Minggu, 07 September 2008

Kidung Alas Roban

MEMAHAMI KELAHIRAN PUISI
Oleh Kawe Shamudra

KETIKA sebuah puisi dibaca seratus orang, maka boleh jadi akan menimbulkan seribu penafsiran dan penemuan makna baru secara tak terduga. Puisi lahir dengan karakternya sendiri yang multi interpretasi. Puisi adalah buah karya dan karsa manusia. Dengan intuisi, akal budi dan perasaannya, manusia bisa menangkap pesan-pesan dalam puisi meski tidak semuanya dapat dipahami secara utuh. Masing-masing individu punya daya tangkap dan pemahaman yang berbeda dalam mengapresiasi sebuah puisi.

Tubuh puisi merupakan wilayah yang sangat prifat, bahkan mungkin gelap. Hanya si penyairnya yang tahu persis makna puisi yang ditulisnya. Lewat kekuatan metafora dan racikan bahasanya yang khas, seorang penyair bisa melahirkan puisi. Bisa menghibur diri dan menghadirkan kejutan bagi pembacanya. Pembaca boleh jadi mengalami ketidakberdayaan ketika harus memahami puisi yang dibacanya, lantas menggerutu lantaran tidak sepenuhnya mudeng dengan kata-kata yang diracik si penyair.

Hal semacam itu bukanlah persoalan baru. Sejak dahulu kehadiran puisi selalu mengundang tanda tanya, ketidakmengertian dan mungkin kekaguman bagi pembacanya (baca: orang lain). Jangankan orang lain, penyairnya sendiri boleh jadi tidak tahu persis apa makna yang tersirat dalam puisi yang ditulisnya.

Lantas apa sesungguhnya makna kelahiran sebuah puisi jika akhirnya menjelma menjadi karya gelap dan tidak bisa dipahami secara utuh? Untuk apa penyair menulis puisi dan harus bersitegang dengan dirinya, dengan lingkungannya, jika akhirnya puisi dicampakkan begitu saja ke keranjang sampah lantaran tidak dipahami maknanya?

Boleh-boleh saja seseorang berpandangan ekstrim dan menganggap proses kelahiran puisi tak terubahnya seseorang yang sedang bang air besar. Ketika rasa mules sudah tak tertahankan lagi, lantas ruang WC menjadi tempat pelarian paling rasional. Jika demikian, puisi tak ubahnya seonggok sampah yang keluar dari tubuh yang kotor dan menjijikan. Meskipun sesuatu yang menjijikan tak selamanya buruk.

Atau barangkali ada pula pihak yang menempatkan kerja penyair dengan mengibaratkannya sebagai wanita yang mengandung bayi dalam rahimnya. Sekian waktu ia harus bergulat dengan rasa sakit yang tak tertahankan, perut mulas, ngidam, dan selanjutnya melahirkan bayi suci.

Mengandaikan sebuah puisi dengan seorang bayi barangkali terlalu berlebihan. Namun, paling tidak, metafora ini bisa dipahami sebagai sebuah penghormatan terhadap kerja seorang penyair dalam meresapi dan memahami kehidupan ini.

Puisi adalah sebuah pernyataan, sebuah sikap, saksi kehidupan, bahkan bisa juga menjelma sebagai ikrar jiwa jika ditulis dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab. Tanggung jawab penyair terhadap puisi yang ditulisnya tidak sekadar pada konsistensinya dalam melahirkan ide-ide puisi, melainkan pada kejujurannya dalam berekspresi -- menyelaraskan antara kata dengan perbuatan. Jika prinsip etis kepenyairan ini dilanggar, maka ia sendiri yang akan menanggung akibatnya: si penyair akan di-cap sebagai pendusta yang lupa dengan kata-kata yang diucapkannya, bahkan bisa menjadi mediator kerja setan (baca Qur’an Surah Asyuara’).

Kerja kepenyairan merupakan perjuangan mengisi ruang hidup dengan nilai-nilai kereatifitas. Penyair punya banyak kesempatan untuk mengomentari kehidupan ini. Bebas menyanjung Tuhan, mengritik penguasa zalim, meninabobokkan kekasih, ngidung riye-riyep, mengajak demo, dan sebagainya.

Ketika proses kreatifitas itu berlangsung, seorang penyair bisa mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menganyam kata, menambang nilai-nilai dan makna kehidupan. Tugas penyair adalah mencari mutiara-mutiara kehidupan yang tersembunyi di jagad raya ini. Ketika mutiara-mutiara ini berhasil ditemukan, lantas sang penyair menyampaikannya ke ranah publik menjadi “santapan” masyarakat. Dan masyarakat bebas menilai puisi itu sesuai kadar pemahamannya sendiri-sendiri.

Bahasa puisi sebagai alat penyampai gagasan meniscayakan seorang penyair untuk pandai merangkai kata seindah mungkin tanpa meninggalkan tugas utamanya menjaga amanah kehidupan. Bagaimanapun, penyair bukanlah juru kampanye, bukan guru, bukan arator, meski ia bisa menjalani profesi apa saja.

Penyair berusaha menambang nilai-nilai keindahan dan kebajikan. Dengan bekal hati nurani, penyair bisa bersuara secara jujur menceritakan apa yang sedang terjadi, atau barangkali mengungkapkan sesuatu yang tidak disadari orang lain. Praktik kezaliman, perselingkuhan penguasa, kemunafikan, dan lain-lain yang tidak disadari khalayak umum, bisa jadi diketahui oleh penyair. Penyair bisa menangkap sinyal-sinyal ketidakadilan dan kebobrokan dunia, lantas ia bersuara meski hanya lewat bait-bait puisi.

Sebagai manusia biasa, peyair pun bisa terjebak dan berselingkuh dengan keadaan. Ia bisa saja menghianati kenyataan dan bersikap pengecut: tidak berani bersuara dengan jujur dan apa adanya meski ia menemukan sejumlah ketidakberesan yang membahayakan kehidupan masyarakat. Penyair bisa saja takut dipenjara atau dibunuh oleh musuhnya yang tidak ingin kejahatannya terbongkar. Ia lebih memilih menulis dan merancang puisi melankolis untuk kepentingan-kepentingan pragmatis. Ia tidak ingin bernasib tragis seperti Wiji Thukul yang diculik tak jelas rimbanya, atau seperti WS Rendra dan Emha Ainun Nadjib yang dicekal kebebasannya. Nah, sampai sejauh mana kualitas dan keberanian penyair Komunias Pena?

* * *

MENIKMATI suguhan antologi puisi Kidung Alas Roban (Kiara-3) yang “dilahirkan” Komunitas Pena Batang (2007) sesungguhnya seperti sedang berhadapan dengan sebuah cermin kecil. Wajah bopeng kita dalam makna pribadi maupun sosial tergambar jelas di sana. Seperti biasa, kehadiran puisi selalu membawa karakter yang nyaris sama. Ada suara ketidak-adilan, kecemasan, keterhimpitan, keceriaan, satire, melankolis, romantis, khusyuk, bahkan ndableg. Jika menyimak karya-karya puisi secara keseluruhan akan ditemukan berbagai susana: girang, ngelangut, dan garang. Ragam tema dan illusi bahasa membaur jadi satu menjelma pelangi dengan aneka warna.

Namun kalau harus bicara jujur, setelah membaca karya-karya yang masuk, kita menemukan semacam oase yang menyejukkan dan menyegarkan. Ada sudut-sudut yang menggelitik sekaligus menyentakkan perasaan, juga nurani. Seperti menemukan bisikan, jeritan, kesyahduan, hentakan, dan elusan jiwa lewat rahasia kata-kata. Ada gugatan sekaligus pesan moral yang hendak disuarakan oleh para penyair dengan bahasa yang ringkas dan khas.

Kalau dipilah satu demi satu, pesan-kesan yang disampaikan antara penyair satu dengan lainnya memiliki kedalaman yang berbeda-beda. Masing-masing penyair berusaha membangun metafora dan menciptakan jiwa puisi lewat pemilihan kata yang mengundang efek tertentu. Penikmat puisi yang jeli pasti mampu menemukan dan menangkap daya-daya rahasia yang tersirat dalam setiap tema yang dimunculkan.

