat (kausalitas) pun berlaku, dan Mala tak kuasa mencegahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  *  *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah ngeyel dan ngebo udah jadi kosa kata yang akrab di telinga kita. Itu lho, dua sikap yang tampak saling bertentangan tapi klop. Ngeyel maupun ngebo sama-sama cerminan sikap keras kepala dan nggak mau tunduk pada pendapat pihak lain, meskipun sadar bahwa pendapat itu benar. Si tukang ngeyel terlalu percaya pada pendapat pribadinya, entah benar atau salah. Ia suka nyerocos ngeluarin kata-kata buat ngebela isi otaknya.&lt;br /&gt;Sedangkan ngebo adalah cerminan sikap masa bodoh alias cuek bebek terhadap segala sesuatu. Hakikatnya sama dengan ngeyel, cuma hadir dalam bentuk lain,  tapi tersimpan dalam hati. Orang yang suka ngebo cenderung diam, pasif, meski hatinya bergolak kayak air mendidih.&lt;br /&gt;Namanya aja ngebo, ya kurang lebihnya sama dengan sikap kerbau (kebo) yang identikkan dengan kebo(dohan). Perhatiin tuh tingkah kebo, digiring kemana aja mau dan nyaris nggak pernah protes. Tapi kalau udah ngambek bisa ngamuk. Kebo baru akan mbengok (teriak) jika memang perlu.&lt;br /&gt;Wah wah wah, nyindir nih ye? Tapi nggak papa kan kalo nyindir demi kebaikan. Coz, jangan-jangan kita juga masih suka ngidap penyakit ngeyel dan ngebo.&lt;br /&gt;Parahnya jika sikap ngeyel -ngebo ditaruh dalam segala suasana, wow bisa berabe. Misal ketika dinasehati bokap-nyokap, lantas kita ngeyel wel geduwel, so pasti ortu bakal marah besar dan nganggep kita anak durhaka. Apalagi jika sikap ngebo yang ditunjukkin, ortu juga pasti lebih sewot en berang. Gimana nggak berang kalau ngliatin anaknya kayak patung Roro Jongggrang. Dikasih nasehat sebagus apapun cuma mbudeg dan mbisu.&lt;br /&gt;Lebih bahaya lagi jika sikap ngeyel-ngebo diterapkan dalam urusan-urusan penting, misalnya hukum, ajaran agama, dan hal-hal vital lainnya. Sikap ngeyel dan cuek pada semua itu bikin orang jadi liar kayak hidup dalam rimba. Orang kalo udah liar dan nggak kenal aturan, maka cenderung berbuat semaunya dan bisa kejerumus dalam dosa. Akibatnya tentu bisa celaka dan hidup nista. Walawala, ampun dech!&lt;br /&gt;Tengok tuh orang yang suka judi, korupsi, merkosa, membunuh ... itu disebabkan sikap ngeyel-ngebo yang berlebihan pada aturan hukum maupun agama. Lebih tepatnya, mereka suka ngeyel pada Tuhan. Si jagal dari Jombang, Ryan, jadi penjahat yang amat kejam karena ngeyel pada Tuhan dan durhaka pada orang tua. Dia pinter baca kitab suci tapi nggak mau tunduk pada ajaran yang ia baca.&lt;br /&gt;Emang, nggak selamanya dua sejoli ngeyel-ngebo ini berakibat buruk bagi kehidupan. Ada kalanya sikap ngeyel dan ngebo diperlukan buat jaga diri dari gangguan keburukan. Misal kalo ngadepin orang licik yang suka nyebar omongan nggak baik, perlu diladeni dengan ngeyel (nolak kejahatannya) atau ngebo sekalian alias nggak perlu diurus. Jadi kita bisa aman dari gangguannya.&lt;br /&gt;Selagi bumi belum dilumat kiamat, maka akan selalu ada generasi yang suka ngeyel-ngebo dan mengabaikan aturan. Generasi jahil penebar keburukan dan pengganggu ketenangan akan terus lahir jadi benalu bagi sesama. Mereka amat licik, ibarat serigala berbulu domba. Kadang suka pakai topeng kebaikan, bahkan bila perlu tampil kayak orang alim, tapi tingkah laku dan omongannya ngawur dan ngerasa pendapatnya paling hebat. Ngerasa dirinya jago, padahal namanya jago kan bisanya cuma kluruk doang. Bak bak kukuruyuuuuk.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-715145673736484593?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/715145673736484593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=715145673736484593' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/715145673736484593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/715145673736484593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2008/12/antara-ngeyel-dan-ngebo-poros-remaja.html' title='Antara Ngeyel dan Ngebo (poros remaja)'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-4329452517965235467</id><published>2008-11-29T21:37:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T21:39:56.499-08:00</updated><title type='text'>Isul Ngowoh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STInAKrrgCI/AAAAAAAAAD4/yTr3fv4MunE/s1600-h/Ilham.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 231px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STInAKrrgCI/AAAAAAAAAD4/yTr3fv4MunE/s320/Ilham.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274320997425315874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-4329452517965235467?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/4329452517965235467/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=4329452517965235467' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/4329452517965235467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/4329452517965235467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2008/11/isul-ngowoh.html' title='Isul Ngowoh'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STInAKrrgCI/AAAAAAAAAD4/yTr3fv4MunE/s72-c/Ilham.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-7410885966065355726</id><published>2008-11-29T21:30:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T21:36:28.941-08:00</updated><title type='text'>Keajaiban Cukur Setelah Lahir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIllDSz_wI/AAAAAAAAADw/ZFnxdta-gOk/s1600-h/isul-mban3.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIllDSz_wI/AAAAAAAAADw/ZFnxdta-gOk/s320/isul-mban3.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274319432073871106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Anakku,&lt;br /&gt;bahagialah,&lt;br /&gt;sehatlah&lt;br /&gt;sebab sejak lahir kau telah terbiasa&lt;br /&gt;dengan udara dingin&lt;br /&gt;dan imunisasimu adalah&lt;br /&gt;cukur setelah lahir,&lt;br /&gt;tanpa harus menunggu 40 hari.&lt;br /&gt;itu yang kudengar dari seorang ustadz&lt;br /&gt;dalam pengajian bulan-bulan kemarin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-7410885966065355726?