Dari pemahaman sepintas, bahwa alur tema yang disampaikan antologi Kiara 3 tidak beranjak jauh dari tipologi Kiara-1 dan Kiara-2. Si penyair seolah tidak bisa terlepas dari pengaruh lingkungannya. Ia dipaksa bersuara seirama dengan denyut lingkungan (kondisi sekeliling) yang dilihat dan didengarkannya. Puisi-puisi yang ditulisnya menjadi semacam wilayah ekspresi diri yang kental. Gagasan yang dimuntahkan merupakan bagian dari cermin realitas individu dan sosial. Antara penyair dengan puisi yang ditulisnya sepertinya tidak ada jarak. Sehingga wajar kalau ada seorang karyawan yang menulis puisi tentang PHK, atau guru yang menyuguhkan pesan-pesan puitis kepada murid-muridnya, atau seorang mubaligh yang menggugat soal kemunafikan yang tercecer dalam masyarakat.

Latar belakang profesi anggota Komunitas Pena yang berlainan (guru, petani, nelayan, karyawan, mahasiswa, wartawan, pengusaha, pemijat dan lain-lain) merupakan kekayaan yang ikut memberi warna kepenyairan masing-masing. Satu tema bisa diusung bersama-sama dan dituang lewat sudut pandang yang berbeda. Inilah keajaiban gerakan sastra. Puisi menjadi semacam alat untuk menceritakan kejadian, cita-cita, impian, bahkan mungkin ambisi. Dan para penyair bisa tampil sederajat dalam satu ceruk bernama antologi.

Persoalan baik-buruknya kualitas puisi yang tersaji dalam buku ini tentu saja tergantung dari tinggi rendahnya daya apresiasi pembaca. Sebuah puisi karya penyair tertentu boleh jadi dianggap bagus dan berkualitas oleh kalangan tertentu, tetapi oleh kalangan lain bisa sebaliknya. Pemahaman dan penilaian terhadap puisi sering dipengaruhi unsur subyektifitas. Tetapi kejujuran dalam membaca dan memahami puisi barangkali bisa dijadikan pijakan awal untuk mengapresiasi karya puisi sekaligus memahami kelahiran puisi itu sendiri sebagai “bayi” kebudayaan. ***

AJI SURAJI

JALAN MASIH PANJANG

Jalan masih panjang

kuharap lentera tetap menyala

angin terus menggoda

mengibas-ngibaskan ekornya

berjalan aku bersama roda-roda

merayap

menyusuri lorong-lorong kata

dan makna

siang merobek malam

malam meredam siang

ada kidung sayup mengalun

menggapai petang merenda remang

Jalan masih panjang

malam semakin kelam

kidung duka datang menghilang

diseret arus gelombang

laksana kalah perang

wabah praja merajalela

perutnya tak lagi berpantang

wajah bopeng malu bertopeng

jantungnya bocor udara kotor

kidung pun mengembara

di gunung-gunung

di lembah-lembah

di hutan-hutan

dan di lautan

Jalan masih panjang

mendung bergelayut di awan

wajahnya kelu dan sirna

kuharap gerimis tak segera mengejar

karena cahaya masih merapat di layar

jika hujan tiba benar

cahaya satu-satu jatuh menyebar

dan permainan pun dihentikan

Batang, Juni 2007

AHMAD MARZUQI

SEPOTONG CINTA

Perburuan cinta

di antara semak belantara

menawarkan seruap minuman

dalam denting musik

patah-patah daun waru

Pergumulan kelam malam

menyeruak nafas kelelahan

ketika tetes air hayat

mengakrabi ikan-ikan memejam

dalam tidur panjang

Sepotong selawat melesat

mengemas kesah kasih

terimalah

yang tersimpan dalam etalase kaca

yang tenang dalam Raudah

ENGGAN

Tak pernah menyesal

ketika uang masuk loket kebun binatang

daripada masuk kotak amal

Tak pernah menyesal

ketika malam terjaga diperdaya piala dunia

daripada salat dan zikir panjang

Tak pernah peduli

ketika tiap hari baca koran

daripada tadarus Quran

Tak pernah berpikir

ketika uang dihambur di mall

daripada melunasi zakat mal

Tak pernah jera

ketika istighfar pura-pura

daripada taubat nasukha

Tak pernah perhatian

ketika dalam kulkas tersimpan makanan

daripada mengundang yang kelaparan

Saat itu ejakan ayat-ayat mukmin

aku tak demikian

Saat aku ejakan ayat-ayat kufur dan munafik

aku demikian

Aku terhentak

Aku gelisah

Aku resan

Aku enggan membaca Quran

Beruntung orang-orang yang tak pernah

membaca Quran

dan tak pernah tahu maknanya

PANGGILAN

Dalam antrean panjang

aku masih tetap bertahan

menunggu panggilan

Ibrahim raib dari antrean

Muhammad demikian

Pesannya mengalir sealir air sungai menuju lautan

masih secerlang cercah mentari

sesegar embun agi

sesayup angin tengah hari

semanis madu

sepahit empedu

searum puspa

semerekah bunga

segulita malam

semerebak mewangi

Awal nama huruf A

Awal huruf segala bahasa

Alif adalah A

Ha adalah A

Dalam lelah lelap menunggu panggilan

aku terus menyebut nama

di antara rongga

di antara degup jantung

getar hati

dengus napas

kerling mata

dan di antara guruh suara

Bibir membasah

di balik terik

Rindu gelegak tatap Baitaiq

tetes Zam hilangkan saqam

Tujuh keliling tak rasa pusing

lari hanya dua arah

sampai Arafah

Hari-hari menanti sapa

ketika duta menyimpuh Baginda

pasrah segala titah

pasrah segala arah

Drs. AHMAD MARZUQI biasa disapa Marzuqi. Lahir di Pekalongan, 18 September 1957. Kesibukan sehari-hari sebagai guru SMP Negeri 2 Tulis. Selain mengajar juga aktif sebagai mubaligh/ dai dan Dosen Universias Wahid Hasyim Semarang. Tinggal di Jln Pelia I Kota Pekalongan. Puisinya banyak dimuat di koran dan majalah. Kumpulan puisinya Lirik-Lirik Kemenangan, Jentera Terkasa, Kepodang 6 dan lain-lain.

AGUS SUKMO

LELAKI MENUSUK BOLA MATANYA

seorang lelaki tua

menusuk bola matanya dengan duri mawar

sambil mencela anak-anaknya:

“semua telah lupa, telah lupa!”

keluhnya.

Ia pandangi foto sembilan anaknya

yang terpajang di tembok tua.

semua mengenakan toga.

“semua telah lupa, telah lupa!”

keluhnya.

Batang, November 2006.

KEPALA DUSUN

lelaki yang dulu berbadan tegap

dan suka membentak-bentak penduduk

dalam acara kerja bakti pada minggu pagi.

tetapi musim akhirnya menghukumnya

dengan kerentaan dan suara pelo.

anak-anak tetangga menghinanya

dengan nyanyian burung kakatua.

Batang, November 2006.

MAYAT MEMIKUL DOSA

dalam perjalanan menuju kubur

mayat itu terasa berat dipikul

karena buhul-buhul dosa

belum dilepasnya.

Batang, November 2006.

PEREMPUAN

kemanakah kekasih hilang,

sedangkan tubuh telah lama mengeriput.

musim bergetar, mawar tak lagi segar.

tubuh bau tanah. kulit kusut masai.

tak ada yang sudi membelai

Batang, November 2006.

BERCANDA DENGAN BELULANG

di pekuburan tua

anak-anak bercanda dengan tengkorak.

“kau tak lagi punya nama,” kata mereka

“dan sebentar lagi tempat tidurmu

digusur penghuni baru

kasihan deh lu…”

Batang, November 2006.

CATATAN NOVEMBER 2006

seorang ibu tersedu

melihat bibir anaknya membiru

perutnya tertembus peluru.

entah tingkah siapa.

barangkali ulah pemburu buta.

beberapa hari kemudian

seorang ibu yang lain melahirkan bayi

dan membakarnya hidup-hidup.

“dimanakah daging bayi itu?”

Batang, November 2006.

EPILOG

orang-orang sibuk

mencari bekal ajal.

tak mungkin

mayat mendengkur

dalam kubur.

Batang, November 2006.