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/7410885966065355726/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=7410885966065355726' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/7410885966065355726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/7410885966065355726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2008/11/keajaiban-cukur-setelah-lahir.html' title='Keajaiban Cukur Setelah Lahir'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIllDSz_wI/AAAAAAAAADw/ZFnxdta-gOk/s72-c/isul-mban3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-1538834184286613103</id><published>2008-11-29T21:25:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T21:43:08.432-08:00</updated><title type='text'>Senyum Kekasih</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIn4ey4ytI/AAAAAAAAAEI/YauiTLXeBuY/s1600-h/Sunsilk.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 261px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIn4ey4ytI/AAAAAAAAAEI/YauiTLXeBuY/s320/Sunsilk.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274321964896930514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIkBuIA_yI/AAAAAAAAADo/pDs5nMLxMq4/s1600-h/NUR+KH.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 158px; height: 166px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIkBuIA_yI/AAAAAAAAADo/pDs5nMLxMq4/s320/NUR+KH.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274317725584391970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;kekasihku,&lt;br /&gt;semoga kau tetap setia menatapku&lt;br /&gt;dan memberi senyum harapan&lt;br /&gt;untuk hari esok&lt;br /&gt;dalam waktu yang&lt;br /&gt;tak terbatas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-1538834184286613103?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/1538834184286613103/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=1538834184286613103' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/1538834184286613103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/1538834184286613103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2008/11/senyum-kekasih.html' title='Senyum Kekasih'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIn4ey4ytI/AAAAAAAAAEI/YauiTLXeBuY/s72-c/Sunsilk.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-2451274905142051503</id><published>2008-11-29T21:22:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T21:25:14.051-08:00</updated><title type='text'>BERSAMA WS RENDRA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIjkh5eGBI/AAAAAAAAADg/fzcbOy_2gzs/s1600-h/WS+Rendra.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 285px; height: 223px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIjkh5eGBI/AAAAAAAAADg/fzcbOy_2gzs/s320/WS+Rendra.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274317224085952530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saat aku ketemu WS Rendra di Pekalongan,&lt;br /&gt;kupotret dia... jrettt...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-2451274905142051503?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/2451274905142051503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=2451274905142051503' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/2451274905142051503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/2451274905142051503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2008/11/bersama-ws-rendra.html' title='BERSAMA WS RENDRA'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIjkh5eGBI/AAAAAAAAADg/fzcbOy_2gzs/s72-c/WS+Rendra.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-4557294580795899445</id><published>2008-11-29T20:36:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T20:37:05.132-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-4557294580795899445?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/4557294580795899445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=4557294580795899445' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/4557294580795899445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/4557294580795899445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2008/11/blog-post.html' title=''/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-2834052153069963492</id><published>2008-11-29T20:29:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T21:18:06.107-08:00</updated><title type='text'>Keajaiban Ilham Sulaiman</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIhkV78SYI/AAAAAAAAADY/3ncBxJdnIYo/s1600-h/isul-bunga.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 202px; height: 194px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIhkV78SYI/AAAAAAAAADY/3ncBxJdnIYo/s320/isul-bunga.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274315021851838850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIXW2h0wyI/AAAAAAAAACY/2M-zggHgvWQ/s1600-h/isul+nulis.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 226px; height: 176px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIXW2h0wyI/AAAAAAAAACY/2M-zggHgvWQ/s320/isul+nulis.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274303794966217506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ilham Sulaiman, putraku&lt;br /&gt;kutitipkan cita-cita padamu&lt;br /&gt;menulislah dengan ketajaman dan kelembutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan kemarin kau bertanya:&lt;br /&gt;"Apakah semut punya gigi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah jadi ingat suatu ketika&lt;br /&gt;kau memancing semut&lt;br /&gt;menggunakan batang rumput&lt;br /&gt;pada  lubang kecil di hamparan tanah depan rumah&lt;br /&gt;"horeee..." teriakmu&lt;br /&gt;saat mendapatkan seekor semut hitam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan di hari yang lain&lt;br /&gt;kau menggambar sketsa tentang kandang kerbau,&lt;br /&gt;gundukan tanah, wajah ayah dan entah apa lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau pun tertawa dalam gendongan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-2834052153069963492?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/2834052153069963492/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=2834052153069963492' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/2834052153069963492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/2834052153069963492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2008/11/keajaiban-ilham-sulaiman.html' title='Keajaiban Ilham Sulaiman'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIhkV78SYI/AAAAAAAAADY/3ncBxJdnIYo/s72-c/isul-bunga.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-830207665618571466</id><published>2008-11-11T18:35:00.000-08:00</published><updated>2008-12-30T23:43:11.239-08:00</updated><title type='text'>PROFIL MASJID BUSTANUL JANNAH PROYONAGGAN UTARA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STs_yLJ5zxI/AAAAAAAAAEQ/QPeJHkqixg0/s1600-h/Logo-muhammadiyah.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 180px; height: 184px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STs_yLJ5zxI/AAAAAAAAAEQ/QPeJHkqixg0/s320/Logo-muhammadiyah.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276881519615004434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIgMQXi_8I/AAAAAAAAADQ/0URcuOspBhE/s1600-h/khutbah.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 220px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIgMQXi_8I/AAAAAAAAADQ/0URcuOspBhE/s320/khutbah.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274313508528521154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIfgOUfffI/AAAAAAAAADI/XSl6vdXrex0/s1600-h/shalat+id2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 229px; height: 157px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIfgOUfffI/AAAAAAAAADI/XSl6vdXrex0/s320/shalat+id2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274312752064593394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIeudxSVrI/AAAAAAAAADA/L8ZbzE7zphM/s1600-h/shalat+id1.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 228px; height: 155px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STIeudxSVrI/AAAAAAAAADA/L8ZbzE7zphM/s320/shalat+id1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274311897218438834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;Oleh KAWE SHAMUDRA&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;KATA PENGANTAR&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Alhamdulillah puji syukur hanya ditujukan kepada Allah SWT atas perkenan dan ijin-Nya, penulisan buku Profil dan Sejarah Masjid Bustanul Jannah Proyonanggan Utara ini bisa terlaksana sesuai rencana. Atas prakarsa berbagai pihak, penelusuran dan penggalian informasi berjalan lancar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Penyusunan buku semacam ini cukup penting sebagai upaya pendokumentasian data yang tercecer. Ini merupakan langkah awal untuk merekonstruksi aktivitas dakwah Muhammadiyah dalam lingkup paling bawah (ranting) sebagai upaya mewariskan semangat dari aktivis dakwah para pendahulu agar diketahui oleh generasi-generasi berikutnya. Sehingga, sekecil apapun aktivitas dakwah yang dilakukan sebuah komunitas semacam Muhammadiyah bisa dibaca oleh generasi mendatang. Harapannya para kader dan simpatisan Muhammadiyah tidak kehilangan jejak dengan masa lalu. Minimal mereka bisa bercermin dari apa yang pernah dilakukan orang-orang dahulu dan alur dakwah tidak terputus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Meskipun belum banyak yang bisa dilakukan PRM Proyonanggan Utara, tetapi kami merasa perlu menyusun riwayat ini. Dan memang terlalu dini untuk menyebutnya sebagai sejarah, karena rentang perjalanan waktu yang belum begitu jauh. Tetapi tidak ada salahnya sebuah peristiwa ditulis dan dibukukan lebih awal agar data-data yang ada tidak hilang atau terlupakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Apapun keadaannya, keberadaan Masjid Bustanul Jannah merupakan sebuah monumen dakwah, yang di dalamnya tersimpan banyak makna. Masjid ini berdiri karena adanya sebuah desakan kebutuhan, dan karenanya Muhammadiyah bergerak untuk memperjuangkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebuah masjid menyimpan banyak nilai kearifan, sebagai basis pembinaan ummat. Masjid sebagai pusat aktivitas spiritual yang diharapkan dapat memancarkan semangat beribadah bagi para jamaah di sekitarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Buku ini tidak semata-mata mendedah peristiwa yang telah lewat dan terjadi pada seputar pendirian masjid. Juga tidak semata-mata memuat data-data fisik, tetapi juga menyelipkan pesan-pesan reflektif, bahwa di balik berdirinya masjid Bustanul Jannah, ada sesuatu yang melatarbelakanginya. Ada hal-hal yang menggerakkan hati sekelompok orang untuk bergerak dan berbuat sesuatu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam realitas sejarah, di mana-mana, masjid dibangun sebagai media dakwah. Semenjak jaman Nabi, auliya dan seterusnya, pendirian masjid bertujuan untuk pembinaan ummat sekaligus simbol persatuan akidah dan kehidupan spiritual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bustanul Jannah adalah awal sebuah cita-cita. Para pendirinya berharap, ini bukan sekadar nama sebuah masjid, tetapi di dalamnya ada semangat untuk menggapai sesuatu. Bustanul Jannah menjadi semacam ikon perjalanan dakwah dalam sebuah komunitas Muhammadiyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cita-cita membentuk sebuah ”kebun” yang bisa mengantarkan ke surga adalah menjadi tanggung jawab setiap muslim. Cita-cita semacam itu akan selalu aktulal dan tidak lekang oleh waktu. Dan untuk benar-benar menjadi sebuah kebun yang ideal, tentunya tidak cukup hanya dilakukan generasi sekarang, tetapi perlu diteruskan oleh generasi mendatang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Semoga terbitnya buku ini dapat memberi kontribusi yang berarti dan mampu menggugah semangat juang bagi generasi mendatang untuk melanjutkan cita-cita para pendahulunya. Semoga Allah SWT meridhoi langklah ini, amin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 0.5in;" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Batang, November 2008.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="FI"&gt;SHALAT ID PERTAMA DI LAPANGAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 24pt;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Satu hal yang pasti, shalat id di lapangan tersebut bukanlah yang pertama. Dan yang menarik justru cerita yang mengawali pelaksanaan shalat id di lapangan terbuka, yang terjadi tahun 1990-an.