AGUS SUKMO, SPd akrab disapa Age Sukma. Lahir di Batang, 8 Agustus 1961. Sehari-hari bekerja di lingkungan Dinas Pendidikan Kecamatan Limpung, mengurusi Pendidikan Luar Sekolah. Pernah menjadi wartawan Majalah Kriminal & Pencegahannya. Selain menulis puisi, agus juga menulis buku tentang motivasi dan metafisika Islam. Pendiri sekaligus ketua LSM Putera Roban Bersatu (PRB) yang bergerak dalam bidang pemberdayaan masyarakat.

BAMBANG INDRIYANTO

PAWANG

Mulut adalah harimau

yang akan menjaga dan merobek tubuhmu

Lengan adalah elang

yang membela dan mematuk otakmu

Namun hatimu adalah pawang

yang akan menjinakkan semua kebinatangan

yang bersarang dalam dirimu

Batang, 8 Juni 2002.

POTRET

Mata kuyu pipi keriput dengan dahi penuh goresan

serta berkeringat garam

dengan tatapan rembulan membelai keningku

sambil berkata lirih:

jadilah kau lelaki sejati

bagai Arjuna melawan Karna

tak pandang musuh atau saudara

Jadilah surya di siang hari dan Purnama di malam hari

yang tak pernah lelah bersinar meski mendung menghadang

Kulihat ayahku menitikkan air mata

memandang ketuaannya, namun tugas belum usai

haruskah aku selesaikan tugasnya

atau inikah gambarku esok lusa?

Pekalongan, 26 Agustus 2003.

KAMBOJA

Gerimis pada suatu sore di bulan Desember

seikat kamboja kau letakkan di jambangan kalbu

aku termangu

Ada ketidak tahuan yang bergayut di hati

dan mulutku tetap terkunci

Sementara kau tersenyum

memandang hari yang makin kelam

dan petang akhirnya kau tinggalkan

dengan sejuta misteri

Akankah inginku kau bawa dalam tidur panjang

atau berdendang geliatkan sebuah tarian

atau idak untuk apa-apa

kamboja

sulit berenang dalam anganmu

dalam setiap lorong waktu

Pekalongan, 1 Desember 1981

DI TAMAN SEBUAH RUMAH TUA

Di rembang petang mentari memejam

bulan tersenyum malu

wangi kemuning merasuk sukma

bercampur harum bau rambutmu

kulihat mawar di matamu

Kita banyak membuka bab demi bab

buku tua yang kau simpan di bawah lemari

Telah banyakvaritas kembang yang terbicarakan

dan angin makin menghimpit leher

serta menggoyangkan pokok-pokok melati

Namun bintang di matamu tak kunjung berseri

Di bangku batu bisu di depan rumahmu

kulihat kelopak mawar di matamu

kian layu

dan kau semakin tak peduli

Sementara kalender setiap saat mempreteli

anganmu yang semakin melayang

bersatu menuju alam awan kelabu

sewarna rambutmu

Pekalongan, 12 September 2003.

BAMBANG INDRIYANTO, SPd lahir di Pekalongan, 8 September 1958. Guru di SMA Negeri I Batang, mengajar mata pelajaran Sejarah Nasional, Sejarah Budaya dan Seni Musik. Puisi-puisinya pernah dimuat di sejumlah media terbitan Yogyakarta. Akif menulis buku pelajaran untuk pelajar sekolah menengah. Juga sering diundang menjadi juri lomba baca puisi baik tingkat kabupaten maupun propinsi.

EDI B MULYANA

RINDU I

: Nikmah Puji Asuti

ada helai rambutmu

kemarau luruh

daun-daun yang jatuh

adalah selimut malam

yang kulipat dalam perutku

Kudus, 1996.

RINDU II

(Aku dipeluk 5 September)

di sini senantiasa dingin

daun yang gugur

menimbun nganga kepergianku

lalu september menjadi liar

dalam almanak dan angka lima

pun air mata memelukku

tanpa ampun

bertahun-ahun

Batang, 2000

EDI B MULYANA, lahir di Kudus dan pernah aktif di Kelompok Penulis Kudus (KPK) bersama para penyair kota Kretek. Kini berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar di Subah.

EMAN SOEWARTO

TUKANG PIJAT

Sehari-hari jasadmu bersimbah peluh

dalam jemarimu terlukis kenikmatan

walau yang memetik orang lain

namun engkau tak pernah mengeluh

memeras keringat terus memijat

Batang, September 2001

CINTA PELUH

Cinta itu peluh kian dilumat tak kian mengering

terus haus kala dahaga diguyur

tak meratap sepi di kelam malam

tapi setelah cinta tak menjadi peluh

dunia akan terasa gelap

kendati sejuta matahari menjadi cahaya

oh, nyenyat

Batang, September 2001

LALAT-LALAT HIJAU

dari bilik gedung pencakar langit

tersimpanlah wajah-wajah keangkara-murkaan

butir mesiu berhamburan merobek dada

mayat gelimangan tengkorak berserakan

korban kepongahan lalat-lalat hijau

di balik seragam penguasa serakah

Batang, Oktober 2001

LESUNG

Suaramu tak lagi mengalun

karena antan sudah haram menjamah

Dewi Sri yang ramah kini hanya mampu meratap

pak Tani dan mbok Tani tak lagi berdendang

di saat fajar subuh menjelang

Batang, 15 Mei 2003

MATAHARI

sinarmu acap menumpahi bumi

hingga juta tahun cahaya

namun tak pernah garang tak pernah lekang

seluruh makhluk menikmati

pantang mengeluh melayani kehangatan

di penjuru alam

Batang, 15 Mei 2003

TUBUH YANG LUKA

kubuka lembar demi lembar buku harian kumal

yang dulu tersimpan di almari tua

dalam baris kueja luka tubuh menganga

menguak kebohongan dan kemunafikan

yang menyelinap di hati seorang renta

sebelum senja menghadang

saat pulang keharibaan

‘tuk memohon ampunan-Nya

Batang, Pebruari 2004

KUCING BETINA

Ibarat kucing betina tubuhku kini sudah payah

membawa beban terkandung dalam perut buncit ini

di saat sedang menantikan kelahiran anak negeri

dan jagad raya tak sanggup menyambut kehadirannya

apa mungkin karena sudah tidak ada dunia

atau dunia sudah menjadi milik makhluk aneh

ialah orang kaya mata sipit yang tak tahu tata krama,

tak bisa melantun tembang ilir-ilir, tak mampu

bermain gobak-sodor waktu bulan purnama

makhluk aneh bak Dajjal itu semakin merajalela

dunia kucing betina telah dikemah penuh nafsu

tinggal ampas dan sampah nuklir yang tersisa

jadi santapan ponang jabang-bayi calon pendusta

yang sebentar lagi hadir dari rahim ibu anak negeri

kucing betina pun sudah tak bisa bernafas lega

karena makhluk mata siit telah tega menelan dunia

dunia tempat tinggal dan bermain anak-anak negeri

yang kini menjadi suku terasing di negeri sendiri

telatah nusantara yang subur lohjinawi ini

hanya tinggal kenangan dan menyisakan kedukaan

dikoyak para penjilat dan para pengkhianat

yang berkedok pejabat dan wakil rakyat

Batang, 15 Februari 2004.

EMAN SOEWARTO, lahir di Batang, 31 Maret 1952. Tinggal di Petodanan Baru, Karangasem Selatan, Batang. Karya-karyanya berupa artikel, reporase, puisi dimuat di berbagai media cetak lokal maupun nasional. Puisi-puisinya berbahasa Jawa dimuat di majalah Damar Jati, Djaka Lodang, Jaya Baya, Penjebar Semangat, dan lain-lain. Kini masih aktif menjadi wartawan majalah berbahasa Jawa terbitan Jawa Timur.

M. FAHRUDIN HIDAYAT

EPIGRAF AMOR

Dalam keremangan berkelebatan mimpi

tentang seuntai wajah yang tum buh di dahan kangen

berkejaran tumpang tindih silang sengkurat dengan benci

segalanya tumah ruah di sawah ladang kenangan

membius jiwa agar lunglai dalam kepasrahan

pun pijar lilin yang membias di lorong juang

Batang, 2000

SIRKUIT

Deru asap knalpot yang menuntaskan

birahi, bertumpang tindih dengan pertaruhan

nyawa, menjadi lencana setia jiwa

pengembara, meski pabila telah usai segala

pertarungan, yang tereguk hanya nurani lengang

“Lihatlah bendera telah dikibarkan, artinya

harus memilih mati atau menggenggam mimpi,

pun langit tak bertepi.’