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pada saat itu, setidaknya bagi warga Batang dan sekitarnya, shalat id di tempat terbuka belum begitu membudaya. Bukan lantaran masyarakat tidak mau melaksanakan ajaran sunnah atau tidak mengerti agama, tetapi memang belum ada pihak yang mengawali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saat itu, menggelar shalat id di lapangan merupakan sebuah gebrakan yang dianggap nyleneh oleh masyarakat umum. Tetapi bagi yang mengetahui dasar hukumnya tidak menjadi masalah. Justru malah merasa gembira karena selain bias melaksanakan sunnah, juga bisa mengambil khikmah di dalamnya, sekaligus menjawab realitas sosial yang ada dalam masyarakat, utamanya soal keterbatasan tempat shalat (mushalla/ masjid) di lingkungan Proyonanggan Utara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Harus diakui bahwa di kelurahan Proyonanggan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Utara saat itu hanya terdapat beberapa mushallah/ masjid, yang tidak mungkin bisa menampung seluruh jamaah. Ada sebuah analisa sederhana yang cukup menyentuh, dan bias dijadikan lahan berdakwah. Bahwa warga Proyonanggan Utara yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan itu tidak semuanya rajin ke mushalla. Kalau shalat id hanya diikuti jamaah yang biasa ke masjid, maka tentu sangat sedikit. Bahkan boleh jadi, orang yang tidak biasa menginjak mushalla akan merasa malu naik mushalla. Padahal mereka sangat ingin merayakan Hari Raya dan melaksanakan shalat meskipun hanya bersifat tahunan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Fakta demikianlah yang menjadi bahan pemikiran bagi para pengurus ranting Muhammadiyah untuk merumuskan strategi dakwah yang membumi dan menyentuh hati masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Celah-celah semacam itu tampak sederhana, tetapi perlu dijalankan untuk menggiring masyarakat agar mau menjalankan shalat. Bisa dikatakan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;inilah model dakwah yang aspiratif dan langsung menjawab kebutuhan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Salah satu karakteristik masyarakat Proyonanggan Utara yang bias diamati saat itu adalah bahwa mereka pada prinsipnya masih bersahaja dalam hal berpikir maupun bertindah, apalagi menyangkut pemahaman keagamaan. Artinya, mereka gampang diajak kompromi dan diarahkan untuk hal-hal yang baik, tergantung dari siapa yang berada di depan (pemimpin).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kenyataan tersebut bias terbaca lewat pelaksanaan shalat id di lapangan. Pertama kali digelar, jamaahnya cukup melimpah. Warga menerimanya tanpa protes apapun, malah mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tampak begitu antusias membantu perlengkapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Keberhasilan tersebut juga tidak lepas dari kerja s ama yang kompak antara segenap pimpinan ranting dan upaya pendekatan dengan tokoh-tokoh masyarakat setempat. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pengurus tidak bekerja sendirian dan secara intensif melakukan pendekatan dengan tokoh-tokoh setempat seperti aparat desa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Peran perangkat desa tidak bias diabaikan, terutama ketua RT/RW. Kebetulan yang jadi ketua RW pada &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;saat itu, yakni Bapak Nurhadi Susilo, BA (alm), &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;termasuk sosok&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang cukup aspiratif dan mau memahami kebutuhan masyarakat. Dibuktikan, ketika panitia mengajukan ijin mengadakan shalat id di lapangan, beliau langsung tanggap dan mengijinkan. Ketika pendekatan tersebut berhasil, masyarakat pun dengan mudah mengikuti di belakangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                                                                  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;MELAWAN KETAKUTAN&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bagaimanakah sebuah masjid bisa dibangun di atas lahan yang oleh warga sekitar dianggap angker dan menakutkan? Inilah tantangan awal pembangunan masjid Bustanul Jannah Proyonanggan Utara, Batang. Yang ada dalam benak panitia adalah semangat membangun Rumah Allah. Masjid harus berdiri, apapun resikonya, meskipun belum ada dana memadai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Selain itu muncul pula semangat untuk melawan rasa takut yang bukan pada tempatnya, yakni ketakutan pada hantu dan jenis makhluk halus lainnya yang notabene sama-sama makhluk Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Boleh dikatakan masjid Bustanul Jannah dibangun dengan semangat ingin membebaskan masyarakat dari rasa tidak aman lantaran lemahnya akidah dan mudah dipengaruhi oleh cerita-cerita mistik yang tidak jelas asal-usulnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kebetulan, lokasi masjid dulunya merupakan lahan kosong penuh semak belukar dan kotor. Meskipun di dekatnya sudah ada bangunan sekolah, tetapi di sekitarnya masih ditumbuhi aneka pepohonan. Sesuai nama desanya, Kebonan, suasananya memang masih banyak kebun kosong tidak terawat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di lahan dekat makam itu meskipun ada jalan kecil, tetapi kalau menjelang sore dan malam hari orang merasa miris kalau melewatinya. Masyarakat percaya, di tempat itu dihuni makhluk halus. Ditambah lagi dengan rumor-rumor mistis yang beredar dari mulut ke mulut semakin menguatkan imajinasi orang tentang keadaan yang menyeramkan. Akibatnya, warga menjadi terbelenggu daya nalarnya dan dihantui ketakutan yang berlebihan pada sosok yang tak jelas. Mereka lebih takut pada daya-daya khayal yang diciptakannya sendiri, melebihi rasa takutnya kepada Allah penguasa alam semesta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Untuk mendobrak ideologi klenik semacam itu Muhammadiyah Ranting Proyonanggan Utara memiliki konsep yang cukup strategis dengan mengikisnya secara perlahan-lahan terhadap pemikiran khayal tersebut dan diarahkan dengan penalaran agama. Tidak ada cara lain kecuali merubah kondisi fisik lingkungan yang semula dikesankan angker menjadi tempat yang banar (menenangkan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Maka tercetuslah ide membangun masjid di tempat angker itu dengan sebuah asumsi bahwa dengan adanya masjid, diharapkan suasana akan berubah ramai karena dipenuhi jamaah. Harapannya, selain sebagai tempat shalat, masjid juga dijadikan sebagai pusat dakwah menyebarkan ajaran Islam. Masyarakat dididik untuk mengenal ajaran Islam secara mendalam sehingga diharapkan mampu menangkal ketakhayulan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berkat ridha Allah SWT, lahan kumuh tersebut oleh pemiliknya, yakni Bapak Mahmud Yunus bin KH Abdul Lathif &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;diserahkan pada Muhammadiyah. Sejak awal Pak Yunus memang memang sudah memiliki niatan mulia untuk mewakafkan sebidang tanah miliknya seluas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;660 m2 untuk kemaslahatan ummat. Tanah tersebut, separo dibeli dan sisanya diwakafkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pembangunan benar-benar dilaksanakan dari nol. Panitia berusaha mencari dana dengan melakukan berbagai terobosan, antara lain menggelar pengajian akbar dan mengajukan proposal bantuan ke PP Muhammadiyah dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tahun 1992 bantunan dana turun. Dana tersebut digunakan sebagai modal awal membangun masjid. Peletakan batu pertama dihadiri oleh Bapak KH. Ahmad Dimyati dari PP Muhammadiyah Majlis Tabligh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebelumnya dalam rangka penggalangan d ana juga diselenggarakan pengajian akbar dengan menghadirkan pembicara Hj Sitoresmi. Melalui langkah-langkah semacam itulah akhirnya menumbuhkan simpati dan kepercayaan masyarakat luas. Mereka pun akhirnya terketuk hatinya dan rela membantu mengulurkan bantuannya atas dasar kerelaan masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam waktu tidak begitu lama, proses pembangunan pun dilakukan. Panitian dibentuk dan diketuai oleh Bapak HM. Harto Setiyono, BA. Pada tanggal 5 Dzulhijjah 1412 H/ 6 Juni 1992 dibuatlah nota kesepakatan pembangunan masjid Bustanul Jannah dengan dana sebesar Rp. 17 juta yang ditandatangani Ketua PCM Batang, Bapak Slamet Mashal (alm) yang diketahui oleh PWM Jawa Tengah yang pada saat itu diketuai Bapak H. Midchal, BA.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Masjid Bustanul Jannah selesai dibangun tepat waktu, dengan dana total Rp 52 juta. Dan dalam perkembangan kemudian masjid tersebut benar-benar menjadi pusat aktivitas dakwah bagi Muhammadiyah Ranting Proyonanggan Utara dan perlahan-lahan ideology takhayyul seputar hantu dan penampakan mulai terkikis. Masyarakat lebih terbuka cakrawala berpikirnya, dan tidak lagi didominasi alur pemikiran mistik yang menyesatkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;MENGGESER KEMAKSIATAN DENGAN IMAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Satu lagi yang melecutkan semangat dakwah di Proyonanggan Utara adalah adanya penyakit masyarakat yang merisaukan warga. Dan sudah bukan rahasia lagi bahwa di lingkungan Proyobabggan Utara pada era 1990-an dikenal sebagai area gelap, tempat orang-orang mabuk.Tidak ada cara untuk menggeser kemaksiatan ini kecuali dengan membangun pondasi keimanan bagi warga sekitar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menyadari akan bahaya minuman keras (miras) terhadap kehidupan, segenap aktivis dakwah berusaha menangkal kebiasaan buruk itu dengan pendekatan agama. Dakwal melalui jalur pendidikan dirasa cukup efektif untuk membuka kesadaran masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bahkan keberadaan masjid dengan segala dinamikanya ternyata memiliki andil besar dalam menggeser kecenderungan mabuk-mabukan tadi. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Praktik kemaksiatan yang semula dilakukan secara terbuka tanpa merasa malu, perlahan-lahan jadi hilang. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Para penenggak minuman haram tersebut akhirnya merasa risih sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekali lagi, ternyata masjid juga berfungsi efektif untuk membenahi mental masyarakat. Kharisma masjid dirasakan membias pada lingkungan sekitar. Para pemabuk akhirnya menyadari ketidak-etisan berbuat maksiat di dekat tempat ibadah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dakwah menggeser mabuk-mabukan tidak harus dilakukan secara konfrontatif, melainkan bisa juga melalui pendekatan lingkungan dan secara tidak langsung mengajak masyarakat berperilaku positif demi menjaga nama baik lingkungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kalau dahulu Proyonanggan Utara dikenal sebagai kawasan keruh yang berbau tak sedap, maka kini namanya sudah mulai harum. Dan masyarakat kini merasakan sendiri dampak positif kehadiran Muhammadiyah dengan gerakannya yang membumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;ANTARA KUBURAN DAN KEBUN SURGA&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemberian nama &lt;i style=""&gt;Bustanul Jannah&lt;/i&gt; tidak terlepas dari nilai-nilai filosofi sebuah masjid. Pencetus nama ini adalah Bapak HM. Harto Setiyono, BA. Nama terebut mulanya ada yang tidak menyetujuinya, tetapi akhirnya dengan argument yang masuk akal, &lt;i style=""&gt;Bustanul Jannah&lt;/i&gt; dipakai juga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Semuanya tidak lepas dari akar sejarah pembangunan masjid itu yang menemui jalan berliku. Lahan yang semula angker berubah menjadi tempat ibadah yang menenteramkan, jelas memiliki nilai yang mengesankan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bustanul Jannah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; yang berarti “Kebun Surga” sesungguhnya merupakan ungkapan yang penuh makna (simbol), sekaligus doa. Harapannya, kelak di lingkungan masjid tersebut benar-benar bisa menjelma menjadi sebuah taman indah yang dapat mengantarkan jamaah menjadi penghuni surga (jannah).