Disini diajarkan memoma waktu demi sebuah

kemenangan, juga untuk meraih piala kejantanan

sang petualang, namun jangan dilupakan bahwa:

segalanya itu menabung tragedi

Diantara debu-debu yang membasuh mata jiwa,

terselip selembar catatan: “Hidup tak melulu

bersenandung atau nglaras mendengarkan perkutut

manggung.”

Sentul – Yogyakarta, 1999.

LAGU HUJAN

Hari ini masih ada hujan

Membasahi kantong menyusup di dompetku

Mengendap segar di hatiku

Hujan memang kadang suka usil

Kadang datang kadang mangkir

Memeras pikir

Hati kadang dekil

Tuhan, Engkau tak pernah kurang ajar

Meski hamba sering tersiksa rindukan hujan sampai terkapar

Dan Engkau seperti berkelakar

Tuhan, ajari hamba selalu bersyukur

Sebelum terkubur

Bawang, 1-2 November 2004

BANGKAI

Hari ini bau bangkai menyeruak

Menyusup udara mengaliri lorong-lorong

Terhenyak diri

Bangkai itu menguar dari hati

Mulut pun busuk

Tangan pun busuk

Kaki pun busuk

Langkah yang terkutuk

Hari ini aroma tobat mesti dilumurkan

Pada jiwa

Pada raga

Sambil berpesan pada angin

Bawa bangkai menjauh

Sampai dosa terjatuh

Bawang, 4 November 2004

SELEPAS

Selepas subuh yang jauh dari gaduh

dada mendadak dialiri gemuruh

selaksa rindu di pembuluh

Selepas hasrat yang menjerat pekat

jiwa sekarat dambakan hakikat

memasuki pintu tobat

Selepas mimpi yang dibangunkan pagi

udara gejolakkan onani

jasad terkulai tak tersisa mani

Catatan kosong, Bawang, 30 November 2004.

LESU

Kelesuan meluapi raga

Jiwa yang geriap melusuh

Mungkin karena kekasih jauh

yakni anak isri yang kutinggalkan

Menggapai sauh

Tuhan, aku butuh suluh

Sungguh-sungguh butuh

Agar kelesuan menjauh

Semangat pun kembali penuh

Bawang, 30 November 2004

SEEKOR ANJING MELINTAS DI PEMATANG

Berlari perlahan

Menggaris pematang

Saat aku pulang

Kampung halaman

Usai didera hidup

Terjepit di ketiak angin

Anjing itu aku

Tak tahu kanan kiri penuh makanan

Meski tuk lain mulut binatang

Sawah itu adalah misteri

Bulir padi yang menetas menjelma nasib

Tak mampu kuraih, kukunyah

Anjing itu menyalak

Hatiku pecah

Yogyakara, 2004

ANAK

- olfat jabir hidayat

Mainan itu pecah

Tangis itu tumpah

Aku terbata memungutinya

mencari perekat di angin

mainan itu tak utuh

tak terganti, membulir di sudut mataku

meratap, bukan, aku tak akan

sedu sedan hanya memecah mainan demi mainan

aku temukan mainan utuh

di pinggir mimpi anakku

kupunguti dengan sehelai doa

Batang, 2004.

M. FAHRUDIN HIDAYAT, lahir di Bantul, 16 Juli 1968. Lulusan D3 Kimia UGM tahun 1994. Memilih hidup sebagai guru di SMA N Bawang. Menulis baginya adalah sebuah selingan hidup yang menghibur sekaligus mendatangkan uang. Ide-idenya tentang banyak hal banyak tercurah lewat surat dan termua di berbagai media cetak. Catatan humornya juga dimuat di berbagai media seperti Kedaulatan Rakyat, Cempaka, Wawasan, dan lain-lain. Namanya juga kerap muncul sebagai pemenang kuis dan TTS.

MUDIYAT JOHAN

KEHADIRAN

Kehadiranmu bagai mentari yang

tak terpanggil, engkau adalah

sinar yang membawa gelombang

cahaya ke lautan hati, dalamnya

anugerah merupakan air terjun

yang meluap dengan kabut-kabut

cinta, pemberian tanda-tanda

apapun adalah tunggalnya bahasa

cinta milik pribadi.

Jika engkau angin membawa lajunya

bahtera, berkembanglah layar-layar

jiwaku melewati tanjung-tanjung

harapan menuju ke dermaga cinta,

ucapan terima kasih dan kegembiraan

yang lepas dan menerimanya dari

kedatangan baru penuh muatan

indah, seindah dengan nama-

nama kekasih.

Seakan-akan aku dibaca dan diterjemahkan

dengan bahasa ke Illahianmu,

seluruh tubuhku terasa dingin

dingin sekali, semakin tak terasa diriku

semakin berat pula kisah hidupku,

engkau milik siapa? Engkau katakan

hanya satu kepasrahan, milik pribadi

Tuhanmu, yang bakal singgah sampai

di pelabuhannya akidah, itulah kau

temukan sebuah titipan yang indah.

Dayung mendayung berkayuh laju membelah

arus membelai kalbu cita-cita yang menjiwa

sulit untuk bertemu, apa yang kutinggalkan

itulah mimpiku jauh-jauh kupandang jauh

antara kata dan tujuan kehidupan cinta dan

kesunyian tetap akan menunggu, aku dan

engkau adalah alternatif dari kebersamaan

antara diriku dan dirimu

tetap juga yang namanya cinta merupakan

temuan titipan dan dibawa, dibawa dalam

alunan kehidupan sampai apa yang terakhir.

Biarlah rindu itu ada yang menunggu,

Biarlah rindu itu mengejar waktu,

Biarlah rindu itu bersemayam dari

Sang Pengembala Keindahan yang

memberikan kata-kata tersendiri

sunyi di musim pada singgasana keharuman

redunya cahaya kelabu di langit yang

semakin jauh.

Batang, Juli 2007.

BAIT-BAIT INDAH KEMATIAN

Bagian I

Suasana berkabung dengan asap dupa yang mewangikan di sekeliling ranjang pembaringan, kau tuangkan seteguk anggur wangi bersama ucapan kata-kata doan di perisirahatanku, kini aku sudah menyelesaikan segala kelelahan dengan pemandangan akhir menutup mataku.

Sayup-sayup kelembutan sekarang sudah mengetuk untuk menghentikan anggilan sebuah nama yang terbebas, aku sebuah jasad dari bumi dari langi dari belaian cina dan dari sebuah napas.

Biarkan kini aku terbaring dalam kesaksian yang bisu.

Biarkan langit tetap tegar tak usah lagi bersenyum rindu denganku.

Biarkan udara senyap untuk melaya tu buhku membeku darahku.

Biarkan jiwaku dijadikan dupa untuk mengatakan penyampaian cinta.

Kubiarkan berbagai salam engkau datang.kubiarkan berbagai bunga-bunga untukku.

Kubiarkan lilin-lilin paradis menyanyi putih seperti kapas-kaasku.

Seluruh kotapun berseru menaruh anda-tanda kereduan sang mendung memberi pekabaran baru pada pepohonan dan daun-daun.

Mungkin para malaika bersama kidung-kidung akhirat telah menyatu dengan bunga-bunga biru, bunganya tahmidu untuk menjemput menunggu aku.

Tangan-tangan lentik dengan kelembutan jemari yang halus erlahan membuka dadaku mensucikan menyirami seluruh tibuhku, tubuh yang pernah nyanyikan dalam kerinduan cinta, yang berbahasakan indah di dalam hati.

Saudara-saudaraku tak usah gemetar memberikan tangis, jangan kaubiarkan air maamu menees berbahagialah untuk dirimu unuk doa hidumu.

Tatanan kafan kain putihku seutih nurani yang engkau ersiakan, untuk memulas keheningan wajah gaibku mengingatkan sholat tegaknya hidupku, mengingat hidup tegaknya sholat untuk kematianku.

Bunga-bunga terbawa berdatangan indah untukku, berwarna-warni memberikan ceritaku yang telah habis di masa lalu, terucakan unukku selamat tinggal, ucapan dari kerabatku dan anak-anak yang ingin melihat mendekatiku sambil bibirnya menderai dari hatinya inilah sebuah kematian.