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebuah ajakan mulia pada segenap kaum muslimin, sekaligus mengingatkan bahwa setelah hidup di dunia, ada alam lain yang menampung nasib manusia di hadapan Sang Khalik, apakah kita tergolong orang-orang yang beruntung atau celaka di akhirat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Masjid &lt;i style=""&gt;Bustanul Jannah&lt;/i&gt; yang berdekatan dengan kuburan kuga mengandung isyarat bahwa sadar atau tidak, para jamaah hampir setiap saat diingatkan akan datangnya kematian yang tidak bisa ditolak. Melalui gambaran fisik saja sudah jelas, tiap kali seseorang melintasi lingkungan masjid itu akan melihat nisan-nisan berjejer dan di dalam tanah bersemayam jasad-jasad manusia yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lebih awal dipanggil ke haribaan Ilahi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ini merupakan peringatan dan pelajaran harian yang bisa dijadikan bahan renungan. Dan inilah salah satu sisi unik masjid &lt;i style=""&gt;Bustanul Jannah&lt;/i&gt;. Meskipun berada di kawasan tidak begitu ramai (tengah-tengah pemukiman penduduk) tetapi mampu menghadirkan aroma spiritual yang kental.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jarak antara masjid dengan kuburan seolah mengisyaratkan bahwa jarak antara hidup dan mati tidak begitu jauh, hanya berseling jumlah usia manusia yang tidak seberapa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bahkan bagi para jamaah yang jeli bisa mengambil pelajaran melalui gaya arsitekturnya. Bangunan masjid &lt;i style=""&gt;Bustanul Jannah&lt;/i&gt; yang dirancang oleh Bapak Mochamad Rochim itu sengaja meniru masjid&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Beliaulah yang mengurusi segala sesuatu berkenaan dengan pembangunan, termasuk mengkoordinir para dermawan yang ingin menyumbang material.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hampir semua srsitektur masjid mengandung makna yang sama, yakni sebagai simbol pendekatan dan penghambaan manusia kepada yang Maha Kuasa. Bangunan kokoh yang dirancang melambangkan fungsi masjid dalam membentuk keimanan masyarakat yang kuat dan mampu menampung jamaah shalat lebih besar. Masjid juga mempunyai persepsi vertikalisme menuju satu titik diatas se-bagai simbol hubungan antara manusia dan Tuhannya (Habluminallah) disamping merupakan simbol perjalanan hidup manusia (sebagai hamba Allah) dalam tiga alam yaitu alam rahim, dunia dan akhirat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Selain itu, sebuah bangunan, apalagi bangunan yang mempunyai nilai – nilai historis, maka di dalamnya juga memiliki  makna tentang maksud dan tujuan bangunan itu didirikan (Konsep Filosofis). Hal ini agar  bangunan itu mempunyai karakter atau cerminan tersendiri di sekitar tempatnya berada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di dunia arsitektur telah dikenal sebuah konsep untuk bangunan- bangunan yang direncanakan untuk jangka panjang, sebaiknya memenuhi kriteria Fron follow the function atau bentuk  mengikuti fungsi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Masjid sebagai tempat ibadah kepada Allah harus bisa mengesankan ekspresi yang kuat di kala berdoa. Untuk itu  struktur bangunan dibuat menonjol seperti layaknya tangan manusia yang menengadahkan tangannya di kala berdoa kepada Allah Azza Wajalla. Pintu utama di Design agar Jemaah waktu memasuki Ruang Utama Masjid  menundukan kepalanya ( sedikit membungkuk ), agar jemaah sadar bahwa  memasuki rumah Allah sebaiknya tidak bersikap Sombong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Yang harus memakmurkan Masjid  adalah Manusia. Manusia terdiri dari empat unsur yakni: tanah yang dimaknai dengan warna hitam; air dimaknai dengan warna kuning; api dimaknai dengan warna merah dan udara dimaknai dengan warna putih.Bila makna-makna warna itu diaduk menjadi satu, maka akan keluar warna abu-abu, dan inilah warna yang akan diperguakan sebagai alat mempercantik bentuk masjid secara Fisik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;MADRASAH, TEMPAT MENDEDAH KADER MUHAMMADIYAH&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam perkembangan berikutnya masjid &lt;i style=""&gt;Bustanul Jannah&lt;/i&gt; semakin menunjukkan eksistensinya sebagai sebuah kebun (taman) ketika berdampingan dengan bangunan Madrasan Tsanawiyah Muhammadiyah (MTsM) sebagai tempat enyemai bibit-bibit kader yang kelak diharapkan dapat menerima estafet kepemimpinan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berdirinya MTsM tidak lepas dari peran sejumlah tokoh (aktivis Muhammadiyah dan Aisyiyah). Pada tahun 1959 berkumpullah sejumlah tokoh antara lain Ibu Chikmah Mohamad, Ibu Chamim Thoha, Ibu Pardijo, Mochamad Soeprapta. Mereka menggelar rapat intern membicarakan persoalan ummat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tercetuslah sebuah pemikiran tentang pentingnya mendirikan Muhammadiyah Cabang Batang agar proses dakwah bisa berjalan dengan efektif dan terorganisir. Juga tercetusnya ide membangun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lembaga pendidikan (sekolah) sebagai bentuk amal usaha Muhammadiyah. Saat itu belum dirumuskan tentang nama sekolah yang cocok dikembangkan di Batang. Apalagi di Batang juga belum banyak sekolah menengah dan baru ada SMP 1.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ide penyelenggaraan sekolah Muhammadiyah kian memperoleh perhatian setelah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Batang sudah dilantik di gedung Kabupaten (sekarang pendopo) oleh Bapak Abdul Kadir dari Pekajangan. Saat itu Batang masih masuk wilayah Karesidenan Pekalongan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Warga Muhammadiyah pun masih bisa dihitung dengan jari dan yang tercatat hanya sekitar 14 orang yang diketuai Bapak Mochamad Soeprapta dan didampingi sejumlah nama antara lain Bapak Mawardi, Bapak Soewartoyo, Bapak Achmad Barowi, KH. Abdul Lathif dan tokoh-tokoh lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lewat pengajian dan kursus-kursus yang diselenggarakan di gedung kabupaten, Muhammadiyah Batang mulai menampakkan bentuknya sebagai sebuah gerakan dakwah, meskipun untuk memasang papan nama masih menemui sejumlah kendala. Selain menyelenggarakan pengajian yang diisi oleh Bapak Mochamad Zaini, di gedung kabupaten juga diselenggarakan shalat Jumat. Dan di tempat itulah warga Muhammadiyah Batang menyelenggarakan ibadah shalat Jumat yang pertama kalinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dan yang cukup menggembirakan, tidak lama kemudian ide tentang sekolah Muhammadiyah mulai diwujudkan dengan mendirikan Pendidikan Guru Agama Muhammadiyah (PGAM). Itu terjadi pada tahun 1975. Meskipun belum memiliki gedung, para pengurus berani membuka pendaftaran calon siswa dan Alhamdulillah ada sekitar 9 siswa yang mendaftarkan diri. Mereka akhirnya ditampung dan proses belajar mengajar berlangsung sore hari dengan meminjam gedung TK Aisyiyah Kauman. Anak didik terpaksa bersekolah di gedung yang sederhana dengan sarana-prasarana terbatas: tempat duduk menggunakan kursi kecil. Sejumlah murid mengaku sempat minder karena sering diledek oleh murid-murid dari sekolah lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada tahun 1976 terjadi perubahan kebijakan Pemerintah dalam bidang pendidikan, yakni peleburan status PGA menjadi Madrasah Tsanawiyah dan akhirnya PGAM menyesuaikan diri menjadi Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam perjalanannya, MTsM Batang memiliki akar sejarah yang juga berliku dan sempat berpindah-pindah tempat. Sejak berdirinya tahun 1975 mengalami peindahan tempat berkali-kali pindah tempat, semula di Gedung TK, kemudian pindah ke Gedung Pendidikan Muhammadiyah di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jl. Jend Sudirkan (tahun 80-an), kemudian pindah lagi ke Ngaraan, lantas pindah lagi ke Gedung Muhammadiyah Jl. Wahid Hasyim, sebelum akhirnya menempati bangunan permanen di Proyonanggan Utara (mulai 2001 sampai sekarang).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bangunan fisik yang cukup gagah saat ini dapat terwujud lewat rintisan yang panjang. Para pengampunya berjuang penuh dedikasi untuk membesarkan sekolah ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kita tidak bias melupakan jasa-jasa para pendiri dan pengelola pada masa-masa awal, ketika MTsM mulai dirintis. Sejulah nama yang ikut “babat alas” saat itu antara lain Bapak Mubin Sanusi (alm) Bapak SA Karim (alm), Bapak Mochamad Rochim, Bapak Achmad Barowi (alm), Bapak Suprapto, Bapak Kafrawi, Ibu Umalichah, Bapak HM. Harto Setiyono, BA. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perjuangan mereka tidak boleh dianggap remeh, bukan saja dalam hal mengusahakan bersirinya bangunan fisik, tetapi bagaimana harus mengelola sebuah lembaga pendidikan yang baik sehingga bisa dipercaya masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dahulu, keputusan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di MTsM barangkali dianggap bodoh. Di era 80-an, sekolah ini dianggap sebagai pilihan terakhir, yang menampung anak-anak buangan dari sekolah negeri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Belum lagi adanya stigma minir dari warga masyarakat yang menganggap remeh organisasi Muhammadiyah. Dan harus diakui bahwa warga Muhammadiyah di Batang saat itu jumlahnya sangat sedikit dan hanya bisa dihitung dengan jari. Hal ini dapat dilihat dari jumlah mereka yang mengikuti pengajian selapanan di Gedung Pendidikan Muhammadiyah (sekarang MAM dan SMK).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ada sebuah kisah menarik berkenaan dengan semangat juang para pengelola MTsM saat itu, yang dengan segala keterbatasannya menyelenggarakan proses belajar mengajar. Bagaimana kesabaran para guru dalam mengajar beberapa gelintir murid dengan sarana dan prasarana yang terbatas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bahkan di tahun 1980-an siswa/siswi MTsM harus rela sekolah sore karena pagi hari gedung digunakan untuk MAM. Sebuah kenyataan yang cukp melelahkan tentunya, di saat fisik anak-anak maupun para guru terasa lelah mereka harus sekolah. Apapun kenyataannya, sekolah sore menjadi satu-satunya pilihan yang tidak bisa ditolak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;MTsM yang saat itu statusnya masih terdaftar berusaha memberikan layanan pendidikan yang memadai dengan menitikberatkan sisi keagamaan. Ketika layanan pendidikan berbasis keagamaan di Batang masih minim, MTsM berusaha tampil dengan kebersahajaan tetapi penuh kesungguhan, meskipun dengan menghadirkan tenaga pendidik paruh waktu. Pagi hari para guru mengajar di sekolah lain, sementara sorenya mengajar di MTsM. Mereka antara lain Bapak Kafrawi, Bapak Gudharonie, Bapak Sudama HS, Bapak Sahuri, Bapak Achmad Barowi, Ibu Umalichah, Bapak Supardjo, Bapak Subaryanto, dan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lantas buah apa yang kemudian bisa dipetik dari etos juang semacam itu? Perlahan-lahan MTsM mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Ibarat emas, kadarnya meningkat dan mulai diperhitungkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari sisi status kelembagaan, MTsM menapaki jenjang-jenjang akreditasi dari status terdaftar tahun 1975 hingga diakui tahun 1991. Menjelang tahun 2006 terakreditasi B. Hingga tahun 2008 jumlah alumnus tercatat 1913 orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perkembangan tersebut tidak lepas dari jasa-jasa para funding father yang telah banyak mengorbankan waktu, tenaga maupun fikirannya untuk berjuang di Jalan Allah. Harus diakui bahwa MTsM merupakan warisan dari orang-orang yang ikhlas berjuang tanpa pamrih. Mulai dari para pengurus, kepala sekolah, guru-guru, dan staf Tata Usaha, semua rela mendedikasikan diri untuk hidupnya sekolah Muhammadiyah yang berbasis keagamaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tidak bisa dilupakan pula jasa-jasa besar sejumlah Kepala Sekolah yang menjadi pandega MTsM antara lain Bapak M. Soeprapta (1975),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bapak S. Abdul Karim (1976-1982 &amp;amp; 1983-1986), Bapak Achmad Barowi (1982-1983), Bapak Mobin Sanusi (1983), dan Bapak Harto Setiyono, BA (1986-sekarang).