Uluran tangan-tangan lembut dengan kerudung wajah-wajah manis gemuruhlah seperi gelombang menabur bunga suara keillahian yang menggetar ada iradat-Nya Tuhanku, seakan mereka melihatnya membuka tabir kerahasiaan surganya.

Dupai akhir membelai keindahan mengukir jiwaku, dari kerahasiaan akbir sajak-sajakku kutinggalkan seirama sepinya waktu yang hanya begitu saja langka dimengerti orang, tempa dimana aku bersemayam yang manakah kuburan bungaku?

Bagian II.

Hari ini kutemukan mimpi kehidupan, kepergianku kuturuti mauku siapa yang membawa aku jiwaku sebagai burung yang erbang bersemayam di langit indah, terbang bersama nyanyian lagu langit yang makin jauh makin mendayu-dayu yang memisahkan diriku.

Kulewati dan kutinggalkan pemandangan demi emandangan rumah-rumah tercinta buki-bukit indah, curahan sinar yang bertambah memutihkan kain kafanku, seakan mengantarkan aku dikembalikan di persada tercinta.

Aku bersama kumpulannya cahaya dengan seribu warna yang menggubah lagu kebangkitan yang membuka pinu-pintu langit dengan puja-puji semesta dengan suara yang gemersik di keheningan yang diam, diamnya diriku, juga gemertak langkahnya kaki para malaikat dan bidadari melihat yang pulang kerahmatullah di keabadian yang damai.

Bagian III

Di sinilah pembaringanku dengan getaran jiwaku

Tema seluruh tubuhku tempat kediamanku.

Biarkanlah sukmaku diam menyendiri menunggu peradilan suci.

Biarkan ketenangan jiwaku melepaskan dari segala dahaganya duniawi.

Biarkanlah cerita hiduku yang melekat penuh sarat kejahilanku, itu titipan titik noda dari kaca eringatanku.

Bukanlah berlinangan air maa itu sedih aau gembira yang kubawa aau yang kutinggalkan itu pembawaan dari neraca mizan abadi.

Adalah pesona bahasa kematianku yang harus erjemah kepada saudara sahabatku dan utera-putera ibuku, luaskan lubang kuburku dan galilah dalam-dalam puisiku pun akan berkata surga abadi yang kusembunyikan adalah bunga-bunga indah yang ditanam indah dikuburku.

Tak usah kau andangi diriku yang menerima keasian telah melihat adanya pemerintahan suci yang meliur ketulusan hainya sang pribadi.

Tinggalkanlah kesendirianku, segerakanlah langkahmu unuk kembali engkau putera-putera bapakku, puera-utera ibuku, engkau anak-anakkekasih, engkau yang menabur bunga-bunga selasih.

Selamat jalan salam kamu aas makam kuburku biarlah rumput-rumut yang hijau dan bunga-bunga itu memadu tanpa bicara duka.

Biarlah angin datang membisiki ketenangan jiwaku, biarlah keharuman itu semerbak mewanginya Dzat Illahi yang bersemarak dengan kodra dan iradat-Nya.

Biarkanlah keharuman itu semerbah mewanginya Asma-ssma Allah Tuhanku pribadi.

Biarkanlah keharuman iu mewanginya semua sholawat nabi.

Biarkanlah kesendirianku jasad di maqom kuburku disiran puja-puji samawi.

Di sini tempat kediamanku dalam sunyi yang memisah hanyalah kesemurnaanNya Dzat yang mulak adalah bagiNya milik Tuhanku pribadi.

Batang, Juni 2000

UNTUK SEBUAH NAMA

Aku mencintaimu

tapi aku tidak bersamamu

aku mohon maaf

karma aku bersama rinduku

rinduku yang kutanggung di keabadian

demi Tuhanku

seperti jasadku yang akan berpisah

dari rohku untuk Tuhanku

Namamu sudah kutitipkan

sebanyak bilangan tasbihku

Batang, Januari 2007.

PURBO KUNCORO

LAGU DARI RELUNG HATI

- Ujian saat hendak ke tanah suci

musik dan tarian menghentak langit-langit hati

antara kepasrahan dan harapan

impian yang terajut benang-benang ilahi

tiba-tiba terurai angin taufan

menjatuhkan jarum rajut yang tajam

ke dalam bayangan putih melayang jauh

jalan masih panjang menuju ke haribaanMu

ingatan pada mendung menggelayut di pelupuk mata

pada malam terisak di atas sajadah

astaghfirullah, ampuni akan dosa-dosa kami

subhanallah, maha suci Engkau, ya Allah robi

di tanganMu yang perkasa

hati ini lemah lunglai

bebaskan kami dari belenggu yang menyesakkan

antara hidup dan mati

agar kami dapat ke rumahMu

labaik

Medio April 2007

PESAN SEORANG GURU

PADA MURIDNYA YANG BANDEL

seorang wiku layaknya di hadapan para cantrik saat hujan tiba

dia berdiri kokoh dengan tangan putih bermata jernih memantul mutiara

dari dalam samudera kehidupan yang luas

bahtera berlayar menghalau ombak menerjang badai merobek karang

berat suaranya memecahkan luasnya batuan hati

anak-anakku, lihatlah angkasa yang penuh bintang gemintang

bulan perawan bersolek

dan matahari yang tersenyum

tak pernah malas pada sang pencipta,

mereka jalani ketentuan ilahi tanpa bosan

untuk kehidupan manusia

tak bisakah kalian petik tanam dalam sanubari yang subur

apakah kalian lebih perkasa dari mereka

hingga segala aturan da ucapan tertelan angin gendang telinga yang pecah

anak-anakku, hari esok sangat panjang dan berliku dengan badai

arungilah dengan tegap perkasa selaksa pasukan menyerbu banteng

membebaskan putri dari naga angkara berlidah api

jadi ksatria untuk diri sendiri

membangun tanah-tanah kehidupan yang bisa untuk brtanam

dan menebar benih yang baik

lalu dikenang sebagai pembangun.

Medio April 2007.

PURBO KUNCORO, lahir di Pkalongan, 26 April 1960. Hobi menulis semenjak SMP. Puisi-puisiya tak perah masuk koran dan hanya untuk koleksi diri. Tapi sekali waktu karyanya pernah dimuat majalah Batang Berkembang. Pernah jadi finalis karya tulis ilmiah tingkat nasional pada 2001.

RAKIMIN

ITU TAWAZUN SAUDARA

Kemana saja engkau terbang, di sini pula jatuh Saudara!

Kemana pun kau pergi, di sinilah tempat kembalimu wahai Saudara!

Saudaraku! Tertawamu adalah tangis di kemudian hari, itu pasti

Saudara benci, Saudara cinta, silih berganti yang tak bisa dipungkiri

Oh, Tuhan!

Aku sadar dan sadarkan aku, jangan biarkan waktu

Sekarang juga, jangan besok, jangan lusa! Itu artinya sama saudaraku!

Tiada aneh tiada lucu, tiada untung tiada rugi, kata saudara kita yang tahu

Loh ada aa kau begitu? Bukankah memang harus!

Innalillah….. dan Alhamdulillah….. Itulah tujuh banding tujuh

Pertemuan….. dan perpisahan….. itu, satu banding satu

Berhenti….. serta berjalan, bagai 99 seperti Asmaul Khusna.

Jatuh bangun, tiada susah tiada senang, itu hanya dua dibanding dua.

RAKIMIN, BA guru SMA N Batang dan menyukai dunia tulis-menulis sejak masih kuliah. Selain pengajar di sekolah, dia juga sering jadi khotib.

SUGENG ISDIYANTO

SURAT PENDEK UNTUK

YANG MULIA PARA PEMIMPIN

Yang mulia para pemimpin

bolehkah aku meminta

sepatu yang tak berlobang

untuk ke sekolah esok hari

sudah seminggu bapak tak pulang

di tengah laut yang gamang

Wahai, yang mulia para pemimpin

membaca beritamu di koran

hendak kaubawa kemanakah kami

ketimpangan semakin nyata

keluh kesah dimana-mana

melihat tingkahmu di layar kaca

bolehkah aku bertanya

siapakah yang kau bela

rakyat kecil tetap menderita

Wahai, yang mulia para pemimpin

bila jabatan dan kedudukan yang diperebutkan

bila kepentingan yang diutamakan

bolehkah aku menggantungkan harapan

untuk sebuah masa depan yang nyaman

Yang mulia para pemimin

kirimkan sepatu yang tak berlobang

juga baju seragam

untuk ke sekolah esok hari

sudah seminggu bapak gamang

PEJUANG ITU ADALAH IBU

Pejuang itu adalah ibu

Yang melahirkan anak-anaknya

Dengan darah dan air mata

Pejuang itu adalah ibu

Yang kerut merut kulitnya

Tergambar nyata

Betapa luar biasa kesabarannya

Ejuang itu adalah ibu

Yang tetesan keringatnya

Tak mampu kugantikan

Dengan butiran-butiran mutiara sekalipun

Pejuang itu adalah ibu

Di tengah himpitan

Kau tegak tak tergoyahkan

Di antara kekurangan

Kau tenang dalam ketabahan

Di tengah duka derita

Doamu penuh keikhlasan

Pejuang itu adalah ibu

Raden Ajeng Kartini

Yang memerangi kebodohan

Menyejajarkan kaumnya

Cut Nyak Dien

Yang membuka mata

Terhadap arti pentingnya kemerdekaan

Pejuang itu adalah ibu-ibu tua menjajakan dagangannya

Di pinggir-pinggir jalan

Terkantuk-kantuk diterpa debu, panas dan hujan

Demi sesuap nasi anak-anaknya

Pejuang itu adalah ibu

Yang menggempur gunung

Mengalirkan kesuburan sampai ke pelosok-pelosok

Menghijaukan sawah, kebun, ladang,

dan membagi-bagikan kemakmuran

Pejuang itu adalah ibu

Yang mempermaklumkan aku berdiri di sini

SUGENG ISDIYANTO lahir di Solo, 2 Pebruari 1963. Berprofesi sebagai guru SMP 7 Pekalongan dan kini tinggal di Slamaran. Selain menulis puisi juga menulis naskah drama. Tahun 2000 juara II Lomba Menulis Naskah Drama/ Teater Anak Tingkat Jawa Tengah.

SUGITO HADISASTRO

SAJAK TEMBANG YUKALIP

Cericit parakeet dan lorakeet

mengeja lembahmu yang temaram

tersaput kabut musim gugur

dan wajah-wajah tanpa ekspresi

di ambang jendela

di serambi reruntuk peradaban

yang sirna tersapu angin gurun

Padang ilalang coklat terang

di sela tembang yukalip

berdendang riang dalam selubung kegerahan

dahi bocah, tergores tajam boomerang

tangiskan pilu isakkan ngilu

Dan ladang kentang meradang

dan tengkorak hitam menyembul pelan

di bumi nenek moyang

yang terkoyak mata pedang mitos

luruh hati luruh mentari

cericit parakeet dan lorakeet

di sela tembang yukalip.

Pabble Beach, Oktober 2003.

SAJAK MIMPI ANAK NEGERI

Sungaimu membelah hari asokmu

tak peduli siapa kau

berdiri memelas di pinggir gelegak ombak

dengan tenggorokan kering

seperi billabong di tengah gurun gersang

Sungaimu menghanyut mimpimu

Tak peduli siapa kau

Menggelesot meratapi mendung lembayung

di hamparan waktu

di mata sembab

dan hati lembab

Oh, angin lalu

berhentilah mengejar waktu

lihatlah mata bulat anak negri

bertelanjang rupa berkawan papa

memandang jauh titik-titik hampa

berbatas kaki langit

berujung belantara nestapa

Oh, angin lalu

berpusarlah menganyam hari

meredam gelora Pasifik

seperi selendang bidadari

melambai sayup pelangi

dan sepotong mimpi anak negri

singgah di selasar jelang agi.

Pebble Beach, Oktober 2003.

KIDUNG ORANG-ORANG GERAH

Membuka lembar kisah dengan jari-jemari kaku

dan mata nanar mengeja

sepenggal rasa dalam

kubangan peradaban nista sejarah

meratapi jari-jemari roda gerobak

dan gemeratak gigi kuda-kuda

berkeringat darah

orang-orang gerah

berkalung seuntai tulang hitam

berkawan gagak berteman kapak

mengepak, mengapak

Membuka lembar kisah dengan nurani beku

dan mata silau pernik-pernik senja

Uluru membisu

bermandi cahaya ungu.

Pebble Beach, Oktober 2003.

Drs. SUGITO HADISASTRO lahir di Batang, Aktif menulis di media cetak sejak masih mahasiswa IKIP Semarang (sekarang UNES). Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan artikel dimuat di berbagai media cetak lokal maupun nasional. Menulis buku pelajaran Bahasa Inggris dan cerita anak. Beberapa kali menjuarai lomba mengarang tingkat Nasional. Kini menjabat sebagai Kepala SMK Negeri Batang dan Ketua Komunitas Pena.

SUKISNO KAIDI

KEMBANG KALIPUCANG

Di wajahmu yang diam

Tersimpan aroma kembang setaman

Berjuta kembang tergores zaman

Nafasmu lembut membelai sukma

Ada cinta,

Ada rindu,

Ada nista,

Dan ada pula yang layu

Kau terjaga di khatulistiwa

Bila pagi menjelang petang

Kau simpan rambutmu di balik

Kerudung

Bila senja menjelang malam

Kau panjatkan doa di balik kelambu

Sejak fajar menyingsing

Wangi tubuhmu mengusik kumbang

Ratap buaya menggoda iman

Sau-satu berguguran

Kembang kalipucang

Indah dipandang seribu satu

Merah, kuning, hijau parasmu

serupa pelangi di atas awan

kembang kalipucang

wajahmu selalu diam

aku memujamu dalam diam

Batang, 4 Mei 2007.

BURUH, PHK DAN PENGUSAHA

Aku datang bukan tanpa moral

Walau hanya selembar kertas

Aku mohon bukan tanpa bekal

Walau bukan seuntai kapas

Kugadaikan keringat

Kupertaruhkan harkat

Menyabung jiwa

Berbekal raga

Menembus bising seonggok besi

Walau tua tapi bermakna

Pagi, siang, malam tlah berganti

Meniti asa kabarkan dunia

Hari berganti,

Waktu berlalu,

Berahun-tahun merangkai bunga

Seberkas harapan menjelang senja

Tiba-tiba detak jantungku terhenti

Tersentak, koyak dihempas prahara

PHK,

Jerit tangis menembus cakrawala

menggelepar, meronta,

Menerjang badai berselimut lava

Menyala dengan sejuta awan

Haru biru hiasi dunia

Wahai burung-burung bangkai

Dimanakah nuranimu

Bilakah tak ada waktu lagi

Bercerita tenang harkat dan martabat

Selamat pagi tuan-tuan

Duniamu adalah keringatku

Nafasmu adalah karyaku

Detak jantungmu seirama jerit tangisku

Atau,

Pandanglah bintang-bintang

Di sana pasti ada mimpi

Bila kau tatap rembulan

Jemariku tak mampu lagi bergerak

Rapuh ditelan waktu

Asa hilang bergayut di dada

Batang, 21 Mei 2004.

BOCAHKU

Kau datang dari selatan

Tinggalkan bocah kecil di sebuah desa

Berbekal sekeping hati yang luka

Karena pujaan hati tlah berpaling

Kini engkau tlah ternoda

Bergelimang dosa di lembah hina

Kulihat tawamu penuh dusta

Dalam pelukan para durjana

Bila saatnya tlah tiba

Kau coba melepas kerinduan

Buah hati dalam pelukan

Bening mengembang, menatap masa depan

Aku tahu hatimu tlah beku

Maka ketika kutawarkan cinta

Berbinar bola mata merona

Terkeju aku dibuai asmara

Bocahku,

Maafkan bila aku dusta

Aku hanya ingin engkau pulang

Kembali menuai yang tersisa

Lembaran hitam hanya cerita

Permata hati menunggu di sana.

Batang, 21 Mei 2004.

BALADA PEREMPUAN JALAN

Bibir bergincu merah merekah

Menganga, menggoda di sudut kota

Bila mata menari, nafas mendesah,

Keringat membasuh tubuh berlumur dosa

Kadang ada yang masih perawan

Berkubang lumpur ditelan jaman

Tak jarang korban lelaki durjana

Menjual diri untuk hidup keluarga

Hiruk pikuk nada membaur aroma

Menggeliat seirama tarian iblis

Tak terasa fajar mulai menjelang

Lonceng kematian datang tiba-tiba

Pilu tak kuasa air mata mengalir

Sekuntum bunga layu tak terurus

Dia pulang bergaun hitam

Menyambut matahari di balik awan

Batang, 28 Aril 2004.