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="SV"&gt;SEJARAH PRM PROYONANGGAN UTARA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berdirinya PRM Proyonanggan Utara tidak lepas dari keberadaan masjid Bustanul Jannah. Ini terkait dengan pengajuan dana bantuan ke PP Muhammadiyah yang mensyaratkan berdirinya ranting Muhammadiyah terlebih dahulu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;PRM Proyo Utara secara resmi berdiri tanggal 18 Shafar 1419 H/ 13 Juni 1998 dengan ketua pertamanya Bapoak HM. Harto, BA. Hal tersebut didasarkan pada Surat Pengesahan Nomor 103/skpd/prm/1995-2000 yang ditanda tangani Ketua PDM Batang Bapak H. Shomadun, BA, dan sekretarisnya Drs. Sholihin Hayat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nama-nama lain yang tercantum dalam surat tersebut adalah: Bapak Suradal, Bapak Amiril, Bapak Tri Irianto, Bapak Sri Sujoko, Bapak Abdul Rochim, dan Bapak Haryanto.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tetapi berdirinya PRM tidak semata-mata didorong oleh rencana pembangunan masjid. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebab jauh sebelumnya para kader dan simpatisan Muhammadiyah sudah bergerak menjalankan aktivitas dakwah, misalnya dengan menyelenggarakan Madrasah Diniyah yang merupakan enbrio anal usaha Muhammadiyah. Hanya saja, bendera Muhammadiyah sengaja tidak dimunculkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bapak HM. Harto, dkk pada awalnya bergerak lewah wadah PHBI (Panitia Hari Besar Islam). Masyarakat muslim Proyonanggan Utara diajak untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan lewat pengajian-pengajian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Para pengurus dan aktivis masjid/ mushalla di sekitar Proyonanggan Utara diajak duduk bersama untuk memikirkan strategi dakwah yang dapat menyentuh hati masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan saat itu antara lain shalat id di lapangan, arisan kurban dan membangun tempat ibadah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Melalui forum-forum pengajian tersebut perlahan-lahan ideologi Muhammadiyah sampai pada pendengar dan bisa diterima masyarakat. Semangat yang ditampilkan saat itu bukanlah mengajak masyarakat masuk Muhammadiyah secara langsung, tetapi yang terpenting ideologi Islam yang dibawa Muhammadiyah bisa diterima oleh masyarakat dan bisa diimplementasikan dalam kehidupan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Peinsip paling mendasar adalah berusaha agar Muhammadiyah bisa memberikan andil sebanyak-banyak dalam memajukan masyarakat. Dari sisi keanggotaan, warga Muhammadiyah Ranting Proyonanggan Utara hanya beberapagelintir orang. Tetapi seiring dengan diaktifkannya forum-forum pengajian, akhirnya menumbuhkan simpati masyarakat. Masyarakat Proyo Utara merasa diuntungkan oleh hadirnya Muhammadiyah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dan boleh dikatakan, masuknya Muhammadiyah ke kelurahan ini berjalan lancar dan tidak menimbulkan pertentangan. Tidak ada reaksi keras dari tokoh-tokoh organisasi lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kiprah PRM Proyonanggan Utara semakin nyata setelah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dibangn madjid &lt;i style=""&gt;Bustanul Jannah&lt;/i&gt; sebagai sentral kegiatan dakwah. Pembinaan warga terus dilakukan lewat forum-forum pengajian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;FOTO-FOTO KENANGAN &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:246pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\WINDOWS\TEMP\msohtml1\03\clip_image001.jpg" title="khutbah"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/03/clip_image002.jpg" shapes="_x0000_i1025" height="478" width="328" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1026" type="#_x0000_t75" style="'width:362.25pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\WINDOWS\TEMP\msohtml1\03\clip_image003.jpg" title="shalat%20id2"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/03/clip_image004.jpg" shapes="_x0000_i1026" height="349" width="483" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1027" type="#_x0000_t75" style="'width:342.75pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\WINDOWS\TEMP\msohtml1\03\clip_image005.jpg" title="shalat%20id1"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/03/clip_image006.jpg" shapes="_x0000_i1027" height="342" width="457" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1028" type="#_x0000_t75" style="'width:358.5pt;height:249.75pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\WINDOWS\TEMP\msohtml1\03\clip_image007.jpg" title="panitia%20id"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/WINDOWS/TEMP/msohtml1/03/clip_image008.jpg" shapes="_x0000_i1028" height="333" width="478" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427126680432714817-830207665618571466?l=penapantura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penapantura.blogspot.com/feeds/830207665618571466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5427126680432714817&amp;postID=830207665618571466' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/830207665618571466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427126680432714817/posts/default/830207665618571466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penapantura.blogspot.com/2008/11/bustanul-jannah.html' title='PROFIL MASJID BUSTANUL JANNAH PROYONAGGAN UTARA'/><author><name>penapantura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10413548541748969471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/SMNkxruTUwI/AAAAAAAAAAM/UBvOixY1zEc/S220/kawe-kolom2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_bOaNL6VBoyw/STs_yLJ5zxI/AAAAAAAAAEQ/QPeJHkqixg0/s72-c/Logo-muhammadiyah.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427126680432714817.post-4765801641349434326</id><published>2008-09-20T19:12:00.000-07:00</published><updated>2008-11-09T20:22:18.480-08:00</updated><title type='text'>Patung Ganesha di Batang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blog