SUKISNO KAIDI lahir di Batang, 14 Maret 1963, pendidikan SLTA. Pengalaman sebagai karyawan sebuah pabrik menjadi pelajaran yang amat berharga baginya sebagai pengasah batin. Sebagian karya puisinya merupakan refleksi dari pemberontakan jiwanya terhadap kenyataan hidup yang ditemui di sekelilingnya.

TUTI RUSWATI

BILA

Bila senja memungut kembali malam yang tergadai pada hari esok?

Tenggelamkan hati meluruhkan sekeping gunung di palungku.

Bila kembali merajuk pada mimpi tentang nirwana, bukan karena bukit gersang oleh angin sekadar manifestasi illusi dalam bayang pagi.

Ketulusan terkadang berharga emas

Segala kicau berceracau memenuhi langi ku.

Entah anugerah atau peringatan. Ataukah hanya menginginkan keruntuhan sejarahku. Hanya bukit terlalu egois unuk terentak

Nyanyian-nyanyian kecil di dahan sycamore

Aku seperi langit tanpa tepi. Bila sampai engkau mengarunginya?

Terasa tak mungkin hasrat hatimu menjangkaui seluruh keindahan

rahasiaku

Di kedalaman mimpi dan penghayatan akan hidupku

Dan bukan karena keangkuhan

Aku terlahir dengan menyimpan segala kemerduan kicau mereka,

Syair yang melangutkan juga badai yang kadang mengajak berteman

Yang ternyata juga telah kumiliki

Dan bila jubah malam tersibak kelembutan cahaya

Kapan pun datangilah. Bila akan kuberi lagu bidadari untukmu,

bila kuberi damai hatimu

Tanpa rayuan dunia dan kicauan yang hangat menusuk

Lalu matahari pun membukakan matamu

Hatimu dan bibirmu, penuh cinta dan keagungan

membawakannya pada keindahan hatiku.

sungguh, kuingin tahu sumpahmu.

Tersenyumlah! Kau seorang pemenang.

Kelak bila hujan menutup harimu menuju ujung malam

Ingatlah akan sekeping pualam

Yang pernah kutitipkan penuh rahasia di senyummu

di matamu ada cahaya

Aku tahu kau akan pergi. Ataukah aku sebaliknya?

Mungkin masih ada tersisa waktu

Tanpa kata tanpa bahasa sekaligus luka

Hanya senyum kita di balik air terjun

Yang membutakan sinar matamu dan mataku

Bilakah saat itu tiba?

Melaka, 16082005, 05.00

EDEN PASS

: my bad key

Senja kencana cantik membalutnya

Kulihat ia duduk sendirian di sudut bar menunggu Jack Daniel’s

gelas anggurnya amat bening memantulkan cahaya biru ke mata

yang belum memerah. Ia sama sekali tak berkedip

Kurasa ia bukan penderita kiposis. Punggungnya menunduk ke meja

bertender yang mengkilap. Entah apa yang ada di balik cat pelitur

cokelat itu. Asyik sekali.

Tentu saja aku tak mau menegurnya. Aku kenal dia kemarin bersama

terbang ke Dallas menjemput cinta anehnya

menurutnya hanya ada di angkasa terutama langit yang biru gelap

Entah masih cantik tanpa pohon palm. Oh, tidak di petak bunga tadi

Petunia genit sekali. Astaga! Apakah semalam lemari enamel putih itu

Kosong?

Anjingnya sangat menyukai pagi

Matahari yang terbit di seberang kincir mengusir orion pelan-pelan

Dengan senyum merekah yang biasanya akan jadi garang. Sebentar lagi

Aku di sini:

Saat itu Grand Canyon pasti melebihi aurora kurasa, purnama lahir

seandainya aku di sana menyetubuhi udara di puncak tebing

dia tergeletak berdarah matanya tertutup kelopak cekung menyisakan

Titik-titik kasar di rahang malam. Itu sisa perjalanannya

Langit terbuka. Dan gua kayu terang benderang

Langkah-langkah lembut menginjak kedamaian di bawah putaran kincir

Malamnya terbuka satu-satu pakaiannya dilucuti, wah

Yakin ia tak peduli tak ada bedanya

Yang melakukan pelacur atau bidadari

Si cantik menciumi seluruh tubuhnya dengan jari lentik yang pernah

Diciumnya. Lukanya menjerit tapi ia merasa (yang ia rasakan hanya)

Libido memuncaki menara hidup. Ujung-ujungnya sarafnya menggelepar

Ia menggenggam kenikmatan sepenuhnya. Matanya tertutup!

Daun-daun kapas memerah disembur api

Ada keharuman di setiap usapannya lembut bak angin padang menidur

batang-batang ilalang

Astaga, kalau begini bisa-bisa aku jatuh cinta

: kata Zeus melihat calon ibu Herakles!)

Padahal sebelumnya. Eden membara dikerjapi nakal bintang-bintang

Tak terbayang tentang gunung darah tentang pesta luka

perang yang berakhir di mesin pembuat kopi

tentang pesawat yang menjadi saksi pernikahan pantai dan hutan dan

gunung

keraguan atas nama petualang

membuat akar-akar misteri di balik dua cinta

menelan segala. Apa yang disebut pencarian

Si cantik membawakan pagi mungkin masih terselip bintang di tangannya

Entah dimana luka

Kudengar ia tersenyum ia tak ingin sekali pergi ke Alaska.

TUTI RUSWATI lahir di Pekalongan, 19 Agustus 1981 dan kini menetap di Batang. Sejumlah puisinya pernah dimuat di Tabloid Tren. Pernah mengembara di Malaysia menjadi TKI tapi tidak melupakan hobinya di bidang tulis-menulis.

VIKKA DIAN PRATIWI

HEMPAS

Dalam kaca sang embun,

Yang menguap di batang senja,

Bercengkrama bersama batin-batin yang hampa,

Menerawang dalam sukma yang kian alpa,

Jiwaku bergemuruh,

Ragaku bergetar,

Mencari arti kehakikian,

Adakah yang salah di tanahku berpijak?

Harusnya kuselami sujud-sujudnya,

Harusnya kurindu rukuk-rukuknya,

Tapi ah,….

Bukan karna Alzhaemer aku,

Bukan karna Amnesia aku,

Kuhempas genderang perang,

Tandai awal yang ’kurasa akan panjang,

Pecah!! Kubiar semua papa….

Batang, Juni 2007.

SENANDUNG JALANAN

Seorang bocah mengais sampah

Kulit legamnya menantang surya,

Polesi jalanan dengan gincu kaum pinggiran,

memelas dari raganya yang kering kerontang

Oh ya, kami bukan sampah!!

Sejati, kami rindu jilati bangku sekolah,

Kami lupa sudah ilmu logaritma,

Kami rindu huruf-huruf abjad,

Makan siang kami mungkin tak senikmat pizza dinner tuan,

Tidur malam kami tak senyenyak kasur pegas tuan nan nyaman,

Angka-angka yang berdiri mesra dengan rupiahlah yang ada di kepala,

Atau bau nasi kucing yang selalu dirindukan lambung,

Oh ya, kami bukan sampah kota,

Yang tuan seenak menyeret kami,

Beri kami sesuap impian dan harapan

Bukan mimpi siang!!

Medio bayang-bayang Tugu Muda, 2007.

SRRRT…

Srrrt… begitu nyanyian gubukku,

Bergoyang menyapa badai mimpi,

Srrrt… begitu kidung gubukku,

tandai jatuhnya harapanku,

anakku menangis,

kudulang dengan dongeng kehidupan,

anakku pun tertawa,

kunina bobo dengan lagu-lagu masa depan,

kutahu engkau bukan anak ningrat,

tapi jangan biarkan hatiku ikut melarat,

dalam jiwaku ada kehidupan,

yang harus sinari jagad,

sinari jasad

Bayang-bayang kota tua, Ibu Jawa, Juni 2007.

BAIT GELANDANGAN

Bocah kecil, lahir dari rahim kenestapaan,

Tangan kecilnya meliuk raih keadilan yang kian jauh dari jangkauan,

Kaki kecilnya melangkah raih kesempatan nan nisbi,

Beri aku tempat, hai dunia!

Gapai angan diantara sampah kefanaan,

Hai Tuan yang bergelimang berlian,

Berikan senyuman Rupiah di saku kami yang lapar,

Agar perut kami basah nasi,

Agar usus kami basah air,

Hai Tuan yang mengaku wakil kami,

Hilang sudah jerit kami,

Kalah dengan suara Baritonmu yang penuhi keinginan pribadi,

Lupa nama kami?

Wajar Tuan lupa nama kami…

Toh kita memang tak mengenal kami,

Tapi kami mengenal Tuan,

Kami hanya titipkan sebuah harapan,

Beri kami sedikit tempat di kepala Tuan…

Johar Market, 2007.

VIKKA DIAN PRATIWI biasa dipanggil Whie. Lahir di Batang, 5 Mei 1984. Ia lebih suka menumpahkan kegundahan dan kekesalan hatinya lewat tulisan, baik cerpen maupun puisi. Cerpennya pernah dimuat di Tabloid Remaja Tren terbitan Semarang. Alamat rumahnya di Perum Bumi Kalisalak Asri Batang.

WASKITHO AS

SABIT

Bertaruh dalam sukma hitam bercahaya

Histeris perlahan menyebar makna

Berjalan pelan dalam khusyu memandang

Berlari kencang saat mata tanpa sadar

Terbitlah dalam keterbatasan

Untuk apa dan dari mana

Saat tiada guna raga dan sukma

TITIK KOMA

Titik

Koma

Titik koma

Saatnya kita memasuki makna

Mungkin titik sudah sirna

Kini, mungkin koma sudah di samping kita

Esok, tentu dan mungkin titik koma bersua

Seraya berkata: Aku sudah titik, titik, ataukah titik koma

WASKITHO AS lahir di Batang, 3 Maret 1971. Mulai tertarik dunia tulis-menulis sejak SMP kelas 3, tahun 1984. Saat masih pelajar SMEA (kini SMK Negeri Batang) dipercaya menjadi pengurus majalah Bina Siswa. Berguru tentang dunia tulis-menulis dengan Sugito Hadisastro. Tulisan pertamanya dimuat di Majalah MOP terbitan Semarang tahun 1988 namun honornya baru diambil 13 tahun kemudian, yakni pada Oktober 2001. Naskah-naskahnya berupa cerpen, artikel dan feature dimuat di berbagai media cetak antara lain Suara Merdeka, Cempaka, Warta Koperasi dan lain-lain. Kini bekerja di kantor PKP-RI sebagai administratur sambil nyambi jadi koresponden majalah bulanan Warta Koperasi.

WIDODO BW

PEREMPUAN

benarkah engkau cantik, manis, harum, indah seperti bunga?

benarkah engkau empuk mendul-mendul seperti tilam?

seperti kasur, seperti bandulan?

benarkah engkau perasa, halus lembut seperti sutera?

benarkah benarkah benarkah?

benarkah itu?

ataukah hanya illusiku saja

ha ha ha, ha ha ha

benarkah itu, benarkah iu?

huhu hu, huhu hu…

TIKUS BUSUK

itu lebih santun dan alami

meski semua hidung ditutup rapat

dan mengingkari kebusukannya sendiri

itu lebih wajar dan nyata

dari keharuman yang direkayasa

mereka bilang suci

mereka bilang terhormat

mereka bilang bersih

mereka bilang bermartabat

mereka bilang merakyat

meski ternyata memeras rakyat

TOLOL

semua jadi tak bisa apa-apa

jika memang tak ada apa-apanya

semua jadi tolol

jika memang tak ada apa-apanya

semua jadi tak mengerti

jika memang tak ada apa-apanya

tapi semua jadi pintar

jika memang ada apa-apanya

CEMBURU

kau jadikan aku membara

seperti ikan yang menggelepar oleh api

kau jadikan aku gelap

seperti siang tertutup awan

kau jadikan aku sunyi

seperti mayat dalam liang lahat

WIDODO BW lahir di Batang, 30 Maret 1968 bertempat tinggal di Desa Pecalungan Subah Batang. Mengajar di SD Negeri Mojotengah, Reban.

YOKO MASKHA

WES WES WES

WU KISU KISU

(Puisi bagi murid-muridku)

Anak-anakku

lihat dan amatilah alam semsta di sekelilingmu

mengapa matahari terbit dan tenggelam

terbit lagi dan tenggelam lagi

dan itu selalu terjadi

tidak pernah bosan dan

tidak pernah ada keinginan ‘tuk berhenti

mengapa harus ada siang dan harus ada malam

mengapa pula harus ada hidup dan mati

ada awal dan ada akhir

ada bahagia dan ada sedih

ada laki-laki dan ada perempuan

ada yang jahat dan ada yang hero

renungkan dan ambillah pelajaran

dari semua itu

dan jika engkau telah berhasil melakukan itu

satu tahap dari proses kehiduan

sudah engkau menangkan

tinggal satu langkah lagi engkau taklukkan

yakni,

temukan jati diri

namun, itu mudah diucapkan

tetapi sulit dibuktikan

mudah dipahami

tetapi sulit dinyatakan

Oleh karena itu

Bapak hanya berpesan

hati-hatilah dalam setiap langkah

yang kau ayunkan

pandai-pandailah menyerap setiap

yang ada di balik pernyataan

sebab,

hidup ini tidaklah hanya hitam dan putih

ada kalanya abu-abu, merah, biru, hijau,

kuning, coklat

bahkan abu-abu pun bisa berbeda

hanya karena ketebalan warnanya

tidak sama

maka,

tatap hidup dan kehidupan

dengan seluruh indra

dengan seluruh denyut nadi dan nafas yang ada

hong wilaheng, sekaring bawono langgeng

joyo-joyo wijayanti lebur dening

pangastuti

Wahai

jin, setan, demit, banaspati dan segala

prewangan yang ada

aku himbau kepada kalian

janganlah ganggu anak-anakku

dengan segala pengaruh brengsekmu

Misal: suka membolos, kalau upacara tidak konsentrasi, keinginan untuk merokok, diajar malah ribut sendiri, baju tidak dimasukkan (sehingga bagi yang pendek dan gemuk, dari aas seperti krombong, dari samping bagaikan semar, dan dari belakang bagaikan mentok berjalan).

Anak-anakku,

Memandang kalian, bagaikan menatap horison

biru penuh harapan

berderet jalan panjang ada di depanmu

segudang tantangan dan selaksa persoalan

menunggu solusi dan pemecahan

oleh karena itu,

wahai, anak-anakku

jangan terlena oleh bius kesenangan sesaat

tetaplah maju dengan penuh perhitungan

jangan ragu dan jangan pernah gamang

mengambil keputusan

satu hal yang harus kalian camkan

dunia berputar

zaman berubah ke depan

dan tak pernah ada kesempatan untuk

yang kedua

maka,

gung lewang lewung

tidak ada yang beruntung

gung lewang lewung

tidak bakal presasi melambung

bla bla bla

jika tidak pernah berusaha

Bla bla bla

dengan sekuat tenaga dan daya

maka,

belajar adalah syaratnya

ketekunan adalah modalnya

dan doa merupakan pendorongnya

Anak-anakku,

lihatlah matahari telah menampakkan sinarnya

itu berarti:

sudah bukan lagi saat kita berleha-leha

beleda-lede

sekaranglah kita menancapkan

bendera perjuangan

lambang tekad kita

mengejar ketertinggalan

jikalau tidak ingin

pada suatu saat kita akan terasing

di tengah dunia kita sendiri

karna gagal menemukan posisi yang tepat

untuk berpijak

Anak-anakku

hanya itulah yang bisa aku sampaikan

kepada kalian

sebuah puisi sarat pengharapan

seribu maaf atas kekurangan

aku mohonkan

selamat berjuang

selamat mewujudkan berjuta impian

salam takzim

dari salah satu gurumu

29-9-2003.

HARYOKO MASKHA, Drs Kini menjabat sebagai Kepala SMA Negeri Bandar. Puisi-puisinya dimuat di sejumlah media cetak di tahun 1980-an. Sering diundang menjadi juri lomba baca puisi di berbagai tempat.

1 komentar:

sryade mengatakan...

Salam untuk guruku Pak Har
by Slamet Riyadi
www.sryade.blogspotcom